Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Semoga Selamat


__ADS_3

"Nyimas....?, ternyata kamu ini Nyimas?", gumam Ustad Fikri.


"Kenapa kamu muncul lagi di sini?, untuk Apa?", Ustad Fikri menatap wajah Nyimas yang masih tak sadarkan diri, ini tidak boleh dibiarkan", tatap Fikri.


Fikri kembali menutup niqob Nyimas, ia hendak memangkunya namun Nyimas keburu membuka kedua matanya.


"A...apa...yang akan kamu lakukan?, lepaskan aku...?", Nyimas menepis tangan Fikri dan ia menggeser tubuhnya ke samping menjauhi Fikri.


"Tadi kamu pingsan, aku mau membawamu kembali ke rumah Abah tadinya, tapi kamu keburu sadar", ucap Fikri.


"Ah..., kepalaku pusing", keluh Nyimas, ia memegangi kepalanya.


"Terus bagaimana?, kamu mau ke Rumah Sakit kan?", tatap Fikri.


"Sepertinya aku tidak jadi pergi, takut merepotkan kalau sakit di sana, biar besok lagi saja", Nyimas berusaha berdiri.


"Sekarang saja sekalian diperiksa penyakit ksmu, biar sekalian?", bujuk Fikri.


"Tidak...., aku tidak mau merepotkan, biar saja ini sakit biasa kok, tidak usah terlalu dipikirkan, aku kembali saja ke rumah, Assalamu'alaikum", Nyimas segera meninggalkan Ustad Fikri , ia selalu merasa tidak nyaman jika lama-lama berada didekatnya.


'Bodoh..., dasar bodoh..., kenapa harus minta tolong sama dia, pikir Nyimas. Ia merutuki kecerobohannya.


"Ah....sial..., gagal rencanaku, tadinya aku akan membuang dia jauh-jauh dari sini, biar tidak banyak bicara", geram Ustad Fikri. Ia menatap punggung wanita yang sudah ia sakiti dulu, dan kini ia bermaksud menyakitinya kembali karena takut rahasia kelamnya terbongkar.


"Awas saja kalau sampai kamu berulah Nyimas", gumam Ustad Fikri. Ia kembali menghampiri sepeda motornya. Namun ia kembali menghentikan langkahnya dan menokeh ke arah Nyimas yang sudah masuk ke dalam rumah Abah.


"Sebentar...., Nyimas di sini?, lalu mana anaknya?, apa ia juga ada di sini?", Fikri mematung, ia seperti sedang berpikir.


"Gilang....?,atau Risman....?, Bi Iroh bilang anak Nyimas laki-laki, tapi kedua anak itu datang tidak bersamaan dengan Nyimas, Gilang di bawa Tiara, sementara Risman juga ia datang bersama ibunya Robi...", tidak mungkin mereka", gumam Ustad Fikri.


"Ah..., bikin pusing saja, lebih baik aku segera ke Rumah Sakit, nanti keduluan sama Robi", Ustad Fikri lalu menstarter sepeda motornya dan melaju meninggalkan Pondok menuju Rumah Sakit.


Di sela-sela meetingnya, Robi sempatkan menelepon ke Rumah Sakit, ia menelepon Dokter kepercayaannya untuk bisa menangani Abah dengan baik.


Dan Dokter pun segera menugaskan Perawat dan petugas Rumah Sakit untuk menunggu kedatangan Abah.


Di dalam mobil, Tiara dan Umi merasa cemas melihat kondisi Abah. "Abah...., ini Umi..., Abah masih bisa mendengar Umi kan?", Umi menepuk-nepuk wajah Abah yang ada dalam pangkuannya.


"Abah..., maafkan Umi..., Abah pasti tadi terjatuh saat mau meraih minum", lirih Umi.


"Tiara yang salah Umi, Tiara yang tadi memaksa Umi untuk bicara, hingga Umi tidsk menemani Abah, padahal Abah sedang sakit", tunduk Tiara.


"Sudah Neng..., kita berdo'a saja biar Abah tidak apa-apa, dan segera sadar", Umi menatap Tiara dan mengelus lembut kepalanya.


Sesampai di Rumah Sakit, mobil yang baru maduk di pekarangan Rumah Sakit pun segera di buru oleh para Petugas dan Perawat.


Tiara dan Umi pun sedikit kaget dengan perlakuan mereka, namun senang juga karena Abah langsung segera ditangani dengan baik. Bahkan Abah pun segera dimasukkan ke ruangan VIP, dan mendapat perawatan yang lebih baik lagi di sana.


"Alhamdulillah Abah segera di tangani, sepertinya mereka sudah tahu , tadi juga mereka seperti sedang menunggu kedatangan kita", ucap Tiara.


"Itu pasti kerjaannya Den Robi", senyum Badrun.

__ADS_1


Umi dan Tiara saling pandang.


"Robi...", ucap Tiara.


"Iya..., ayahnya Robi pemegang saham di sini juga, jadi soal gampang bagi Robi untuk memberi perawatan dan pelayanan yang baik kepada Abah", jelaskan Badrun.


"Alhamdulillah...", gumam Umi.


Tak lama seorang Dokter keluar dari ruangan dan mengabarkan kalau Abah kembali koma, namun kondisinya sudah terpantau stabil katanya.


"Masya Allah Abah...., maafkan Umi", lirih Umi.


"Tenang Umi, Abah pasti kuat, kita berdo'a saja", Tiara menggandeng pundak Umi.


"Iya...", lirik Umi.


"Biar Umi yang menemani Abah, kamu pulang saja Neng, kan mau persiapan sidang skripsi, jangan sampai wisudamu minggu depan gagal, itu harapan Abah, melihat Neng diwisuda jadi sarjana", tatap Umi.


"Tapi..., nanti Umi sendiri di sini",


"Umi tidak sendiri, ada banyak Perawat di sini Ara..., jangan khawatir", senyum Umi.


"Iya..., baik , nanti saja setelah Maghrib, Tiara pulang , tadi buru-buru , kalau laptopnya dibawa, Tiara bisa menemani Umi sambil mengerjakan tugas", Tiara tampak menyesal.


"Tidak apa..., biar Umi sendiri dulu, besok Tiara bisa ke sini lagi kan?", senyum Umi. Ia berusaha tersenyum agar Tiara merasa tenang.


Robi yang sedang mengendara di jalan bertemu dengan Aleks dan Joko. Mereka tampak berhenti di warung di pinggir jalan.


"Kita sementara aman, bagaimana kabar Dery?", tanyai Aleks.


"Dery sudah ada di sel, tenang saja, kita aman selama Dery diam", ucap Fikri.


"Sampai kapan?, apa bisa menjamin Dery tetap diam, tidak melibatkan kita?", tatap Joko.


'Iya..., Marisa dan anaknya jaminannya", senyum Fikri.


"Oh...iya..., aku ada job baru buat kalian", bisik Fikri.


"Job baru...?, apa...?", tatap Aleks.


"Aku mau kalian berdua lenyapkan sesrorang", bisik Fikri.


"Hah...?, siapa lagi...?, makin kriminal saja", ucap Joko.


"Ya..., bagaimana lagi, dia ini bahaya, bisa gagal semua rencana besar aku kalau dia masih ada", jekas Fikri.


"Siapa...?", tatap Aleks.


"Nyimas..., nah ini orangnya", Fikri memperlihatkan foto Nyimas dari ponselnya.


"Hah..., seorang wanita?, ini yang kamu bilang bahaya?, ha ....ha....ha.....", Joko tertawa lepas.

__ADS_1


"Sssttt..., pelankan suaramu...!!, kita ini di tempay umum, bisa bahaya kalau sampai ada yang mendengarnya", Fikri membulatkan kedua matanya ke arah Joko.


"Ya...maaf...", kekeh Joko.


"Pokoknya aku mau kalian lenyapkan dia, jauhkan dia dari sini!!!", perintah Fikri.


"Intai saja dia, sekarang dia tinggal di Pondok", beritahu Fikri.


"Lah..., kalau di Pondok, kerjakan saja sendiri, kenapa harus kita", tatap Aleks.


"Bisa curiga semua kalau aku yang kerjakan bodoh ...", Fikri meninju pundak Aleks.


"Iya....iya..., tenang saja, serahkan sama kita, tapi jangan lupa....", kerling Aleks.


"Tenang...., itu sudah disiapkan, tapi kerja dulu yang benar, aku tinggal dulu, buru-buru msu ke Rumah Sakit, ingat-ingat ya sasarannya!!", ucap Fikri sambil berlalu meninggalkan Aleks dan Joko, Fikri kembali memacu sepeda motornya.


"Gila...itu Ustad..., makin nekad saja dia", gumam Aleks.


"Bagaimana?, kamu mau turutin keinginan dia?", tatap Joko.


"Lihat nanti saja, aku sebenarnya sudah cape begini terus, ingin rasanya hidup tenang, tanpa dikejar-kejar rasa bersalah", Aleks menerawang.


"Kita bohongi saja Ustad itu, kita pura-pura sudah melenyapkan wanita itu, dan setelah dapat uangnya, kita kabur, kalau berhadapan dengan wanita, aku tidak tega", tatap Aleks.


"Oke..., kita kerjain balik Ustad itu", kekeh Joko.


"Oke...", Aleks tertawa lepas.


Seusai meeting, Robi bergegas menuju Rumah Sakit, ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu Abah dan Tiara.


Namun jalanan yang macet memperlambatnya.


Robi, menepikan mobilnya dan segera memesan grab untuk mengantarnya.


Tak lama pesanannya datang, Robi langsung melesat ke Rumah Sakit.


Di halaman Rumah Sakit, Ia bertemu Tiara yang akan kembali pulang ke Pondok. Tiara memaku, ia memandangi Robi yang kini berdiri dihadapannya. Penampilannya kini berubah, Robi benar-benar sudah menjelma menjadi eksekutive muda, ia terlihat makin menawan saja.


"Astaghfirullah...", gumam Tiara. Ia segera menunduk.


Robi tersenyum melihat tingkah Tiara . "Assalamu'alaikum..., bagaimana keadaan Abah Tiara?", tanyai Robi.


"Abah kembali koma, tapi sudah ditangani dengan baik", tunduk Tiara.


"Masya Allah..., terus sekarang Tiara mau ke mana?", tatap Robi.


"Saya mau pulang, laptop ketinggalan di rumah, masih ada tugas yang belum selesai",


"Biar saya yang antar, tidak baik pulang sendiri", Robi segera mencari mobil yang tadi dibawa Badrun, ia sudah membawa kunci cadangannya.


Tiara dan Robi sudah kembali meninggalkan Rumah Sakit, bertepatan dengan sampainya Ustad Fikri ke sana.

__ADS_1


Untung saja Fikri tidak sempat melihatnya, ia langsung masuk ke dalam setelah memarkir sepeda motornya.


__ADS_2