Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Di dalam mobil, Tiara dan Robi saling diam. Mereka merasa kaku dan kikuk. Entah kenapa kini atmosfernya terasa berbeda. Apalagi kini Robi sudah berubah, ia terlihat gagah dan berwibawa .


Serentak mereka bicara secara bersamaan.


"Bagaimana kabarmu?", ucap Tiara dan Robi secara bersamaan.


Tiara dan Robi sekilas saling pandang, lalu Tiara kembali menunduk dan Robi kembali fokus pada jalanan di depannya.


"Hmm... , kamu duluan", senyum Robi


"Alhamdulillah aku sehat", jawab Tiara dengan tetap menunduk.


"Kapan kamu wisuda?", Robi bertanya kembali tanpa melihat Tiara.


"Rencananya minggu depan, makanya aku ini lagi kejar tayang, masih ada beberapa bagian yang belum sekesai", jelas Tiara. Ia juga sama, bicara dengan tetap menatap lurus ke depan.


"Hah...., berarti kamu sebentar lagi dipingit dong", senyum Robi.


"Dipingit?, untuk apa?", sekilas Tiara melirik ke arah Robi.


"Bukannya mau menikah dengan Ustad Fikri?, jadi dipingit kan?", senyum Robi.


Tiara melengos, melemparkan pandangannya ke luar. 'Iihh...kenapa pake ngobrolin masalah itu sih?', pikir Tiara.


Robi bisa melihat Tiara yang langsung berubah begitu dirinya bertanya soal Fikri.


"Maaf..., maafkan aku jika ....", Robi menggantung ucapannya.


"Ah...tidak apa-apa..., justru aku mau bicarakan soal itu", ucap Tiara ragu.


"Soal Ustad Fikri?", tatap Robi.


"Euh...iya..., sebenarnya aku bingung mau bicara sama siapa, Abah dan Umi tidak mungkin", Tiara kembali menunduk.


Robi menepikan mobilnya ke sebuah cafe .


"Ah...kenapa kita ke sini?", Tiara tampak memandangi cafe yang sudah ada didepannya, tempat itu terlihat ramai, dengan gemerlap lampu dan para pengunjung yang berdatangan.


"Kita bicara di sini, tidak baik bicara sambil mengendara, bahaya", ucap Robi. Ia sudah memarkirkan mobilnya di sana dan mengajak Tiara masuk.


"Robi..., aku baru pertama ke sini, tidak enak, malu ah, lihat mereka, masa aku begini?", Tiara melirik penampilannya yang akan terlihat berbeda .

__ADS_1


"Tiara..., tidak apa, ayo masuk saja!!, ada aku, jangan hiraukan mereka, bukannya ada yang akan kamu bicarakan , aku akhir-akhir ini sibuk, mumpung hari ini ada waktu, kita bicara sekarang saja di sini", ajak Robi, ia setengah memaksa Tiara.


Akhirnya Tiara menurut, ia berjalan mengikuti Robi menuju ke dalam cafe. Robi memilih meja yang agak sepi biar Tiara merasa nyaman. Robi tahu, Tiara tidak begitu menyukai keramaian dan kegaduhan seperti suasana di cafe itu sekarang.


"Tidak apa, duduklah !!, jangan hiraukan mereka", senyum Robi.


Robi juga tahu, banyak para pengunjung yang menatap aneh pada Tiara. Maklumlah mereka semua berpenampilan modis dengan riasan yang bak artis, sementara Tiara, ia tampil dengan gaun lebar berwarna navy dengan kerudung yang lebar juga dan niqob dengan warna senada.


Robi memesan makanan, ia pesan kentang goreng dan dua gelas soft drink.


"Minumlah dulu...!, biar kamu rileks, jangan tegang begitu", senyum Robi.


"Kamu sih...kok membawa aku ke tempat seramai ini", gerutu Tiara, sambil mulai menyedot soft drink yang ada dihadapannya.


"Jadi mau dibawa ke tempat sepi nih", senyum Robi.


"Ah...bukan, maksudku ya jangan tempat seramai ini juga", Tiara menunduk menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.


Robi mengulum senyum melihat reaksi Tiara. Hatinya kembali bergetar, rasa itu kini kembali hadir.


"Tiara..., apa yang mau kamu bicarakan tadi", Robi menatap Tiara.


"Maaf..., aku tidak tahu harus bicarakan soal ini dengan siapa, tapi setelah aku berpikir, ya pilihannya jatuh ke kamu", senyum Tiara.


"Oh..., soal Ustad bakal calon suamimu itu?", senyum Robi.


"Jangan bicarakan itu lagi, aku bukan mau bicarakan soal itu, tapi soal lain", Tiara cemberut.


"Kan tadi katanya mau bicara soal Ustad",


"Iya..., tapi soal yang lain, soal....masa lalu Ustad Fikri yang baru kemarin aku ketahui",


Robi terhenyak, "Masa lalu Ustad Fikri?, apa yang kamu ketahui soal itu Tiara?", tatap Robi.


"Ustad Fikri ternyata tidak baik, dia punya masa lalu yang buruk, ia sudah punya anak dari wanita yang ia paksa", ucap Tiara.


"Alhamdulillah..., akhirnya kamu tahu juga Tiara", tatap Robi.


"Jadi..., jadi...kamu sudah tahu soal ini?, kenapa tidak bicara , kok diam saja?", Tiara menatap lekat Robi yang sedang tersenyum padanya.


"Belum sempat bicara Tiara, aku sudah lama mengetahuinya, semenjak aku di penjara dulu", jelaskan Robi.

__ADS_1


"Iihh...kamu ya..., sengaja membiarkan aku bersama Fikri, padahal sudah jelas Fikri itu seperti apa, tega kamu ya", Tiara kembali cemberut.


"Aku ...maafkan aku Tiara, tadinya aku ragu untuk bicara, karena melihat Abah, Abah juga pasti lebih tahu siapa Fikri, tapi beliau tetap saja menjodohkanmu dengan Fikri, jadi aku pikir ya biarjan saja, mungkin Fikri juga kini sudah berubah", kini Robi yang menunduk.


"Siapa yang bicara sama kamu soal Fikri?", tatap Robi.


"Wanita itu..., wanita dari masa lalunya Ustad Fikri yang bicara",


"Jadi...wanita itu ada du sini?, apa dia itu Nyimas?", tebak Robi.


Tiara menatap Robi, kok Robi bisa tahu, padahal dirinya belum bicara soal Nyimas.


"Jangan begitu..., aku sudah tahu semuanya, wanita itu namanya Nyimas, dia sudah mempunyai anak laki-laki dari Fikri", jelaskan Robi.


"Tuh kan..., kamu itu...., sudah tahu...tapi diam saja", Tiara kembali cemberut.


"Tiara..., aku mengetahuinya dari Badrun. Badrun orang yang jadi kambing hitam atas kesalahan Robi, Badrun sudah cerita semuanya, maaf.. Aku tidak berani bicara soal ini, aku melihat Abah, Tiara..., kamu ngerti kan?", tatap Robi.


Robi takut Tiara menyalahkan dirinya.


"Iya...aku ngerti, tapi sekarang bagaimana agar semua ini terungkap dan Fikri kembali diadili, aku tidak mau hidup selamanya bersama orang seperti fikri", aku Tiara.


"Nyimas dimana sekarang?, jangan sampai Fikri tahu soal dia, bisa bahaya", tatap Robi.


"Nyimas tadi ada di rumah, ia tidak tahu Abah sakit, tadi Nyimas sedang di Madrasah bersama anak-anak", jelas Tiara.


"Robi ..., kamu tidak akan membiarkan aku bersama Fikri kan?, Abah lagi koma, pasti nanti Fikri akan kembali menagih janji setelah aku wisuda, aku tidak mau, aku tidak tahu harus berlindung sama siapa lagi", lirih Tiara.


Robi menatap Tiara, hatinya terenyuh melihat wanita yang selalu mengisi relung hatinya sedang bersedih. Robi hendak mengusap kepala Tiara, tangannya sudah diangkat, namun ia urungkan, ia begitu menghormati Tiara.


"Aku...aku...yang akan melindungimu dari orang seperti Ustad Fikri, Tiara", tegas Robi.


Tiara menatap Robi, dan kini pandangan mereka terkunci. "Iya..., aku yang akan selalu menjaga dan melindungimu", ulangi Robi.


"Saat Abah sadar nanti, aku akan melamarmu Tiara, sekarang kita ungkap dulu busuknya Fikri", senyum Robi.


Tiara menunduk, rasa hangat kini menjalari seluruh tubuhnya. Hatinya senang, senang sekali.


Di samping pintu cafe, seseorang melihat geram kedekatan mereka, ia mengepalkan kedua tangannya, dan ia tinjukan juga ke dinding.


"Kurang ajar...., Robi..., Tiara...., kalian ternyata....", geram Fikri. Ia kembali ke Pondok setelah mengetahui Tiara tidak ada di Rumah Sakit, dan mobil Robi yang terparkir di sebuah cafe menarik perhatiannya, dan setelah ia selidiki, ternyata memang benar, Robi sedang bersama Tiara di sana.

__ADS_1


__ADS_2