Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Kata Hati, hati-hati!!


__ADS_3

"Tiara..., Tiara..., Neng...", panggil Abah.


"Kenapa dia buru-buru sekali, Tiara..., ini ada Ustad Fikri, eehh...malah kabur itu anak, gerutu Abah",


"Nggak apa-apa Abah, biarkan saja, kalau begitu, saya pamit dulu, Assalamu'alaikum", Fikri bangkit dari duduknya, ia segera meninggalkan rumah Abah setelah menyalaminya.


"Kena kau Robi, kini Tiara akan kembali membencimu", seringai Fikri.


Sepeninggal Fikri, Abah langsung menemui Tiara yang sedang asik dengan laptopnya. Memang akhir-akhir ini Tiara sedang disibukkan dengan tugas akhir di Kampus kalau tidak ada aral melintang, dua bulan lagi Tiara bisa wisuda.


"Neng, kenapa dipanggil malah kabur, ada Ustad Fikri lagi", tatap Abah.


"Maaf, Abah, Tiara lagi buru-buru, rencananya mau ada zoom meeting lima belas menit lagi", ucap Tiara, ia melirik ke arah pergelangan tangan kirinya.


"Oh..., itu..., Abah kira gara-gara ucapan Fikri tadi",


Tiara yang sedang mengetik, menghentikan kegiatannya, ia menatap ke arah Abah. "Ucapan yang mana?", Tiara mentautkan alisnya.


"Yang soal Robi tadi", ucap Abah datar.


"Memang apa urusannya dengan Ara?, suka-suka dia Abah mau apa pun juga, bebas", ketus Tiara.


Abah tersenyum kecil melihat tingkah Tiara. Sebagai seorang Ayah, Abah mengerti betul apa yang dirasakan putrinya itu.


"Ara percaya, dengan ucapan Fikri soal Nak Robi tadi?",


"Soal apa Abah?", lagi-lagi Tiara pura-pura tidak tahu.


"Ustad Fikri bilang kalau Nak Robi itu pernah berhubungan dengan adiknya, dan meninggalkannya dalam keadaan mengandung", tatap Abah.


"Tiara dengan Marisa itu satu kampus Abah, Tiara tidak tahu kalau Marisa itu adiknya Ustad Fikri, selama di kampus sih tidak pernah melihat Robi bersana Marisa, seringnya melihat Marisa diantar Dery", Tiara menerawang.


Memang benar, yang ia tahu, Marisa itu sering di antar jemput oleh Dery, dan kemarin juga Dery di tangkap Polisi di Rumah Sakit.


"Kenapa, kok melamun?", tatap Abah.


"Yang di tangkap di Rumah Sakit kemarin itu, suaminya Marisa Abah, dan Tiara tahu, karena Dery yang selalu antar jemput Marisa ke Kampus", jelaskan Tiara.


"Nah..., berarti benar, Dery itu suami Marisa, ayah dari anak yang dilahirkan Marisa kemarin", senyum Abah.


"Jangan cepat-cepat percaya, cerna dengan pikiran tenang, apalagi sambil marah, bisa-bisa salah dugaan, Abah tidak mau mengulang kesalahan seperti dulu, Abah percaya saja saat Nak Robi dituduh seorang penjahat, akhirnya Abah malu sekali sama Pak Robani, ayahnya Robi", Abah mengelus lembut kepala Tiara.


Tiara menatap Abah, ia memeluknya. "Terima kasih Abah",


"Ara kan sebentar lagi wisuda, Abah takut Ustad Fikri menagih janji kepada Abah, Neng juga tahu kan, Abah sudah terlanjur menunjuk Ustad Fikri untuk menjadi imam kamu Neng", Abah kembali mengelus rambut Tiara.

__ADS_1


"Padahal Abah tahu, Tiara mulai suka sama Nak Robi kan?", tebak Abah.


"Ah..., kata siapa Abah?", Tiara menunduk, wajahnya kini terasa memanas.


"Tidak ada yang bilang, Abah ini ayahmu Neng, Abah tahu apa yang kamu rasakan, mata dan sikapmu tuh yang bicara", kekeh Abah.


"Abah yang bingung sekarang, kalau tahu dari awal,Nak Robi itu cucu dari sahabat Abah, mungkin sejak itu Abah langsung menjodohkannya dengan kamu Neng", Abah menarik nafas panjang.


"Sudah Abah..., jangan jadi pikiran, kita serahkan semuanya kepada Allah saja, Abah tidak akan salah pilih, Abah yang mendidik Ustad Fikri sedari kecil, pastinya Abah lebih tahu tentang pribadinya, tidak seperti membeli kucing dalam karung", senyum Tiara.


Tiara bicara begitu untuk membuat Abah tenang, Tiara sangat menyayangi ayahnya itu, ia akan rela melakukan apa pun untuk kebahagiaannya . Termasuk menerima Ustad Fikri sebagai imamnya.


"Alhamdulillah..., kamu memang putri Abah yang berbakti, Abah tidak akan memaksa, kalau Neng tidak suka, Neng tidak mau, Neng boleh menolaknya", Abah memegang kedua pundak Tiara. Abah menatap lekat putrinya itu.


"Tidak Abah, janji harus ditepati, Abah itu pimpinan di sini, Ara tidak apa-apa, pilihan orang tua tidak akan salah", senyum Tiara.


"Lalu bagaimana dengan Nak Robi?", tatap Abah.


"Robi..., Robi...pasti akan menemukan jodohnya juga Abah", senyum Tiara. Senyum yang dipaksakan, dalam lubuk hati terdalamnya, Tiara mengharapkan ada sebuah keajaiban yang bisa mematahkan janji Abah kepada Ustad Fikri.


Dalam lubuk hatinya, Tiara mengharapkan ada jalan baginya untuk bisa bersama Robi.


"Terima kasih Ara, semoga semua berjalan sesuai kehendak-Nya", Abah kembali mengelus kepala Tiara.


Tanpa mereka sadari, Robi sedari tadi sudah berada di depan rumahnya, pintu depan yang terbuka, mmbuat Robi bisa mendengar semua obrolan Abah dan Tiara.


Tentu Abah akan lebih memilih Ustad Fikri untuk menjadi pendamping putrinya, dibandingkan dirinya, orang luar yang liar.


"Aduh...Nak Robi, kenapa di sini?, ayo masuk!, Abah lagi ada di rumah", persilahkan Umi yang baru datang dari Madrasah bersama Nyimas.


"Iya, terima kasih Umi, nanti saja, saya lupa, hari ini mau menemui Papih, katanya sudah ada hasil dari penyelidikan penyebab terbakarnya bengkel saya", Robi langsung berpamitan kepada Umi, ia urungkan niatnya untuk bertemu Abah.


Setadinya Robi ingin mengutarakan maksud hatinya pada Tiara kepada Abah, namun keburu mendengar perbincangan antara Abah dan Tiara soal Fikri.


Umi menatap kepergian Robi dengan agak bingung, jelas sekali tadi dari kejauhan Robi hendak bertamu ke rumahnya, namun entah apa alasannya, ia urungkan dengan alasan ingin menemui papihnya.


"Assalamu'alaikum", Umi memasuki rumahnya yang pintunya sudah terbuka.


"Wa'alaikumsalam", serentak Abah dan Tiara.


"Bicara dengan siapa Umi?" Abah langsung mengintrogasi Umi.


"Itu tadi ada Nak Robi di depan, tapi disuruh masuk, malah langsung pergi lagi", jelaskan Umi.


"Nak Robi?" , Abah dan Tiara saling pandang.

__ADS_1


'Jangan-jangan Robi mendengar pembicaraan dengan Abah tadi' , batin Tiara bicara.


"Tiara langsung bangkit menuju depan, namun Robi tentu saja sudah tidak ada di sana.


"Robi...., maafkan..., bukan maksud aku untuk menyisihkan kamu, tapi....", Tiara menggantung ucapannya, matanya keburu berembun.


"Kamu telat hadir di sini, tapi di hatiku hanya terisi oleh bayangamu", lirih Tiara dengan perasaan sedih.


Haruskah Tiara mengubur dalam-dalam harapannya terhadap Robi?.


Robi pun diam-diam mengintip di balik tirai yang menutupi kaca kobongnya. Robi bisa jelas melihat Tiara yang mencari dirinya ke luar, Robi menatapnya , tanpa Tiara ketahui.


"Ya, Allah...jadikan dia jawaban dari setiap do'a-do'a ku ini", lirih Robi sambil tetap menatap Tiara dari balik tirai.


[Iya Pih, aku sebentar lagi datang, ini masih di Kobong], Robi menjawab panggilan masuk dari papihnya.


Setelah itu ia bersiap dengan membawa tas ransel dan segera pergi membawa sepeda motornya untuk menemui papihnya.


Tiara pun bisa melihat kepergian Robi. "Kenapa bawa tas ransel segala?, mau pergi ke mana?, apa dia akan pergi dari sini?" gumam Tiara. Tiba-tiba perasaannya jadi khawatir.


Tidak biasanya Robi pergi tanpa pamit kepada Abah dan Umi.


'Sepertinya Robi mendengar obrolan tadi", gumam Tiara, ia segera kembali ke dalam rumah.


"Siapa Neng?" tanyai Abah.


"Robi pergi Abah, tapi kok tidak bicara dulu sama Abah", tatap Tiara.


"Itu..., nak Robi tadi bilang, Papihnya sudah menunggu, katanya penyebab kebakaran bengkelnya itu sudah ditemukan", jeladkan Umi.


"Oohh...., kirain mau ke mana", senyum Tiara.


Abah dan Umi saling pandang, dengan sikap Tiara begitu saja, mereka sudah bisa menerka apa yang sedang Tiara rasakan.


Sementara Robi sudsh ada dijalanan dengan sepeda motornya.


Tanpa ia sadari, sejak dari persimpangan, ada dua sepeda motor yang berada dalam satu rute dengannya.


Mereka adalah Eko dan temannya, mereka sudah lama mencari keberadaan Robi.


"Akhirnya...keluar juga jagoan kita ", gumam Eko.


Ia dan temannya terus mengikuti Robi, dan sayangnya Robi lagi tidak Fokus, pikirannya terus melayang kepada Tiara, hingga ia tidak menyadari keberadaan Eko dan temannya di belakang.


"Kita apakan doa Bos?, tampaknya lagi sendirian nih", seringai Andra.

__ADS_1


"Kita bikin tamat saja riwayatnya, agar kita jadi satu-satunya penguasa jalanan, ha....ha....ha....", Eko tertawa lebar.


__ADS_2