Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Akhirnya Sah


__ADS_3

Mobil yang membawa Robi beserta kedua orang tuanya sudah sampai si depan gerbang Pondok Al-Furqon, mereka langsung disambut oleh Pak Rusman dan Yana yang sudah stand bye menunggu kedatangan mereka.


Gerbang pun segera di buka. Robi merasa sangat terharu, bukan hanya karena melihat kesigapan papihnya dalam pengamanan, tetapi juga karena alunan sholawat dari para santri yang sedari tadi sudah bergema di sana.


"Alhamdulillah..., kita sampai dengan selamat", gumam Pak Robani.


"Bagaimana dengan rombongan kita yang terjebak di persimpangan tadi?", Bu Arimbi tampak khawatir.


"Mereka tidak apa-apa, sudah ada tim kami yang sudah menangani mereka, saya sudah dapat laporan, mereka selamat , hanya Bi Mimi dan sersan Yana saja yang mengalami luka-luka, tapi mereka sudah ditangani", jelaskan Pak Rusman.


"Ya Allah..., Bi Mimi...", gumam Robi, ia tampak sedih mendengar wanita yang sudah mengasuhnya sedari kecil mengalami kecelakaan , yang tadinya kejadian naas itu diperuntukkan untuk dirinya.


"Sudah..., Bi Mimi tidak apa-apa", Bu Arimbi menggandeng pundak Robi.


"Siapa mereka Pak?, apa sudah dapat informasi perihal pelaku penabrakan tadi?', tatap Robi kepada Pak Rusman dan sersan Umar.


"Dia hanya sopir truk yang remnya tiba-tiba blong, jadi truknya tidak bisa dikendalikan saat melintasi persimpangan .


"Ini pasti ada dalangnya", geram Robi.


"Sudah..., jangan terpancing emosi, ingat apa pun yang kamu lakukan, itu akan berdampak pada keluargamu juga, Tiara...", ingatkan Pak Robani.


"Hah....", Robi lagi-lagi harus mengurut dada, memadamkan rasa marahnya, benar apa kata papihnya, sekarang akan ada Tiara yang akan ikut menanggung akibat dari semua perbuatannya, yang baik, maupun yang buruk.


"Rombongan yang masih di jalan, sudah ada yang mengawal, mereka juga akan segera sampai di sini, jadi tidak usah khawatir", ucap Pak Rusman.


"Kita sudah ditunggu Pak, silahkan...!", Pak Rusman mengingatkan mereka bertiga untuk segera menuju tempat akad.


"Ah...iya, ayo kita ke sana!", Pak Robani melirik ke arah Robi dan Bu Arimbi.


Mereka bergegas menuju tempat akad, karena sebentar lagi acara akan segera dilaksanakan, itu sesuai dengan waktu yang sudah dijanjikan bersama Pak Penghulu. Karena hari ini ada beberapa pasang pengantin yang harus beliau nikahkan.


Benar saja, kedatangan mereka sudah ditunggu, Abah dan Umi terlihat tersenyum lega melihat kedatangan Robi dan kedua orang tuanya.


Kini Robi sudah duduk berhadapan dengan Pak Penghulu yang duduk berdampingan dengan Abah untuk mengucapkan akad.

__ADS_1


"Bagaimana saksi...?" ucap Pak Penghulu setelah Robi selesai mengucapkan akad dalam satu helaan nafas.


"Sah....", serentak semua.


"Alhamdulillah...." , gumam Robi, hatinya langsung merasa lega, kini ia sudah sah menjadi suami dari Tiara. Namun ada ketakutan juga mengingat kejadian yang hampir mencelakai dirinya tadi di jalan, Robi mengira ada orang yang ingin kembali mengusiknya, tapi entah siapa.


Pak Penghulu langsung berpamitan setelah acara selesai, ia diantar oleh Ustad Fadil.


Robi melihat ke sekeliling tempat akad, ia mencari keberadaan Tiara, yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Abah tersenyum, ia bisa membaca sorot mata Robi.


"Umi..., bawa Tiara ke sini!", bisik Abah.


Umi terlihat berjalan ke belakang, dan tak lama Ia kembali dengan membawa Tiara, diapit bersama Nyimas.


Tiara terlihat memakai setelan gamis pengantin berwarna putih lengkap dengan hijab panjangnya, dan juga cadar dengan warna senada.


Ia terlihat tetap mempesona, apalagi kini wajahnya dirias, matanya tampak semakin indah dengan riasan eyes liner , dan bulu matanya tampak makin lentik.


Abah menyambut kedatangan Tiara, ia menggenggam jemari Tiara dan dibawanya kehadapan Robi.


"Nak...,ini putri Abah, sekarang Abah percayakan dia kepadamu, jaga dan sayangi dia , Abah yakin Nak Robi akan menjaga dan menyayangi dia, lebih dari yang Abah lakukan.


"Ingat...!, Tiara ini putri Abah satu-satunya, ia lebih berharga dari nyawa Abah sekalipun, jadi jaga dan lindungi dia dengan segenap jiwa kamu", ucap Abah.


Abah meraih tangan Robi, lalu mentautkan tangan Tiara dengan tangan Robi, hingga kini tangan Abah menggenggam pertautan tangan mereka.


"Iya... , Inshaa Allah Abah, saya terima amanat berharga ini ", ucap Robi sambil mempererat pegangan tangannya kepada lengan Tiara, Robi menatap lekat wajah cantik Tiara yang masih saja tampak menunduk.


"Neng..., Tiara..., dia ini sudah menjadi suamimu, pandang dia !, apa benar dia pria yang kemarin melamarmu?, kalau salah bagaimana?", goda Abah.


Semua tersenyum, termasuk Robi dan Tiara. Tiara pun mengangkat kepalanya, ia memandangi pria yang berdiri didepannya.


"Bagaimana Neng ?, apa benar itu pria yang melamarmu kemarin?", senyum Abah.

__ADS_1


Tiara tersenyum sambil tetap memandangi Robi, hingga kini pandangan mereka terkunci, rasa hangat yang menjalar dari pertautan tangan mereka menyebabkan hadirnya desiran aneh dan debaran jantung Robi dan Tiara.


'Ini sudah halal, ini bukan dosa', hati Tiara bicara, sambil sebisa mungkin menahan rasa yang kian membuncah.


"Papih sudah siapkan mobil untuk kalian, dan ini juga", ucap Pak Robani sambil menyodorkan sebuah amplop kepada Robi.


"Apa ini Pih...?", tatap Robi sambil menerima amplop dari papihnya.


"Ini tiket buat honey moon kalian, Papih sudah siapkan semuanya", senyum Pak Robani.


"Papih...", lirih Robi. Ia langsung memeluk papihnya itu dengan sebelah tangan, karena tangan yang satunya lagi masih memegang lengan Tiara.


"Pergilah...!, nikmati perjalanan kalian, dan bawakan Papih oleh-oleh cucu", bisik Pak Robani.


Robi tersenyum , "Siap Pih..., terima kasih banyak untuk semuanya, Papih memang the best", bisik Robi kembali.


Pak Robani melerai pelukannya, ia menatap Robi.


"Ini semua Papih lakukan untuk menebus semua kekurangan Papih dulu, untuk menebus kasih sayang Papih yang sempat hilang untuk kamu, dan untuk membuktikan kalau Papih memang benar-benar sayang sama kamu Nak", kembali Pak Robani memeluk Robi, kini ia tampak meneteskan air mata bahagianya.


Bu Arimbi ikut menghampiri dan memeluk anak dan suaminya itu.


Suasana haru pun langsung menyeruak melihat empat orang kini saling berpelukan.


Semua ini tidak lepas dari peran Tiara, ia yang sudah memberi cahaya dalam kehidupan Robi, dan cahaya itu juga yang menerangi kehidupan Bu Arimbi dan Pak Robani, hingga mahligai yang hampir karam, bisa kembali berlayar, dan kini sudah sampai di Pelabuhan bahagia.


"Sudah..., sana pergi, mobil sudah menunggu di depan, tenang, kalian sekarang aman, mereka tidak mungkin beraksi kembali, mereka pasti sedang sembunyi dan menangisi kegagalannya hari ini", ucap Pak Robani.


Pak Robani menggiring Robi dan Tiara menuju mobil yang di maksud, diikuti Bu Arimbi , Abah, dan juga Umi.


"Ini mobil sudah anti peluru, sopirnya pun dari kesatuan Brimob, jadi kalian aman", jelaskan Pak Robani .


"Pih...", Robi kembali menatap papihnya, kini Robi sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi, ia sudah kehabisan kata-kata untuk semua yang telah disiapkan oleh papihnya itu.


Robi dan Tiara sudah memasuki mobil, kepergian mereka diantar oleh tatapan bahagia dari kedua orang tua mereka.

__ADS_1


'


__ADS_2