
"Masya Allah..., siapa lagi mereka?, di luar banyak orang", kabari Tiara sambil tetap berdiri di balik daun pintu.
" Hai kalian..., ayo keluar !!, kami tahu kalian ada di dalam, jangan sampai kami dobrak ini pintu", ancam salah seorang pria yang ada di luar.
"Bagaimana ini ..., kita harus bagaimana?", Tiara menatap Robi yang masih terlihat tenang, ia baru saja mencharger ponselnya.
Dengan tenang juga Robi melangkah mendekati pintu dan mengintip ke luar.
"Eumh...mau apa lagi mereka, tapi tidak ada dua orang yang tadi mengejar kita", gumam Robi.
"Kamu tunggu saja di sini, biar aku yang keluar dan hadapi mereka", ucap Robi sambil menatap Tiara.
"Tapi..., aku takut...",
"Jangan takut Tiara, kita tidak salah, kita tidak berbuat apa-apa kan?", tatap Robi.
"Kamu diam saja di sini, oke !!", Robi setengah menggiring Tiara untuk duduk di pinggir tempat tidur.
"Aku takut ..., aku takut kamu kenapa-kenapa, aku kan tidak punya siapa-siapa lagi di sini", lirih Tiara.
" Iya..., kamu tenang saja, do'akan, aku akan baik-baik saja", senyum Robi, ia menatap Tiara , pandangan mereka kini terkunci lagi, Robi bisa melihat kedua mata Tiara kini mulai berembun.
"Aku akan baik-baik saja , kita akan baik-baik saja Tiara", ucap Robi sebelum melangkah menuju pintu.
Perlahan Robi membuka daun pintu, teriakan orang-orang di luar makin terdengar jelas.
Dan tampaklah oleh Robi , ada banyak orang yang sedang berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
"Hai..., ngapain saja kamu, lama banget, cuma buka pintu doang", bentak seorang pria kepada Robi.
"Maaf Pak , kami baru saja pulang dari Pasar, ada apa ini?", tatap Robi.
"Alaahhh...., alesan..., paling juga lagi indehoy...kan?", tuduh seorang pria lagi, ia menyeringai ke arah dalam.
"Iya ..., pasti kalian sedang mesum kan?, kami tahu kalian orang baru, mana identitas kalian, pasti kalian itu pasangan muda yang belum menikah, tapi sudah berani tidur satu ranjang, iya kan?", tuduh pria yang satu lagi.
"Tidak Pak, tuduhan itu tidak benar..., memang kami belum menikah, tapi...",
"Alaahhh....sudah, jangan didengarkan , ini sudah terbukti, dia juga sudah ngaku tuh belum menikah, kita bawa saja mereka ke Balai Desa, atau langsung saja laporkan ke Polisi, biar kapok", Ucap Pria tadi.
__ADS_1
Mereka melangkah mendekati Robi .
"Tunggu Pak !!, kita masih bisa bicara baik-baik kan, kami ini hanya terdampar di sini, kami juga tidak sengaja datang ke sini, kami ini hanya berdua , dia sudah menjadi tanggung jawab saya di sini, lagi pula semalam hujan deras dan hanya ada satu kamar kosong, jadi mau tidak mau kita di kamar ini berdua, tapi kita tidak berbuat seperti yang dituduhkan tadi", jelaskan Robi.
"Aallaaahhh...., banyak alasan, sudah Pak jangan dengarkan dia, pintar berkilah ini orang", teriak warga.
"Iya...Pak..., bawa saja mereka",
"Iya...iya..., mana yang satu lagi, sekalian bawa juga", kompori warga.
Warga yang tersulut amarah merangseg masuk untuk mencari Tiara, sementara Robi sudah tidak bisa mencegah mereka .
Tubuh Robi sudah mentok dengan daun pintu. Kini pintu pun sudah dibuka paksa oleh warga.
"Mana...mana ...mana...pasangannya, hai kamu keluar...!!", bentak seorang pria yang ditahan tubuhnya oleh Robi di ambang pintu.
"Allahu....Akbar....", teriak Robi, ada seorang pria yang sengaja melayangkan tinjunya ke arah wajah dan perut Robi, hingga tubuh Robi pun ambruk di depan pintu, tidak kuat lagi menahan beringasnya warga.
"Allahu...Akbar..., Robi....", Tiara memburunya, ia menunduk memegangi tubuh Robi.
"Kalian ini kenapa?, apa tidak bisa bicara baik-baik, tidak perlu kasar begini kan?", tatap Tiara.
"Heh..., kalian ini jangan asal tuduh saja, memang kami satu kamar, tapi kami tidak berbuat apa-apa, kami tidak melanggar norma apa pun", tegas Tiara, ia memandang tajam ke arah warga.
"Tuh kalian lihat..., aku ini sedang datang bulan, mana mungkin kita berbuat macam-macam", Tiara melemparkan bungkusan pembalut yang tadi dibelikan Robi.
"Sudah...sudah..., bawa saja, mana ada maling ngaku", ucap seorang warga.
"Ayo cepat bawa mereka berdua", ucap Warga.
Dua orang warga mendekat, namun langkah mereka terhenti dengan teriakan Tiara.
"Stop !!, kalian semua diam di tempat !!, kami bisa bangun dan berjalan sendiri, jangan ada yang berani menyentuh kami", tegas Tiara.
Seketika kerumunan warga pun mundur, mereka membiarkan Tiara dan Robi berdiri . Tiara memegangi tubuh Robi untuk bangun, Robi bisa melihat, kini kedua kelopak mata Tiara tidak lagi berembun seperti tadi, tapi sudah basah dengan buliran bening yang terus mendesak keluar.
"Tiara..., kamu tidak apa-apa...?", tatap Robi sambil berusaha untuk berdiri, ulu hati dan bibirnya masih terasa sakit.
"Tidak..., ayo kita ikuti saja kemauan mereka", ucap Tiara sambil menyeka kasar air matanya.
__ADS_1
Di luar , Tiara dan Robi bertemu dengan Bu Salma, pemilik Penginapan, ia hanya menatap mereka, tidak bisa berbuat apa-apa.
Tiara mungkin tidak sadar, kini dia sudah menggandeng tangan Robi, mereka berjalan digiring warga menuju ke Kelurahan.
"Maafkan aku, aku tidak bisa melindungi kamu Tiara", gumam Robi.
"Sudah..., kita hadapi saja, ini bukan salah siapa-siapa, kita hanya berada di tempat dan waktu yang salah saja", ucap Tiara datar. Sepertinya Tiara sudah pasrah.
"Maaf..., karena aku, kamu lagi-lagi menghadapi masalah", lirih Tiara.
"Seharusnya kamu tidak mengikuti aku sampai ke sini, kasihan orang tuamu",
"Mereka yang menyuruhku menyusul kamu Tiara, mereka tidak apa-apa, justru mereka ingin kita pulang bersama dengan selamat, jadi kamu tenang saja, kita tidak bersalah, Allah pasti menolong kita", senyum Robi, ia meyakinkan Tiara.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di Kelurahan, semua orang menatap nyinyir ke arah Robi dan Tiara.
"Tidak menyangka ya..., pasti mereka di grebeg warga", ucap seorang wanita yang baru keluar dari Kelurahan.
"Ayo kalian duduk!!", perintah seorang warga.
"Bapak-bapak, tunggu sebentar!, Pak Lurah lagi ada tamu, mohon jangan ribut, biar ini kami yang tangani", ucap seorang petugas Kelurahan, ia mempersilahkan semua warga yang ikut untuk duduk.
Tiara dan Robi duduk di kursi paling depan, mereka menunduk bak seorang pesakitan.
Selang beberapa lama, keluar Pak Lurah beserta dua orang pria yang menjadi tamunya. Mereka tampak berbincang sesaat sebelum menghadap para warga.
"Itu mereka...", ucap seorang pria yang baru keluar bersama Pak Lurah, ia menunjuk ke arah Tiara dan Robi yang tampak masih menunduk.
"Iya...Pak , itu mereka yang kami cari, kok bisa berada di sini?", ucap pria yang satunya lagi.
Mereka mendekati Tiara dan Robi yang tidak menyadari kehadiran mereka.
"Tiara....?",
"Robi....?",
Sontak Tiara dan Robi melihat ke arah sumber suara.
"Kalian...?", kompak Tiara dan Robi, mereka tampak terkejut. Mereka masih bisa mengingat dua pria itu.
__ADS_1