
Bu Arimbi sudah semakin membaik, Dokter pun sudah memperbolehkannya pulang. Kali ini Bu Arimbi tidak menghubungi Robi lagi, tapi malah meminta Briant untuk menjemputnya.
Bi Mimi pun kaget saat melihat ada bule di ruang perawatan Bu Arimbi. "Nyonya mau pulang sekarang?", Bi Mimi melihat Bu Arimbi sedang mengemasi barang-barangnya.
"Iya Bi, hari ini Dokter sudah memperbolehkan saya pulang",
"Kalau begitu..., Bibi telepon dulu Pak sopir biar menjemput ke sini", Bi Mimi hendak mengambil ponselnya.
"Nggak usah Bi, hari ini saya akan pulang ke Apartement bareng dia", tunjuk Bu Arimbi ke arah Briant.
Bi Mimi melirik ke arah Briant dan buru-buru menunduk kembali saat bule itu mulai bersikap mesra dengan Bu Arimbi.
Setelah semua siap, Bu Arimbi keluar ruang perawatan dengan digandeng Briant dan Bi Mimi mengikuti dengan menunduk dari belakang.
Di lorong mereka bertemu lagi dengan Marisa, kali ini ia terlihat berjalan sendiri tanpa Dery yang menemani.
"Tante?, sudah sehat?, sudah mau pulang?", Marisa menyalami Bu Arimbi dan melirik genit ke arah Briant . 'Gila..., bule ini cakep sekali', pikir Marisa.
"Ini siapa Tan?, rasanya baru melihat", Marisa tersenyum ke arah Briant.
"Oh...iya..., ini Briant Marisa, teman Tante ", Perkenalkan Bu Arimbi.
Marisa dan Briant pun bersalaman. Setelah itu Bu Arimbi dan Briant meninggalkan Rumah sakit dengan mobil. Bi Mimi di jemput Sopir dan Marisa pun pulang dengan mobilnya.
Namun kali ini Marisa tidak langsung menuju bengkel Dery, melainkan mengikuti mobil Briant, ia ingin tahu Apartement milik Briant, Marisa sudah terpikat oleh bule ganteng itu.
"Oh...jadi di sini?, boleh juga , biar ini menjadi target aku selanjutnya, sudah bosan sama Dery, yang kian kere aja", seringai Marisa.
Setelah mengetahui letak Apartement Briant, Marisa kembali memutar mobilnya menuju bengkel Dery.
Bi Mimi pulang di jemput sopir, ia langsung memasuki rumah dan membereskan barang barang dari Rumah Sakit. "Pantesan Den Robi tidak mau ke Rumah Sakit lagi, ini rupanya, Bule itu penyebabnya", gumam Bi Mimi.
"Aden..., di mana sekarang? rumah ini sudah hampir mati, nggak Tuan, nggak Nyonya, sama saja", gerutu Bi Mimi, ia juga merasa kesal dengan sikap kedua majikannya yang keukeuh dengan egonya masing-masing.
__ADS_1
Tiara sudah melaju kembali menuju bengkel Dery, kini ia sudah yakin, kalau sepeda motor itu benar milik Robi, dia hanya ingin mengetahui kenapa motor Robi bisa ada di sini. Dan yang terpenting lagi,Tiara ingin memastikan apa dugaannya benar, kalau Rahmat itu Robi.
Kebetulan Robi sudah ada di sana, ia terlihat senang begitu melihat Tiara menepi ke bengkelnya.
"Assalamu'alaikum", Tiara mengucap salam begitu sampai di dekat Robi.
"Wa'alaikumsalam...", ada yang bisa di bantu lagi?", senyum Robi.
"Biasa lah Bang tolong service rutin saja, biar tidak mogok-mogok di jalan", senyum Tiara.
"Boleh..., mau ditunggu nih?, apa tidak akan telat ?", Robi melirik ke arah Tiara yang sudah duduk di tempat di kursi yang ada di sampingnya.
"Nggak Bang..., jam kuliahnya masih tiga jam lagi, kan sengaja saya datang lebih awal biar bisa ke sini dulu", ucap Tiara.
"Dunia ini memang sempit, kita bisa bertemu lagi di sini", gumam Tiara.
"Kenapa?", Robi melirik Tiara yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Ah...nggak", Tiara mencoba mendial nomer lama Robi yang dulu sempat ia hubungi waktu Robi ulang tahun dulu. Namun tidak ada suara dering ponsel yang didengarnya. Tiara kira jiga ada suara dering ponsel di sekitar Rahmat, berarti itu ponselnya Robi yang berdering.
Tiara dengan kecewa memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, dugaannya ternyata meleset, Rahmat tidak membawa ponsel.
"Terima kasih lho Mas, dulu sudah menolong saya", Tiara kembali membuka pembicaraan.
"Iya..., itu sudah berlalu Mba", senyum Robi.
"Oh iya Bang, di lapangan sana ada pasar malam, saya mau bawa adik ke sana sabtu malam, Abang sudah ke sana ?",
"Ha...ha...ha...., buat apa saya ke sana Mba, kaya anak kecil saja", Robi tertawa .
"Ya..., siapa tahu kan bisa sekalian bernostalgia gitu, mengenang masa kecil",
"Saya belum pernah ke pasar malam", ucap Robi datar. Memang benar, dirinya belum pernah ke pasar malam sekalipun. Dulu Mamih dan papihnya selalu tidak ada waktu untuk mengantarnya ke pasar malam sekalipun.
__ADS_1
"Belum pernah ke pasar malam?, sekalipun?", Tiara melirik Robi.
"Iya..., kenapa memang, memprihatinkan bukan?, ke pasar malam saja, saya belum pernah",
"Nah...kalau begitu..., besok sabtu malam, ke sana saja, kita bertemu disana, rame lho, biar Abang tahu saja, mumpung ada , sekali seumur hidup Bang", kekeh Tiara. Dia tertawa karena merasa lucu saja, ada orang yang belum pernah main ke pasar malam.
Sontak keakraban diantara Tiara dan Rahmat menjadi pusat perhatian bagi Dery dan teman-temannya. Bahkan Tiara sampai tertawa seperti itu.
"Lagi ngapain mereka?", Dery memperhatikan Tiara yang sedang menatap Rahmat. Tiba-tiba saja hatinya merasa terbakar, Dery tidak menyukai itu. Kalau tidak ada Marisa di sampingnya , Dery mungkin sudah menghampiri mereka, atau Dery lah yang akan menangani sepeda motor Tiara seperti waktu itu.
"Biarin saja Bos, itu kan bagian dari pelayanan juga, biar pelanggan betah , nanti jadi langganan tetap, kan lumayan", bela Ronald.
"Apalagi wanita ninja itu sudah sering service di sini", ucap Ilyas mendukung Ronald.
"Jadi Tiara sudah menjadi pelanggan tetap bengkel kita?", Dery menatap Tiara dan Robi yang kini tampak sedang tertawa kembali.
Ada kedekatan yang sudah terjalin diantara mereka. Itu yang bisa Dery simpulkan.
"Sudah...ngapain lagi urusin hidup orang, nggak penting", Marisa cemberut, ia membalikkan wajah Dery yang sedang memperhatikan Robi dan Tiara ke arahnya.
"Sudah, kita berangkat saja ke Kampus , mampir dulu ke toko kosmetik ya, beliin aku lipstik dan parfum", Marisa menggandeng tangan Dery .
Dery mendekati Robi dan Tiara, "Gue pinjam lagi motor Loe", ucap Dery, dia mengadahkan tangannya meminta kunci motornya.
"Jangan lah..., minggu besok kan mau dipake balapan, sudah Gue siapkan semuanya buat balapan", tolak Rahmat.
"Dasar pelit, Loe", Dery mendengus meninggalkan Robi dan Tiara
"Balapan?, Abang mau balapan?", Tiara menatap Rahmat.
"Iya..., minggu besok, do'ain aku ya, biar menang", senyum Robi.
"Emh...., aku tidak suka balapan, itu berbahaya, apalagi kalau balapan liar, iihh...menakutkan", Tiara bergidik.
__ADS_1
"Nggak apa kalau tidak suka, tapi tetap do'ain aku , biar selamat", senyum Robi .