
"Nggak usah dii jemput, aku ada perlu dulu, sudah minta di jemput sopir", ucap Marisa begitu turun dari Motor Dery , ia pun langsung berjalan memasuki kampusnya.
Dery menatap kepergian Marisa yang tidak seperti biasanya. Tidak ada pelukan dan ciuman lagi.
Sikap Marisa seharian ini memang berbeda, ia lebih banyak cuek terhadap Dery.
"Kenapa dia?", guman Dery. "Tapi biarlah..., aku jadi ada kesempatan untuk mendekati wanita ninja itu, sungguh dia membuatku penasaran", seringai Dery.
Tak lama, yang dinantinya pun datang, Dery terus memperhatikannya sampai Tiara berjalan ke arahnya.
"Baru datang manis?", tanya Dery, ia menatap Tiara.
Tiara menengok ke samping kanan dan ke samping kiri, tidak ada seorang pun dibelakangnya.
"Aku bertanya kepadamu manis", senyum Dery, ia berjalan mendekati Tiara.
"Stop!, kamu mau apa?", Tiara merentangkan tangan kanannya ke depan.
"Aku mau kenal lebih dekat sama kamu, aku penasaran...", Dery tersenyum evil.
"Kamu pasti menyembunyikan sesuatu yang berharga di balik baju lebarmu itu", Dery kembali menatap Tiara.
Mata Tiara membelalak mendengar ucapan Dery barusan. 'Iihhh...ini orang menyebalkan, tidak ada sopan-sopannya' , pikir Tiara.
"Maaf Bang..., saya masuk dulu, ini sudah telat", Tiara melangkah ingin melewati Dery, tapi tangan Dery menghalaunya, hampir saja Tiara menabrak Dery.
"Tolong ya Bang..., aku mau lewat, kalau mau kenal lebih dekat, ya , yang sopan ", Tiara mematung di tempatnya berdiri.
Untung saja ada sepeda motor yang masuk ke parkiran. Dery menarik tangannya dan bergeser, memberi jalan untuk Tiara lewat.
"Sitt..., sombong!!, belum tahu siapa Dery, tak seorang pun wanita yang tidak bertekuk lutut dihadapanku", gerutu Dery, ia menatap kepergian Tiara dengan geram.
"Hmn...jadi penasaran, pulangnya ke mana wanita itu", gumam Dery.
"Jangan panggil aku Dery kalau tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau", seringai Dery. Ia menghampiri sepeda motornya dan melaju ke suatu tempat, yang jelas ia tidak mengambil arah menuju bengkelnya.
Hari ini Marisa minta ijin untuk pulang cepat, alasannya sih modus, katanya ada kepentingan keluarga.
Marisa sudah keluar dari kampusnya , ia menunggu di gerbang, sebelumnya ia sudah meminta sopir untuk mengantarkan mobil ke Kampusnya.
"Terima kasih Pak, ini Bapak naik ojol saja pulangnya", Marisa memberikan sejumlah uang kepada sopirnya.
"Terima kasih Non", renggkuh Pak Sopir.
Marisa sudah bulat niatnya, ia ingin ke Apartement Bu Arimbi kemarin , bukan untuk menemui Bu Arimbi, tapi untuk bertemu dengan bule gantengnya.
Marisa memarkir mobilnya di basemant Apartement, dan mulai mencari keberadaan bule itu.
"Yang mana ya....?, masa harus cari satu-satu?", Marisa menyusuri lorong dilantai dua Apartement itu. Tanpa sengaja ia menyandar di salah satu pintu Apartement sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Jelas saja, saat pintu itu di buka dari dalam, tubuh Marisa langsung nyelonong masuk ke dalam .
"Aduh...aw...aw...aw...", Marisa hampir jatuh kalau saja tidak di topang oleh tubuh seseorang yang ada di dalam.
"Oh...God!!!, apa-apaan ini?, ngapain you di depan sini?, mau maling ya?", sewot seseorang yang sedang menopang tubuh Marisa dari belakang.
"Aw..., enak saja menuduhku maling", seketika Marisa membalikkan tubuhnya menghadap orang tersebut.
"Kamu...", dengan nada senang Marisa menyapa orang didepannya, yang ternyata Briant, bule ganteng yang sedang ia cari.
"You...you...yang kemarin bertemu di Hospital ?", Briant menatap Marisa.
"Betul??,aku Marisa, mana Tante Arimbi?", Marisa mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan Apartement.
"Tante?", Briant tampak heran.
__ADS_1
"Iya..., Tante Arimbi", senyum Marisa.
"Oh..., dia sudah pulang", jawab Briant datar.
'Yess...', hati Marisa bersorak.Ia jadi punya banyak waktu untuk mulai mendekati Briant.
"Oh..., kebetulan..., jadi ...aku boleh dong di sini dulu sebentar, kita bisa ngobrol-ngobrol, atau jalan-jalan juga boleh", senyum Marisa.
Briant menatap Marisa, ia mulai tertarik dengan tawaran Marisa. Marisa jelas lebih baik bila dibandingkan dengan Arimbi, Marisa masih muda dan cantik.
"Hmn..., boleh juga..., aku juga mulai bosan diam terus di sini", senyum Briant.
"Kalau begitu...ayo!, kita pergi sekarang saja, aku tunjukkan tempat-tempat bagus di sini", tanpa ragu Marisa meraih tangan Briant.
Briant pun sedikit kaget, ia sempat terdiam memandangi Marisa, namun tersenyum juga.
Marisa membawa Briant jalan-jalan dengan mobilnya.
'Hmn...ini awal yang bagus', Marisa menyunggingkan senyum kemenangannya.
Jam kuliah sudah habis, satu per satu Mahasiswa sudah mulai meninggalkan kampus.
begitu juga Tiara. Dia sudah berada di jalanan menuju Pondok. Tanpa ia sadari Dery mengikutinya dari kejauhan, sampai Tiara masuk ke dalam Pondok.
"Oh..., ini tempatnya?, dia berasal dari sini, pantas saja dandanannya seperti itu",gumam Dery.
"Sepertinya susah untuk bisa masuk ke sana, jadi untuk mendapatkan dia, harus di luar", seringai Dery. Ia memutar balik sepeda motornya , melaju kembali menuju bengkel.
Di jalan , Dery melewati pasar malam yang meriah. 'Apa ini yang tadi dibicarakan Rahmat dan Tiara?', Dery melirik sejenak ke arah pasar malam. Ingatannya terbang ke masa kecilnya, dulu dirinya sering mengunjungi pasar malam bersama kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum...", Tiara memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam...Teteh...sekarang ke pasar malam ya?", Gilang berlari menghampirinya.
"Oh ..., masih sehari lagi ya?, Gilang mau cepat-cepat ke sana",
"Cuma sehari lagi, sabar ya...?, tapi janji, disana Gilang harus nurut sama Teteh",
Gilang mengangguk sambil memeluk Tiara.
"Abah dan Umi belum pulang?", Tiara mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Belum, tadi Umi sudah pulang, tapi pergi lagi", ucap Gilang.
"Dik...sini!", Tiara menuntun Gilang duduk di kursi.
"Apa Gilang masih mengenali orang yang dulu menolong saat disungai?", tatap Tiara.
"Aa ganteng?", potong Gilang.
"Iya..., Gilang masih mengenalinya jika bertemu lagi?",
"Bisa...bisa...bisa..." , Gilang berjingkrak begitu mendapati permen dari tas Tiara.
'Hadeuh..., bicara sama anak kecil susah juga...', Tiara menatap Gilang yang kini sudah berlarian kesana kemari .
Tiara memejamkan matanya, satu teka-teki sudah terbuka, motor Robi, kini ada di tangan Rahmat, tapi untuk membuktikan kalau Robi dan Rahmat itu orang yang sama, belum cukup bukti.
Ponselnya Robi saja tidak Rahmat pegang.
!1
"Ara...Neng?....", sebuah suara membangunkan Tiara .
"Oh...iya...apa?", Tiara terperanjat, ia langsung duduk tegak di kursi, apalagi saat melihat ada Ustad Fikri di sana, pasti ia dibawa Abah ke rumah.
__ADS_1
"Kok malah tidur di sini, kalau mendadak ada tamu kan malu, untung saja tamunya Ustad Fikri", senyum Abah.
"Lagian ini kan sudah malam Abah, bukan waktunya untuk bertamu, yang punya rumah sudah mau beristirahat", Tiara cemberut.
"Iihhh..., Ustad Fikri ini bukan tamu biasa, dia itu kan.",
"Sudah-sudah Abah, maaf ...Tiara masuk dulu", sambar Tiara . Ia langsung melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Heuh...heuh..., maaf Tiara Ustad", Abah melirik Ustad Fikri yang tampak kecewa dengan sikap Tiara.
"Nggak apa-apa Abah, mungkin dia lelah", senyum Ustad Fikri.
'Nggak apa-apa kamu bersikap begitu, yang terpenting aku sudah mengantongi restu Abah?', pikir Ustad Fikri. Ia melirik pintu kamar Tiara yang sudah tertutup rapat.
"Yang sabar ya, Fikri, Tiara cuma butuh waktu, kalau dipaksa juga tidak akan baik?", ucap Abah.
Hari yang di tunggu Gilang pun tiba, sore ini Tiara akan membawanya ke pasar malam. Gilang terlihat senang.
Sepanjang jalan Gilang tidak berhenti bicara, ia terus mengomentari semua hal yang ditemuinya.
"Nah ...sampai, ini pasar malamnya", Tiata melirik Gilang.
"Wah....bagus", Gilang melongo melihat kerlap kerlip lampu di malam itu.
"Semoga saja Rahmat datang ke sini juga", gumam Tiara. Ia memegangi tangan Gilang, ia melihat para pengunjung yang datang kebanyakan pasangan muda dengan membawa serta anak-anaknya.
Jadi kalau Rahmat ada, anggap saja mereka juga pasangan muda seperti yang lainnya.
Gilang sudah naik tiga wahana, namun Rahmat belum ada tanda-tanda mau datang. Tiara sudah tidak berharap lagi, lagian siapa dia, nggak mungkin akan menuruti ajakan Tiara kemarin.
Sampai Gilang minta pulang pun, Rahmat belum terlihat.
'Kenapa aku ini?, kok mikirin dia terus?' , Tiara menepuk-nepuk kepalanya.
Tiba-tiba gilang berhenti , ia terlihat sedang memperhatikan sesuatu.
"Ada apa Dik?"
"Ada Aa ganteng Teh" ucap Gilang sambil menunjuk seseorang yang memakai jaket kulit, orang itu sedang membelakangi Tiara dan Gilang.
"Yang itu?, ah bukan, dari mana Gilang tahu kalau itu Aa ganteng",
"Itu jaketnya sama Teteh", aku Gilang.
Tanpa basa-basi, Gilang berlari ke arah orang itu dan memeluknya dari belakang.
"Aa ganteng,", panggil Gilang
"Aduh maaf..., Dik jangan begitu?" Tiara mengejar Gilang.
"Rahmat...?", Tiara mematung begitu melihat Rahmatlah orang yang sedang dipeluk Gilang.
'Ini jaket Robi, aku masih mengingatnya' , Tiara bicara dalam hatinya .
"Kenapa?, kaget ya melihatku di sini?", senyum Rahmat.
"Aku mengenali jaket ini, dan motormu juga, semuanya mengingatkanku pada seseorang", tatap Tiara. Tiara memberanikan diri menatap lekat wajah laki-laki yang ada didepannya.
"Iya...aku tahu, dia punya sesuatu di lengan kanannya dan kakinya juga", Tiara reflek menyingkapkan lengan kanan jaket Rahmat, dan ia terpaku begitu melihat tanda itu ada di sana.
"Ro...bi..., kamu Robi kan?", Tiara menyebut nama orang yang selama ini ia cari.
Mereka terpaku saling pandang, disaksikan oleh Gilang yang tidak faham dengan apa yang terjadi.
"Robi?, jadi dia itu Robi?, kurang ajar!, bodohnya aku bisa terkecoh oleh dia", gumam seorang laki-laki yang berdiri tidak jauh dari mereka. Laki-laki itu segera pergi dengan mengepalkan tangannya. Ia memacu cepat sepeda motornya meninggalkan keramaian pasar malam.
__ADS_1