
"Badrun, kamu sudah berani kembali lagi ke sini, dan kini kamu pun sudah berani menunjukkan diri, tak akan aku biarkan kamu tenang di sini", geram Fikri.
Ustad Fikri segera bersiap untuk pergi ke Masjid, ia berganti baju dan saat membuka pintu, ia mematung, ternyata sandalnya tidak ada.
"Aduh..., kebiasaan ini, pasti ada yang memakai", gerutu Ustad Fikri , ia menoleh ke arah kiri dan kanan kamar kobongnya mencari sandal, namun tidak ia temukan.
"Aduh..., kemana sih, bakalan telat datang ke Masjid kalau begini, siapa lagi yang memakai sandal tanpa ijin dulu", gerutu Fikri.
Fikri terus saja mondar mandir, bahkan sampai ke dalam kamar kobongnya, ia mencari di setiap sisi kamar, namun tetap tidak ketemu.
"Masa datang ke Masjid tanpa alas kaki?, itu sandal satu-satunya lagi", Fikri kini beralih ke arah halaman kobongnya, siapa tahu saja ada orang iseng yang menyembunyikan sandalnya di pot bunga yang berjejer di halaman Kobong.
Namun tetap sandalnya tidak ditemukan juga.
"Gusti...., kemana itu sendal...", gigi Ustad Fikri gemeretak menahan marah dan kesal.
Saat ia berbalik dan menengok ke atas genting, ternyata disanalah sandalnya berada, Ustad Fikri lupa, tadi saat dzuhur, ia mandi dan sekalian mencuci sandalnya.
"Astaghfirullah..., itu dia sandalnya, kok bisa lupa", Ustad Fikri menepuk jidatnya, lalu segera mengambil sandal dan memakainya , lalu bergegas menuju Masjid.
Namun karena lama mencari sandal, Fikri datang terlambat ke Masjid, alhasil kini tempat imam sudah ada yang mengisi, Badrun.
"Ah..., gara-gara kamu, jadi terlambat kan", geram Ustad Fikri , ia setengah membanting kasar sandalnya sambil masuk ke dalam Masjid, ia berdiri di shaf paling belakang sebagai masbuk.
Selama shalat, Fikri mengakui bacaan Badrun memang bagus, tidak kalah dari dirinya, bahkan lebih bagus .
Selesai shalat, semua santri mulai meninggalkan Masjid. Di luar terdengar ramai, para santri putri membicarakan Badrun,"Akhirnya dia datang lagi, siapa lagi sih namanya, sepertinya dia juga anak pesantren, lihat saja nanti, bacaannya bagus, merdu ", senyum seorang santri putri.
Obrolan para santri itu bisa didengar jelas oleh Fikri yang masih duduk di tempatnya tadi.
"Apaan sih..., dasar santri kampung, setiap melihat orang baru, pasti suka", cibir Ustad Fikri, ia melihat sekilas ke arah para santri putri yang berlalu menjauhi Masjid.
Begitu pun santri putra, mereka sudah mulai meninggalkan Masjid, mereka juga banyak yang membicarakan Badrun.
__ADS_1
"Aduh..., sama saja, demam orang baru dasar", cibir Fikri lagi. Ia sengaja tetap diam di Masjid, ia ingin bertemu Badrun.
"Assalamu'alaikum Ustad", sapa Badrun, ia berdiri dihadapan Ustad Fikri.
"Wa'alaikumsalam...", ucap Fikri datar, ia menyambut uluran tangan Badrun.
"Sehat Ustad?", senyum Badrun.
"Seperti yang kamu lihat, aku seperti ini, baik-baik saja, hanya saja, aku masih kepikiran sama Tiara, dia sampai sekarang belum ketemu", ucap Fikri.
"Oh..., kalau soal Tiara, Ustad tidak perlu khawatir, dia sudah bersama Robi sekarang, Tiara aman, mereka akan segera pulang , menunggu cuaca aman dulu, di sana sedang dilanda cuaca buruk, jadi penerbangan dan Pelayaran di tunda untuk sementara waktu", jelaskan Badrun.
"Oh..., begitu ya...", ucap Fikri datar, hatinya panas mendengar kabar itu. Ia sungguh tidak rela Tiara bersama Robi di sana, berdua.
"Kalau begitu, kami pulang duluan Ustad, kita mau gantian menjaga rumah Abah, siapa tahu Ustad mau ikut?", ajak Badrun.
"Sudah pasti ikut, tidak diajak juga aku akan menjaga rumah Abah, tidak perlu disuruh", ketus Fikri.
"Oh...baik kalau begitu, terima kasih, kita tunggu, nanti kita bertemu di sana Ustad, Assalamu'alaikum", pamit Badrun, ia pergi meninggalkan Masjid diikuti Mang Daman.
"Sudah berani mengatur -ngatur segala itu orang, berani sekali, sudah sok berkuasa dia, padahal ia hanya anak angkat Abah saja", gerutu Fikri.
Fikri melihat ke sekitar Masjid, sudah sepi, karena memang sejak Tiara pulang, kegiatan mengaji dilaksanakan di kobong masing-masing.
Sebagian santri putra berjaga di sekitar Kobong.
"Aduh...., kemana lagi itu sandal?", Fikri yang sudah berdiri, kembali mencari keberadaan sandalnya yang saat masuk tadi ia banting kasar, setengah menendangkan sandalnya ke arah acak.
"Hadeuh...., kemana lagi sandal, kalau dapat aku cincang sekalian", geram Fikri. Ia masih mondar-mandir di halaman Masjid.
"Ustad lagi apa?, mencari apa?", suara Ustad Dzaqi mengagetkan Ustad Fikri.
"Ah...Ustad Dzaqi, ini aku lagi mencari sandal, tidak ada", ucap Ustad Fikri.
__ADS_1
"Sandal..., apa tidak terbawa oleh santri lain, atau ada yang salah pakai mungkin", ucap Ustad Dzaqi sambil ikut membantu mencarikan.
"Apa yang ini Ustad?", Ustad Dzaqi menunjuk ke arah keset yang menutupi sandal, yang terlihat hanya sebagian saja.
"Ah...iya..., benar ini, tapi mana pasangannya ya?", Ustad Fikri mengambil sandal itu.
"Satu lagi ya?",
Mereka berdua kembali mencari.
"Nah...ini dia , kok bisa ada di sini?", Ustad Fikri menemukan pasangan sandalnya tepat di pintu pagar Masjid.
"Mungkin tertendang oleh para santri Ustad, sudah kita pulang saja", ajak Ustad Dzaqi.
Mereka berdua meninggalkan Masjid, tidak lupa menutup pintu pagarnya.
"Ustad yang tadi itu katanya anak Abah ya?", tatap Dzaqi saat mereka berjalan menuju Kobong.
"Siapa..., Badrun...?", tatap Fikri.
"Iya..., yang menjadi imam tadi, bagus ya, bacaannya fasih", senyum Dzaqi.
"Ah...biasa saja, kamu juga bisa", ucap Fikri datar.
"Sudah , aku masuk dulu, agak kurang enak badan nih", ucap Fikri , ia buru-buru masuk ke dalam kobongnya meninggalkan Dzaqi yang agak kaget melihat tingkah Fikri.
"Iya Ustad, Wa'akaikumsalam", ucap Dzaqi, ia menjawab salam sendiri, karena Fikri hanya nyelonong saja masuk.
"Ckkkckkk....., kenapa Ustad Fikri?, kok dia seperti linglung begitu, apa gara-gara Tiara..., atau gara-gara sandal?", senyum Dzaqi. Ia berlalu menuju rumah Abah, ia yang kini giliran ikut jaga di sana.
"Hadeuh... Cinta memang bisa bikin orang sehat jadi sakit, orang waras bisa jadi gila, tapi tidak sedikit juga, cinta bisa membuat orang gila menjadi kembali waras, ah...pusing, aku jadi ikut pusing Ustad", senyum Dzaqi, ia bicara sendiri sambil tetap melangkahkan kakinya menuju rumah Abah.
"Dasar sandal...", Fikri setengah membanting kasar sandalnya begitu menutup pintu kobongnya.
__ADS_1
"Kamu ya..., kalau orang, sudah aku tendang, sudah aku tabok", Fikri sudah seperti orang gila saja, marah-marah pada sandal, ia sudah mau mengambil pisau, namun ia urungkan, "Untung saja kamu hanya satu-satunya, kalau tidak, sudah aku potong-potong kamu", ucap Fikri, ia kembali menyimpan sandal dan pisau ke tempatnya, lalu ia membaringkan tubuhnya di atas kasur, sambil memijit-mijit kepalanya yang kini terasa pusing.