Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Tidak Menyangka


__ADS_3

"Apa..?, a...pa...yang kamu bilang Nyimas?", Tiara membulatkan matanya, rasanya ia seperti mendengar petir di siang bolong saja.


Seorang Fikri yang di kobong dianggap sebagai seorang alim, berilmu tinggi, tak tahunya menyimpan rahasia kelam.


Apalagi Fikri sudah Abah tunjuk sebagai calon imamnya dan dirinya pun sudah bersedia.


"Kamu tidak sedang bermimpi kan?, kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?", tatap Tiara.


Nyimas hanya diam, dia sudah tidak kuat untuk sekedar menegakkan kepalanya dihadapan Tiara, ini adalah hal terberat bagi dirinya, ia harus kembali menguak masa lalunya yang kelam.


Nyimas hanya bisa menangis sesenggukan.


Tiara menatap Nyimas, 'Apa Nyimas tidak sedang berbohong?, kalau bohong?, apa tujuan dia?, untuk apa?', pikir Tiara.


"Tiara...maafkan aku, aku ini bicara sebenarnya, aku tahu siapa Fikri , aku tidak bermaksud menjegal Fikri, aku hanya tidak ingin kamu bersanding dengan orang yang salah, itu saja", jelas Nyimas.


"Tunggu..., kamu ini siapa sebenarnya?, kok bisa tahu masa lalu Ustad Fikri", selidik Tiara, ia tidak begitu saja percaya kepada ucapan Nyimas, secara Nyimas orang yang baru ia kenal.


"Tiara..., aku ini korbannya Fikri, ia telah memaksa aku, sampai aku mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-laki, aku dan keluargaku di usir dari Kampung karena aib itu, dan Fikri menimpakan kesalahannya pada orang lain, Tiara..., Abah dan Umi pun mengetahui masalah ini, hanya saja, tidak tahu karena alasan apa, mereka masih merahasiakannya dari kamu", kembali Nyimas menjelaskan.


"A...bah...dan Umi...juga mengetahui hal ini?", kembali Tiara membulatkan matanya, ia menatap Nyimas.


Nyimas mengangguk, ia masih ingat dulu saat datang ke Pondok bersama kedua orangtuanya, Abah dan Umi sempat mau mengusirnya juga, karena dianggap telah menggoda santrinya.


"Iya...Tiara, mereka mengetahuinya, tapi entah kenapa, mereka hanya diam saja sampai saat ini",


"Abah...., ada apa ini?", Tiara menatap ke arah pintu kamar Abah, kalau tidak mengingat Abah sedang sakit, Tiara ingin sekali bertanya langsung mengenai hal ini kapada Abah dan Umi.


"Tiara...,Fikri itu orangnya licik, aku yakin dia punya rencana lain dibalik rencananya menikahi kamu",


"Dia tahu sudah berbuat salah, tapi dia tenang-tenang saja, tidak ada niat dalam dirinya untuk berubah, dia pikir semua masa lalunya tidak diketahui orang", jelas Nyimas.


"Tiara..., aku minta tolong, Robi harus tahu hal ini, hanya Robi yang bisa menolong aku dan Robi pula yang bisa menjerat Fikri", tatap Nyimas.


"Robi...?, kenapa Robi Nyimas?",


"Robi dan Badrun yang bisa menolong aku dan kamu , Tiara..., mereka berdua mengetahui belangnya Fikri, dan mereka juga yang bisa membela aku dan kamu jika Fikri berbuat kasar", kembali Nyimas menjelaskan.


"Tunggu ...tunggu..., apa ini tujuanmu masuk ke Pondok?", tatap Tiara.


"Iya..., awalnya aku ingin mencari anakku, ku kira Gilang itu anakku, tapi bukan, aku mendengar dari Penjaga Parkir Pasar kalau wanita bercadar yang telah membawa seorang anak laki-laki, tapi setelah diselidiki, ternyata bukan",

__ADS_1


"Anakku itu Risman, yang diasuh Bu Arimbi, makanya aku langsung menyuruh mencari Ustad Fikri saat Risman kritus du Rumah Sakit", kembali Nyimas menjelaskan.


"Ustad Fikri mengetahui soal Rusman?", tatap Tiara.


Nyimas menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, karena aku langsung dibawa pergi setelah kejadian itu", tunduk Nyimas.


Aasa


"Abah...., kenapa menyembunyikan hal sebesar ini, Abah tahu Ustad Fikri seperti itu, tapi kenapa Abah masih menginnginkan dia menjadi imam Tiara?", lirih Tiara.


"Abah tidak mengetahui aslinya Ustad Fikri Tiara, yang Abah tahu, Ustad Fikri itu tidak bersalah, Badrunlah yang bersalah",


"Badrun?", kembali Tiara membulatkan matanya. Ternyata , , dia yang disalahkan atas perbuatan Fikri, Badrun yang harus menebus kesalahan Fikri di Penjara",


"Jadi...jadi...Badrun itu ....", tiara menggantung ucapannya, ia melihat Umi keluar dari kamar.


"Kalian..., belum pada tidur?", senyum Umi.


"Belum Umi, kami masih mengobrol", senyum Nyimas.


"Jangan malam-malam, kalian harus beristirahat", Umi berlalu menuju ruang baca Abah, Umi tampak membawa sebuah kitab begitu keluar dari sana dan kembali masuk ke kamar.


"Apa tidak apa-aoa?", tatap Nyimas.


"Tidak", senyum Tiara. Ia lebih dahulu berdiri dan menenteng laptopnya, kemudian mengajak Nyimas menuju kamarnya.


*****


Keadaan Robi sudah kian membaik, ia akan mulai mengikuti keinginan papihnya untuk mulai ngantor. Bengkelnya pun sudah mulai direnovasi kembali, Ronald dan Ilyas yang mengurusnya.


Dari hasil penyelidikan sudah diketahui penyebab kebakaran bengkelnya, dan kecurigaan tertuju kepada Aleks dan Joko, karena mereka berdua yang malam itu ada dibengkel, sedangkan Ronald dan Ilyas sedang berada di Pondok.


Dan hal itu kini yang sedang terus diselidiki oleh pihak Kepolisian.


Robi merasa hampa, walau berada di rumahnya kembali, rumah mewah yang menyediakan semua kebutuhannya, tetapi tetap tidak membuat Robi merasa nyaman.


Baru sehari saja dirumahnya, Robi sudah kembali merindukan suasana di Pondok, terutama Tiara.


Tiap adzan berkumandang, Robi selalu teringat ke Pondok, disanalah dirinya belajar dari nol, belajar dari tidak bisa menjadi terbiasa, bahkan dirinya sudah bisa menjadi Imam shalat di sana.


Tapi Robi tetaplah seorang anak, ia tidak bisa egois, ia juga harus mulai mewujudkan keinginan besar kedua orangtuanya untuk bisa menjalankan bisnis keluarganya.

__ADS_1


Robi yang sedang berada di Balkon kamarnya, sedikit kaget begitu mendengar suara pintu kamarnya diketuk.


"Robi..., kamu sudah tidur?", terdengar suara Pak Robani memanggilnya.


"Iya...Pih...", Robi menghampiri dan membuka pintu kamarnya.


"Iya Pih...ada apa?, masuk Pih", Robi mempersilahkan Pak Robani masuk dan mengajaknya duduk di sofa yang ada disamping tempat tidurnya.


"Tutup pintunya, kamu jangan diam di Balkon terus, angin malam tidak baik untuk kesehatanmu", lirik Pak Robani pada pintu kamar Robi yang menuju Balkon masih terbuka.


"Iya Pih", tunduk Robi.


"Robi..., kamu bisa pelajari ini dulu, sebelum datang ke kantor. Untuk pertama, kamu bisa jadi asistent Papih dulu, biar kamu mulai bisa mengenal rekan-rekan bisnis papih",


"Di sini semuanya sudah lengkap, kamu hanya tinggal poles tipis-tipis saja, nanti di Kantor , kamu satu ruangan dengan Papih, biar bisa terpantau , dan kamu bisa belajar cepat", Pak Robani memberikan sebuah laptop kepada Robi.


"Iya Pih, terima kasih", Robi menerima laptop pemberian papihnya.


"Kamu pelajari saja dulu isinya, sedikit demi sedikit, nanti akan ada Pak Sugiri yang akan mengajari kamu langsung di Kantor.


"Dan kalau jadi, akan ada Sekretaris baru pengganti Rena, besok dia akan datang, dan mulai bekerja dengan kita",


"Semoga dia tidak seperti Rena ya Pih", senyum Robi.


"Apa ?, Ah iya...", senyum Pak Robani, ia agak tersipu mendengar ucapan Robi tadi.


"Yang pasti, dia itu cantik dan pintar, dia baru beberapa bulan lulus kuliah dari luar negeri, dan dia juga masih single lho...", senyum Pak Robani.


"Ah...., jangan sampai seperti Rena lagi Pih",


"Bukan untuk Papih, tapi untuk kamu Robi, dia itu ternyata anaknya Pak Rusman, teman Papih yang Polisi itu",


"Kalian pasti cocok", senyum Pak Robani.


Robi melirik papihnya, ia melihat ada sinyal dari papihnya, sepertinya Pak Robani menginginkan Robi bersama anak temannya itu.


"Aku mau fokus belajar dulu Pih, itu mah soal nanti", senyum Robi.


Hatinya mulai tidak enak, ia takut dirinya sama seperti Tiara, dijodohkan dengan orang pilihan orang tuanya.


"Iya..., santai saja..., ini baru harapan Papih, tidak memaksa, kamu sudah dewasa, tidak usah didikte juga , pasti sudah paham", Pak Robani menepuk pundak Robi.

__ADS_1


__ADS_2