
"Bagaimana keadaannya Nona, sudah baikan?, apa ada keluhan lain?", tatap Suster.
"Alhamdulillah Sus, saya sudah merasa lebih baik", senyum Tiara.
"Untung saja Nona segera dibawa ke sini, kalau telat satu menit saja, Nona tidak bisa diselamatkan", jelaskan Suster sambil terus mengecek kesehatan Tiara.
"Memangnya saya ini kenapa Sus?", Tiara menerawang sambil mengingat kembali kejadian yang telah menimpanya, karena seingatnya ia sedang tidur bersama Nyimas dikamarnya.
"Nona itu terkurung dalam sebuah mobil boks, Bapak yang tadi bersama Nona yang lebih tahu kejadiannya, dia yang membawa Nona ke sini dakam keadaan pingsan karena lemas, Nona ini kehabisan oksigen", jelaskan Suster.
"Jadi maaf, kami berani melepas cadar Nona untuk memberikan Nona bantuan oksigen", senyum Suster itu.
"Oh...begitu...",Tiara menatap pintu, dalam hatinya muncul rasa penyesalan, tadi dirinya sudah bersikap kasar kepada Robi, orang yang sudah menolongnya, orang yang sudah menyelamatkannya.
"Sus, sekarang saya dimana?", tatap Tiara, ia merasa kini tempatnya berbaring sedikit bergoyang.
"Kita ada di dalam kapal, kita sedang berlayar menuju Pulau seberang", senyum Suster.
"Apa..., kita sedang berlayar Sus?, kok bisa ?", Tiara lagi-lagi menerawang.
"Saya kurang tahu jelas Nona, Bapak yang tadi bersama Nona yang lebih mengetahui kejadiannya", ucap Suster dengan kembali menyunggingkan senyuman.
"Nona sudah stabil, banyak-banyak istirahat saja, semoga cepat pulih",
"Baik, Suster terima kasih, euh...Sus, saya boleh minta tolong", tatap Tiara.
"Iya...ada apa?", tatap Suster.
"Tolong panggilkan orang yang tadi sudah membawa ke sini, Robi, namanya Robi",
"Oh...iya, baik, saya tinggal dulu, semoga cepat sehat", senyum Suster. Ia meninggalkan Tiara .
Tak lama setelah Suster itu ke luar, pintu kembali terbuka. Tiara menahan tawa begitu melihat Robi yang kini memasuki ruangannya.
Robi masuk dengan memakai masker yang ia pakai untuk menutup kedua matanya. Robi berjalan seperti orang buta saja, ia gunakan tangannya untuk meraba benda yang ada didepannya.
"Aku di sini, tidak usah begitu juga, buka saja penutup matanya", kekeh Tiara.
"Tapi kan...", Robi menggantung ucapannya.
"Buka saja penutup matanya, tidak apa-apa", pinta Tiara.
Robi menurut, ia membuka masker yang menjadi penutup matanya. Namun Robi masih tetap memejamkan matanya.
"Robi..., buka saja matanya, kamu takut melihat aku?, apa wajah aku menakutkan ya?", ucap Tiara.
"Apa boleh aku melihatmu?",
"Iya..., buka saja matamu",
Keadaan hening sejenak, Robi perlahan membuka kelopak matanya, ia mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum menatap ke arah Tiara yang sedang tersenyum menatapnya.
"Degh...", seketika Jantung Robi berdegup kencang, ia melihat Tiara sedang menatapnya tajam, walau kini Tiara menutup sebagian wajahnya dengan masker, namun raut kecantikannya kini makin terlihat jelas.
Robi mematung menatapnya. "Tiara..., kamu sudah tidak apa-apa?", tatap Robi.
"Alhamdulillah..., aku sudah lebih baik, terima kasih, aku berhutang nyawa kepadamu", tatap Tiara.
"Alhamdulillah", senyum Robi.
"Kamu sudah tidak marah lagi?", tatap Robi.
"Aku justru mau minta maaf karena sudah marah tadi, maafkan aku, kalau tidak ada kamu, entah bagaimana nasibku saat ini", Tiara menunduk.
"Euh..., sebenarnya apa yang telah terjadi ?, apa kamu masih bisa mengingatnya?",
Tiara diam, ia tengah menggali ingatannya kembali.
__ADS_1
"Setelah aku mengantarmu ke Pondok, selanjutnya apa yang terjadi?", tatap Robi, ia memancing kembali ingatan Tiara.
"Ah...iya..., waktu itu aku ngobrol bersama Nyimas, kita tidur satu kamar, karena mengingat kita hanya berdua di rumah, aku tertidur, dan tahu-tahu aku seperti ...ah...tidak ingat..., hanya saja aku merasa sangat panas dan haus, hingga aku berontak dengan sisa tenaga yang ada, dan aku sudah ada di sini, apa benar kita sedang berada di atas kapal?", tatap Tiara.
"Iya..., kita sedang berlayar, kamu ada yang menculik Tiara", beritahu Robi.
"Hah ..., ada yang menculik?", Tiara melebarkan kedua kelopak matanya, seolah ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Robi.
"Iya..., aku mendapat kabar dari Mang Daman kalau ada orang yang membawamu pergi dari rumah, dan orang itu menaruh kamu di dalam mobil boks untuk menghilangkan jejak, Alhamdulillah aku bisa menemukanmu di sini", senyum Robi.
"Ah...terima kasih, sekali lagi aku ucapkan terima kasih Robi, tapi siapa yang menculikku, untuk apa?", Tiara kembali menerawang.
"Nah...itu yang harus kita selidiki, ada seseorang yang sedang merencanakan sesuatu",
"Ah...aku bingung, aku kan sedang berada di rumahku sendiri, kok bisa diculik?, dan penjahat itu bisa tahu kalau aku sedang berdua saja dengan Nyimas",
"Itu dia Tiara, ini menunjukkan kalau penjahat itu dekat dengan kamu, dia dekat dengan kamu", tatap Robi. Sebenarnya ia sudah curiga kepada Ustad Fikri, tapi ia tidak ingin menuduhnya tanpa bukti, Robi ingin mencari bukti pasti kalau Ustad Fikri lah dalang dari semua kejadian ini.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan , itu akan menjadi tugasku nanti, sekarang kamu fokus pada kesehatanmu saja, baru nanti kita pikirkan lagi, sambil mencari bukti-bukti yang lain",
"Aku sudah merasa lebih baik kok, aku ingin jalan-jalan, aku ingin melihat laut", senyum Tiara.
"Astaghfirullah...sudah berapa shalat yang aku lewatkan?, bisa antarkan aku ke Masjid atau Mushola?",Tiara tampak hendak bangun dari tempatnya berbaring.
"Seharian ini Tiara, kamu menghilang sedari subuh, dan baru sadar beberapa jam lalu, kamu sudah kuat?", tatap Robi.
"Iya..., Inshaa Allah..., aku mau shalat dulu", Tiara kini mulai bangkit dan hendak turun dari bed pasien.
"Kita makan dulu saja, kamu pasti lapar, ini ada sereal, bubur ayam juga ada, kamu mau yang mana?",
Tanpa menunggu jawaban dari Tiara, Robi langsung mengambil cup berisi bubur ayam yang tadi sempat diberikan oleh Suster.
Robi langsung saja melahapnya. "Ini mau?, aku suapinmau?", senyum Robi.
"Ini ambil !!, makan dulu saja, setelah ini baru kita ke Masjid, sama aku juga belum shalat, tapi ini perut juga sudah menjerit dari tadi", senyum Robi.
"Terima kasih..., entah bagaimana aku membalasnya", tatap Tiara, ia menatap Robi yang kini sedang beralih menyantap sereal, bubur ayam di cup sudah berpindah ke perutnya.
'Kasihan, pasti kamu kelaparan gara-gara aku, sampai lahap begitu makannya', pikir Tiara. Ia mengulum senyuman.
"Bagaimana...", tatap Robi, ia melihat Tiara yang sedang tersenyum kearahnya.
"Aku sudah kenyang, melihat kamu makan saja aku sudah kenyang, kamu kelaparan ya?", senyum Tiara.
"Iya, aku mengejar kamu dari selepas subuh tadi", senyum Robi.
"Habiskan dulu makannya, kamu juga sama, belum makan apapun dari pagi kan, jangan menyisakan makanan, mubazir", senyum Robi.
"Aku sudah kenyang, ini tidak habis, bagaimana dong", Tiara sedikit cemberut.
"Mana, bener sudah kenyang?", Robi menatap Tiara yang mengangguk mengiyakan.
Tanpa ragu Robi mengambil cup dari tangan Tiara dan langsung menyantapnya, Robi menghabiskan sisa makanan Tiara.
Tiara sampai bengong melihatnya, ia tidak menyangka dengan tindakan Robi itu. "Sudah...Alhamdulillah sudah habis, ayo kita bersiap ke Masjid", ajak Robi.
"Oh...euh...iya...", Tiara agak tergagap .
Robi memandu Tiara menuju Mushola yang ada di ruang akomodasi. Di sana mereka shalat berjama'ah berdua untuk pertama kalinya. Ada keharuan tersendiri yang ia rasakan, ia bisa shalat bersama Robi dalam keadaan yang tak terduga, berdua di dalam kapal layar yang akan membawanya jauh dari keluarga.
Setelah selesai shalat, Tiara tampak terisak, Tiara menangis, ingatannya melayang kepada Abah dan Umi yang kini mungkin masih di Rumah Sakit.
Robi membiarkan saja Tiara menumpahkan kesedihannya, inginnya sih Robi menjadikan pundaknya sebagai sabdaran Tiara, tetapi itu belum boleh.
"Sudah...sudah selesai?, kita ke atas, bukannya mau melihat laut?", tatap Robi.
Tiara menyeka sisa air matanya, dan mengangguk. "Ayo..aku sudah selesai", senyum Tiara.
__ADS_1
Robi kembali memandu Tiara menuju dek, di sana mereka bisa melihat dengan jelas hamparan lautan yang membentang dihadapannya yang seperti tanpa ujung.
Deburan ombak bisa terdengar dengan jelas, tiupan anginpun kian kencang menerpa badan mereka.
"Subhanallah...", gumam Tiara.
"Sudah lama aku memimpikan hal ini, bisa melihat laut, tapi kenapa harus dalam keadaan seperti ini", gumam Tiara, kembali butiran bening mendesak keluar dari kedua kelopak matanya.
"Selalu ada hikmah dibalik setiap musibah, kita ambil hikmahnya saja, ini sudah rencana Allah Tiara, kita jadi bisa lebih dekat karenanya, di sini kita hanya berdua, di tengah orang-orang asing, di tengah-tengah lautan pula",
"Aku masih belum mengerti, siapa orangnya yang sudah berbuat begini padaku",
"Tiara...apa kamu tidak menaruh curiga, apa ada orang yang kamu curigai di balik semua kejadian ini?", tatap Robi.
"Siapa...?", Tiara menerawang.
"Ustad Fikri misalnya?", ucap Robi hati-hati.
"Ustad Fikri ?, kenapa dia?", tatap Tiara.
"Ah...tidak, apa kamu tidak mencurigainya?", kembali Robi menatap Tiara.
"Ustad Fikri?, rasanya tidak mungkin", gumam Tiara.
Robi melengos mendengar jawaban Tiara tersebut, 'Sudah bisa di duga, pasti Tiara tidak akan kepikiran ke arah sana', pikir Robi.
"Kenapa harus Ustad Fikri?", tatap Tiara.
"Karena masa lalunya", ucap Robi.
Tiara teringat kembali pada obrolannya dengan Nyimas, soal masa lalu Ustad Fikri, 'Apa benar begitu?, ini ada hubungannya dengan masa lalu Ustad Fikri?, tapi kenapa harus aku yang jadi sasarannya?', pikir Tiara.
"Lihatlah ke sana Tiara!!", Robi menunjuk ke arah air laut yang berdeburan.
"Yang berbahaya itu bukan ombak yang terlihat bergulung-gulung diatas, tapi yang lebih berbahaya itu arus yang ada dibawahnya, begitu juga dengan orang, terlihatnya saja ilmunya tinggi, pemahaman agamanya bagus, tetapi hatinya siapa tahu, dalamnya lautan masih bisa kita selami, lah...hati orang tidak bisa", jelaskan Robi.
"Aku hanya bisa berpesan saja padamu, hati-hati !!, aku tidak mau hal buruk menimpamu lagi", senyum Tiara.
"Sudah..., kita masuk ke dalam lagi, makin kencang anginnya, tidak baik", ajak Robi. Tiara dan Robi kembali masuk ke lambung kapal untuk beristirahat.
*****
Ustad Fikri sudah kembali lagi ke Pondok sendiri, tanpa Tiara bersamanya. "Ustad mana Tiara?, kok tidak pulang bareng", tanyai Nyimas begitu Ustad Fikri sampai di depan rumah Abah.
"Tidak , Tiara sudah ada yang menyusul, semoga selamat", ucap Fikri.
"Ya Allah Tiara, maafkan aku, aku tidak bisa menolongmu semalam", tunduk Nyimas.
"Jadi semalam apa yang terjadi?", tatap Ustad Fikri, ia merasa kesal karena tadinya Nyimas yang ingin ia singkirkan, bukan Tiara.
"Aku melihat dua orang masuk rumah, mereka membawa pergi Tiara", jelaskan Nyimas.
"Apa kamu mengenali pelakunya?", tatap Fikri, kini ia yang khawatir kalau Nyimas mengenali Aleks dan Joko.
"Tidak..., aku tidak mengenalinya",
"Alhamdulillah...", gumam Fikri, ia bicara di depan Nyimas.
Nyimas pun mentautkan kedua alisnya, ia merasa aneh dengan yang baru saja diucapkan Fikri. 'Kok sepertinya Fikri merasa senang', pikir Nyimas.
"Apa lihat-lihat?", bentak Ustad Fikri, ia menatap tajam ke arah Nyimas.
"Harusnya kamu yang mereka bawa bukan Tiara", bentak Fikri lagi, ia berlalu meninggalkan Nyimas yang makin bingung dengan sikap Fikri.
"Hah...apa yang salah dengan aku?, apa Fikri sudah mengetahui siapa diriku?", gumam Nyimas.
"Iya, sepertinya Fikri sudah tahu, ini bahaya", Nyimas segera menutup pintu rumah Abah, kini dia sendiri di sana.
__ADS_1