Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Mulai Ada Hasilnya


__ADS_3

Di kobongnya Fikri sedang bersiap untuk pergi, rencananya ia akan pergi selepas Isya nanti. Fikri hanya membawa pakaian seperlunya saja, ia bermaksud kembali ke desa tempat tinggalnya. Fikri tidak mengetahui alamat adiknya yang dikota.


Kata ibunya, rumah yang ditempati adiknya di kota, sudah dikontrakan, jadi kemungkinan besar, adiknya kembali ke desa.


"Mau pergi ke mana?, sepertinya sudah berkemas?", Ustad Fadil duduk di samping Fikri, yang sedang merapikan tasnya.


"Iya, aku ada urusan keluarga, mungkin untuk beberapa hari akan meninggalkan Pondok. Semua urusan di sini, biar kalian handle dulu", Fikri menatap kedua temannya


"Iya..., jangan khawatir, kamu pergi saja , di sini aman kok, lagi pula Abah sudah mulai bisa ke Masjid lagi",


"Aku minta tolong sama kalian, awasi orang sombong itu, jangan sampai ia banyak bertingkah di sini, apalagi kalau sampai dekat-dekat sama Tiara, kalian sudah tahu kan, Tiara itu calon istri saya!", tegas Fikri.


"Iya....siap, kamu percaya saja sama kita", Ustad Dzaqi menepuk pundak Fikri.


"Sebentar lagi isya, kita ke Masjid, sekalian aku mau pamit kepada Abah", Ustad Fikri berdiri di ikuti kedua temannya.


Mereka berjalan menuju Masjid, dari kejauhan terlihat Abah sedang berjalan , sepertinya beliau pun sama, menuju Masjid. Namun terlihat Abah mengetuk pintu Kobong Robi, ia kembali berjalan bersamanya.


"Tuh..., kalian bisa lihat, Abah sudah dekat dengan orang sombong itu, ini tidak bisa dibiarkan", geram Fikri.


"Tapi menurut aku wajar sih, kan Robi itu baru di sini, lagi pula Robi itu cucu dari sahabatnya Abah, maka tidak aneh kalau Abah perhatian sama Robi", celetuk Ustad Dzaqi.


"Ah..., kok kamu malah belain dia sih", Ustad Fikri meninju lengan Ustad Dzaqi.


"Iya..., menurut aku juga tidak berlebihan, itu sebagai bentuk tanggung jawab Abah kepada santri baru", bela Ustad Fadil.


"Aduh...., kalian ini kenapa sih..., nggak ksmu, nggak kamu..., sama saja", gerutu Fikri, ia kembali meninju lengan dzaqi dan Fadil, lalu ia berjalan lebih dulu, meninggalkan keduanya.


Ustad Dzaqi dan Ustad Fadil saling pandang sambil menggelengkan kepalanya.


"Hah...., kumat lagi egoisnya", Ustad Dzaqi menepuk dahinya, mereka kembali berjalan menyusul Ustad Fikri.


Mereka sampai hampir berbarengan dengan Abah dan Robi. Mereka langsung memasuki Masjid karena sudah berwudhu sebelum berangkat tadi.


Mereka duduk satu shaf dengan Ustad Fikri yang lebih dahulu duduk di barisan terdepan. Mereka kemudian melakukan shalat Tahiyatul Masjid.


"Silahkan kamu adzan Nak", perintah Abah kepada Robi yang ada disampingnya.


"Tapi Abah....", sanggah Robi.


"Bismillah Nak..., semua yang sudah kamu pelajari harus mulai diamalkan, biar terjaga hafalannya", nasehati Abah. Beliau memegang pundak Robi dan menatapnya penuh keyakinan.


"Ayo Nak Robi, kamu pasti bisa", Abah menganggukkan kepalanya.


Fikri menyeringai, ia bisa mendengar jelas semua ucapan Abah. 'Anak kemarin sore, bisa apa?', pikir Fikri.


"Bismillah...", Robi berdiri dan berjalan menuju mimbar, ia akan mengumandangkan adzan.


"Heuh..., punya nyali juga dia", gumam Ustad Fikri. Ia mennyeringai menatap Robi.


Dan adzan pun berkumandang, tidak disangka Robi bisa melakukannya, suara sunggguh merdu, lafal dan intonasinya jelas. Suaranya tidak kalah merdunya dengan suara Ustad Fikri.


Dari balik kain hijab, terdengar suara para santri putri yang saling bertanya. "Suara siapa itu?, rasanya suara ini asing", gumam mereka.


Sebagai santri baru, ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.


"Alhamdulillah...", gumam Abah. Hatinya merasa senang, Robi sudah bisa melakukannya dengan baik.


Robi sudah kembali ke tempat duduknya semula di samping Abah. "Alhamdulillah...lancar kan?", senyum Abah.


Robi pun merengkuh dengan tersenyum.


Abah kini berdiri, beliau akan kembali mengimami shalat, setelah sudah sekian lama digantikan oleh ketiga Ustad pilihannya.


Shalat isya pun berjalan hidmat sampai salam. Setelah shalat, Fikri langsung pamit untuk pergi mencari keberadaan adik perempuannya.


Sebelum pergi, Fikri sempatkan untuk bersalaman dengan para santri putra yang masih ada di sana. Termasuk dengan Robi juga.


"Jangan sombong, jangan bangga dulu, kemampuanmu baru setahi kuku", bisik Ustad Fikri saat bersalaman dengan Robi.


Robi hanya tersenyum sambil merengkuhkan tubuhnya.


Ustad Dzaqi, Ustad Fadil, Abah , dan Robi mengantar Ustad Fikri sampai ke gerbang.


Di sana mereka bertemu dengan dua orang yang baru memasuki gerbang juga. Mereka adalah Ronald dan Ilyas yang baru hari ini bisa datang ke Pondok untuk belajar mengaji.


"Robi...?", teriak Ronald yang langsung mengenali Robi begitu mereka berhadapan.


"Kalian?, kok bisa sampai di sini?", Robi langsung menyambut mereka dengan saling bersalaman dan berpelukan.

__ADS_1


"Dasar berandalan, temannya ya tidak jauh , orang-orang liar", gerutu Ustad Fikri.


"Kalian sudah saling kenal?", tatap Abah.


"Ini teman-teman Robi waktu di bengkel Abah", beritahu Robi.


"Oh..., Abah ingat, kalian ini Ronald dan Ilyas kan?", tebak Abah.


"Kok Abah bisa tahu", tatap Robi.


"Tiara sempat bicara , kalau kalian mau datang ke sini, mau belajar mengaji kan?", senyum Abah.


"Iya", serentak Ronald dan Ilyas.


"Ini nanti Ustad Dzaqi yang akan mengajari kalian", tunjuk Abah.


"Bisa dengan saya sekalian Abah?", Robi menimpali.


"Boleh, silahkan!", senyum Abah.


"Abah..., saya pamit dulu", Ustad Fikri menghidupkan sepeda motornya.


"Iya, hati-hati, semoga urusanmu cepat selesai, dan cepat kembali lagi ke sini", senyum Abah.


Ustad Fikri pun segera melajukan sepeda motornya setelah mengucap salam terlebih dahulu.


"Aku senang kalian akhirnya mau berubah", senyum Robi.


"Ini juga berkat Tiara, dia yang mengajak kita belajar mengaji di sini, tapi Aleks dan Joko masih belum mau", jelaskan Ronald.


"Biarkan saja..., tidak usah dipaksa, belum dapat hidayah mereka", senyum Robi.


"Sudah..., kalian belajar mengaji sana!, Abah kembali ke rumah dulu, biar Ustad Dzaqi yang mengajari kalian", Abah menatap Ustad Dzaqi.


Abah kembali menuju rumahnya, Ustad Fadil menutup kembali gerbang, sementara Ustad Dzaqi membawa Robi dan kedua temannya ke Masjid kecil yang ada di samping gerbang.


"Abah, siapa yang tadi adzan?, suaranya asing, tapi merdu sekali", tanyai Umi begitu Abah sampai di teras rumahnya. Umi dan Tiara pun baru kembali dari Masjid.


"Coba tebak siaos kira-kira?", senyum Abah.


"Iihh...kok malah balik bertanya, kalau tahu, Umi juga tidak akan bertanya Abah", Umi cemberut.


"Siapa...?", tatap Tiara.


"Yang adzan tadi pasti A Robi ", seru Gilang.


Umi dan Tiara saling pandang.


"Robi...?", serentak Umi dan Tiara.


"Benar Abah?", tatap Tiara.


Abah tersenyum sambil menganggukkan kepala, "Iya, Nak Robi yang tadi adzan, Alhamdulillah dia sudah bisa, lancar dan merdu", senyum Abah.


"Alhamdulillah...", gumam Tiara. Di hatinya ada rasa hangat menjalar, ia senang sekali mendengarnya.


"Dia bisa cepat belajar, sepertinya ada sebuah dorongan kuat dalam dirinya , sehingga ia ingin cepat bisa semua hal", senyum Abah, ia melirik Tiara.


"Oh...iya, temanmu juga sudah datang, sekarang mereka lagi belajar dengan Robi, Ustad Dzaqi yang mengajarinya", beritahu Abah.


"Alhamdulillah..., ternyata mereka benar-benar ingin berubah",


"Mereka itu ternyata temannya Nak Robi, semoga mereka juga betah di sini", harap Abah.


"Aamiin...",


"Ayo masuk, di luar dingin sekali, sudah mau musim kemarau lagi tampaknya, anginnya mulai kencang", Abah lebih dahulu masuk ke dalam rumah, diikuti Tiara dan Umi.


****


"Nah...ini kamar kamu Nak", Bu Arimbi membawa Risman menuju kamarnya.


"Kamu yang betah di sini ya?, Ibu akan menganggapmu seperti anak Ibu", senyum Bu Arimbi.


"Kamu masih punya Ibu?",


Risman mengangguk.


"Kalau bertemu, kamu masih bisa mengenali ibumu?", tanya Bu Arimbi lagi.

__ADS_1


"Iya...", lirih Risman.


"Oke..., nanti kita coba bantu mencari ibumu, tapi kalau pun sudah ketemu, kamu tetap harus tinggal sama Ibu, tenang..., ibumu juga boleh kok tinggal di sini", senyum Bu Arimbi.


"Sini, kamu cuci tangan dan kaki dulu, sepertinya kamu sudah ngantuk", Bu Arimbi membimbing Risman memasuki kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangannya.


Setelah itu ia membawa Risman ke tempat tidur.


"Ibu senang, tadi kamu sudah bisa mengaji, siapa yang mengajari?", tatap Bu Arimbi.


"Ibu..", ucap Risman.


"Oh..., ibumu sepertinya baik, tapi kenapa bisa meninggalkanmu?", gumam Bu Arimbi. Ia mulai menyelimuti tubuh Risman.


"Bapakmu masih ada?", tatap Bu Arimbi, ia bertanya hati-hati.


Risman menggelengkan kepala. "Ya sudah..., kamu tidur saja dulu, besok kita ngobrol lagi",


Bu Arimbi menatap wajah Risman, 'cakep anak ini, sepertinya orang tuanya bukan orang sembarangan', pikir Bu Arimbi.


Ia keluar kamar setelah melihat Risman benar-benar tidur.


"Bi, besok kita belanja kebutuhannya Risman, sepertinya sudah waktunya ia sekolah",


"Iya...Nyonya, tapi Tuan apa tidak akan marah dengan adanya Risman disini?",


"Ya nggak lah Bi, dia mah sudah tidak peduli dengan semua urusan saya", Bu Arimbi melengos.


Bu Arimbi kembali menuju ruang kerjanya yang ada di dalam kamar tidurnya, ia kembali membuat beberapa rancangan busana muslim, kini ia tampak bersemangat , ini proyek barunya dengan tema baru juga.


Tak lama terdengar deru mesin mobil . Itu tandanya Pak Robani sudah pulang.


"Tumben jam segini sudah pulang, biasanya juga menjelang tengah malam baru masuk rumah", gumam Bu Arimbi.


Ia berjalan menuju jendela kaca, ia mengintip suaminya dari sana.


"Pih..., sampai kapan kita seperti ini terus, apa sudah tidak ada harapan lagi untuk memperbaiki hubungan kita, Robi saja sudah mau berubah, masa kita seperti ini terus, hidup satu atap, tapi kayak dengan musuh saja", gumam Bu Arimbi .


Terlihat di bawah sana, Pak Robani sedang berjalan menuju rumahnya, ia berhenti sebentar dan memandang kearahnya.


"Gawat, pake melirik ke sini segala", Bu Arimbi cepat-cepat menggeser posisinya, ia takut Pak Robani melihatnya sedang mengintip.


"Huh...bisa-bisa baper dia, kalau melihat aku sedang mengintipnya", cibir Bu Arimbi.


Ia buru-buru menuju meja kerjanya kembali. Inginnya sih turun menyambut kedatangan Pak Robani, tapi ia tidak mau dianggap cari perhatian.


"Sudah pulang Tuan?, saya siapkan makanan?", Bi Mimi menghampiri.


"Tidak usah Bi, saya sudah makan", tolak Pak Robani. Ia merebahkan tubuhnya di kursi sofa yang ada di ruang tamu.


'Maunya kamu yang menyambut aku Mih', pikir Pak Robani, ia melonjorkan kakinya, dan beberapa saat kemudian ia pun terlelap di sana.


****


Fikri sudah sampai di desa tempat tinggalnya dulu, kembali ke sini sama saja dengan menggali memory kelamnya dulu. Dimana ia telah memperdaya seorang gadis, dan menjadikan kawannya sebagai kambing hitam.


Fikri langsung menuju rumahnya, ia masih dapat mengingatnya dengan jelas. Sebuah rumah yang menjadi saksi bisu semua perbuatannya dulu, yang sampai sekarang masih aman.


Kebobrokannya masih rapi tersembunyi.


"Rasanya ini rumahnya, benar rumah ini sepertinya sudah berpenghuni, semoga dia ada di sini", gumam Fikri.


Fikri mengetuk perlahan pintu rumahnya. Untuk beberapa lama ia berdiri menunggu di depan pintu.


Ia kembali mengetuk pintu. Dan kali ini ia mendengar suara langkah kaki mendekati pintu.


Dan pintu pun terbuka, Fikri menatap seorang laki-laki yang kini berdiri di depannya.


"Siapa kamu?", tegas Robi, ia langsung naik darah.


"Loe yang siapa?", balas orang yang ada didepannya.


Tanpa menunggu, Fikri langsung menerobos masuk dan berteriak. "Marisa...., kamu di sini?", Robi berdiri di ruang tengah rumahnya.


"Hai..., siapa kamu?, malam-malam bikin ribut di rumah orang", Dery mengjampiri Fikri dan langsung meninju wajahnya.


"Stop ...!", sebuah suara mengagetkan mereka.


Seorang wanita muda dengan perut buncitnya keluar dari kamar, ia memperhatikan orang yang sedang di pegang suaminya.

__ADS_1


"Kakak!!".


__ADS_2