Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Mulai Meragu


__ADS_3

"Adeuh..., kok kamu yang ngebet sih, pingin nikah", Tiara mengerling ke arah Robi.


"Ini untuk kebaikan kita Tiara, jadi kemana-kemana kita bisa berdua tanpa takut dicurigai"


"Di sini kan sudah aman, jadi tenang saja dulu, semoga cuaca cepat membaik, jadi kita bisa cepat pulang, sudah!, aku ke kamar dulu, mau istirahat, lama-lama di sini nanti malah di grebek lagi", Tiara melangkahkan kakinya menuju pintu keluar yang masih terbuka.


"Assalamu'alaikum", ucap Tiara sebelum meninggalkan kamar Robi.


"Wa'alaikumsalam", Robi pun mengikuti Tiara, ia melihat Tiara sampai benar-benar masuk ke dalam kamarnya, setelah itu ia pun menutup pintu kamarnya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Bodohnya aku, kok sampai kepikiran ke arah sana, pake ngajak Tiara menikah segala", gumam Robi.


"Andai saja aku bener dari dulu, mungkin aku yang lebih dahulu bertemu dengan Tiara bukan Ustad Fikri", kembali Robi bergumam.


"Ya Allah kenapa dulu, semua yang aku mau bisa dengan mudah aku dapat, padahal aku sangat jauh dengan-Mu, tapi sekarang,orang yang kucinta ada di depan mata pun , susah untuk meraihnya", Robi memejamkan matanya.


Pikirannya melayang ke masa yang membuat namanya disegani oleh semua teman dan rivalnya, namanya banyak dielukkan oleh semua wanita. Bukan Robi yang mengejar mereka, tetapi merekalah yang menghampiri, dan bahkan tak sedikit yang menawarkan diri kepadanya.


Namun Robi berbeda, walau tumbuh liar , tetapi ia begitu menghormati wanita. Tak pernah sekalipun ia melecehkannya, termasuk kepada Marisa, yang dulu menjadi pacarnya.


Tak terasa, Robi pun terlelap. Ia sedang merangkai mimpi yang semoga bisa tergapai dalam kenyataan. Bersama Tiara, wanita yang mengubah orientasi hidupnya.


Di kamar sebelah, Tiara pun sama, ia sedang termenung di atas tempat tidur, ia juga sedang memikirkan ucapan Robi tadi.


"Ah...ada-ada saja, rencana apa itu?, masa menikah bohongan, itu dosa namanya", gumam Tiara.

__ADS_1


"Menikah itu bukan permainan, tetapi sebuah perjanjian yang suci dengan Allah SWT, masa ini mau di buat mainan, Robi..., dasar kamu ya, suka nyeleneh, apa kata Abah nanti, pasti beliau akan marah jika itu terjadi", Tiara pun bicara sendiri.


Tiba-tiba Tiara teringat dengan Nyimas, dulu Nyimas sempat bicara soal Ustad Fikri, sampai saat ini Tiara belum pernah bicara hal itu dengan siapa pun, termasuk dengan Robi.


"Apa alasan Robi bicara soal Ustad Fikri?, apa ini ada hubungannya dengan Nyimas?, apa Robi juga sudah mengetahui masalah Nyimas?", Tiara menerka-nerka.


"Lalu..., kenapa ada orang yang ingin menculik aku?, untuk apa, dan siapa orangnya?, masa Ustad Fikri?, Ah...Robi kamu benar-benar ngawur, sudah mengajak nikah bohongan, terus pake menuduh Ustad Fikri segala lagi, ini mah modus", Tiara mengerucutkan mulutnya.


ci, Robi itu pria yang hebat, ia bisa k keinginan dalam dirinya, ia juga jujur", senyum Tiara.


"Astaghfirullah..., kenapa aku jadi terus memikirkan Robi, padahal tadi aku sendiri yang bilang kalau aku ini calon istrinya Ustad Fikri, bagaimana ini, Ah..., aku ini kenapa?, kok rasanya aku mulai meragukan Ustad Fikri, atau ini semua gara-gara Robi yang sudah beberapa hari ini bersamaku di sini, apa hatiku mulai bercabang?, tidak..., karena aku juga tidak tahu bagaimana perasaanku sama Ustad Fikri",


"Abah yang sudah membimbing perasaanku untuk tertuju pada Ustad Fikri, sedari kecil aku tinggal di lingkungan Pesantren, Abah membatasi pergaulanku, apalagi dengan laki-laki. Dan baru setelah beranjak dewasa, Abah mulai mengenalkan Ustad Fikri, hingga akhirnya Abah mengutarakan maksudnya", Tiara terus saja bicara sendiri.


"Tapi kata Umi juga, jodoh itu di tangan Allah, bukan di tangan Abah", Tiara kini terkekeh.


Di Pondok, Fikri makin tidak fokus saja , ia sudah mulai jarang pergi ke Mesjid, dia mulai sering pergi ke luar, alasannya mencari adiknya, Marisa, yang sempat ia usir ketika Marisa datang ke Kobongnya.


Padahal yang sebenarnya ia mencari Aleks dan Joko, ia ingin tahu kebenaran dari ucapan Pak Robani yang mengatakan kalau Aleks dan Joko sudah tertangkap, tepatnya mereka sudah menyerahkan diri.


Namun Fikri pun tidak berani untuk datang langsung ke Kantor Polisi, ia juga sudah jarang menemui Dery di sana, apalagi setelah tahu kalau Dery bukanlah ayah dari anak Marisa . Fikri pun tidak pernah bertanya soal hal itu, namun yang jelas, bayi bule itu bukan anaknya Dery.


"Hhmmm..., kalau aku datang menemui Dery, bunuh diri itu mah, aku harus bagaimana lagj sekarang, jika Aleks dan Joko buka mulut, habislah aku", gumam Fikri sembari terus berkeliling dengan sepeda motornya.


Fikri pun sempat memindai lama bengkelnya Robi. 'Hhmm..., sudah mulai jalan lagi dia, dasar kalian, kerjaannya tidak ada yang bener, ini itu-ini itu gagal!', pikir Fikri.

__ADS_1


"Huh...parah..., malah sekarang kalian tertangkap lagi", gerutu Fikri, ia lalu melajukan kembali sepeda motornya.


"Untung..., Marisa sungguh beruntung, hanya berselang beberapa detik saja, Fikri melewati bengkel, dan Marisa pun keluar dari bengkel , ia hendak membeli bubur sum-sum untuk anaknya.


"Aduh...Marisa hati-hati !, kalau mau ke luar, lihat dulu situasinya, aman atau tidak?, jangan sampai ada orang lain tahu kamu ada di sini, apalagi kakakmu Fikri, bisa ribet urusannya", tegus Ronald , ia membersamai Marisa sampai selesai.


"Sudah masuk lagi !, nanti kalau perlu sesuatu, biar kita yang tangani, biar tidak beresiko", ucapnya lagi.


"Iya baik, Bang maaf", Marisa menunduk sambil kembali masuk ke dalam, ia merasa bersalah.


"Tugas kamu urus makanan dan bersih-bersih saja, selebihnya biar kami yang urus", jelaskan Ronald sebelum ia kembali membantu Ilyas menangani para pelanggan.


"Jangan galak-galak !, nanti dia kabur ?, kita tambah repot", ingatkan Ilyas.


"Aku cuma takut Fikri tahu saja, bisa berabe urusannya", aku Ronald.


"Sebenarnya kasihan juga , dia itu sudah tidak punya pelindung lagi, orang tua tidak ada, lah punya kakak satu-satunya malah begitu", Ilyas menarik nafas panjang.


"Nah...adopsi sama kamu saja, adopsi sebagai istri, paket kumplit tuh", kekeh Ronald.


Ilyas diam sambil tersenyum.


"Nah..., senang ya?, dia itu masih cantik kok, cuma tidak terawat saja", kembali Ronald terkekeh.


"Kamu ya, itu lagi ...itu lagi, aku masih segan saja sama dia, dia itu kan mantannya Robi, mana berani", senyum Ilyas.

__ADS_1


"Ah..., sudah ada lampu hijau nih, itu mah sudah lewat Bro, Robi sudah punya Tiara sekarang, sikat saja, pahalanya gede lho, ngurusin janda , ada anaknya lagi",


"Sudah ah..., tambah ngelantur saja, ayo fokus kerja...kerja...!!", Ilyas menepuk pundak Ronald sambil sekilas melirik ke arah para pelanggan yang tampak masih mengantri.


__ADS_2