
Dery melajukan sepeda motornya cepat, ia menuju bengkel, yang kalau malam hari bengkel itu dijadikan base camp oleh mereka, sekaligus tempat berpesta dan bersenang-senang di mini cafe yang ada di sana.
Hari ini hatinya kesal, karena tidak seperti biasanya, Marisa pun seakan menjauh. Sedari dari kampus sampai malam, Marisa tidak menemuinya lagi.
Apalagi baru saja ia melihat fakta yang mengejutkan, Robi masih hidup, dan dia juga sudah dekat dengan Tiara, gadis bercadar yang sedang ia puja.
"Tiidd....tiid....tiiddd.....", Dery membunyikan klakson berkali-kali, begitu ia sampai di depan bengkel.
Tentu saja teman-temannya tidak menyadari kedatangan Dery, karena di dalam mereka sedang memutar musik kencang sekali, kalau ruangan itu tidak memakai peredam suara, mungkin warga sekitar sudah rame-rame mendemo.
"Ssiiittt...., lagi pada ngapain sih mereka", Dery turun dari sepeda motornya, ia berjalan cepat menuju pintu mini cafe.
Benar saja, di dalam teman-temannya sedang berpesta, berjoget sambil minum-minum, jangankan bunyi klakson, kehadiran Dery di ruangan itu pun tidak mereka sadari.
Dengan cepat Dery menuju depan dan "klik", ia matikan musiknya.
Seketika teman-temannya ribut, "Lah...siapa sih yang matiin musiknya, lagi seru-serunya nih", teriak Ronald.
"Gue..., Gue yang matiin musiknya", Teriak Dery.
Sontak teman-temannya menoleh dan merengkuh terhadap Dery, mereka kaget karena memang tidak menyadari kedatangan Dery di ruangan itu.
"Kalian seperti orang mati saja, sampai Gue masuk saja tidak tahu, bsgaimana kalau ada maling?, bisa ludes semua", sewot Dery, ia memandangi satu per satu temannya dengan pandangan elangnya.
"Santai Bos..., tenang dulu, ini kan week end, kita happy-happy saja dulu, biar besok semangat balapannya", bela Ronald, ia mendekati Dery.
"Kalian semua sini!, Gue punya kabar buruk nih", Dery mendahului teman-temannya duduk di kursi. Teman-temannya pun menurut, mereka duduk melingkar di hadapan Dery. Dery mengangkat kedua kakinya di atas meja, dia duduk menyender dengan mata terpejam, kedua tangannya dilipat di dadanya.
Suasana hening sejenak, semua diam. Semua tahu, kalau Dery sudah begini, artinya ada hal serius yang terjadi.
Kalau sudah begini, jangan coba-coba membuat Dery kesal, bisa-bisa mereka menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya.
Perlahan Dery membuka matanya, ia menatap satu per satu temannya.
"Robi masih hidup, dan Gue melihatnya sendiri", ucap Dery.
Semua temannya saling pandang, memang ini bukan berita baru, ini kedua kalinya Dery bilang kalau Robi masih hidup, tapi untuk yang sekarang, Dery tampak yakin karena dia melihatnya sendiri .
"Wah...ini benar Bos?, lalu dimana dia sekarang", Ronald memberanikan diri bertanya.
"Nah itu dia, kalian semua bodoh dalam hal ini, termasuk Gue, Robi telah mengelabui kita",
Semua teman Dery makin bingung saja, mereka tidak mengerti arah pembicaraan Robi.
__ADS_1
"Kalian ada yang tahu Robi dimana?", tatap Dery, ia ingin mengetes saja .
"Dimana?.., kenapa tidak kembali ke sini? Kalau masih hidup", Ilyas terlihat bingung.
"Jadi kalian tidak ada yang tahu Robi dimana?, atau tidak ada kecurigaan apa pun tentang Robi?", Dery kembali melayangkan pandangan ke semua temannya.
"Kita sudah tertipu, kita sudah dibohongi, kita sudah dikelabui oleh Robi, kita semua bodoh", Dery bicara dengan nada tinggi.
"Robi itu dekat dengan kita, dia datang ke kita tapi dengan wajah yang berbeda, sehingga kita tidak mengenali dia", ucap Dery.
"Ini artinya dia punya misi tertentu kepada kita, atau jangan-jangan dia sudah tahu, kita yang mencelakakan dia, jadi dia kembali untuk membalas dendam kepada kita", Ronald berargument.
"Gue masih bingung Bos, Robi itu di mana sebenarnya", tatap Joko.
"Kalian benar tidak ada yang tahu dimana Robi, Robi itu Rahmat , kalian semua sudah dibodohi oleh dia", jelas Dery.
"Hah...., Rahmat?", semua melongo, menatap Dery dengan pandangan tidak percaya.
"Pantesan dia ahli ngebengkel, Gue sudah curiga sih... , tapi yang membuat Gue ragu, Rahmat itu shalat, sedangkan Robi kan paling anti shalat", ucap Ronald.
"Nah...itu dia, Gue melihat Robi bersama Tiara, mungkin mereka sudah kenal lama, dan si Robi jadi bisa shalat, diajarin Tiara", Dery kembali berargument.
"Pantesan akhir-akhir ini Tiara sering ke sini, dan tampak akrab dengan Rahmat, rupanya mereka sudah kenal lama", Ilyas juga berargument.
"Kalian semua dengarkan Gue, kita susun rencana buat menyingkirkan Robi , kali ini tidak boleh gagal, kita pastikan Robi tidak muncul lagi, dia harus benar-benar lenyap", Dery memukulkan tinjunya ke atas meja.
"Caranya bagaimana Bos?", tatap Joko.
"Kita utak-atik lagi sepeda motor Robi yang akan dipakai balapan besok, pastikan dia tidak selamat",
"Kamu Ronald, Ilyas, tangani sepeda motor Robi, jangan sampai gagal!, ",
"Oke Bos!!", serempak Ronald dan Ilyas.
"Kita bersikap biasa saja sama Rahmat, seolah belum tahu apa-apa", perintah Dery.
"Baik Bos",
"Sekarang kita tunggu sampai dia pulang, tanpa musik!, kita awasi saja dia, begitu dia lengah, kita jalankan rencana kita, otak-atik sepeda motornya", kembali Dery memberi perintah.
"Siap Boss",
Mereka menunggu kepulangan Robi dengan diam, seolah tidak ada aktifitas di dalam mini cafe itu.
__ADS_1
*
*
"Teteh..., Gilang ngantuk, kita pulang saja", rengek Gilang, ia bergelayut di tangan Tiara yang masih duduk bersebelahan dengan Robi.
"Iya, sudah malam Dik, tidak terasa, keasikan ngobrol, jadi lupa waktu", cicit Tiara.
"Aku antar sekalian", Robi lebih dulu berdiri diikuti Tiara dan Gilang.
"Tunggu!, aku pesan dulu ini", Robi memesan kue cubit banyak untuk dibawa ke Pondok.
"Nanti Abah curiga kalau banyak begini?", Tiara menatap tumpukan dus berisi kue cubit.
"Bilang saja ini pemberian dari Rahmat, gampang kan", senyum Robi.
"Oh ...iya, jazakallah", Tiara membalas senyuman Robi.
"Semoga kamu selamat di balapan besok",
"Semoga menang gitu", sambar Robi.
"Nggak, aku inginnya kamu selamat, menang juga untuk apa kalau tidak selamat ", tatap Tiara.
"Oh..iya, balapannya di mana?",
"Kamu mau datang gitu kalau aku kasih tau tempatnya",
"Inshaa Allah, tapi tidak janji, yang pasti aku akan selalu berdo'a agar kamu selamat",
Tiara dan Robi mengendarai sepeda motor beriringan menuju kobong, setelah terlebih dahulu Robi berubah menjadi Rahmat.
Setelah mengantar Tiara sampai ke Pondok, Robi kembali memacu sepeda motornya menuju bengkel, ia memacu sepeda motornya cepat, kebetulan jalanan lengang malam itu.
"Sempurna, kalau kondisinya begini, aku yakin bisa memenangkan balapan besok", Robi menepuk-nepuk kuda besinya.
Ia menepi begitu sampai di bengkel Dery, dan tanpa menaruh curiga apa pun, Robi memarkir sepeda motornya di bengkel dan ia segera masuk ke kamar kostnya.
Di dalam bengkel, Dery mengawasi Robi, setelah dipastikan Robi aman, mereka perlahan keluar, dan segera menjalankan aksinya sesuai rencana yang telah disepakati tadi.
"Gue tidak mau gagal lagi, besok Robi harus benar-benar lenyap dari muka bumi ini", sewot Dery. Dia sendiri yang menyaksikan Roonald dan Ilyas merekayasa sepeda motor Robi sampai beres.
Setelah itu mereka kembali masuk ke dalam bengkel. Dengan senyuman evilnya Dery menepuk sepeda motor Robi.
__ADS_1
"Sampai jumpa di neraka, kawan", seringai Dery.