
"Kakak?", Dery melepaskan pegangan tangannya dari kerah baju Fikri.
"Kakak?, jadi ini Kakak ya, ma...maaf", Dery setengah menyembah di depan Fikri.
"Kakak..., sini duduk dulu, kok malam-malam datangnya", Marisa meraih tangan Fikri dan membawanya duduk di kursi, diikuti Dery.
Mendengar keributan di luar, Bi Iroh pun terbangun, ia keluar dari kamarnya dengan mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Ada apa ini?, kok ribut-ribut?", Bi Iroh menghampiri mereka di kursi, ia mengedarkan pandangannya.
"Fikri?", ini Fikri?", Bi Iroh memandangi Fikri.
"Iya Bi, saya pulang", ucap Fikri datar. Ia mengusap wajahnya yang masih terasa sakit akibat kena tinju Dery.
"Iya Bi, tadi Kakak pulang, dan Mas Dery salah sangka, jadi mereka hampir saja berantem kalau saya tidak keburu bangun", jelas Marisa.
"Mas?, siapa yang kamu panggil Mas?", tatap Fikri.
"Kak..., ini Mas Dery, dia suami aku", tunduk Marisa.
"Maaf..., semuanya berjalan cepat, jadi tidak sempat memberitahu Kakak", kembali Marisa menunduk, ia mengusap perutnya yang kian membuncit.
"Hah...., ya tidak apa-apa, aku juga minta maaf, sebagai Kakak, kurang memperhatikan kamu.
"Oh, iya...Kakak ke sini disuruh Ibu, Ibu khawatir karena kamu sudah tidak bisa dihubungi lagi, dan benar saja, kamu ada di sini", Fikri menatap Marisa.
"Iya..., kita pindah ke sini, karena sudah tidak betah di kota, dan Bi Iroh menyarankan untuk pindah ke sini, karena sudah tidak punya tempat lain , selain ke sini", jelaskan Marisa.
"Iya..., Kakak ngerti, dan kamu !, jaga adik Gue baik-baik, kalau Loe bertingkah, habis!", ancam Fikri, ia mengarahkan tinjunya kepada Dery.
"Sudah sana, kalian istirahat saja", perintah Fikri.
Marisa di papah Dery untuk kembali memasuki kamarnya. Mereka meninggalkan Fikri dan Bi Iroh berdua.
Fikri mengedarkan pandangannya, ia lalu duduk mendekati Bi Iroh.
"Bi..., bagaimana warga di sini, apa mereka tidak mengusik kita?", bisik Fikri.
"Mereka sudah tidak mengingat masalah itu lagi, buktinya Bibi dan Marisa bisa hidup tenang di sini",
"Lalu bagaimana dengan keluarga Nyimas?", Fikri kembali berbisik kepada Bi Iroh.
"Mereka tidak ada di sini, Nyimas hamil, jadi keluarganya membawa dia pergi dari sini, dan kabarnya dia sudah melahirkan seorang anak laki-laki, tapi tidak ada yang tahu, keberadaan mereka sekarang", jelaskan Bi Iroh.
'Nyimas punya anak?', pikir Fikri.
'Dia itu anakku', batin Fikri bicara, ia pun mengakui kalau anak yang dilahirkan Nyimas adalah darah dagingnya.
"Terus laki-laki itu siapa?, Marisa kenal di mana?",selidik Fikri.
"Katanya sih dia itu temannya Neng Marisa di kota, dan bertemu lagi dii sini, Bibi lihat orangnya baik, dia juga yang sudah membuatkan warung dan bengkel kecil-kecilan untuk kita bertahan hidup di sini", jelaskan Bi Iroh.
Robi manggut-manggut, ia bisa mencerna ucapan Bi Iroh.
"Baguslah kalau begitu, nanti saya kabarkan hal ini kepada Ibu, biar dia tenang", ucap Fikri.
__ADS_1
"Aden mau makan?, masih ada makanan di dapur, tadi sudah Bibi hangatkan sebelum tidur, Bibi mau tidur lagi, besok pagi harus pergi ke pasar", pamit Bi Iroh, ia meninggalkan Fikri sendiri di ruang tamu.
****
Tiara dan Bu Arimbi makin sering bertemu, tidak jarang Tiara menginap di rumahnya Robi, Bu Arimbi mulai mengajari Tiara desain grafis , sebagai dasar untuk membuat desain pakaian.
Sudah banyak model busana muslim yang Tiara desain, ternyata Tiara berbakat juga , selain itu ia pun yang menjahitnya sendiri, jika kewalahan ia pun meminta bantuan kepada para santri putri yang sudah bisa menjahit.
Rencananya, semua hasilnya akan di pamerkan saat perayaan tahun baru islam. Dan juga akan dipamerkan dalam acara -acara bertaraf nasional.
Bu Arimbi menganjurkan agar Tiara selalu memakai baju hasil rancangannya saat pergi ke Kampus, agar teman-teman Tiara bisa melihatnya langsung.
Tiara pun sering membawa serta Risman saat pulang ke Pondok, hal itu membuat Gilang senang, karena merasa memiliki teman.
"Aku seperti tidak asing dengan wajah anak ini", Tiara menatap lekat Risman yang sedang bermain dengan Gilang.
"Wajahnya sudah tidak asing, anak ini juga sudah pandai mengaji", gumam Tiara.
Gilang dan Risman saling tertawa lepas. Tiara pun kembali melirik mereka karena tawa Risman sangat mirip dengan tawa yang sering ia dari salah satu santri di Pondok.
"Aduh..., tawanya itu , kok seperti tawa ...., siapa ya?", Tiara termenung.
Dari cerobong Masjid terdengar suara adzan, itu pasti suara Robi. Ada getaran lembut dalam hati Tiara di setiap lafad azdan yang dilantunkan Robi.
"Sudah bermainnya, kalian shalat dulu, tuh sudah adzan", seru Tiara.
Gilang dan Risman langsung menghentikan kegiatannya, mereka segera berlari menuju Masjid.
"Awas jangan berlari, berjalan saja", tegur Tiara lagi.
"Iya Teteh...", teriak Gilang, ia berjalan bergandengan dengan Risman.
Tak lama Gilang dan Risman pun kembali ke rumah. "Teteh...Teteh...", teriak Gilang, ia mencari keberadaan Tiara.
"Iya..., ada apa?, kok bukannya mengucap salam, ini malah berteriak-teriak", tegur Tiara. Ia menghampiri Gilang dan Risman.
"Oh...iya, Assalamu'alaikum", teriak Gilang sambil tersenyum.
"Wa'alaikumsalam...., ada apa ?", senyum Tiara.
"Tadi A Robi yang menjadi imam shalatnya", kabari Gilang.
"Alhamdulillah...", senyum Tiara, hatinya kembali merasa senang, perlahan Robi sudah mulai mengamalkan ilmunya.
Karena begitu anjuran dari Abah, setiap mempelajari sesuatu, sebaiknya langsung diamalkan, biar hafalannya terjaga.
"Semoga kamu bisa menjadi penjaga ilmu, penerus Abah", gumam Tiara. Semakin lama rasa dalam hatinya yang tertuju pada Robi makin kuat saja.
"Teteh kenapa?, kok senyum-senyum sendiri begitu", ucap Risman.
"Teteh senang saja, kalian berdua cepat akrab, dan rukun, begitu ya seterusnya", senyum Tiara, ia menyentuh kepala Gilang Risman bergantian.
"Kita kan saudara ", cicit Gilang, ia memeluk Risman, begitu juga Risman, ia pun membalas pelukan Gilang. Al hasil mereka kini saling berpelukan.
Sikap mereka sontak membuat Tiara tersenyum.
__ADS_1
"Teteh..., biar Risman tidur di sini saja, jadi Gilang ada teman terus", Gilang merajuk.
"Risman juga kan punya rumah, ada ibunya juga, nanti harus minta ijin dulu sama ibunya Risman, boleh nggak kalau Risman tidur di sini", ucap Tiara.
"Teteh..., Gilang mau ke Kobong A Robi dulu", teriak Gilang.
"Iya..., tapi ingat!, jangan merepotkan A Robi ya, kalau A Robi lagi belajar, jangan mengganggu", nasehati Tiara.
"Iya", teriak Gilang yang sudah menjauh dari rumah Abah.
Tiara melepas kepergian mereka dengan tersenyum.
Di Kobong, Robi sedang ngobrol dengan Mang Daman. Ia sedang bercerita saat dirinya sedang dipenjara. Robi bercerita tentang Badrun.
Robi berusaha bersikap reaktif, karena melihat Mang Daman yang selalu menghindar, mungkin harus ia yang lebih dulu bertindak.
"Siapa Den, Badrun?", Mang Daman tampak kaget, namun dengan cepat ia kembali bersikap wajar.
'Badrun kan bukan hanya satu orang, mungkin ini orang lain', pikir Mang Daman.
Ia mendengarkan cerita Robi. Dan pada saat Robi bercerita kalau penyebab Badrun di penjara karena di tuduh melecehkan seorang wanita, Mang Daman langsung yakin, kalau ini adalah orang yang sama, Badrun yang dulu pernah tinggal di kobong ini.
"Kasihan ya Mang, saya yakin, Badrun ini tidak bersalah, ada orang lain yang bersembunyi di balik dia, Badrun ini hanya jadi kambing hitam saja", Robi menatap Mang Daman. Ia ingin melihat perubahan mimik muka Mang Daman.
Namun Mang Daman bukan orang sembarangan, ia bisa menyembunyikan rasa kagetnya dengan sikap yang wajar.
"Iya, tapi yakin saja Den, setiap kejahatan itu lambat laun akan terbongkar",
"Mang , yang membuat saya penasaran, Badrun bilang, nama Pondoknya sama dengan nama Pondok ini, Al-Furqon", Ucap Robi.
"Degh", saat ini Mang Daman merasa mati kutu, ia tidak dapat mengelak lagi, namun ia tetap bersikap tenang.
"Mungkin Abah yang lebih tahu Den, Mang juga kan baru di sini", alasan Mang Daman. Ia tidak berani mengungkap semua itu, karena masih ada Abah yang lebih berwenang mengungkap semuanya.
'Heum..., kalau dengan Abah , Mana berani', pikir Robi
"Assalamu'alaikum...", terdengar suara Gilang dan Risman di luar.
"Wa'alaikumsalam", jawab Robi, ia membuka pintu, dan benar saja, dua bocah itu sudah berdiri tegak di depan pintu kobongnya.
Gilang melihat ada Mang Daman di dalam, jadi ia tidak berani masuk ke dalam.
"Ayo!, mau main atau mau bekajar?", tatap Robi.
"Nggak Ah..., nanti saja mainnya, kita mau ke Teteh lagi", ucap Gilang, ia membalikkan badan dan kembali menuju rumah Abah.
****
"Kamu bisa ngebengkel juga", sapa Fikri saat mendapati Dery yang sedang mengotak-atik sepeda motor yang mati.
"Iya..., waktu di kota kan saya mengelola bengkel juga, sebelum terlibat masalah dengan teman saya sendiri, makanya saya memilih meninggalkan dia, dan menetap di sini", ucap Dery.
"Wah..., ternyata masih musim ya, teman makan teman", kekeh Fikri.
"Aku masih dendam sama dia , dan sedang mencari waktu yang tepat untuk kembali membuat dia sengsara", geram Dery.
__ADS_1
"Robi, aku tidak akan tenang sebelum bisa membuatmu sengsara", gumam Dery.
"Robi...., apa itu Robi yang sama?", gumam Fikri,