Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Aku Bingung


__ADS_3

"Ini anak yang tidak tahu berterima kasih itu Umi, berani-beraninya dia kembali dan menginjakkan kakinya lagi di sini!!!", teriak Abah.


"Astaghfirullah...Abah..., ingat !!, dia sudah hampir lima tahun menebus kesalahannya di dalam sel, apa itu tidak cukup?", bela Umi.


"Iya..., tapi bukan berarti Abah memaafkannya dan membolehkannya kembali ke sini Umi !!", Abah masih saja terlihat marah.


"Abah..., saya mau minta maaf, bagaimana pun Abah dan Umi adalah pengganti kedua orang tua saya, seandainya hukum negara tidak cukup untuk menebus kesalahan yang saya perbuat, silahkan gunakan hukum agama, jika itu akan membuat Abah dan Umi memaafkan saya", ujar Badrun dengan kepala menunduk.


"Bagus !!, itu yang Abah mau dari dulu", Abah menatap Badrun.


"Tapi asal Abah tahu, saya bukan orangnya, saya bukan pelakunya Abah", Badrun memberanikan diri menatap Abah.


"Masih mau membela diri kamu ya?, sudah jelas kamu yang ada di sana bersama wanita itu, semua orang juga tahu, banyak saksinya, masih mau membantah?",


"Tapi Abah , ada saksi kunci yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaan, dia yang tahu jelas, siapa pelaku sebenarnya", tatap Badrun . Ia kini makin berani saja menatap Abah.


Karena Badrun yakin, ia sedang memperjuangkan kebenaran.


"Oh...rupanya kamu makin berani saja, tidak ada kapok-kapoknya",


"Sudah Abah..., malu , nanti para santri bisa tahu", ingatkan Umi.


"Biar saja Umi, biar semua orang tahu kebusukan dia, kenapa Umi biarkan dia masuk kembali ke Pondok, Abah kan sudah bilang dari dulu, jangan biarkan dia kembali ke sini lagi!", tegas Abah.


"Maaf Abah..., jangan salahkan Umi. Saya ke sini atas perintah Bu Arimbi untuk mengantar pulang Tiara, dan Bu Arimbi juga meminta ijin kepada Abah untuk membawa Robi pulang ke rumah dulu, karena Robi masih dalam masa pemulihan", jelaskan Badrun.


"Robi sudah sadar?, dia dibawa pulang ke rumahnya?", gumam Abah.


" Terus..., apa hubungannya dengan kamu?", tatap Abah.


"Abah..., saya dan Robi pernah satu sel saat di Penjara, kami berteman baik, dan Robi juga yang akan membantu saya membuka kembali kasus yang menimpa saya dulu", ujar Badrun.


"Di buka kembali ?, untuk apa ?, itu hanya akan membuat malu kamu dan kami juga, berani sekali", geram Abah.

__ADS_1


"Untuk menangkap pelaku yang sebenarnya Abah, untuk menegakkan keadilan", jelas Badrun.


"Percuma saja, kasus itu sudah lama, mungkin korbannya juga sudah tiada, sudah tidak bisa memberikan kesaksian apapun, buang-buang waktu saja?",


"Ini untuk keadilan Abah", tegas Badrum.


"Tidak !!, Abah tidak setuju !!, kasus kamu sudah selesai, tapi bukan berarti kamu boleh dengan bebas keluar masuk ke sini, apapun alasannya", tegas Abah.


"Abah...jangan begitu, apa salahnya kita selidiki lagi, benar, kalau ada pelaku lain dan dia yang bersalah, kenapa tidak, ini demi keadilan Abah", desak Umi.


"Itu bukan urusan kita Umi, biarkan saja dia , jangan ikut campur, lagi pula korbannya juga belum tahu di mana, kasus ini sudah lama, pasti akan sulit mengungkapnya lagi", jelas Abah.


Diam-diam Nyimas menyaksikan keributan itu dari balik tirai rumah Abah. Hatinya bergetar, ia tahu, dirinyalah yang sedang mereka bicarakan.


"Jadi..., itu orang yang dipenjara?, bukan Robi?", gumam Nyimas.


Nyimas tidak mengetahui kelanjutan kasusnya, karena ia dibawa pergi kedua orang tuanya untuk mengasingkan diri, sehingga ia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.


"Kasihan dia, dia tidak bersalah, jadi waktu itu Robi menjadikan orang itu kambing hitam, ia sendiri bisa bebas, sungguh jahat", geram Nyimas.


"Abah..., orang ini sudah kembali?", tatap Fikri kepada Badrun.


"Iya, dia tidak tahu malu, dia mau membuka kasusnya lagi katanya, dia mengaku tidak bersalah, dan ada pelaku sebenarnya yang masih bebas, omong kosong, itu akal-akalan dia saja",


"Apa...?, berani sekali kamu hah?, apa ada saksi?, apa ada bukti baru?, berani sekali kamu mau membuka kasus lama yang sudah usai", tastap Fikri.


"Punya apa kamu?", Fikri mendekati Badrun dan kembali meremas dan menarik kemeja Badrun.


"Tenang Pak Ustad, kenapa anda terlihat panik?, anda takut belangmu terungkap?", bisik Badrun.


"Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini, sebelum hal buruk menimpamu", bisik Ustad Fikri.


"Kamu tidak mau kan diusir paksa dari sini?", ucap Ustad Fikri masih setengah berbisik.

__ADS_1


"Lepaskan!, aku bisa pergi sendiri!", tegas Badrun.


Ustad Fikri melepaskan pegangan tangannya dari kemeja Badrun.


"Abah..., Umi..., saya pergi, hati-hati jangan sampai tertipu sama serigala berbulu domba", Badrun melirik ke arah Ustad Fikri.


"Saya tidak akan melupakan semua kebaikan Abah dan Umi, maafkan saya", Assalamu'alaikum", pamit Badrun. Ia pergi karena tidak ingin membuat keributan lebih besar di dalam Pondok.


Badrun segera menuju mobil dan mulai menghidupkannya sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Abah dan Umi.


Tiara yang sedari tadi menyaksikan kejadian tadi benar-benar dibuat bingung, ia tidak tahu apa yang terjadi dulu.


"Abah...Umi..., ada apa ini?", tatap Tiara.


"Tidak ada apa-apa, ini hanya ulah dia saja, sudah kita kembali saja ke rumah, tidak enak, dilihat para santri, ini kejadian lama, tidak usah diungkit lagi", ucap Abah.


"Bawa Tiara masuk Umi!", perintah Abah. Umi pun menurut, ia segera menggandeng Tiara memasuki rumah, meninggalkan Abah bersama Ustad Fikri dan para santri yang dibawa Ustad Fikri tadi.


"Ustad , jangan biarkan dia bertingkah lagi di sini!, ingat...waktumu dan Tiara sudah dekat, jangan biarkan dia membuat kekacauan lagi di sini", ujar Abah.


"Iya Abah..., serahkan saja pada saya, Abah tidak usah khawatir", senyum Ustad Fikri. Ia seperti mendapat angin saja, karena Abah ternyata lebih mempercayai dirinya.


"Kena kau Badrun, aku ini calon mantu Abah, kamu tidak bisa berbuat apa-apa", seringai Fikri.


Nyimas yang sedang mengintip dari balik tirai, segera nenuju kamarnya, melihat Umi dan Tiara mulai mendekat, apalagi kini Abah pun mengikuti mereka menuju rumah.


"Aku harus bicara, aku selamatkan semua, Tiara, Badrun, dan Robi, dari kejahatan Ustad Fikri, tapi bagaimana?", gumam Nyimas. Ia duduk di samping dipan.


"Apa aku harus menemui Badrun?,atau Robi?, atau Abah?, ah...bagaimana ini", Nyimas merasa bingung.


"Atau aku bicara dulu sama Tiara, sepertinya Tiara tidak tahu apa-apa", gumam Nyimas.


"Kalau Fikri tahu siapa aku, aku dalam bahaya, bisa-bisa dia kembali berbuat jahat dan mencelakai aku", kini Nyimas merasa khawatir.

__ADS_1


'Akulah saksi satu-satunya', pikir Nyimas.


__ADS_2