
"Aduh...., sial kirain You itu tajir, nyatanya miskin , ternyata benar You itu cuma bule peliharaan Tante-Tante saja", gerutu Marisa.
"You juga yang sudah pakai uangnya kan?, kalau tidak, kita tidak ajan begini, memalukan", sewot Briant.
Marisa dan Briant saling menyalahkan, mereka ribut di pinggir jalan, dan menjadi tontonan para pengguna jalan.
"Sudah...., kita pulang saja, lihat aku kepanasan nih", Marisa menghalau wajahnya dari paparan sinar matahari dengan tasnya.
"Taxi!", Briant melambai tangan pada Taxi yang lewat, mereka menaikinya berdua menuju Apartement Briant.
"Stop depan Pak", pinta Briant.
Taxi pun berhenti tepat di depan Apartement, Briant dan Marisa turun.
"Seratus lima puluh ribu", ucap Sopir memberitahu jumlah uang yang harus di bayar. Kembali Briant dan Marisa saling pandang, mereka sudah tidak ada uang.
"Sebentar Pak, saya ambil dulu ", pamit Briant, ia bermaksud mengambil dulu uang ke kamar Apartementnya. Namun sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Stop!", dua orang laki-laki bertubuh kekar menghampirinya.
"Kamu Briant?", tanyai seorang dari mereka.
"Yes .., I'am", sahut Briant, ia terlihat heran dengan kedatangan dua orang itu.
"Kami petugas Imigrasi, menjemput anda karena anda dideportasi , Visa anda sudah habis, jadi sebaiknya anda segera berkemas", jelas petugas yang satunya lagi.
"Oh...God...", desis Briant, ia menggelengkan kepalanya.
Briant berjalan lemas menuju Apartementnya, sementara Marisa memilih kabur, ia kembali menaiki Taxi yang masih ada di depannya, Marisa pulang menuju rumahnya.
"Nanti tidak bisa bayar lagi Nona", cibir Sopir Taxi begitu Marisa memintanya segera jalan.
"Nanti aku bayar di rumah Pak, mau satu juta juga ada", sewot Marisa. Hari ini ia benar-benar di buat kesal dan malu oleh Briant.
Di salon, di rumah Robi, dab sekarang ia pun terlantar dijalanan seorang diri.
"Sssiittt...., dasar bule kere....., nyesel aku kenal sama kamu", gerutu Marisa, ia mendumel dalam hatinya. Menyesali kebodohannya. Sudah melepas Robi, sudah melepas Dery, dan kini bule idamannya pun dideportasi.
"Robi...., ini balasanku karena sudah menghkianatimu", gumam Marisa. Ia termenung sedari melihat ke arah luar.
"Di mana Neng?", tanya Pak Sopir. Marisa terhenyak, ia baru sadar kalau dirinya sudah jauh nyasar, ia tidak menjawab saat sopir bertanya arah, jadinya sopir itu asal saja meluncur ke lajur kiri, yang seharusnya mereka mengambil lajur kanan.
__ADS_1
"Aduh...Pak...., ini salah, harusnya tadi Bapak ambil jalur yang kanan, bukan kiri", gerutu Marisa.
"Tadi di tanya dian saja , ya sudah saya inisiatif sendiri saja", bela Pak Sopir.
"Putar balik di depan Pak, dari san lurus saja", perintah Marisa kesal.
"Baik Neng", Pak sopir menuruti perintah Marisa.
Kali ini Marisa benar-benar fokus, ia melihat lurus ke depan, takutnya nyasar lagi.
"Di depan belok kiri , rumah yang ada pohon palm tiga Pak", Marisa kembali memberi petunjuk.
[Bi, ambilkan dompet aku di laci meja rias, sekarang bawa ke luar, aku lagi di taxi nih], perintah Marisa saat bicara lewat ponselnya.
Taxi menepi di depan rumah yang ada pohon palm tiga. Dan tidak lama gerbang pun terbuka, seorang wanita paruh baya menghampiri Marisa yang baru saja keluar dari taxi.
"Ini Non dompetnya", wanita itu memberikan dompet kepada Marisa. Dan dengan berat hati Marisa pun memberikan sejumlah uang sesuai dengan jumlah yang tertera di monitor argo.
"Terima kadih Non", ucap Sopir itu, dan segera melajukan kembali taxi meninggalkan Marisa dan wanita itu",
"Hah..., akhirnya bisa sampai rumah juga", Marisa bernafas lega.
"Terima kadih Bi, kita masuk!", ajak Marisa, ia menengok ke kiri dan ke kanan sebelum memasuki gerbang dan menguncinya kembali dari dalam.
"Sial ..., uangku jadi raib , mana harus membayar ke salon lagi, kalau tidak, KTP ku di tahan, bisa-bisa viral, seorang Marisa menjaminkan KTP nya di salon, memalukan!", gerutu Marisa, ia terus mendumel sesampainya di dalam kamar.
Marisa masuk ke kamar mandi, ia menghidupkan shower dan berdiam dibawahnya, ia ingin mendinginkan kepalanya yang terasa ingin pecah.
Dery yang sedang patroli , melihat Tiara sedang berkendara . Dery injak gas, ia ingin menyusul Tiara yang berkendara ke arah pasar. Namun Dery segera menghentikan laju sepeda motornya, ia menepi dan memperhatikan Tiara dari kejauhan.
Tiara sedang ngobrol dengan petugas parkir pasar yang mengetahui kejadian saat Abah dan Umi tertabrak .
"Pak, apa di sini ada CCTV?, saya ingin memastikan pelaku penabraknya", ucap Tiara.
"Lho..., bukannya sudah di tahan Neng, pelakunya sudah di tangkap kan?", petugas itu balik bertanya.
"Sudah Pak, tapi untuk menguatkan bukti saja, biar dia tidak bisa melakukan pembelaan, saya ingin dia mendapat hukuman setimpal", alasan Tiara, ia menyembunyikan maksud sebenarnya, biar petugas itu kooperatif dengannya.
"Nah di sana, di sana, dan di sana, ada di pasang CCTV, Neng tinggal minta ke bagian yang berwenang saja,
"Ke siapa Pak?", tanya Tiara bingung.
__ADS_1
"Neng bisa datangi bagian security saja, yang sana ke Bank, yang sana ke Kantor PLN, dan yang di sana, ke toko swalayan, temui saja bagian security nya", jelas petugas parkir itu.
"Oh..., terima kasih Pak", rengkuh Tiara.
"Sama-sama Neng, semoga Abah dan Umi cepat pulih", ucap petugas parkir itu.
"Aamiin...", senyum Tiara, ia melajukan kembali sepeda motornya menuju gedung Toko Swalayan. Di sana Tiara mengutarakan maksudnya. Namun ia terganjal izin, harus ada surat izin yang ia bawa dari Kepolisian untuk bisa melihat rekaman CCTV di sana .
Apalagi ini menyangkut kasus pidana, tidak sembarang orang bisa melihat tanpa izin pihak yang berwenang.
Alhasil , Tiara hanya termenung, ia bingung, apa harus dirinya pergi ke Kantor Polisi dulu, kalau begitu, ia akan bertemu dengan Robi di sana, itu yang Tiara hindari untuk sementara, Tiara tidak tega melihat Robi di sana.
"Pak, hari ini sudah bisa pulang, setelah urus semua berkas ini, Bapak dan Ibu sudah bisa pulang", kabari seorang Perawat yang berkunjung bersama Dokter ke kamar perawatan Abah.
"Alhamdulillah..., Abah senang Bu Dokter, tadinya kalau tidak bisa segera pulang, Abah akan memaksa, biar di rawat di rumah saja", senyum Abah.
"Sudah Abah, sudah boleh pulang kok, tapi ingat !, jangan terlalu cape, Abah masih dalam tahap pemulihan pasca operasi, nanti kami akan pantau", senyum Dokter.
"Ini semua administrasinya di urus dulu, tinggal di cap dan tanda tangan saja" , senyum Dokter.
"Aduh..., pasti mahal ya Dok?, berapa uang yang harus kami batar?", tatap Abah.
"Oh..., coba lihat dulu", Dokter itu meneliti lembar demi lembar dari kertas yang dipegangnya.
"Oh..., sepertinya semua biaya sudah lunas, ini ada tanda tangan Tiara", ucap Dokter.
"Tiara..., uang dari mana anak itu bisa melunasi biaya perawatan kita", tatap Abah kepada Umi Anisa.
"Mungkin tabungan Ara Abah, atau Ara menjual motor-motornya", lirih Umi.
Abah dan Umi merasa terharu, Tiara selalu bisa diandalkan dalam setiap kesusahan yang mereka alami.
"Mana Tiara Umi?", tanyai Abah.
"Degh....", kembali Umi terkejut, ia harus menjawab apa, apa harus berbohong seperti t Tiara tadi?,
"Tiara belum pulang sepertinya Abah, tadi pamit ke Kampus kan?", Umi menatap Abah.
"Oh...belum pulang?", Abah melirik jam dinding di tembok samping.
"Sudah sore masih belum pulang", gumam Abah.
__ADS_1
Umi sudah takut, sudah ketar ketir takutnya Abah bertanya ini itu lagi, bisa ketahuan kalau Tiara berbohong.