Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Aku Ingin Bisa


__ADS_3

kegaduhan di kobong sudah terdengar walau hari masih sangat pagi. Begitu pun Robi, ia dan Mang Daman sudah bersiap untuk pergi ke Masjid untuk melaksanakan shalat shubuh berjama'ah.


"Pakai baju terbaik Den", senyum Mang Daman.


"Maksudnya Mang", tatap Robi.


"Pakai baju yang bagus gitu Den, siapa tahu ada santri putri yang tertarik", kekeh Mang Daman.


"Ah ...Mang , ada-ada saja, niatnya jadi ternoda attu, bukan untuk mencari ridho Allah, malah untuk mencari jodoh", kekeh Robi.


"Ya, tidak apa-apa Den, kan kata pepatah juga, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, betul tidak", senyum Mang Daman.


"Iya..., boleh lah Mang", senyum Robi.


Kali ini permulaan bulan, jadi setiap awal bulan, santri Putra dan santri Putri boleh melakukan kegiatan bersama.


Seperti shalat shubuh kali ini, semua santri berada dalam satu Masjid. Hal ini sangat dinanti oleh santri, karena mereka bisa saling bertemu , siapa tahu ada santri yang di sukai.


Abah masih belum bisa memimpin shalat berjamaah, jadi setiap hari para santri seniorlah yang menjadi imam secara bergiliran.


Dan kali ini giliran Ustad Fikri. Semua jama'ah sudah memenuhi Masjid, santri putra dan santri putri dipisahkan oleh hijab yang membentang di tengah Masjid.


Fikri melirik ke arah Robi yang baru saja memasuki Masjid bersama Mang Daman.


Muncullah ide dalam benaknya, 'Ini saatnya', seringai Fikri, ia melirik dengan ujung matanya ke arah Robi yang terlihat langsung duduk, ia tidak shalat sunat tahiyatul Masjid.


"Heuh..., dasar awam...", gumam Fikri.


Ustad Fadil sudah berdiri, ia akan melafaskan iqomat, namun Ustad Fikri segera ikut berdiri, ia mencegahnya.


"Sebentar!,", Ustad Fikri berdiri sejajar dengan Ustad Fadil.


Semua jamaah melihatnya dengan wajah penasaran, dalam hati mereka bicara, 'Ada apa lagi ini',


"Kali ini pondok kita kedatangan tamu istimewa, maka biar saja , dia yang menjadi imam shalat kali ini", ucap Fikri sambil segera melayangkan pandangannya ke arah Robi.


"Degh", Tiara mer,asa ini adalah akal licik Fikri untuk mempermalukan Robi di sini.


Tiara yang duduk di shaf wanita merasa dag dig dug tidak karuan, 'Kok bisa-bisanya Fikri kepikiran ke arah sana', pikir Tiara.


"Silahkan saudara Robi, anda bisa kan menjadi imam kami ?", pinta Fikri, ia langsung memanggil nama Robi.


Mang Daman pun yang duduk disamping Robi tidak kalah kagetnya, ia melirik geram ke arah Fikri. "Tenang Aden.. , jangan ladeni dia", Mang Daman memegang paha Robi yang ada disampingnya.


"Iya Mang", Robi pun berdiri dan berjalan merunduk diantara para santri yang dilewatinya. "Maaf....maaf....", ucap Robi sambil terus mendekat ke depan.


Robi pun berhasil sampai ke depan , ia berdiri di samping Ustad Fadil.


"Assalamu'alaikum semuanya, saya baru datang kemarin sore, di sini saya baru mau mulai belajar , saya masih awam, dan untuk menjadi seorang imam, itu harus orang yang sudah ahli, karena kita harus memilih orang yang paling pintar ilmu agamanya di antara kita, untuk dijadikan imam, jadi, kalau memilih saya, itu salah, karena saya masih awam, dan baru mau belajar. Di sini masih banyak yang lebih baik dari saya, jadi silahkan . Inshaa Allah kalau saya sudah bisa, tidak perlu di tunjuk, saya juga mau mengimami shalat di Masjid ini", senyum Robi.


"Jadi..., silahkan Ustad Fikri saja dulu yang menjadi imamnya", senyum Robi.


"Betul..., betul itu..", teriak Mang Daman, ia merasa puas dengan ucapan Robi barusan, ia tidak menyangka, Robi berani bicara jujur di depan orang banyak. Robi mampu mengakui kekurangannya di depan banyak orang.


"Iya betul, yang sudah biasa saja", celetuk seorang santri.


"Silahkan Ustad", rengkuh Robi , ia menunjuk ke arah tempat Imam, mempersilahkan Ustad Fikri ke sana. Dan Robi segera kembali ke tempatnya semula di samping Mang Daman.


"Bagus Aden, bagus....", Mang Daman menepuk-nepuk pundak Robi yang sudah kembali duduk disampingnya.

__ADS_1


Fikri tampak kesal, ia tidak menyangka Robi bisa membalikkan keadaan, kini dirinya yang merasa mati kutu dengan ucapan Robi tadi.


Ustad Fadil meliriknya dan segera melafaskan iqomat, pertanda shalat shubuh berjama'ah akan segera dilaksanakan.


Semua berdiri dalam shafnya , mereka bersiap melaksanakan shalat shubuh berjamaah.


'Alhamdulillah..., Robi bisa mengatasinya', batin Tiara bicara. Ia merasa terenyuh dengan ucapan Robi tadi.


Shalat berjama'ah sudah dilaksanakan, sebagian ada yang langsung pulang, ada juga yang terus berdzikir, dan ada juga yang masih memanjatkan do'a, seperti Robi.


Robi tampak masih duduk bersila, ia sedang berdo'a. Setelah itu ia melirik ke arah belakang, ke arah deretan shaf wanita yang dibatasi dengan hijab.


Robi yakin Tiara ada di sana. Entah kenapa sejak kembali lagi ke Pondok, perasaan sukanya terhadap Tiara makin kuat, namun ia tidak berani mengutarakannya.


Robi merasa canggung, ia merasa begitu kecil dihadapan Tiara, karena Robi tahu, Tiara itu ilmu agamanya jauh berada di atasnya. Robi merasa minder dihadapan Tiara.


Semua jamaah sudah pada membubarkan diri, Robi yang sedang duduk merasa kaget saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang. "Aa ganteung....", teriak anak itu",


Robi menengok ke belakang, ia memegangi tangan mungil yang melingkar di lehernya.


"Ini ...,ini....Gilang ya...?", tebak Robi.


"Iye...benar....", teriak Gilang, ia beralih duduk ke depan Robi.


"Aa ganteung tidur di sini?", tanyai Gilang, ia duduk bersila di depan Robi.


"Asik...asik..., Gilang nanti boleh main ke Kobong Aa ganteung kan?", tatap Gilang.


"Boleh..., A Robi gitu ya, panggilnya", senyum Robi.


"Euh..., iya..., A Robi", senyum Gilang.


Tiara segera beranjak dari duduknya, hari ini ia harus ke Pasar dulu, sebelum siangnya ke Kampus.


Robi pun sama, ia dan Mang Daman keluar dari Masjid, mereka diikuti Gilang yang sudah lengket menempel dengan Robi.


"Teteh...", teriak Gilang.


Tiara pun menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang, dan "Degh", kembali jantungnya berdebar, saat dilihatnya Robi bersama Gilang, sedangkan Mang Daman masih di Masjid, ia membereskan dulu Masjid .


Tiara menunduk, karena tadi dilihatnya Robi melemparkan senyuman kepadanya, wajahnya tampak makin bersinar terkena terpaan sinar matahari.


"Buru-buru sekali", senyum Robi.


"Iya..., soalnya mau ke pasar dulu, nanti siang juga mau ke Kampus", tunduk Tiara.


"Oh..., boleh sekalian nitip belikan sesuatu ?",


"Apa?, kupat?", sambar Tiara.


"Bukan..., aku nitip belikan kitab", ucap Robi.


"Kitab?", Tiara melihat sekilas ke arah Robi.


"Iya...kitab, aku kan mau belajar juga",


"Kitab apa?",


"Nah...itu yang tidak tahu", cicit Robi.

__ADS_1


"Belikan saja kitab untuk pemula seperti saya, Tiara pasti lebih tahu", senyum Robi.


Lagi-lagi senyuman itu membuat jantung Tiara berdebar lebih cepat. "Astaghfirullah...", gumam Tiara.


"Kenapa?", tatap Robi.


"Euh...ini...sudah telat, saya duluan ya, Assalamu'alaikum", Tiara segera berlalu dari depan Robi dan Gilang.


"Dah Teteh...., hati-hati...., beliin Gilang permen", teriak Gilang.


"Wa'alaikumsalam...., hati-hati....", lirih Robi. Ia memandangi kepergian Tiara.


"Sudah..., ayo ke Kobong Aa!", ajak Robi. Ia memegangi tangan Gilang menuju Kobongnya.


"Nih...Aa punya ini buat Gilang", Robi memberikan kue dan susu kepad Gilang setelah ada di dalam.


"Gilang mau kan ajari Aa belajar baca ini", Robi mengambil buku iqro dan menunjukkannya kepada Gilang.


"Iqro itu mah Aa, masa Aa sudah besar belajarnya iqro?", tatap Gilang dengan mulut penuh dengan kue.


"Iya ..., kan Aa sudah lupa, jadi mau belajar ini lagi, Gilang mau kan ngajarin Aa?", senyum Robi.


"Mau...mau...mau....", ucap Gilang sambil menyedot susu kemasan yang diberikan Robi tadi.


"Nah...gitu...dong, anak pintar", senyum Robi, ia mengacak lembut rambut Gilang.


Sementara Tiara sudah berada di jalanan , ia menuju ke Pasar. Tiara belanja semua kebutuhan dapur yang di suruh Umi, dan tidak lupa juga membeli pesanan Gilang, permen susu.


Namun ada seorang pedagang kue basah yang menarik perhatiannya, ia sama bercadar dengan dirinya. Tiara merasa wanita itu terus saja memperhatikannya sedari tadi.


'Ah..., mungkin hanya perasaanku saja', pikir Tiara. Ia cepat-cepat meninggalkan tempat itu dan segera kembali menuju Pondok, karena siangnya ia pun harus ke Kampus.


"Pak, apa wanita bercadar tadi yang kata Bapak pernah menolong dan membawa seorang anak laki-laki di sini?", tanyai wanita penjual kue basah tadi kepada petugas parkir pasar.


"Iya, dia orangnya, ia itu putri pengaruh Pondok Pesantren, sering bolak -balik , dia itu masih kuliah", terangkan petugas parkir pasar.


"Oh..., terima kasih Pak", ucap wanita itu, ia kembali menuju meja tempat jualannya.


'Semoga itu tempatnya, kalau benar , dia bisa bertemu dengan ayah biologisnya di sana, semoga takdir mempertemukanmu dengan dia', batin wanita itu bicara. Ia tampak menyeka buliran bening yang mendesak keluar dari kedua kelopak matanya.


"Mungkin nanti aku harus ikuti wanita itu, untuk meyakinkan kalau anak itu sudah berada di tempat yang tepat", gumam wanita pedagang kue itu.


"Bro..., ini semua ulah Dery, dia pakai kabur segala lagi, untung saja Ibunya Robi masih membolehkan kita ngurusin bengkel ini, kalau tidak, kita sudah jadi gelandangan",Ronald memukul besi yang ada di dekatnya dengan obeng yang dipegangnya.


"Iya, kata Gue juga apa?, Robi itu yang sahabat sejati kita, susah senang, dia selalu ada buat kita", terawang Ilyas.


"Sepertinya kita harus ikuti jejak Robi, ibunya bilang Robi sekarang tinggal di Pondok, apa kita ikutan mondok juga?" usul Ronald.


"Ya..., nggak usah mondok dulu lah, cukup kita ubah saja cara hidup kita, ikutin anjuran agama saja dulu, shalat bro...shalat....", ucap Ilyas.


"Memangnya Loe bisa shalat gitu?",


Ilyas menggelengkan kepala.


"Nah..makanya kita harus mondok, biar ada yang ngajarin cara beribadah, tapi nggak usah tidur di sana juga kali", ucap Aleks.


"Nanti lah kita pikirkan lagi, sekarang kerja bro...kerja..., tuh pelanggan sudah pada antri", teriak Ilyas.


"Alhamdulillah...., rejeki nih, ayo kerja, kerja!", semangat Ronald.

__ADS_1


__ADS_2