
Sebagaimana perintah dari Pak Robani, kini Badrun sudah berada di Pondok Al-Furqon, ia disambut hangat oleh Mang Daman.
Rencananya Badrun juga akan tidur di Kobong yang ditempati oleh Robi.
"Alhamdulillah, Mang jadi tenang sekarang, rasanya gimana gitu Den, takut iya, khawatir juga, Abah dan Umi masih di Rumah Sakit, Den Robi dan Neng Tiara juga belum kembali, kan kalau ada Den Badrun di sini , Mang jadi ada teman, takutnya orang jahat itu datang lagi ke sini", ucap Mang Daman panjang lebar, sambil mengajak Badrun ke kobongnya.
"Iya Mang, semoga Robi dan Tiara cepat pulang, Alhamdulillah mereka sudah bertemu, jadi tidak terlalu khawatir lagi, Abah juga sudah sadar Mang, kalau sudah pulih, Abah juga akan segera pulang lagi ke sini", kabari Badrun.
"Alhamdulillah...., semoga pas Abah pulang, Neng Tiara juga sudah ada di sini lagi, biar Abah dan Umi tidak tahu masalah ini, itu lebih baik", harap Mang Daman.
" Iya Mang, kondisi Abah masih lemah, jadi biar kabar yang baik-baik saja yang sampai kepadanya",
"Iya Den, nah..., ini tempat tidur yang biasa ditempati Den Robi, kini bisa dipakai oleh Aden", senyum Mang Daman.
"Iya Mang terima kasih", Badrun berdiri diambang pintu, ia memandang ke arah dalam. Kobong ini juga yang ia tempati dulu.
"Masih sama ya..., tidak ada yang berubah, sudah hampir sebelas tahun ya Mang, peristiwa itu terjadi", kenang Badrun.
"Iya..., Mang kira tidak bisa bertemu Aden lagi, Alhamdulillah..., kini sudah kembali, semoga tidak terjadi lagi kekacauan di sini", harap Badrun.
Mang Daman melihat ke luar kobong, lalu menutup pintu kamar kobong. "Den , sini kita duduk!", ajak Mang Daman, ia mendahului duduk di atas tempat tidur lipat.
Badrun mengikuti, ia duduk di samping Mang Daman.
"Apa sudah ada kabar, soal Ustad Fikri?, apa Polisi sudah menemukan bukti baru?", ucap Mang Daman, ia bicara setengah berbisik, karena ia tahu ini adalah masalah sensitif, akan sangat berbahaya jika sampai didengar oleh orang lain.
"Sepertinya sudah ada Mang, tapi saya juga tidak tahu pasti, karena semua Pak Robani yang menangani, dan katanya temannya Robi juga, sudah ada yang sedang diperiksa lagi", ucap Badrun.
"Wah..., ada lagi?, siapa mereka Den?, kemarin juga ada adiknya ke sini, eh..., malah diusir, kasihan, mana membawa anaknya yang masih kecil lagi",
"Marisa ke sini Mang?", tatap Badrun.
__ADS_1
"Iya..., tapi langsung pergi lagi,tidak tahu dimana sekarang, eh...waktu itu, Mang lihat Marisa dikejar oleh Ustad Fadil, sepertinya Ustad Fadil yang tahu dimana Marisa sekarang", jelaskan Mang Daman.
"Ya..., semoga saja Marisa ada di tempat yang aman sekarang, nanti saya bicara dengan Ustad Fadil",
"Mang, mulai sekarang kita bagi tugas dengan para Santri, kita giliran jaga pintu gerbang, biar kejadian kemarin tidak terulang lagi", usul Badrun.
"Tiap hari juga ada yang jaga Den, tapi semua Santri tidak ada yang tahu saat kejadian Neng Tiara hilang, gerbang juga sudah di kunci, tapi tidak tahu bagaimana caranya penculik itu sampai bisa masuk", jelaskan Mang Daman.
"Kok bisa ya...?, aneh rasanya, apa mungkin ada orang dalam yang terlibat?", tatap Badrun.
"Nah...itu dia Den, Mang juga sempat curiga ke arah sana, tapi ..., siapa?", Mang Daman balas menatap kepada Badrun.
"Yang jelas..., orang ini tahu, kalau di rumah Abah, hanya ada Tiara dan Nyimas saja, pasti ada orang dalam yang terlibat, tahu dari mana para penculik itu, kalau bukan dapat informasi dari orang dalam", jelaskan Badrun.
"Nanti saja saya bicarakan ini dengan Pak Robani, siapa tahu ini ada hubungannya juga dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya",
"Maksud Den Badrun...., pelakunya sama begitu?",
"Dalang....?", Mang Daman tampak menerawang.
"Iya..., jadi ada orang yang hanya duduk diam, tapi dia yang menggerakkan dan memerintah semua pelaku", jelaskan Badrun.
"Oh...begitu..., siapa ya...?", kembali Mang Daman menerawang.
"Nah...itulah tugas kita Mang, kita harus selidiki, dan Pak Robani harus tahu juga soal ini, biar semuanya cepat terungkap",
"Iya..., Mang terserah Aden saja, sekarang bagaimana?, apa Aden tidur di sini?, atau di tempat Abah", tatap Mang Daman.
"Biar kita gantian saja Mang, kita giliran , Mang tidur saja duluan, saya yang jaga ", usul Badrun.
"Baik Den, ajak santri saja, buat teman, mereka pasti mau"
__ADS_1
"Iya..., nanti setelah Isya saja Mang",
Mang Daman dan Badrun beristirahat sejenak sambil menunggu adzan Maghrib.
Di Kobong, Ustad Fikri sedang mengintip di balik tirai, ia bisa melihat kedatangan Badrun .
"Orang itu lagi..., mau apa dia kesini ?, dia pasti datang membawa tujuan?, bikin keruh suasana saja", gerutu Ustad Fikri.
"Ini lagi Aleks dan Joko, susah sekali dihubungi, apa mereka sudah lupa?, tugasnya belum kelar, main kabur saja",
"Lihat saja, Tiara sudah bersama Robi sekarang, aku tidak akan tinggal diam, jika aku tidak bisa memiliki Tiara, maka Robi pun tidak", geram Ustad Fikri, ia mengepalkan kedua tangannya.
"Tiara..., biar aku yang turun tangan sendiri", geram Ustad Fikri.
Ustad Fikri pikirannya makin kacau saja, ia merasa semua rencananya gagal, Tiara kini bahkan sudah bersama Robi terdampar di Pulau Seberang.
"Robi, kamu pasti bebas melakukan apapun terhadap Tiara di sana, secara kalian hanya berdua di sana, dan kalian pun saling cinta, pasti kalian bebas berbuat apa pun semau kalian", umpat Fikri.
"Hah..., aku tahu siapa kamu Robi, mantan berandalan, orang liar, mana mungkin membiarkan Tiara begitu saja, kucing membawa ikan, ya dimakan lah", gerutu Fikri.
Pikiran Fikri dipenuhi berbagai prasangka, ia makin kesal, marah, dan benci saja kepada Robi
"Awas saja, aku tidak akan membiarkan kalian bahagia, jika aku tidak bisa bersama Tiara, maka Robi pun sama, tidak boleh ada yang bersama Tiara diantara kita, dan aku pun tidak mau, memakan makanan sisa ",
Kumandang adzan maghrib sudah terdengar, Fikri terperanjat, "Itu kan suara Badrun?, sudah tambah berani saja dia di sini, rupanya dia juga sudah mulai mencari muka di sini, aku tahu, dia mengincar posisi pengganti Abah",
"Aarrrghhhhh......", Ustad Fikri setengah berteriak sambil meremas kasar rambutnya. Ustad Fikri sudah tampak frustasi, kini semua rencananya diambang kegagalan.
Tiara sudah dijegal oleh Robi, dan posisi pengganti Abah pun sudah dijegal oleh hadirnya kembali Badrun.
Dari dulu juga Fikri sudah tahu, kalau Badrun lah yang akan menggantikan Abah, namun sejak Badrun terjerat masalah, maka Abah langsung memilihnya untuk mengganti Badrun, namun kini, semua akan sia-sia.
__ADS_1