
"Nyimas, ibunya Risman?", gumam Robi. Sepanjang jalan menuju Kobong ia terus saja memikirkan hal itu.
Apalagi ia juga melihat sendiri bagaimana paniknya Nyimas saat Risman kritis di Rumah Sakit, bahkan Nyimas juga sempat meminta tolong Ustad Fikri untuk menolong Risman.
'Apa Nyimas ini wanita dari masa lalunya Ustad Fikri?, dan Risman anaknya?', batin Robi terus bicara, sampai ia tidak fokus , Robi terus saja berjalan , ia tidak belok ke Kobongnya malah lurur menuju rumah Abah.
"Nak Robi?, mampir dulu, kita minum teh hangat?", tawari Umi yang sedang menyapu teras depan.
Robi terperangah, ia melihat sekeliling. "Astaghfirullah..., kok sudah sampai sini", ci it Robi. Ia merengkuh dan menghampiri Umi yang juga tersenyum melihatnya.
"Assalamu'alaikum Umi", Robi menghampiri Umi, dan menyalaminya.
"Kenapa?, seperti yang kaget begitu?", senyum Umi.
"Ini Umi, saya kaget, kok sudah sampai ke sini, padahal tujuannya mau ke Kobong, tiba-tiba sudah sampai di sini saja", Kekeh Robi.
"Sepertinya kalau tidak disapa oleh Umi, saya bisa berjalan terus sampai ke gerbang",
"Masya Allah...., pasti berjalan sambil melamun ya?, sampai tidak memperhatikan sekitar, ayo mampir dulu, sudah sampai di sini tanggung", ajak Umi.
"Terima kasih Umi, masih ada urusan", tolak Robi, ia menjadi tidak enak sekaligus malu juga sama Umi.
"Nak Robi?, kenapa ngobrolnya di luar, Umi...bukannya diajak masuk", Abah datang menghampiri dan langsung menyambar tangan Robi, mengajaknya masuk.
Kalau sudah begini, Robi sudah tidak bisa menolak lagi, ia menurut saja, mengikuti langkah Abah menuju ruang keluarga.
Di sana sudah ada Tiara yang sedang menyiapkan sarapan di bantu Nyimas. Gilang dan Risman pun sedang asik main puzzle.
"Nah..., sudah siap tampaknya, kita sarapan dulu saja, nanti saja ngobrolnya setelah sarapan", Abah langsung menuju meja makan.
Hati Robi selalu berdebar setiap kali ada dakam satu ruangan bersama Tiara.
Mereka sarapan bersama. "Nah..., ini cobain pindang ikan mas , buatan Tiara, pasti ketagihan", Abah mengambilkan satu untuk Robi.
"Terima kasih Abah", Senyum Robi, ia sekilas melirik ke arah Tiara yang tetap menunduk.
Jangankan sedang makan, saat ngobrol atau berjalan pun Tiara selalu menundukkan pandangannya. Ghodul Bashar , istilahnya.
Robi bisa melihat kebiasaan yang sangat mencolok, ternyata Risman makan disuapi oleh Nyimas, entah sejak kapan, tapi Robi baru melihatnya langsung kali ini. Berbeda dengan Gilang yang sudah biasa makan sendiri.
Tiara dan Nyimas, sudah kembali membereskan meja makan. " Aduh, jadi tidak enak, saya tidak sengaja lewat sini Abah, kok sampai bisa kelewat, mau ke Kobong, tahunya sudah sampai depan rumah Abah", kekeh Robi.
"Itu sudah qodarullah, jadi kita bisa makan bersama kan", senyum Abah.
"Memangnya lagi mikirin apa, mau pulang saja sampai nyasar, kalau ada sesuatu, ya bicarakan saja langsung, jangan dipendam, tembakkan saja langsung", kekeh Abah.
Robi menunduk, sesekali ia melirik ke arah Tiara, namun ternyata Nyimas lah yang sedang menatapnya.
Robi cepat-cepat memalingkan wajahnya. "Abah saya pamit dulu, dari subuh belum kembali ke Kobong, Umi terima kasih sarapannya", pamit Robi, ia segera meninggalkan rumah Abah setelah mengucap salam.
"Den Robi kemana, tumben jam segini belum pulang, ini kupat tahunya masih utuh", Mang Daman melihat kesekeliling kobong.
"Lah...itu kan Den Robi, pantesan tidak ada, rupanya langsunng ke rumah Abah", Mang Daman yang berdiri di luar kobong bisa melihat Robi sedang berjalan , ia tampak baru saja ke luar dari rumah Abah.
Dari kejauhan Robi sudah tersenyum melihat Mang Daman yang ada di depan kobongnya.
__ADS_1
"Mang, maaf saya kebablasan, mau ke kobong, eh sadar-sadar sudah sampai di depan rumah Abah", senyum Robi begitu sampai dihadapan Mang Daman.
"Pantesan..., Mang tungguin tidak ada, itu kypat tahunya belum di makan",
"Saya sudah kenyang Mang, barusan sarapan di rumah Abah, tidak sengaja ke sana , tapi tidak bisa menolak, Abah mengajak Mampir", kekeh Robi.
"Ya, jangan menolak rezeki Den, Alhamdulillah bisa bertemu Tiara juga kan?", goda Mang Daman.
"Iya sih Mang, perut dan mata jadi sama kenyangnya", kekeh Robi.
Mereka tampak memasuki kobong.
Robi langsung duduk bersandar ke tembok.
"Mang kalau kita menyukai seseorang, harus bagaimana?", tatap Robi.
"Aden lagi jatuh cinta?", senyum Mang Daman.
"Memangnya nggak boleh Mang", senyum Robi.
"Iiihhh...., ya boleh -boleh saja Den, rasa suka itu fitrah manusia, kita kan diciptakan berpasang-pasangan, dan ditumbuhkan rasa cinta dan sayang diantara keduanya, memangnya Aden lagi suka sama siapa?",tatap Mang Daman.
"Ada Mang, saya sendiri ragu dan takut untuk mengungkapkannya langsung", Robi tampak menarik nafas panjang.
"Kalau Aden suka sama seseoorang, ya utarakan saja, biar orang itu mengetahuinya, kalau diam saja, bagaimana dia mau tahu, resiko itu mah, mau diterima atau ditolak, sudah resiko",
"Pinta saja dia dalam setiap do'a", senyum Mang Daman.
"Aku sebenarnya ragu Mang, apa dia akan menerima?",
"Wanita itu akan mudah tersentuh oleh kebaikan dan kelembutan sikap kita, apalagi sudah ganteng dan kaya seperti Aden, wanita mana yang berani menolak", senyum Mang Daman.
"Tapi...itu akan beda lagi Mang, kalau orang yang kita sukai sudah ada janji sama orang lain, aku tidak berani melangkahinya, pasti akan ada orang yang tersakiti",
"Itulah tantangannya Den, tidak ada yang mudah untuk hal yang indah, dan semua itu perlu perjuangan Den", Mang Daman menepuk pundak Robi.
"Semangat Den, ayo berjuang", kembali Mang Daman tersenyum.
"Oh...iya Mang, apa Mang masih mengingat Nyimas?", tatap Robi.
"Nyimas yang mana Aden?", Mang Daman pura-pura tidak tahu maksud pembicaraan Robi.
"Nyimas wanita dari masa lalunya Ustad Fikri", tatap Robi.
"Eum...., sepetinya tidak Den, sudah lama",
"Kalau dia tiba-tiba muncul bagaimana?",
"Maksud Aden, Nyimas ada di sini?,Mang Daman mendekati Robi, ia selalu takut jika membicarakan hal yang menjadi aib Pondok.
"Iya Mang, saya curiga dia sengaja kembali, namun entah apa tujuannya, tapi ini juga baru dugaan saja",
"Ada wanita dan anak kecil di sini, yang mencurigakan, tapi kita mesti hati-hati menyelidikinya, jangan sampai keluarga Abah tahu", Robi setengah berbisik.
"Mereka ini kuncinya, mereka saksi hidup dari kejahatan Ustad Fikri, kita harus lindungi dia, jangan sampai keduluan oleh Ustad Fikri, pasti Ustad Fikri tidak akan membiarkan masa lalunya kembali diusik",
__ADS_1
"Lalu..., siapa mereka Aden?",
"Ini juga baru dugaan saja Mang, belum pasti, Saya mencurigai Nyimas dan Risman", ucap Robi.
"Nyimas...?, memang nama yang sama..., tapi kenapa dia tidak langsung menjerat Ustad Fikri saja", Mang Daman tampak menerawang.
"Nah....itu yang sedang saya selidiki, kenapa dia kembali, tetapi tidak berbuat apa-apa sama Fikri?
Mang Daman dan Robi tampak saling pandang, mereka sedang mencoba membuka teka-teki dari kehadiran kembali Nyimas dan anaknya.
*****
Fikri yang baru pulang mengantar adiknya dan Bi Iroh pulang, sengaja mampir ke rumah Abah, dia membawa sekeranjang makanan.
Abah dan Umi menyambutnya dengan ramah, bagaimanapun, Fikri adalah murid tertua di Pondoknya, dia juga termasuk Ustad terbaik pilihan Abah.
, x
"Baru pulang?, akhir-akhir ini Abah lihat Ustad sibuk sekali, sering meninggaljan Pondok",
"Iya Abah, saya minta maaf, saya masih menengoki adik , dia baru melahirkan, dan suaminya belum bisa pulang masih ada kontrak kerja di luar Kota", alasan Fikri.
"Oh..., begitu ya...?",
"Dan ada hal yang membuat suaminya marah sama adik saya", Fikri terdiam sejenak, ia seolah sedang berpikir.
"Kenapa?", tatap Abah.
"Sepertinya itu bukan anak dari suaminya , saya juga merasa malu.
"Dulu adik saya sempat berpacaran dengan bebas saat kuliah, dan dia pun hamil, namun laki-laki itu malah kabur.
"Untung saja ada Dery yang mau menikahinya? , kalau tidak, bisa di usir warga", jelas Fikri.
"Di usir warga?", Abh merasa kaget, ingatannya kembali pada peristiwa silam, apa mungkin kini harus terjadi lagi?",
"Masih ada laki-laki yang seperti itu, Abah selalu benci mereka.",
"Kalau dia ada di kobong ini bagaimana?", tatap Fikri.
"Akan Abah Usir dia!!", sewot Abah.
"Di sini bukan tempat bagi para penipu", tegas Abah.
"Termasuk Robi... Abah?..."
"Robi...?, kenapa dia?", tatap Abah.
"Robi itu ternyata pernah pacaran dengan adik saya, mereka bergaul terlalu bebas, Abah juga tahu kan, bagaimana Robi dulu?, liar dan urakan", Fikri terus mengompori Abah.
"Apa....?, Robi mantan pacarnya Marisa?, apa Ustad Fikri ingin bilang kalau Marisa melahirkan anak Robi?, dasar liar, tidak ada artinya kamu di sini, karena sudah terlanjur banyak noda yang kamu perbuat dulu", gumam Tiara, dia yang hendak menghidangkan minuman bisa jelas mendengar semua ucapan Fikri.
Cepat-cepat ia balik kanan, setelah menaruh nampan minuman di atas meja dihadapan Abah dan Fikri.
"Kena kau Robi...., sekarang Tiara dan Abah sudah mengetahui belangmu di masa lalu", seringai Fikri.
__ADS_1