
"Apa sebaiknya aku ikuti saja Robi?", gumam Tiara ia mendekati sepeda motornya. Namun bunyi ponselnya mengalihkan perhatiannya.
Tiara merogoh tas selempangnya , ia mengambil ponselnya. Di layar tampak nama Ustad Fikri. 'Ada apa dia pakai menelepon segala", Tiara tampak tidak suka.
["Wa'alaikum salam, ada apa Ustad?], Tiara akhirnya berbicara dengan Ustad Fikri.
[Abah sudah sadar,dari tadi beliau menanyakan Tiara terus, jadi cepatlah kembali ke Rumah Sakit],
[Alhamdulillah ..., Abah sudah sadar?, iya..., Ara segera ke sana], Tiara memutus hubungan teleponnya, dan segera menghidupkan sepeda motornya, Aini putar balik, ia kembali menuju Rumah sakit.
Sesampainya di sana, Tiara setengah berlari menuju ruangan tempat Abah dirawat.
Tiara melihat Ustad Fikri yang ada bersama Abah di dalam. Mereka tampak sedang bicara, namun Tiara tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan mereka.
Begitu melihat Tiara, Ustad Fikri keluar dari ruangan Abah dan mempersilahkan Tiara untuk masuk secara bergilir. Karena peraturan di Rumah Sakit yang hanya memperbolehkan satu orang saja penunggu pasien.
Tiara perlahan mendorong pintu kamar Abah, ia perlahan melangkah mendekati Abah yang sudah tersenyum kala melihat Tiara masuk .
"Abah..., Alhamdulillah sudah sadar, maafkan Tiara tidak ada saat Abah dan Umi terluka", Tiara meraih tangan Abah, dan mengecup punggung tangannya.
"Abah tidak apa-apa..., bagaimana dengan Umi?, apa Umi juga baik-baik saja?", Abah balik bertanya, tampak beliau terlihat khawatir.
"Alhamdulillah..., Umi dari kemarin juga sudah stabil, sudah sadar", senyum Tiara.
"Syukurlah..., serasa mimpi, Abah baru belok ke arah parkiran motir, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor melaju sangat cepat dan menambrak Abah serta umi secara tiba-tiba" , jelaskan Abah.
"Apa...Abah masih mengenali sepeda motor yang menabrak Abah dan Umi?", selidiki Tiara. Tiara takut Abah mengenalinya, kalau yang telah menabraknya adalah Robi.
"Abah tidak tahu, Abah langsung tidak sadarkan diri setelah tabrakan itu terjadi", jelaskan Abah.
'Syukurlah...Abah tidak mengetahunya', batin Tiara bicara.
"Uhuk...uhuk...uhuk....", Abah batuk, ia tampak meringis memegangi dadanya.
"Ya Allah Abah..., maaf..., Tiara banyak bertanya, Abah seharusnya istirahat saja, jangan dulu banyak bicara, nanti...kalau Abah sudah pulih, baru kita ngobrol lagi", Tiara memberi minum Abah dengan hati-hati.
"Abah ...istirahat saja dulu!, Tiara akan menemui Umi, sedari tadi Umi mencari Tiara katanya", senyum Tiara.
Abah hanya mengangguk saja, ia berbaring dan memejamkan matanya.
Tiara memandangi wajah orang yang telah menjadi pelindungnya sedari kecil, keriput di wajahnya mulai terlihat jelas.
"Abah...maafkan Ara, semua ini salah Ara", Tiara menyentuh kembali tangan Abah sebelum meninggalkannya untuk beristirahat.
Tiara menutup perlahan pintu ruangan tempat Abah dirawat.
"Saya titip Abah", Tiara menghadap kepada ketiga Ustad yang sedang duduk di luar kamar perawatan Abah.
__ADS_1
Mereka tidak lain adalah Ustad Fikri, Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi.
Tiara melangkah melewati ketiga Ustad tadi, namun Ustad Fikri memanggilnya.
"Tiara, tunggu!",
Tiara menghentikan langkahnya. Ia nematung di tempatnya berdiri.
Ustad Fikri melangkah ke depan Tiara. "Kemana saja kamu, sampai pergi tidak pamit kepada Umi, lain kali kalau pergi kemana pun, kabari orang terdekatmu, biar tidak sulit mencari , seperti tadi",
"Iya..., maaf..., tadinya Tiara tidak mau membangunkan Umi, kasihan", Tiara menunduk.
"Maaf...,saya mau menemui Umi", Tiara bicara dengan nada agak tinggi.
Ustad Fikri memberi jalan untuk Tiara lewat .
Tiara dengan segera melangkahkan kakinya meninggalkan Ustad Fikri yang menatap kepergiannya dengan pandangan tajam.
Ustad Fikri merasa tidak suka dengan tindakan Tiara yang suka bertindak sendiri, seolah tidak menganggap ada dirinya. Padahal Abah sudah jelas-jelas menjodohkan dirinya dengan Tiara, ini artinya tidak lama lagi, Ustad Fikri akan menjadi imam baginya, menjadi pelindung bagi Tiara.
"Apa penabrak Abah dan Umi sudah ditemukan?", Ustad Fadil bertanya.
"Belum..., tapi pihak kepolisian sudah melayangkan surat panggilan kepada pelakunya",
"Kalau begitu..., identitas pelaku sudah ada dong, kenapa tadi tidak minta saja, kan kita bisa samperin dia di rumahnya langsung", Ustad Dzaqi ikut nimrung.
"Makanya jangan Tiara melulu, jadi kamu tidak fokus", kekeh Ustad Fadil.
"Gampang...,kalau sampai besok pagi tidak ada itikad baik dari si pelaku, kita baru samperin dia ke rumahnya, kita gusur dia untuk bertanggung jawab", tegas Ustad Fikri.
Ia merasa geram dan kesal kepada pelaku penabrnak Abah dan Umi.
Tiara sudah berada di ruangan Umi, namun Umi Anisa sedang tidur. Tiara hanya duduk di sampingnya sambil memantengi layar ponselnya.
Tiara sungguh sangat penasaran , apa yang tadi ia datangi itu rumah Robi?
SRobi umelajukan mobilnya cepat menuju tempat Papihnya menelepon tadi, bagaimana pun adanya, Pak Robani adalah ayah kandungnya, yang sudah membesarkannya dengan peiqnuh kasih sayang.
"Itu sepertinya Papih, sendiri sepertinya, kalau bersama Rena, aku tinggalin saja", gumam Robi.
Mobilnya menepi ke arah Papihnya berdiri.
"Masuk Pih!", Robi memanggil papihnya begitu sudah berada di dekatnya. Pak Robani tampak senang saat dilihatnya Robi sudah ada didepannya.
"Syukurlah kamu cepat datang, Papih sudah ketakutan", Pak Robani duduk di samping Robi dan memasang seat bell.
"Makin kacau saja Kota ini, masa ada orang kena jambret bukannya di tolongin, malah ditonton, malah ditinggalin, aneh", gerutu Pak Robani.
__ADS_1
"Iya karena kalau menolong itu sama artinya bunuh diri Pih, mending cari selamat saja, biar hanya satu orang yang menjadi korban", jelas Robi
"Tumben Papih sendiri?", Robi melirik papihnya.
"Memanngnya harus berlima gitu?, kekeh Pak Robani.
"Nggak, ada yang aneh saja, biasanya sekretaris Papih itu kan selalu nempel", cibir Robi.
"Masa mau pulang ke rumah harus ikut juga?, tugas dia kan hanya di kantor saja" Pak Robani tersenyum hambar.
"Kenapa sampai bisa kena jambret, terus mobilnya Papih mana?",
"Emh..., mobilnya di pake Rena, jadi tadi pas mau nunggu taxi, ada pengendara motor yang langsung menyambar tas Papih",
"Tapi tenang saja, semua ATM, sudah Papih blokir kok",
"Jadi, kita kemana nih?", Robi melirik Papihnya.
"Ya kita pulang",
"Ke rumah?", Robi melirik kembali papihnya.
"Ya..., ke mana lagi, ke rumah lah", Pak Robani tampak melirik Robi, ia merasa aneh dengan pertanyaan anaknya itu.
"Di rumah ada Mamih, Pih",
"Iya..., Papih tahu, memangnya nggak boleh?, itu masih rumah Papih juga, kami belum resmi berpisah kan, jadi Papih masih boleh ke sana",
"Ya..., asal janji saja, tidak ada keributan, jangan bikin suasana kacau saja, Robi baru beberapa hari pulang lho, kalau sampai terjadi cekcok dan ribut lagi sama Mamih, Robi pasti pergi lagi",
"Iya...iya...., Papih janji, Papih tidak akan bicara sama Mamih",
"Bukan begitu juga Pih, justru Papih dan Mamih harus bicara, selesaikan masalah kalian baik-baik, tapi ingat!, jangan pakai ribut",
"Robi sudah bosen begini terus, Robi ingin kalian itu rukun kembali, seperti dulu", Robi menerawang.
"Salah Mamih kamu juga, kenapa tidak bisa hamil lagi, Papih kan ingin punya anak lagi, lihat ..., harta Papih itu tidak akan habis walau dimakan oleh tujuh keturunan sekalipun",
"Ya...Papih kan tahu kondisi Mamih, sekarang pun Rena tidak memberikan apa yang Papih mau kan?, malah dia yang morotin Papih terus",
"Apa bedanya dengan Mamih?, dia juga asik dengan bule brondongnya",
"Aduh...susah ya bicara dengan orang tua, tidak mau mengalah, malah saling menyalahkan, kalau begini terus..., tidak akan ada titik temunya, cape deh...", gerutu Robi.
Mobilnya sudah memasuki pekarangan, Robi langsung menuju garasi.
"Ingat ya Pih..., jangan buat keributan di sini!", ucap Robi sambil segera keluar dari mobil.
__ADS_1