Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Kalah Telak


__ADS_3

"Beb, antar aku salon ya, aku mau perawatan kecantikan, mumpung ada diskon , lumayan kan, biasanya aku bayar 1,5, sekarang hanya 900 saja", Marisa menggandeng tangan Briant, mereka baru saja keluar dari Apartement Briant.


Bule itu benar-benar sudah membuat Marisa buta, ia rela melakukan apa pun, asal bisa bersama Briant, dengan bersamanya ia jadi banyak di puji oleh teman-temannya.


Begitu juga saat mereka sampai di Salon, para pengunjung yang sudah ada, yang rata-rata masih muda, mereka tampak heboh. Mereka langsung memasang tampang cantik mereka dan tersenyum menyambut kedatangan Briant.


"Iiihhh...pada ganjen sih, jangan lihat mereka, apalagi tersenyum, nanti tambah baper mereka", bisik Marisa, ia tidak melepas tangannya yang menggandeng tangan Briant begitu masuk ke dalam salon.


Marisa langsung menjalani serangkaian perawatan, sementara Briant dengan setia menunggunya sambil membaca majalah.


"Mana?", Marisa menadahkan tangan meminta uang kepada Briant.


"Aku tidak bawa uang kes", Briant menatap Marisa.


"Terus aku bayarnya gimana?, aku tidak membawa uang", Marisa cemberut.


"Kamu itu ya, kebiasaan, pergi ke mana-mana tanpa membawa uang, lama-lama kan uangku juga habis", sewot Briant.


"Kamu kan cowo, sudah seharusnya kamu yang bayar untuk semua keperluanku, kamu kan bisa minta uang lagi kepada Tante genit itu",


"Coba pakai ini, mungkin masih bisa", Briant memberikan kartu kreditnya kepada Marisa.


"Nah, begitu..., kamu kan masih punya banyak kartu ajaib di dompetmu", senyum Marisa. Ia segera menyambar kartu itu dan kembali menemui kasir.


Namun sayang, kartu itu sudah tidak bisa di pakai. Marisa kembali menemui Briant dengan cemberut.


"Kartu apa ini?, sudah di blokir, tidak bisa dipakai", Marisa menyerahkan kembali kartu kredit tadi kepada Briant.


"Masa nggak bisa di pakai?, sini aku masih ada kartu yang lainnya", Briant berdiri dan berjalan menuju kasir.


Di sana ia melihat sendiri kalau benar kartu kreditnya sudah tidak bisa digunakan lagi, bahkan Briant mencoba dengan semua kartu kreditnya, bahkan kartu ATM nya juga.


"Ini tidak benar, kenapa sampai di blokir semuanya", geram Briant.


Ia melangkah keluar diikuti Marisa, namun seorang petugas salon menghentikannya. "Tunggu Nona, anda tidak bisa begitu saja keluar, anda belum membayar biaya perawatan ",


"Iya..., ini kita mau mengurus dulu pemblokiran semua kartu ATM dan kartu kredit kita, bulan mau kabur kok", sewot Marisa.


"Iya, kami percaya, tapi setidaknya tinggalkan kartu pengenal anda, biar kami ada jaminan kalau anda tidak bohong dan tidak akan kabur", ucap petugas itu.


Marisa menatap Briant, "Sudah kasih KTP kamu saja, aku kan tidak punya ", pinta Briant.


"Iihhh...., aku lagi, dasar Bule kere", gerutu Marisa.


Ia berikan juga KTP nya kepada petugas itu.


"Nah...begini kan lebih enak, kalau ada sesuatu kami gampang menghubungi anda, terima kasih atas kunjungannya ", senyum Petugas itu.


"Iihhh..., tampangnya saja kece, ternyata kere", cicit para pengunjung salon yang sempat mendengar kecekcokan di luar.


Marisa dengan langkah cepat mengejar Briant yang sudah ada di dalam mobil. Ia tidak mengindahkan ucapan para pengunjung tadi.Briant tampak kesal saat mengetahui semua kartunya sudah di blokir.


"Ini pasti kerjaan Nyonya tua itu", gumam Briant.

__ADS_1


"Apa?", Marisa langsung melirik ke arah Briant dan duduk disampingnya.


"Ini pasti ulah Arimbi, ia yang telah memblokir kartu-kartu aku", Briant meninju kemudi yang ada didepannya.


"Jadi, semua kartu itu pemberian Bu Arimbi?, bukan milik kamu?", tatap Marisa.


"Iya..., itu aku dapat saat masih menjadi assistent pribadinya, semua itu fasilitas yang Arimbi berikan kepadaku, termasuk Apartement, dan mobil ini", jelaskan Briant.


"Iihhh...., benar saja, ternyata kamu memang bule kere", gumam Marisa. Untung saja Briant tidak sempat mendengarnya. Jadi ia tetap fokus mengendalikan mobilnya.


Tujuannya sudah pasti, rumah Bu Arimbi.


Pak Karman yang melihat Briant di dalam mobil, merasa ragu untuk mempersilahkannya masuk, karena ia tahu di dalam sedang ada Pak Robani.


Bisa terjadi perang dunia kalau sampai mereka bertemu.


Namun Briant sepertinya Keukeuh ingin masuk, ia membunyikan klaksonnya berkali-berkali.


"Aduh Pak..., kok tidak di suruh masuk saja, itu siapa yang mau bertamu?", tanpa di duga Pak Robani datang menghampiri Pak Karman yang terlihat terkejut melihat kedatangannya


"Siapa ?, suruh masuk saja, siapa tahu ada perlu penting", Pak Robani melirik ke arah luar, ia kembali berjalan-jalan di sekitar halaman rumahnya.


Pak Karman menurut, ia membuka gerbang dan membiarkan mobil Briant masuk. Dan segera setelah memarkir mobilnya, Briant turun dari mobil, ia tampak berjalan menuju pintu depan.


Pak Robani yang mengenalinya membiarkan saja Briant masuk, ia ingin tahu bagaimana reaksi istrinya. Apa Ia akan tetap menerima tamunya itu walau sedang ada dirinya di rumah.


Pak Robani juga sempat melihat Marisa yang ada di dalam mobil beserta Briant, ia mentautkan alisnya karena merasa pernah melihat gadis itu.


"Tapi Beb, I'am so sorry", Briant menolak untuk pergi, ia terus membujuk Bu Arimbi untuk memaafkannya dan tidak mengusirnya.


"Sudah...!, aku sudah tidak membutuhkan kehadiranmu lagi di sini", tegas Bu Arimbi.


"Tapi...Beb", Briant terus memohon dan menolak untuk pergi.


"Kamu ini tidak bisa mendengar apa?, yang punya rumah sudah tidak mau menerima, kok ngeyel, maksa", bentak Pak Robani yang sudah berdiri di belakang mereka.


Briant dan Bu Arimbi terkejut, mereka kompak melihat ke arah sumber suara.


"Papih....", gumam Bu Arimbi. Ia menunduk merasa malu dengan keributan yang telah dibuatnya bersama Briant.


"Anda siapa?, jangab ikut campur, ini urusan kami", Briant balik menghadap Pak Robani, ia tidak tahu kalau orang di depannya itu suami dari Bu Arimbi.


"Oh..., punya nyali juga kamu, nih perkenalkan saya Robani, pemilik rumah ini, dan saat ini saya juga masih menjadi suami dari wanita yang ada di depan kamu, tidak tahu malu ya, datang-datang bikin ribut di rumah orang , pake bentak -bentak lagi", tegas Pak Robani.


"Degh",Briant langsung ciut begitu mendengar ucapan dari Pak Robani. Ia menatap Bu Arimbi, seolah menyalahkan Bu Arimbi karena tidak memberitahunya kalau suaminya kini sedang ada di rumah.


Bu Arimbi hanya menunduk, ia merasa tersanjung dengan ucapan suaminya yang membelanya di depan Briant.


"Pintu gerbang masih terbuka, silahkan kamu pergi!, sebelum saya berbuat kasar", bentak Pak Robani lagi, ia menunjuk ke arah pintu keluar.


Briant melirik Bu Arimbi lalu berjalan menuju mobilnya, ia hendak masuk kembali ke dalam mobil.


"Stop!, tinggalkan saja mobil itu, saya tahu, itu mobil bukan milik kamu, saya membeli mobil itu untuk anak saya Robi, enak saja kamu main pake saja, mana sini berikan kuncinya !", Pak Robani menadahkan tangannya ke arah Briant.

__ADS_1


Briant kembali menatap Bu Arimbi, dengan berat hati, ia berikan kunci mobil itu kepada Pak Robani yang sedang menatapnya tajam.


"Good", senyum Pak Robani, ia memegang kunci yang diberikan Briant.


Marisa pun keluar dari dalam mobil, ia sudah mendengar semuanya. Ia berjalan mendekati Briant.


"Tunggu!, saya sepertinya pernah melihat kamu, tapi dimana ya", Pak Robani tampak sedang mengingat .


"Oh...yes..., kamu itu pacarnya Robi kan?, kok bisa bersama bule ini, ha ....ha...ha ..., ternyata ini kumpulan para selingkuhan", kekeh Pak Robani .


"Dunia ini memang sempit ya , selingkuhan ibunya, selingkuh lagi dengan pacar anaknya, hebat....", kekeh Pak Robani, ia melirik ke arah Bu Arimbi.


"Sudah...sana... , kalian sudah tidak ada tempat di sini!", usir Pak Robani .


Marisa dan Briant meninggalkan rumah dengan diiringi tatapan Bu Arimbi dan Pak Robani.


"Huh..., tahu rasa kalian, semoga dengan perginya bule itu, kehidupan Tuan Nyonya akan kembali membaik", gumam Bi Mimi yang mengintip keributan itu dari balik tirai pintu dapur.


Bu Arimbi menatap suaminya yang terlihat senang sudah membuat Marisa dan Briant malu.


"Ini simpan baik-baik!, aku tidak suka kamu main kasih saja fasilitas kita buat orang yang tidak jelas", Pak Robani melemparkan kunci mobil yang ia ambil dari Briant tadi.


Bu Arimbi menangkapnya, ia pegang kunci itu, dan melihat suaminya sedang menerima telepon dari seseorang. "Pasti wanita itu yang meneleponnya", gerutu Bu Arimbi. Ia melangkah masuk, ia tidak ingin melihat pemandangan itu.


Tak lama Pak Robani masuk dan langsung menuju kamarnya, ia kembali ke luar dengan setelan rapi.


"Mau kemana?, pasti mau menemui wanita itu lagi kan?", sambar Bu Arimbi. Ia melirik sinis ke arah suaminya.


"Mulailah berfikir positif, aku aku menemui pengacara untuk membicarakan kasus Robi", terang Pak Robani.


"Nih...kamu bisa cek, itu nomer kontak pengacara itu", Pak Robani melempar sebuah kartu nama ke arah Bu Arimbi, setelah itu ia pergi menuju tempat yang sudah ditentukan Anton untuk pertemuan tersebut.


"Emh..., mulai peduli juga dia sama Robi", gumam Bu Arimbi, hatinya kembali senang.


'Maaf...,aku selalu curiga kepadamu Pih', Bu Arimbi bicara dalam hatinya, ia pungut juga kartu nama itu dan menyimpannya, siapa tahu suatu saat nanti ia memerlukannya.


"Sudah lama gadis ninja itu tidak datang ke sini", Ronald memandang ke arah jalanan, melihat lalu lalang kendaraan, tidak ada satu pun dari mereka yang belok atau merapat ke bengkelnya.


"Sudah siang begini, belum ada satu pun pelanggan yang datang", Ilyas merebahkan tubuhnya di sofa sambil memainkan gawainya.


"Ini sudah tidak benar Bro, Bos kita sudah keterlaluan, Robi sudah Bos jadikan sebagai kambing hitam, si Bos pelakunya, Robi yang dipenjara, kasihan dia", Ronald menerawang.


"Huus..., hati-hati!, kedengaran sama Bos Dery, habis kamu", ingatkan Ilyas.


"Eemmhhh...., kita harus mulai bertindak, kita harus mulai hidup bener, jangan begini terus, aku tidak tenang, terus-terusan di kejar rasa bersalah",


"Terus.... , kamu mau ngapain?, menentang Bos Dery?, emangnya berani?, bisa-bisa kamu jadi perkedel, di tendang dari sini, mau jadi gelandangan?", tatap Ilyas


"Nggak tahu juga sih...., aku mau menolong Robi, tapi tidak tahu caranya", Ronal kembali menerawang.


Tiara menyempatkan diri mampir ke Pasar, ia harus menemukan bukti baru, untuk bisa membebaskan Robi daru penjara.


Tiara masih ingat, tempat Abah dan Umi tertabrak, ia bermaksud menemui kembali penjaga parkir itu. Siapa tahu ada titik terang.

__ADS_1


__ADS_2