
Saat keluar dari rumah Abah, Bu Arimbi berpapasan dengan tiga orang santri, mereka tampak aneh melihat pakaian Bu Arimbi, sungguh sangat berbeda dengan para wanita yang ada di Pondok.
Mereka itu adalah Ustad Fikri, Ustad Dzaqi dan Ustad Fadil .
Hanya Fikri yang terlihat lekat memandangi Bu Arimbi.
"Iisstt...,kok gitu amat melihatnya", gumam Bu Arimbi sambil membetulkan letak pasmina yang asal nenempel di kepalanya.
Bu Arimbi segera menuju mobil dan ia masuk , duduk di samping Robi yang tampak masih tertidur lelap.
"Hadeuh..., ini anak, masih tidur, matahari sudah tinggi Nak..., Hai..., Robi bangun!, kita sudah sampai", Bu Arimbi mengguncang tubuh kekar milik Robi.
"Hhmmm...., Tiara....", gumam Robi. Bu Arimbi mentautkan kedua alisnya.
"Hah...,Ti..a...ra...?, Tiara siapa Robi, ayo bangun!, cepat..., kita sudah sampai", kembali Bu Arimbi mengguncangkan tubuh Robi.
Karena sudah berkali-kali dibangunkan, Robi akhirnyaŕ bangun juga. Ia mengerjap ngerjapkan matanya, dan memandang Bu Arimbi.
"Bangun....,!, kita sudah sampai", tegas Bu Arimbi.
"Hhmmm..., malas lah Mih..., aku sudah punya tempat sendiri, ngapain Papih mengajakku ke sini", tolak Robi, ia terlihat memejamkan matanya kembali, ia ingin mengulang kembali mimpi indahnya bersama orang yang sempat ia sebutkan namanya tadi.
"Apa kamu tidak ingin bertemu Tiara...?", senyum Bu Arimbi.
"Hah..., Ti...a...ra...?", Robin terperanjat mendengarnya, matanya langsung berbinar, ia memandang lekat mamihnya.
"Iya..., coba kamu keluar, kita sudah sampai, tuh lihat di depan sana!, kita sudah ada di Pondok Al-Furqon", jelas Bu Arimbi.
'Al-Furqon....?, bukankah itu tempat yang disebutkan Bang Badrun?', pikir Robi.
Tanpa pikir panjang, ia langsung membuka pintu mobil dan keluar , Robi berdiri di samping mobilnya dan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Ia masih mengenali tempat itu, Masjidnya, bangunan kobongnya, dan juga rumah Abah Ilham.
"Alhamdulillah..., ternyata Al-Furqon, kok aku baru ngeh ya?, padahal sempat tinggal lama di sini", gumam Robi.
Matanya berkaca-kaca , ia tidak menyangka semua keinginannya untuk kembali ke Pondok dan bertemu dengan Tiara, terkabul juga, apalagi Robi baru mengetahui kalau pondok ini adalah pondok Al-Furqon, apa ini pondok yang sama yang disebutkan Badrun?, kalau iya , ini bisa satu jalan, dua tujuan tercapai.
Bu Arimbi ikut ke luar, ia menghampiri Robi dan menggandeng pundaknya. "Mamih yakin kamu punya cerita di sini, Mamih yakin , tempat inilah yang telah mengubah orientasi hidup kamu, yang awalnya liar, urakan, menjadi lebih teratur dan religius, Mamih dukung kamu untuk mewujudkan mimpimu di sini", senyum Bu Arimbi.
Kini Bu Arimbi berdiri di depan Robi, ia menatap lekat wajah anaknya itu, ia pegangi pundaknya.
"Ini semua karena Tiara kan?", tatap Bu Arimbi.
Robi terkesiap mendengarnya, "Tidak usah di jawab, Mamih ini orang yang telah mengandungmu sembilan bulan , Mamih sudah bisa membaca semuanya, kejarlah mimpimu di sini, dan Tiara , Mamih ingin kamu membawanya ke rumah sebagai menantu ", senyum Bu Arimbi.
"Ah...Mamih...", Robi menunduk.
"Mamih sudah menyukainya Robi, dan Mamih yakin, kamu juga kan?", senyum Bu Arimbi.
"Sudah..., sekarang temui dulu mereka, pasti sudah menunggu kedatanganmu", ajak Bu Arimbi. Ia kembali menggandeng pundak Robi dan mengajaknya menuju rumah Abah.
__ADS_1
Tak ada seorang santri pun yang melihat kedatangan Robi, mereka semua sedang berada di Masjid dan Madrasah.
"Anak saya itu tertarik untuk belajar agama, dan saya langsung teringat ke sini, jadi saya ingin menitipkan anak saya untuk belajar di sini", jelas Pak Robani.
"Alhamdulillah..., saya dengan senang hati akan menerimanya, ini sebuah kehormatan bisa mengajari cucu dari sahabat saya, padahal sudah sejak lama saya mencari keberadaan kalian, baru hari ini bisa bertemu", senyum Abah Ilham.
"Iya..., saya minta maaf, saya dan istri terlalu sibuk mengurusi bisnis, sehingga melupakan tanggungjawab utama sebagai orang tua, termasuk kewajiban terhadap anak kami",
"Kalau saja sejak dulu saya titipkan anak saya di sini, mungkin sekarang dia sudah ahli", Pak Robani menunduk.
"Tidak apa..., tidak ada kata terlambat, dan ingat, ini semua sudah jalan-Nya, tidak ada yang perlu disesali", senyum Abah.
"Sebelumnya saya minta maaf, jika nanti anak saya akan banyak merepotkan Abah di sini",
"Tidak usah begitu, justru ini saatnya untuk Abah, membalas semua kebaikan ayahmu, dengan mendidik dan mengajari cucunya", senyum Abah.
Umi dan Tiara saling pandang, mereka takut Abah kenapa-kenapa saat melihat Robi nanti. Kalau Umi dan Tiara sudah tahu, tapi Abah, pasti beliau akan kaget saat melihat siapa anak yang dimaksud oleh tamunya itu.
Berkali-kali Abah melirik ke arah pintu, ia terlihat penasaran ingin segera melihat cucu dari sahabatnya itu.
"Sambil menunggu, silahkan di minum dulu teh nya, mumpung masih hangat!", tawari Umi.
"Oh...iya..., dari tadi diajak ngobrol terus, sampai lupa", senyum Abah. Ia lebih dahulu mengambil cangkir berisi teh manis hangat dan mempersilahkan Pak Robani juga.
"Assalamu'alaikum", Bu Arimbi sudah berada berada di ambang pintu.
"Wa'akaikumsalam...", semua melirik ke arahnya.
"Sebentar Pih, dia ke kamar kecil dulu, mau cuci muka dulu katanya, maklum kan tadi tidur di mobil", senyum Bu Arimbi.
Robi yang sedang di kamar kecil pun tak kalah deg deg an, perasaannya tidak karuan, ia takut Abah masih marah.
Tapi keinginannya untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah, memberi kekuatan dalam dirinya untuk bertemu Abah, selain itu ada dorongan kuat dalam hatinya untuk bisa menolong Badrun keluar dari Penjara.
Perlahan Robi melangkah menuju rumah Abah, "Bismillah...", ucapnya penuh keyakinan.
Dari luar, Robi bisa mendengar suara tawa ringan di sela-sela obrolan mereka. Robi sudah ada di balik pintu yang terbuka. Ia berdiri mematung di sana , ada rasa panas menjalar dalam tubuhnya yang membuat kakinya sulit dilangkahkan.
Tiara bisa melihat bayangannya dari dalam. Tiara bisa merasakan, pasti Robi masih sungkan untuk bertemu Abah.
"Maaf..., permisi sebentar", Tiara melangkah menuju pintu dan di luar ia melihat Robi masih berdiri mematung.
Robi pun merasa terkejut melihatnya. Sejenak pandangan mereka kembali terkunci, ada buliran bening yang Robi lihat di kelopak mata Tiara.
"Silahkan masuk, semua sudah menunggu, Inshaa Allah, Abah tidak akan apa-apa...", lirih Tiara, ia cepat-cepat menunduk.
Entah kenapa hati Robi bergetar mendengar suara lembut Tiara, jelas sekali Robi melihat Tiara menitikkan air mata.Entah apa artinya, apa itu air mata kebahagian?, atau air mata kesediha ?.
Tiara kembali masuk ke dalam diikuti Robi .
"Mana....", ucapan Abah menggantung begitu dilihatnya sosok Robi di belakang Tiara.
__ADS_1
Tiara langsung menuju tempatnya semula di samping Umi, ia memegang erat tangan Umi.
Umi menepuk-nepuk lembut tangan Tiara, ia bisa memahami kekhawatiran putrinya itu.
"Kamu....?", Tatap Abah kepada Robi.
"Nah..., kemana saja ditungguin dari tadi, sini!", Pak Robani memanggil Robi.
Robi pun duduk di sampingnya.
"Nah, Abah..., inilah anak saya, Robi", senyum Pak Robani, ia menggandeng pundak Robi.
"Jadi..., jadi...ini anakmu?, Robi itu anakmu?", tanyai Abah .
"Iya, ini Robi anak saya", tegas Bu Arimbi.
"Tidak menyangka", ucap Abah .
"Kenapa?, Abah sudah mengenal Robi?", tatap Pak Robani.
"Iya ..., anakmu ini yang sudah menabrak aku dan istriku", tegas Abah.
"Abah...?", sambar Tiara.
"Tenang Neng", cegah Umi.
"Ini ada apa?", Pak Robani tampak bingung.
"Begini Pih..., jadi , kemarin Robi di penjara itu karena di tuduh menabrak lari Abah dan Umi, tapi semua bukti kan sudah jelas, pelakunya bukan Robi", jelas Bu Arimbi.
"Oh..., kenapa baru bicara sekarang, maaf Abah...ini sebuah kesalahpahaman",
"Ini saya masih simpan bukti pembebasan Robi, dan ini rekaman CCTV nya juga, di sana jelas ada pelaku sebenarnya yang kabur", jelas Pak Robani, ia memperlihatkan smartphone nya.
Abah terlihat manggut-manggut melihat rekaman itu. Seketika raut wajahnya berubah sedih. "Robi..., sini Nak!", panggil Abah.
Robi menghampiri Abah, ia langsung meraih tangan kanan Abah dan mengecupnya. Tanpa di duga Abah merengkuh tubuh Robi dan memeluknya.
"Maafkan Abah Nak, Abah sudah banyak salah padamu",
"Sudah Abah..., saya tidak apa-apa, itu memang sudah kewajiban Abah selaku pimpinan untuk bersikap hati-hati",
Umi dan Tiara merasa lega, begitu pun Pak Robani dan Bu Arimbi.
Mereka semua tampak tersenyum bahagia.
"Sudah..., kita makan dulu, pasti sudah pada lapar kan?", senyum Umi.
"Abah janji, akan mengajari kamu", senyum Abah, ia mengusap lembut kepala Robi.
"Kamu benar-benar mirip Furqon", tatap Abah, dalam hatinya berjanji, ia akan mengajari Robi, sebagai balasan untuk semua kebaikan sahabatnya Furqon.
__ADS_1
Tiara tersenyum bahagia di balik niqobnya, Robi bisa melihat itu, dari tatapan matanya yang berbinar.