Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Berserah Pada Takdir


__ADS_3

"Sepertinya ibunya Nak Robi itu menyukai kamu, Neng. Lihat saja, dia sampai merubah penampilannya", senyum Umi.


Tiara yang sedang menata belanjaannya ke dalam kulkas, melirik sekilas dengan menyunggingkan senyuman.


"Alhamdulillah...Umi, Tiara jadi perantara turunnya hidayah buat Bu Arimbi, semoga saja ia tetap istiqomah dengan penampilan barunya",


"Aamiin...", sahut Umi.


"Bagaimana dengan kuliahmu?, kapan kira-kira wisudanya?", Umi menatap Tiara , yang kini sudah duduk di meja makan di hadapannya.


"Alhamdulillah lancar Umi, kalau tidak ada halangan, mungkin 2-3 bulan lagi, baru bisa wisuda, memangnya ada apa Umi?", Tiara kini menatap Umi Anisa.


"Umi masih kepikiran rencana Abah untuk menjadikan Fikri suamimu, apa kamu bersedia Nak?", tatap Umi.


"Hah....", Tiara menghempaskan nafas panjang, seolah ingin melepaskan semua beban yang ada dihatinya.


"Entahlah Umi..., Tiara juga bingung, Tiara jadi serba salah, mau menolak gimana?, mau menerima juga gimana?", Tiara menopang dagunya dengan kedua lengannya.


"Tanya saja hatimu, apa kamu suka sama Fikri?, atau coba istikharah dulu, minta petunjuk sama Allah",


"Iya Umi...", jawab Tiara datar, ia selalu saja hilang semangat begitu membahas masalah Fikri.


"Assalamu'alaikum...", Abah memasuki rumah dan langsung menuju dapur, bergabung dengan Umi dan Tiara.


"Wa'alaikumsalam...., tadi ada tamu ya?, ini kok banyak makanan di meja?", Abah langsung mengambil kue basah yang madih ada di meja.


"Iya..., tadi ibunya Nak Robi ke sini, ia mengajak Tiara kerja sama", jelas Umi.


"Kerja sama apa?, kenapa Tiara, memang bisa?", Abah mengulum senyum.


"Ih...Abah, ya jelas bisa, ibunya Robi itu mengajak Tiara menjahit pakaian muslimah, Bu Arimbi itu kan Pengusaha butik, sudah sering ke luar negeri lagi, tapi kali ini modelnya ingin pakaian muslim semua", jelas Tiara.


"Wah bagus itu",


"Iya..., malah nanti Bu Arimbi juga akan memberikan beberapa mesin jahit ke sini, biar ada keterampilan tambahan buat para santri Putri Abah",


"Alhamdulillah...ini baru program yang bagus, jadi nantinya para santri akan mempunyai keterampilan untuk bisa lebih mandiri kalau lulus nanti", Abah tampak senang.


"Abah salut dengan Robi , Umi. Tadi pas Abah lewat dikobongnya, ia sedang belajar ngaji dengan Gilang, semangat sekali dia", senyum Abah.


"Tapi Fikri, Abah datang ke kobongnya..., eh..sedang enak-enakan tidur",


"Untuk apa Abah ke sana?", selidik Umi.


"Tadi ibunya mau menelepon, ada hal penting yang harus dibicarakan katanya?",


Tiara melirik ke arah Abah, kayaknya baru kali ini ibunya Fikri disebut-sebut.

__ADS_1


"Memangnya dimana ibunya?, perasaan baru kali ini Tiara mendengarnya",


Umi dan Abah saling pandang, memang benar Tiara tidak mengetahuinya, karena saat ada keributan di Pondok, Tiara masih usia tujuh tahun dan sengaja waktu itu dia tidak dilibatkan. Jelasnya, Tiara sengaja tidak diberitahu soal tersebut.


"Iya..., ibunya Robi bekerja di luar negeri, sebagai TKW", jelas Abah.


"Ooh..., pantesan selama ini tidak pernah ada berkunjung ke sini", ucap Tiara .


"Oh...Abah nanti kalau jadi, ada yang mau ikut belajar ngaji di sini, seharusnya sudah dari kemarin mereka datang, siapa tahu hari ini jadi ke sini, tapi mereka itu masih baru Abah, jadi pasti harus ekstra sabar mengajarnya", senyum Tiara.


"Kenal dimana sama mereka?", tatap Abah agak curiga.


"Mereka itu, teman Tiara yang suka ada di bengkel langganan Tiara Abah, Alhamdulillah mereka mau berubah",


"Iya..., nanti Abah suruh Ustad Dzaqi untuk mengajarinya, kalau mereka benar-benar datang",


"Terima kasih Abah...",


"Abah sudah janji sama Fikri, itu tidak mungkin diurungkan, Abah malu kalau sampai ingkar janji", Abah menatap Tiara.


"Tiara tahu Abah, Tiara pun tidak akan mundur, Tiara nurut saja, tinggal bagaimana takdir saja",


"Maafkan Abah Neng, Abah sudah terlalu cepat mengambil keputusan, Abah tadinya ingin tenang", Abah menerawang, tampak raut penyesalan diwajahnya.


"Sudah Abah, jangan terlalu dipikirkan, ini akan berjalan sesuai keinginan Abah, dan semoga juga berjalan sesuai rencana Allah", senyum Tiara. Ia berusaha tersenyum untuk membuat Abah tenang.


"Tapi kalau belajar Al-Qur'an, harus sama Teteh ya, Gilang belum bisa",


"Iya...Pak Guru kecil, terima kasih sudah mengajari A Robi iqro", ucap Robi sambil memeluk Gilang.


"Nanti A Robi ajak ke Pasar malam lagi",


"Asik...., ajak Teteh juga, sekarang antar Gilang pulang ke rumah Abah ya", Gilang merajuk.


"Biasanya juga pulang sendiri, ini kok mau diantar",


"Iya, karena Bapak gurunya sudah cape, jadi ingin pulang naik kuda", senyum Gilang, ia langsung menempel di punggung Robi.


"Siap Pak Guru, kudanya siap berlari", Robi langsung menggendong Gilang dan membawanya pergi ke rumah Abah.


Di sana ternyata sudah ada Fikri, ia mengembalikan ponsel Abah . Tadi ibunya menelepon agar Robi mencari adiknya karena Ibunya sudah tidak bisa menghubungi adiknya itu.


Gelak tawa Robi dan Gilang terdengar sampai ke dalam. Robi yang sedang duduk di ruang tamu Abah pun bisa mendengarnya.


"Iihh..., berisik sekali", cibir Fikri.


Tiara pun sampai menghampiri ke luar, ia melewati Fikri yang sedang menunggu Abah.

__ADS_1


"Wah...ada apa ini?, senang sekali", Tiara menyambut Gilang yang baru melompat dari punggung Robi.


"Terima kasih Aa tumpangannya, iya Teh, ini hadiah karena Gilang sudah mengajari A Robi iqro, A Robi sudah pintar baca iqro, tinggal Teteh yang mengajarinya Al-Qur'an", celetuk Gilang


"Ah...Alhamdulillah..., cepat sekali ya bisanya", senyum Tiara.


"Hmm....,hhmm....", Fikri berdehem. Ia merasa jengah melihat pemandangan didepannya. Mereka sudah seperti keluarga kecil saja.


"Oh...maaf..., kalau begitu, saya pergi dulu, terima kasih guru kecil, nanti hadiahnya menyusul, A Robi pamit dulu, Assalamu'alaikum", Robi tersenyum dan segera meninggalkan rumah Abah. Sebelumnya ia melirik ke arah Fikri yang sedang menatapnya tajam.


"Wa'alaikumsalam....", Tiara dan Gilang menjawabnya.


"Aku tidak suka kamu perhatian sama dia", gerutu fikri.


Tiara melirik Fikri dan berlalu menuju dapur, namun langkahnya terhenti karena tangannya ditarik oleh Fikri.


"Astaghfirullah..., lepaskan!, kamu sudah keterlaluan", teriak Tiara.


"Jangan begitu Tiara, cepat atau lambat kamu akan menjadi istriku juga", seringai Fikri.


"Lepas!, atau aku teriak!", ancam Tiara.


"Kalau Abah tahu, kamu bisa celaka", ancam Tiara.


"Kamu itu calon istriku, kamu harus nurut sama aku", tegas Fikri.


Tiara menarik kuat tangannya, "kamu jangan keterlaluan, belum tentu kita jodoh", teriak Tiara sambil berlalu meninggalkan Fikri yang geram memandanginya.


Gilang mengerucutkan mulutnya ke arah Fikri sebelum pergi mengikuti Tiara.


Fikri mengepalkan tangannya dan memukulkannya pada kursi.


"Ini pasti gara-gara si sombong Robi", geram Fikri.


Tak lama Abah datang, "Ada apa dengan ibumu?",


"Tidak ada apa-apa dengan ibu Abah, hanya saja saya mau ijin pulang, ada hal yang harus diselesaikan, ini menyangkut adik perempuan saya", ucap Fikri.


"Oh..., silahkan, lagi pula kamu itu jarang pulang, tidak seperti santri lain", senyum Abah.


"Saya titip Tiara Abah", Fikri melirik ke arah dalam.


"Jangan khawatir..., minta dia sama Allah, bukan sama Abah", senyum Abah.


"Sudah sana pergi, selesaikan dulu urusanmu di sana, Tiara akan baik-baik saja", Abah menepuk pundak Fikri.


"Semua sudah tertulis dalam takdirnya, tidak akan ada yang keliru", gumam Abah. Ia mengiringi kepergian Ustad Fikri dengan tatapan penuh do'a, semoga pilihannya tidak salah.

__ADS_1


__ADS_2