
"Tiara..., iya...Tiara..., kenapa baru ingat, kemarin Mamih terlalu panik", Bu Arimbi merogoh tas dan mengambil ponsel, ia bermaksud menghubungi Tiara. Namun setelah beberapa lama di tunggu, hanya nada dering saja, tetapi Tiara tidak menjawab panggilannya.
"Neng...ayo...angkat...!", gumam Bu Arimbi. Ia kembali mengulang, tetapi sama tidak ada jawaban.
"Aduh....Neng...., kemana kamu?, ini penting..., ayolah angkat...", Bu Arimbi geretan sendiri.
"Bagaimana apa ada perkembangan Bu", seorang perawat tahu-tahu sudah ada disampingnya.
"Astaghfirullah..., kaget saya, ...Euh...iya Sus , tadi anak saya sempat mengatakan sesuatu", Bu Arimbi memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Apa yang yang anak ibu ucapkan?",
"Sepertinya dia memanggil nama seseorang, Tiara begitu kalau tidak salah", ungkap Bu Arimbi.
"Siapa Tiara Bu?", kembali perawat itu bertanya, sambil mengecek alat-alat kesehatan yang masih menempel di tubuh Robi.
"Tiara itu siapa?, istrinya Bu?", tatap perawat.
"Oh...bukan, Tiara itu temannya", senyum Bu Arimbi.
"Nah...coba datangkan Tiara ke sini Bu, siapa tahu, dia itu orang yang selalu ada di pikiran anak Ibu, itu akan memudahkan anak ibu untuk kembali sadar", saran Perawat
"Oh...begitu ya Sus, iya saya akan usahakan supaya Tiara bisa ke sini",
"Iya Ibu, itu akan sangat membantu, kondisinya masih stabil, saya tinggalkan dulu Ibu, kalau ada perkembangan baru, segera kabari kami lagi", ucap Perawat sambil meninggalkan ruangan.
"Iya Sus, terima kasih",
Bu Arimbi kembali mendekati Robi, ia tatap wajahnya, yang kini hanya diam dan terpejam.
"Nak..., ayo bangun!!", lirih Bu Arimbi. Perasaannya makin sakit, dulu saat Robi masih bergelut dengan motor balapnya, hal ini yang paling ia takutkan. Tetapi saat Robi sudah berubah dan meninggalkan kebiasaan balapan liarnya, tanpa di duga, hal buruk ini terjadi.
Pagi-pagi Tiara sudah pergi ke Kampus, hari ini ia akan melakukan konsultasi terakhir soal naskah skripsiny, sebelum ia menyusun dan menyelesaikan.
Karena terburu-buru, ponselnya yang sedang di charger pun ketinggalan dikamarnya. Bukan tanpa alasan Tiara buru-buru berangkat, ia ingin menghindari Ustad Fikri.
Namun Tiara salah perhitungan, ternyata Ustad Fikri sudah menunggunya di gerbang, is tersenyum menatap Tiara yang sepertinya kaget melihatnya.
"Assalamu'alaikum", senyum Ustad Fikri, ia memegangi lampu depan sepeda motor yang ditunggangi Tiara.
"Wa'alaikumsalam, maaf Ustad, saya terburu-buru", Tiara menunduk menghindari tatapan tajam Fikri kepadanya. Tiara selalu saja risih saat Ustad Fikri menatapnya.
"Iya..., saya tahu, justru saya di sini untuk mengantarmu ke Kampus",
"Tapi....",
"Jangan menolak, mulai saat ini, aku yang akan mengantarmu kemana pun, calon istriku", sambar Fikri.
__ADS_1
"Tidak usah, aku sudah biasa sendiri", tolak Tiara.
" Jangan menolak terus Tiara, aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu, aku akan menjaga calon pengantinku, Abah juga tidak akan marah, hanya tinggal menghitung hari saja, kita akan sah", kembali Ustad Fikri tersenyum, kali ini ia menyentuh tangan Tiara yang masih memegang stang motornya.
"Iihh...., apan ini", Tiara langsung menarik tangannya.
"Jangan begitu, kamu ini sudah menjadi calon istriku, tidak apa-apa, cepat atau lambat juga kita akan bersama", seringai Fikri.
"Itu yang aku tidak mau, kamu selalu terburu-buru",
"Ayo cepat aku yang antar, katanya lagi terburu-buru",
Tiara melirik pergelangan tangan kirinya, 'Aduh..., bisa telat nih', Tiara membatin .
Dengan malas Tiara memarkir sepeda motornya di pingggir gerbang, lalu ia bersiap untuk naik sepeda motor Fikri.
"Nah...gitu dong, kalau dari tadi kan bisa cepat sampainya ke Kampus", senyum Fikri, kini ia merasa menang. Baru kali ini ia berhasil membonceng Tiara.
"Bismillah....", senyum Fikri. Ia melajukan sepeda motornya menuju Kampus.
Hati Ustad Fikri sangat senang, kali ini ia berhasil juga membujuk Tiara untuk diantar olehnya.
Di perjalanan, Tiara sekilas melihat reruntuhan bengkel milik Robi yang sudah tidak utuh lagi, sisa si jago merah.
Hatinya terenyuh, ingatannya kembali kepada Robi yang dulu sempat menutupi identitasnya sebagai Rahmat.
"Dukkk", tiba-tiba Fikri rem mendadak sepeda motornya sehingga Tiara terpentok punggung Fikri dan helm mereka pun beradu.
"Astaghfirullah,hati-hati..., ada apa ?", Tiara mendongakkan kepalanya ke depan, mencari tahu apa yang terjadi didepannya.
"Itu ada anak kecil mengambil bola", ucap Fikri.
"Kemana orang tuanya, kok dibiarkan sendiri di jalan, kalau terjadi apa-apa kan tetap yang membawa kendaraan yang akan disakahkan", gerutu Tiara.
Sepeda motir Fikri sudah kembali melaju, Tiara bisa jelas melihat ada seorang ibu duduk menggendong bayi dan seorang anak balila yang sedang memegang bola berdiri disampingnya.
"Aduh...pantesan, mereka ..., kemana bapaknya ya, kok tega membiarkan anak dan istrinya terlantar begitu dijalanan, pasti dia Ayah yang tidak bermoral", gerutu Tiara.
Dengan jelas Fikri bisa mendengar ucapan Tiara, ucapan Tiara tadi serasa menampar wajahnya. Karena dalam hati terdalamnya Fikri pun mengakui perilakunya terhadap Nyimas dan anaknya.
"Apaan sih kok malah kamu yang marah", tegur Fikri.
"Ya jelas marah lah, aku itu paling tidak suka seorang Ayah yang menyengsarakan anak dan istrinya, dia hanya mau enaknya saja, haknya mau full, kewajibannya nol besar", gerutu Tiara, ia masih saja sewot.
"Sudah....nyebut...., tidak tahu apa-apa, malah menambah dosa saja", tegur Fikri. Telinganya terasa panas, ucapan Tiara tadi seolah ditujukan pada dirinya.
"Astaghfirullah...", ucap Tiara..
__ADS_1
Sepeda motir Fikri sudah menepi ke sebuah Kampus, Tiara pun turun, ia lepas helmnya dan menyerahkannya ke pangkuan Fikri, lalu segera pergi dari hadapan Fikri dengan tergesa .
"Aku tunggu kamu di sini", teriak Fikri. Ia menatap punggung Tiara hingga menghilang di balik gerbang Kampus.
'Jangan sampai Tiara tahu soal masa laluku, bisa kacau semuanya', Fikri membatin.
Tujuannya untuk menjadi pimpinan di Pondok Al-Furqon tinggal selangkah lagi. Nanti dirinya yang akan menjadi penerus Abah.
Tiara sudah berada di ruangan bersama teman-temannya, mereka mendapat bimbingan terakhir dari Dosen pembimbing skripsinya.
Setelah itu tinggal menunggu jadwal sidang skripsi dan wisuda tentunya.
Ia rogoh berkali-kali tas selempangnya, namun yang dicari tidak ada, Tiara sampai keluarkan isi tasnya satu-satu, namun benda yang sedang ia cari tetap tidak ada.
Tiara termenung sejenak, mengingat-ingat kembali. "Ya Allah ..., kan tadi lagi dicharger, ketinggalan !!!", ucap Tiara.
Tiara baru menyadari kalau ponselnya ketinggalan.
"Astaghfirullah..., pantesan serasa ada yang kurang", gumam Tiara.
"Ada apa?", tanyai Iis yang duduk disampingnya.
"Ponselku ketinggalan", ucap Tiara lemas.
*****
Di Rumah, Umi yang sedang menyapu berkali-kali mendengar nada dering dari arah kamar Tiara.
Namun Umi tidak begitu fokus dengan suara itu, karena suaranya kabur bersama teriakan dua bocah yang lagi berlarian.
Gilang dan Risman sedang asik bermain di dalam rumah.
"Umi..., ini sepeda motornya Tiara", beritahu Nyimas saat ada seorang santri mengantarkannya.
"Lalu Tiara pergi pakai apa?", tatap Umi.
Nyimas menunduk, katanya Tiara pergi diantar Ustad Fikri.
"Alhamdulillah..., akhirnya ", senyum Umi.
"Tiara dan Ustad Fikri akan segera menikah..., menunggu Tiara wisuda", jelas Umi.
"Degh....", seperti ada yang meninju ulu hati Nyimas.
'Jangan Tiara...!!, Fikri itu bukan orang baik, dia memakai topeng kebaikan untuk menyembunyikan busuknya', batin Nyimas bicara.
'Aku harus gagalkan rencanamu dengan Fikri', kembali Nyimas bicara dalam hatinya
__ADS_1