
"Alhamdulillah kamu sudah datang Nak, Papih senang, bagaimana Tiara?",
"Kok Tiara sih Pih, Robi nih anaknya", kekeh Robi. Ia duduk di kursi kosong disamping Pak Robani. Sementara Badrun langsung pamit menuju belakang.
"Iya, bagaimana kamu sehat kan?",
"Ya jelas sehat Pih, lihat tampak segar begitu, apalagi selalu ditemani Tiara, dapat suntikan semangat terus dia", senyum Bu Arimbi.
"Iya dong Pih, cepat lamarin dong", bisik Robi sambil tersenyum.
"Aduh Mih, lihat nih datang-datang, sudah minta hal besar seperti ini", Pak Robani melirik istrinya yang juga sedang tersenyum bahagia.
"Iya, Mamih juga dengar, Mamih juga setuju",
"Iya Papih juga setuju, tapi sekarang ada tugas penting dulu, sana makan dulu !, kita harus pergi meninjau Proyek baru Papih", ucap Pak Robani.
"Tadi sudah makan di rumah Abah, Pih, kita langsung berangkkat saja",
" Mulai sekarang kamu harus serius bantu Papih, mau punya istri harus punya pegangan pasti, biar anak istrimu tidak kesusahan nanti",
"Iya Pih, siap!", sekarang Robi akan fokus bantuin Papih", senyum Robi.
"Sebentar Pih, apa Papih sudah mengetahui soal Ustad Fikri?",
"Oh..., Fikri?, sudah jadi buronan dia, tidak menyangka, padahal ilmunya tinggi anak itu, sayang, dipake tidak benar", Pak Robani berargumen.
"Tapi ada yang senang Pih dengan perginya Fikri dari Pondok, Tiara jadi bebas kini, sudah tidak ada penghalang lagi ", Bu Arimbi kembali melirik ke arah Robi.
"Sepertinya cita-cita kita untuk segera ngemong cucu bakal segera tercapai nih Mih", senyum Pak Robani.
"Iya ..., do'ain saja semuanya lancar, tapi belum tenang juga Pih, sebelum Fikri benar-benar tertangkap, takutnya dia berulah lagi",
" Makanya cepat lamar dan nikahi Tiara, agar kamu bisa melindungi dia seutuhnya, kalau sudah menjadi istri kan, tidak ada yang bisa ganggu gugat lagi, sudah sah", kompori Bu Arimbi.
"Iya...iya..., itu harapan Robi juga Mih",
"Semua masalah kita sudah beres, bengkel kamu juga sudah beroperasi lagi, Ronald dan Ilyas yang urus, dan ada Marisa juga di sana, maaf kita baru kasih tahu sekarang soal itu", tatap Bu Arimbi.
"Marisa...?", Robi tampak menatap heran kedua orangtuanya itu.
"Iya, Marisa sudah tidak punya tempat kembali, Fikri juga sudah tidak peduli lagi, kasihan dia, mana bawa anaknya lagi", jelaskan Pak Robani.
__ADS_1
"Marisa..., kasihan dia", Robi menerawang.
"Itu anaknya Dery katanya, tapi kok bule begitu ya?", Pak Robani tampak tersenyum.
"Anaknya Briant itu, mereka sempat dekat, rupanya dia sempat nanam saham juga sama Marisa", celetuk Bu Arimbi.
"Hadeuh..., itu sudah lewat Mih, jangan diungkit lagi, nanti sakitnya berdarah lagi", goda Pak Robani.
"Sudah ah, jangan ungkit masa lalu, kita ini mau melangkah ke depan Mih, Pih", ucap Robi menengahi.
"Iya maaf, Mamih hanya menjelaskan saja",
"Kita jadi kan ke kantor hari ini Pih?", Robi kembali ke topik semula.
"Jadi dong..., ayo kita berangkat sekarang", Pak Robani bangkit .
"Mamih juga mau menemui Tiara", Bu Arimbi pun ikut berdiri.
"Biar Badrun saja yang antar Mih, biar dia sekalian bantuin Abah di sana, Fikri kan sudah tidak ada di Pondok, jadi Abah memerlukannya untuk ikut membantu di sana",
"Oh...bagus itu, jadi Abah sudah menerima Badrun sekarang?, Alhamdulillah..., semua sudah ada jalannya, semua jadi lebih baik sekarang, itulah balasan bagi orang-orang yang sabar", senyum Bu Arimbi.
"Wah..., sekalian saja kita bicarakan masalah lamaran aku buat Tiara ya Pih, lebih cepat lebih baik, bagaimana?", senyum Robi.
"Aduh ini anak Papih, sudah ngebet kayanya, iya...iya..., kita sekalian saja ke sana, jangan sia-siakan waktu, nanti keburu disambar orang", kekeh Pak Robani.
Hari itu mereka keluar dengan dua mobil, Bu Arimbi bersama Badrun menuju Pondok , sementara Pak Robani dan Robi menuju kantor.
Sebuah harapan baru akan mereka gapai .
****
Di rumah Eko
Eko menatap tajam Fikri.
"Kamu berhutang nyawa padaku Ustad, kamu pasti sudah kehilangan kebebasanmu andai tadi aku tidak membawamu ke sini, masih untung kalau kamu selamat, coba kalau terlindas kendaraan , bisa-bisa mati konyol kamu", cecar Eko dengan wajah angkuhnya ia menatap Fikri, ia bicara dengan penuh penekanan
'Sombong sekali ini orang, padahal siapa suruh menolong aku', batin Fikri menggerutu.
Tapi saat ini sudah tidak ada pilihan lagi bagi Fikri selain menurut saja kepada Eko, karena posisinya yang sudah terjepit, kalau sampai tertangkap Polisi, ia harus rela menghabiskan sisa hidupnya dibalik jeruji besi, yang mungkin saja selamanya ia akan mendekam di sana.
__ADS_1
Dan, sekalipun ia berhasil kabur, ia akan hidup sengsara dengan dunianya yang semakin mengecil, ruang geraknya sudah tidak akan bebas lagi, dan mungkin saja ia akan selalu dihantui rasa ketakutan, apalagi sanak saudara sudah tidak ada lagi, sahabat pun sama,tiada.
Jadi, pilihan terbaik adalah menuruti keinginan Eko, sekalian ia bisa mengatur rencana , apalagi Eko sudah terang-terangan mengajaknya untuk bekerja sama.
"Kamu tahu siapa Aku?", tatap Eko.
Fikri tidak berani menatap Eko, ia merasa segan dengan sorot tajam matanya.
"Tidak, saya tidak tahu, sepertinya ingatan saya yang buruk", Fikri menunduk.
"Ya sudah, kamu tidak perlu tahu siapa saya, itu lebih bagus, tapi yang perlu kamu tahu, saya ingin kamu mengerjakan sesuatu untuk saya, ya...anggap saja itu sebagai balasan untuk kebaikan saya yang sudah membawa dan menampung kamu di sini, kamu boleh tinggal di sini gratis, semau kamu", ucap Eko masih dengan sikap angkuhnya.
" Lalu apa yang harus saya lakukan", ucap Fikri .
"Ha...ha....ha...., bagus, begitu dong, itu yang aku suka, cerdas juga kamu ternyata", kekeh Eko.
"Aku ingin kamu membuat Robi sengsara, terserah bagaimana caranya, kamu fikirkan sendiri, aku hanya siapkan duitnya saja, kamu mau apa?, kamu perlu apa?, tinggal bilang saja, aku siapkan semuanya",
"Tapi..., aku akan sulit kemana-mana dengan posisiku yang seperti ini, aku ini kan buronan, ruang gerakku sempit , akan susah melakukan apa pun",
"Ah...iya..., itu kendalanya, sebentar...., aku pikirkan dulu caranya", Eko tampak diam.
"Euh..., Robi..., Robi..., aku sudah jarang bertemu kamu, aku juga tidak tahu ruang gerak kamu dimana?", gumam Eko.
"Robi itu sekarang tinggal bersama orang tuanya, dia membantu bisnis orang tuanya juga, tapi dia sering bolak-balik Pondok juga", beritahu Fikri.
"Nah..., kamu ke sana saja",
"Semua orang di sana sudah mengenal aku, mana mungkin aku ke sana",
"Kamu ke sana dengan casing baru, semua orang tidak akan mengenalimu, tunggu !, aku ambilkan sesuatu untukmu", Eko berjalan menuju ke dalam dan tak lama kembali dengan membawa kantong ditangannya.
"Nah...pakai itu !, itu akan membuatmu aman",
Fikri membuka tas dihadapannya, ia tercengang begitu melihat isinya, itu pakaian muslimah syar'i yang lengkap dengan cadar dan burdah segala.
"Ini...?, apa tidak salah?", Fikri menatap Eko.
"Dengan ini, kamu bisa bebas melakukan apa pun tanpa ada orang yang tahu, Polisi juga tidak akan mengenalimu",
Fikri tersenyum smirt membayangkan dirinya dengan pakaian muslimah itu, ia bisa bebas bergerak kemana pun.
__ADS_1