Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Kabur ....


__ADS_3

"Angkat tangan !!", suara lantang di ambang pintu Masjid membuat tersentak dan kaget semua Santri yang ada di sana, bahkan ada sebagian Santri putri yang langsung berteriak histeris.


"Semua tetap diam di tempat !!", teriak Petugas


Seketika suasana berubah menjadi tegang dan kacau, namun semua Santri menuruti perintah petugas itu, mereka tetap diam ditempatnya, dengan perasaan takut , mereka mengangkat tangannya ke atas kepala.


Lalu dua orang dari Petugas itu berjalan menuju mimbar, mereka mendekati Ustad Fadil yang baru saja duduk di sana untuk menggantikan Ustad Fikri.


"Angkat tangan !!", ucap Petugas tepat di depan Ustad Fadil yang tampak kaget, mukanya jelas sekali terlihat pucat.


Ustad Fadil menurut, ia mengangkat tangannya ke atas.


Dengan cekatan, Petugas yang satu lagi meraih tangan Ustad Fadil ke belakang, dan krek, langsung di borgol, hingga Ustad Fadil tidak bisa lagi berkutik, ia hanya bisa diam, tanpa bisa bicara sepatah katapun, walau hanya untuk membela diri, bahwa ia tidak bersalah.


Ustad Fadil pun menurut saja saat dua Petugas itu memboyongnya pergi melewati para Santri yang hanya menatapnya iba, dan tatapan penuh tanda tanya.


"Tunggu Pak !", Ustad Dzaqi berdiri tepat dihadapan Ustad Fadil dan dua Petugas itu.


"Maaf Pak, kalau boleh tahu, apa salah teman saya ini?", ucap Ustad Dzaqi memberanikan diri.


"Maaf Pak, biar dijelaskan di Kantor saja, ini sedikit privasi, tapi yang jelas ini sudah sesuai prosedur, ini kami juga bawa surat perintah penangkapannya", jelaskan Petugas, ia tidak mau kalah.


"Tapi..., saya ragu kalau teman saya ini bersalah, sehari-hari dia selalu bersama saya di sini mengurus santri", bela Ustad Dzaqi .


"Bahkan saya jamin, teman saya ini hampir tidak pernah meninggalkan Pondok", bela Ustad Dzaqi lagi.


"Anda boleh membelanya nanti di Kantor, anda juga boleh ikut bersama kami", ucap Petugas, mereka langsung membawa pergi Ustad Fadil yang tampak pasrah, ia berjalan sambil menunduk.


Ustad Dzaqi pun segera mengikutinya.


"Maaf semuanya, kami sudah mengganggu acara di sini, tapi ini sudah tugas, sekali lagi maafkan", ucap Petugas yang masih berada di ambang pintu sebelum sama-sama berlalu mengikuti dua Petugas yang membawa pergi Ustad Fadil.


"Ada apa ini?, kok tiba-tiba sepi, apa acaranya sudah selesai?", Abah tampak mendongakkan kepala ke arah Masjid, yang sudah tidak terdengar suara apa-apa lagi.


Padahal Abah sedang menyimak ceramah yang dibawakan oleh Ustad Fikri.

__ADS_1


"Iya..., mungkin sudah beres acaranya", sahut Umi , ia hendak mendorong kursi roda Abah menuju ke dalam.


Namun itu urung dilakukan karena keburu ada rame-rame di sekitar Kobong. Abah dan Umi serentak menengok ke arah sumber suara.


"Ya Allah..., siapa mereka?, siapa yang mereka bawa?, Ustad Fadil?", ucap Umi ,


"Tunggu!, tunggu...!", teriak Abah, ia setengah maksa mendorong sendiri kursi rodanya ke arah luar.


"Sebentar Abah, Umi bantu", teriak Umi, ia juga kaget dengan pergerakan Abah yang tiba-tiba, takutnya Abah tersandung, dan jatuh",


Rombongan Petugas yang diikuti para santri pun berhenti tepat di depan Abah.


"Ada apa ini",tatap Abah, ia bicara dengan nada tinggi.


Umi cepat-cepat mengelus lembut punggung Abah, untuk membuatnya tenang.


Ustad Dzaqi yang cepat-cepat menghampiri Abah. "Abah..., maaf..., ini tiba-tiba ada petugas yang menangkap Ustad Fadil, Abah tenang saja, saya yang akan mengikutinya ke sana", ucap Ustad Dzaqi.


"Mereka hanya akan menjelaskannya di Kantor, bukan di sini", ucap Ustad Dzaqi.


"Iya..., kamu ikut sana", ucap Abah lemah, tubuhnya langsung lemas, ternyata benar, kondisinya sudah sangat menurun, berdebar sebentar saja, tubuhnya langsung melemah.


"Iya..., Abah percaya, Abah yakin kamu tidak bersalah, tenanglah !!",


"Sekarang ikutlah bersama mereka dulu, biar jelas masalahnya apa, tidak usah takut, kalau tidak merasa bersalah, biar nanti Abah hubungi Pak Robani, semoga beliau bisa membantu",


Tanpa bertanya atas tuduhan apa Ustad Fadil ditangkap, Abah membiarkan keempat orang itu pergi membawa Ustad Fadil.


"Rasanya aneh..., melakukan kesalahan apa anak itu?, sehari-harinya hanya mengaji dan mengajar di Madrasah saja, kok bisa-bisanya ditangkap", gumam Umi.


"Tahu dari mana lagi, Ustad Fadil ada di Pondok ini, padahal setahu Umi, Ustad Fadil itu jarang bersosialisasi ke luar Pondok, teman-temannya hanya para santri saja", kembali Umi bicara sendiri.


Dan kini , Abah pun mendengarnya.


"Iya juga Umi, kok aneh, kenapa baru kepikiran sekarang, tadi juga lupa lagi tidak menanyakan tuduhan yang dilayangkan kepada Ustad Fadil, semoga saja Ustad Dzaqi bisa menanganinya",

__ADS_1


"Oh...iya..., mana Ustad Fikri?, bukannya tadi dia yang mengisi acara di Masjid?, harusnya dia juga ikut bersama Ustad Fadil", Abah melirik ke arah Umi.


"Ah...iya, baru ingat, kemana ya dia?", Umi kemudian melihat jauh ke arah deretan kobong, di sana terlihat para santri berkerumun, sepertinya mereka juga sama, merasa kaget dengan apa yang baru saja terjadi.


"Apa perlu Mang cari ke kobongnya?", tawari Mang Daman.


"Iya Mang, coba cari dia, suruh susul Ustad Dzaqi ke Kantor Polisi, Abah khawatir", perintah Abah",


"Baik Abah", Mang Daman langsung pergi menuju Kobong Ustad Fikri. Sesampainya di sana, Mang Daman mengucap salam dan mengetuk pintu Kobong beberapa kali, namun tidak ada respon apa pun dari dalam.


"Kemana dua?", gumam Mang Daman, masa pergi tidak ketahuan, kan pintu gerbang hanya satu, di depan, seharusnya kalau dia pergi, pasti akan diketahui Abah, dari tadi kan Abah dan Umi di teras depan", gumam Mang Daman.


Ia mencoba sekali lagi, mengucap salam dan mengetuk pintu, namun tetap sama, tidak ada jawaban apa pun dari dalam.


Mang Daman mencoba memegang gagang pintu dan mendorongnya perlahan, namun ternyata pintunya di kunci.


"Ustad ...., Ustad Fikri ?, ada di dalam?, Ustad dipanggil Abah tuh", teriak Mang Daman, ia tidak sabar.


Namun setelah beberapa kali dicoba , sama, tidak ada respon aoa pun diari dalam.


"Aduh..., jangan-jangan....", Mang Daman langsung berpikiran buruk, ada rasa khawatir dihatinya, takutnya Ustad Fikri kenapa-kenapa di dalam.


"Dobrak saja?, atau lapor Abah dulu?", kembali Mang Daman dilanda kebimbangan.


"Aduh..., tambah kacau saja ini, Non Tiara belum pulang, Ustad Fadil ditangkap Polisi, sekarang Ustad Fikri tidak ada lagi", gerutu Mang Daman .


"Ada apa Mang?", tampak Ronald dan Ilyas menghampiri Mang Daman , sama, mereka pun hendak menemui Ustad Fikri terkait dengan adiknya Marisa.


"Ini, Ustad Fikri tidak ada, dipanggil-panggil tidak ada jawaban", ucap Mang Daman.


"Dobrak saja Mang, takutnya dia nekad , bagaimana?, dia kan lagi galau Mang", ucap Ronald.


"Ah iya juga, Brak....", dengan cepat Mang Daman sudah berhasil mendobrak pintu Kobong, dan ternyata di dalam kosong, tidak ada siapa pun.


"Ko...song...?, kemana dia?", ucap Ronald. Ruangan yang hanya berukuran 4×4 meter persegi itu sudah ia cek semuanya, tidak ada siapa pun.

__ADS_1


"Apa mungkin ia kabur?", ucap Ronald.


"Kabur...?", Mang Daman tampak kaget.


__ADS_2