Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Sudah Saatnya.


__ADS_3

Setelah berkeliling tanpa tujuan, Fikri pun kembali ke Pondok, ia langsung menuju kobongnya.


"Assalamu'alaikum Ustad, baru pulang?", Ustad Dzaqi langsung menyapanya.


"Ayo kita ke Madrasah Ustad, ada jadwal bedah kitab hari ini, siapa tahu mau Ustad Fikri yang pimpin sendiri ?", tawari Ustad Dzaqi.


"Ah....tidak , kamu dulu saja, nanti biar acara maghrib aku yang handle, sekarang aku cape sekali nih", ucap Fikri sambil langsung masuk ke dalam Kobong, ia tidak memperdulikan lagi Ustad Dzaqi yang masih berdiri didepannya.


"Ya...sudah...", ucap Ustad Dzaqi dengan mulut masih terbuka, tadinya ia ingin melanjutkan ucapannya, tapi Ustad Fikri keburu masuk dan menutup pintu kobongnya.


Fikri langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur lipat, tanpa shalat terkebih dahulu, padahal ia sudah melewatkan shalat dzuhur.


Dan Fikri pun kini sudah terlelap.


*****


Di Penjara


Dery yang sedang duduk menyandar di tembok sel merasa terkejut saat melihat dua orang pria yang akan masuk ke dalam sel. Dery menatapnya tanpa berkedip.


'Mereka?, kenapa mereka bisa ada di sini?, apa yang telah mereka lakukan?', pikir Dery, ia agak menengokkan wajahnya ke arah tembok, sengaja biar Aleks dan Joko tidak langsung melihatnya.


Baru setelah petugas kembali mengunci pintu sel dan pergi dari hadapan mereka, Dery mulai menghampiri Aleks dan Joko.


"Kalian?, kenapa bisa berada di sini?", Dery berdiri tepat di belakang Aleks dan Joko.


Aleks dan Joko langsung menghadap ke sumber suara. "Dery...?, ini Bos Dery...?", ucap Aleks dengan tatapan tidak percaya. Begitu juga dengan Joko.


Mereka tidak menyangka bisa bertemu dengan mantan bosnya itu di dalam sel.


"Iya..., ini aku, beginilah aku sekarang, seperti yang kalian lihat, aku bukanlah Dery, bos kalian yang dulu, aku kini hanya seorang napi", ucap Dery dengan senyuman hambarnya.


Kini mereka sudah duduk berhadapan. "Ini semua gara-gara Ustad itu, kita jadi terdampar di sini, sementara dia, enak-enakan di luar sana", geram Aleks.


"Maksud kalian Ustad Fikri?, dia itu kakaknya Marisa", ucap Dery.


"Iya..., dia...biang keroknya, kurang ajar, dia penyebabnya", ucap Joko sambil mengepalkan tangannya.


Dan akhirnya Aleks dan Joko pun bercerita soal Ustad Fikri secara bergantian kepada Dery.

__ADS_1


Dery menyimak sambil sesekali mengepalkan tangannya juga. "Jadi kalau begitu, kita semua sudah diperalat oleh Ustad licik itu, enak sekali dia, dia kira bisa bebas begitu saja, ia ingin tetap terlihat suci dihadapan semua orang, dasar licik", geram Dery.


Tiba-tiba saja raut muka Dery berubah sedih, ia teringat kepada Marisa dan anaknya.


"Aku khawatir , bagaimana nasib Marisa dan anakku sekarang", Dery menerawang.


"Ustad Fikri itu kakaknya Marisa, kalau terjadi sesuatu dengan Ustad itu, bagaimana nasib Marisa dan anakku nanti", Dery kembali menerawang.


"Aku bingung, harus bagaimana?, sementara Marisa sudah tidak punya siapa-siapa lagi, selain aku dan Fikri, jika Fikri juga di sini, bagaimana nasib mereka?", Dery terlihat bimbang.


"Apa Marisa pernah ke sini?", tanyai Joko.


"Itu dia, aku begitu khawatir padanya, sudah lama dia tidak ke sini, bahkan aku sendiri pun belum pernah melihat wajah anakku, entah bagaimana mereka, aku kehilangan kontak , begitu juga dengan Fikri",


"Aneh..., kamu seperti barang yang dibuang saja, tak pernah di tengok lagi", senyum Joko.


"Kita ungkap saja semuanya, walau nanti kita semua harus dipenjara juga tidak apa, tidak usah khawatir dengan Marisa, masih banyak orang baik di luar sana, jadi walaupun kita harus mendekam di sini, kita sudah berusaha untuk jujur, mengakui semuanya dengan segala konsekuensinya, bagaimana?", Aleks menatap Joko dan Dery bergantian.


"Daripada kita hanya diam, sementara dalang dari semuanya bisa leluasa menghirup udara kebebasan, itu tidak adil", Aleks kembali menimpali.


Dery dan Joko saling tatap, ucapan Aleks ada benarnya, jika mereka tetap diam, mereka tak ubahnya bagai seorang pengecut, mengorbankan diri demi menutupi kesalahan orang yang tidak tahu diri seperti Ustad Fikri.


"Oke..., aku setuju, walau harus hancur, kita harus bersama, itu resikonya", ucap Joko.


"Kita bisa minta tolong Pak Robani", usul Joko.


"Pak Robani..., Papihnya Robi?, memangnya dia mau membantu?, secara kita yang telah membuat Robi celaka, kita juga yang telah menghancurkan usaha bengkelnya, bahkan kita juga yang sudah membakar bengkelnya", Dery terlihat ragu.


"Pak Robani sudah tahu soal itu, tapi beliau orang baik, pasti mau membantu kita, asalkan kita janji , tidak mengulangi kesalahan yang sama", jelaskan Aleks.


"Beliau bilang, kalau kita jujur , akan ada keringanan yang akan kita dapat, jadi meski kita harus ditahan, itu tidak lama", Aleks kembali menimpali .


"Iya, sudah saatnya kita hidup benar, ini adalah kesalahan fatal yang sudah kita lakukan, kita sudah tidak muda lagi, usia kita sudah merangkak menuju senja, takutnya tidak ada waktu lagi buat kita bertaubat, aku ingin hidup tenang, walau harus dijalani dibalik jeruji ini", jelaskan Dery.


Dery kembali terlihat menerawang, perjalanan hidupnya sungguh kelam, jauh dari cahaya iman, bahkan ia sudah lupa kapan terakhir ia shalat, hari-harinya selalu ia lewati dengan hura-hura, hanya semata mencari kesenangan dunia saja.


Dery kerap kali menghalalkan semua cara untuk meraih semua keinginannya. Termasuk rencana dia saat mencelakai Robi . Dan kini ia beserta Aleks dan Joko sama-sama harus merasakan dinginnya hotel prodeo, sungguh hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Dan Pak Robani yang tidak lain adalah Papihnya Robi , dia sudah bersedia menolong dirinya beserta Aleks dan Joko.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita sepakat ya, kita ungkap semuanya ",aleks memegang pundak Joko dan Dery,


"Iya..., aku setuju", ucap Joko dan Dery hampir bersamaan. Kini mereka tampak saling bergandengan memegang pundak satu sama lain sambil duduk berhadapan.


*****


Pak Robani kini sedang berada di dalam mobil, ia akan menemui Pak Rusman. Beliau pergi bersama Badrun. Pak Robani duduk sambil memantengi laptopnya, ia harus masih memantau keadaan Perusahaannya, walau akhir-akhir ini harus ia wakilkan kepada asistennya.


Selama ini baik-baik saja, semua berjalan lancar, walau ia jarang datang langsung ke Kantor, tapi ia tetap memantau semuanya, setiap keputusan penting harus diambil melalui persetujuannya dulu.


Pak Robani kini lebih fokus pada masalah Robi, ini semua ia lakukan untuk membalas kesalahannya pada Robi yang telah ia abaikan sejak dulu karena lebih mementingkan urusan bisnisnya.


Semalam Pak Rusman menghubunginya untuk membicarakan masalah Aleks dan Joko.


Tak lama mobil pun menepi ke pekarangan sebuah Lembaga Pemasyarakatan.


Menyadari itu, Pak Robani buru-buru menyelesaikan urusan dengan laptopnya, lalu menutupnya, dan ia segera ke luar dari mobilnya.


Pak Robani berjalan menuju ruangan Pak Rusman, ia sudah hafal benar letaknya di mana, para Petugas pun menyapanya dengan senyuman ramah.


"Langsung masuk saja Pak, Bapak sudah ditunggu", seorang Petugas menghampirinya.


"Baik, terima kasih",


Pak Robani tampak masuk, untuk beberapa lama dia berada di dalam sana, tak lama terlihat Pak Robani kembali ke luar diikuti Pak Rusman . Mereka berjalan menuju sel.


'Siapa dia?, kok tampak akrab dengan Aleks dan Joko?', pikir Pak Robani, ia bisa melihat tiga orang yang sedang duduk melingkar bersila sambil berpegangan pundak.


"Dia Dery", beritahu Pak Rusman, ia seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Pak Robani.


"Oh..., iya..., mereka tampak akrab", ucap Pak Robani.


Mendengar suara langkah kaki di lantai, ketiga orang yang sedang duduk melingkar, hampir bersamaan melirik kearahnya.


"Pak Robani", ucap Joko.


Refleks mereka bertiga mengambil posisi duduk menyandar di tembok, mereka merubah formasi. Ada rasa segan dan hormat kepada Pak Robani.


"Kalian sudah siap?, kita interogasi sekarang, saya harap kalian jujur", ucap Pak Robani .

__ADS_1


Setelah Petugas membuka pintu sel, Aleks dan Joko pun ikut bersama Petugas ditemani Pak Robani dan Pak Rusman tentunya.


Mereka kini sudah duduk saling berhadapan. Aleks dan Joko sudah siap bicara yang sebenarnya untuk menjerat Ustad Fikri.


__ADS_2