
"Mih, Robi kemana?, kok tidak ikut sarapan sama kita", tatap Pak Robani kepada Bu Arimbi begitu mereka ada di meja makan, sedari tadi Pak Robani melirik ke arah kamar Robi.
Bu Arimbi saat itu sedang mengoleskan selai pada roti tawar yang menjadi menu sarapan mereka pagi ini.
Bu Arimbi menyodorkan roti tawar yang sudah diolesi selai kepada suaminya.
"Ini sarapan dulu
"Aduh Pih, maaf, Mamih lupa belum cerita, tadi subuh Robi sudah buru-buru pergi",
"Pergi kemana?, kok Papih tidak tahu, padahal hari ini ada meeting penting lho", sambar Pak Robani.
"Tadi itu darurat Pih, Robi mendapat kabar kalau Tiara ada yang menculik, jadi dia buru-buru pergi selepas shalat subuh", terangkan Bu Arimbi.
"Apa...? Tiara diculik?, Tiara anaknya Abah Ilham?", tegas Pak Robani.
"Iya...,Tiara..., Tiara yang mana lagi Pih, kan hanya satu",
"Terus..., Robi pergi ke mana?, apa dia sudah memberi kabar?", tatap Pak Robani.
"Itu dia Pih, Mamih juga khawatir, sampai sekarang Robi belum menghubungi Mamih, mau di telepon juga susah, ya kita cuma bisa berdo'a
saja, semoga mereka berdua selamat", harap Bu Arimbi.
"Kasihan Tiara, apalagi Abah sedang sakit, apa perlu Papih meminta bantuan Pak Rusman, Papih takut mereka kenapa-kenapa, sekalian Papih mau cek hasil akhir investigasi kasus bengkelnya Robi, semoga sudah ada hasil pasti", Pak Robani menerawang.
"Boleh Pih, Mamih setuju, ini saatnya kita balas kebaikan Abah dan Umi yang sudah menolong Robi waktu itu".
"Pih..., hari ini, kita ambil libur saja , kita urus dulu masalah Robi dan Tiara, rasanya tidak tenang jika mereka masih belum jelas kabarnya", usul Bu Arimbi.
"Boleh juga Mih, biar urusan di kantor Papih dihandle oleh Assisten Papih, Anton", ucap Pak Robani.
"Baik Pih, ,kita vm Abah dulu, lalu lihat keadaan dirumahnya, siapa tahu ada petunjuk, dimana Robi dan Tiara", usul Bu Arimbi.
"Iya, kalau begitu kita berangkat sekarang saja", Pak Robani berdiri dan menuju garasi diikuti Bu Arimbi.
Mereka kini sudah berada di jalanan, di persimpangan mereka bertemu dengan seorang wanita dengan anak kecil digendongannya yang tampak menunggu tumpangan.
"Pih...pih..., kasihan itu, Itu sepertinya Mamih kenal", Bu Arimbi meminta Pak Robani menepi.
__ADS_1
Bu Arimbi kemudian turun dan menghampiri wanita itu, Marisa?", Bu Arimbi berdiri di depan wanita itu.
"Tante...?, tante Arimbi?", tatap Marisa.
"Ini...ini...anak kamu?", Bu Arimbi melirik anak yang ada dalam gendongan Marisa.
"Ini pasti anaknya Briant kan?, anak ini tidak bisa bohong, lihat dia mirip sekali ayahnya. Bu Arimbi tersenyum, anak batita itu memang terlihat beda, rambutnya pirang dan matanya biru.
"Maafkan saya Tante, saya mengaku salah", tunduk Marisa.
"Sudah..., sekarang kamu hendak ke mana?, ayo ikut ke mobil, kasihan anak kamu", senyum Bu Arimbi.
"Saya mau menemui Kakak saya", tunduk Marisa.
"Ayo sekalian, kita searah kan?, memangnya dimana kakakmu?",
"Di Pondok Al-Furqon Tante", jawab Marisa.
"Ah..., kami juga mau ke sana, ayo masuk !!, lihat kasihan anakmu", ajak Bu Arimbi.
Pak Robani membunyikan klakson mengingatkan istrinya untuk segera mengakhiri obrolannya.
Walau malu dan canggung, Marisa pun masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang. Ia menunduk menatap wajah anaknya.
Marisa melamun, Andai saja dulu dirinya tidak tergoda oleh Dery dan Briant si bule Australi, mungkin kini dirinya sudah menjadi menantu pasangan kaya raya yang sedang duduk didepannya.
Bu Arimbi melirik ke arah spion, ia bisa jelas melihat Marisa. Penampilannya sungguh sangat jauh berbeda, Marisa yang dulu selalu berpenampilan apik dari ujung rambut hingga ujung kaki, kini tampil seadanya, sudah tampak sekali tubuhnya tidak terawat seperti dulu.
'Eum..., kasihan juga Marisa, dia seperti itu karena memang ia jauh dari kedua orang tua, hingga ia bergaul bebas sesuai keinginannya saja.
"Marisa, sudah lama kakakmu di Pondok?", Bu Arimbi melirik ke arah Marisa.
"Sudah Tante, sudah dari usia SD di sana",
"Wah, lama sekali, sudah menjadi Ustad dong ya, pasti ilmunya juga sudah mumpuni, siapa namanya?", tatap Bu Arimbi.
"Kakak saya, Fikri Tante, iya dia sudah menjadi Ustad di sana, sering mewakili Abah kyai ", senyum Marisa.
"Ah..., Ustad Fikri?, saya pernah melihatnya, dia itu Ustad yang dekat dengan Tiara ya Pih?, kita bisa bertanya sama Ustad Fikri, dia pasti tahu penyebab Tiara di culik",
__ADS_1
"Tiara diculik?", Marisa tersentak. Ia merasa kaget, walau Marisa tahu Robi mencintai Tiara, tetapi bagaimana pun juga Tiara adalah wanita yang diinginkan oleh kakaknya.
"Iya..., Tiara ada yang menculik, sampai sekarang belum ketemu, makanya kami kini mau ke Pondok, ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya, sebelum kami mencari Tiara dan Robi",
"Ro...bi...?", Marisa kembali tercengang.
"Iya Marisa, Robi mencoba mengejar penculik Tiara, tetapi sampai saat ini belum ada kabarnya, di mana?, dan apa mereka sudah bertemu atau belum, tidak ada kabarnya", jelaskan Bu Arimbi.
"Ouwh....be..gi..tu...", Marisa melengos. Sedikitnya ada rasa tak karuan dihatinya, mendengar orang yang sempat lama bertahta di hatinya, sama-sama hilang dengan orang yang disayanginya.
Pak Robani mulai memperlambat laju mobilnya. Kini mobil mereka Sudah berada di depan rumah Abah. Seketika dua bocah kecil berhamburan menyambut kedatangan mobil itu. Mereka adalah Risman dan Gilang, diikuti Nyimas dari belakang.
"Mamih....", teriak Risman, ia langsung menyambut Bu Arimbi yang baru turun dari mobil, diikuti Pak Robani dan juga Marisa.
"Ah..., Risman...", tanpa ragu Bu Arimbi menyambut Risman dan memeluknya. Nyimas sampai bengong, ternyata Bu Arimbi begitu tulus menyayangi Risman, walau hanya sebatas ibu angkat.
Bu Arimbi menuntun tangan Risman, ia melirik ke arah Nyimas. "Assalamu'alaikum, maaf kami telat", Bu Arimbi berjalan menghampiri Nyimas sambil menuntun tangan Risman.
"Wa'alaikumsalam..., silahkan masuk Pak, Bu...", rengkuh Nyimas, ia menuntun tamunya masuk ke rumah Abah.
Bu Arimbi mengajak serta Marisa untuk masuk ke rumah Abah.
"Ma..ri..sa...?", Nyimas terlihat kaget melihatnya, karena Nyimas masih mengenalinya sebagai adik dari Mereka kini sudah duduk bersama di ruang tamu Abah, Nyimas menceritakan semua kejadian yang terjadi kepadanya dan Tiara di pagi hari saat Tiara diculik kepada Bu Arimbi dan Pak Robani.
"Siapa pelakunya?", Pak Robani menerawang, ia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Nyimas merasa tidak enak sendiri karena harus mendengar pembicaraan yang diluar areanya. Ia pun langsung pamit untuk menemui Ustad Fikri, kakaknya.
Marisa hampir saja mengetuk pintu kobong Ustad Fikri, namun ia urungkan karena mendengar suara kakaknya yang sedang marah-marah di dalam.
"Kalian ini bagaimana sih, tidak becus kerja apa?, sudah salah sasaran, dan sekarang kehilangan jejak lagi, bagaimana kalau sampai dia celaka, habis kalian!!", bentak Ustad Fikri.
"Pokoknya..., kalau Tiara sampai celaka..., kalian gantinya, kalian akan langsung berhadapan dengan Gue, paham!!!", kembali Ustad Fikri berteriak .
"Hah...., bicara dengan siapa Kak Fikri?, kok menyebut-nyebut Tiara segala",
"Eeaaa....eeaa....eeaaa....", bayi Nyimas mendadak menangis, sontak Nyimas yang sedang menguping di luar pintu kaget , begitu juga dengan Ustad Fikri, ia langsung menutup ponselnya dan setengah berlari menuju pintu dan membukanya.
"Nyi...mas..., sudah lama kamu di sini?", tatap Ustad Fikri , kini mereka saling menatap dengan sama-sama merasa kaget.
__ADS_1