
"Aduh...., kemana lagi ini, sudah dua hari kok susah dihubungi", gerutu Bu Arimbi sambil menuruni anak tangga satu per satu.
"Bi...,Bibi...", teriak Bu Arimbi, ia tidak menemukan sosok ART nya itu .
"Iya Nyonya, maaf saya lagi dibelakang, lagi menjemur", Bi Mimi datang dengan tergopoh.
"Suruh siapkan mobil, saya mau keluar",
"Baik, Nyonya", Bi Mimi segera ke luar memberitahu Pak Supir.
"Dari kemarin minta ditransfer uang terus, giliran saya yang butuh, susah", Bu Arimbi masih saja menggerutu. Ia terus mendial nomer seseorang lewat ponselnya.
"Keterlaluan kamu Briant, pagi-pagi gini ada dimana?, sampai tidak bisa angkat telepon", Bu Arimbi terus mendumel.
"Sudah Nyonya, memangnya Nyonya mau pergi kr mana?", Bi Mimi memberanikan diri untuk bertanya.
"Saya ada urusan sebentar, nungguin Briant susah dihubungi, jadi saya berangkat sendiri saja", Bu Arimbi tampak kecewa.
"Kenapa Nyonya tidak minta diantar sama Den Robi saja, pasti Drn Robi akan senang", hati-hati Bi Mimi bicara, takut Bu Arimbi malah marah.
"Robi..., iya juga, tapi dimana dia?", Bu Arimbi menerawang.
"Di telepon saja Nyonya,Bibi juga tidak tahu Den Robi sekarang tinggal dimana, tapi yang pasti, Den Robi tinggal di tempat yang baik, buktinya Den Robi sudah mulai sholat",
"Robi...shalat Bi?", Bu Arimbi menatap Bi Mimi.
"Iya Nyonya, waktu di sini, Bibi sudah beberapa kali memergoki Den Robi shalat",
"Bagus lah Bi, kalau begitu, dia juga sekarang tidak boros seperti dulu. Kalau dulu, sebentar-sebentar uang, sebentar-sebentar minta transfer",
"Iya Nyonya, dulu kan Den Robi masih bersama Marisa, jadi pasti perlu banyak uang untuk memenuhi permintaan Non Marisa",
Jadi Robi dan Marisa sudah putus?, oh...pantesan..., kemarin waktu di Rumah Sakit, Marisa datang sendiri, eh ditemani siapa itu, saya lupa, dia juga teman Robi kan?",
"Iya..., dia itu Den Dery Nyonya",
"Oh..., saya malah tidak ngerti kenapa Marisa dan temannya bisa berkata kalau Robi sudah meninggal, padahal jelas, Robi baik-baik saja",
"Iya..., hanya Den Robi yang tahu",
"Coba, saya telepon dia, apa akan datang ke sini?", Bu Arimbi mendial nomer anaknya itu.
Bu Arimbi tampak berdiri dekat jendela kaca, ia menerawang ke luar sambil menunggu Robi mengangjat telepon darinya.
Setelah beberapa lama menunggu, Robi menjawab juga ,[Assalamu'alaikum Mih, ada apa?, Mamih sudah di rumah?],
Bu Arimbi sejenak terdiam, ia kaget juga mendengar Robi mengucapkan salam.
__ADS_1
[Halo Mih...., apa sakit lagi?], Robi tampak mengkhawatirkan mamihnya.
[Oh...nggak, Mamih sudah sehat, Mamih ada perlu ke Mal untuk mencari bahan, tapi tidak ada yang mengantar, Briant susah dihubungi, jadi Mamih ingin kamu yang mengantar, apa bisa?],
Robi terdiam, dia agak kesal juga karena mamihnya masih menghubungi bule itu, tapi di sisi lain Robi juga khawatir jika mamihnya berangkat sendiri, mana baru sembuh lagi.
[Kalau kamu sibuk juga, nggak apa-apa kok, Mamih pergi sama sopir saja], terdengar lagi Mamihnya bicara.
[Bisa Mih...bisa, Robi libur hari ini, jadi bisa mengantar Mamih, tunggu sebentar, Robi siap-siap dulu],
[Terima kasih Nak, Mamih tunggu].
Belum juga Robi mengiyakan, mamihnya sudah menutup sambungan teleponnya.
Robi segera bersiap, dia masih berwajah Rahmat saat itu, dan dia bergegas menuju bengkel, ia ingin membawa sepeda motornya.
"Hai, mau kemana?", suara Dery mengagetkannya.
"Oh , saya ada urusan sebentar Bang",
"Jangan di pake dulu motornya, itu buat balapan nanti malam, Loe pake sepeda motor Gue saja", Dery melemparkan kunci motor miliknya kepada Robi.
"Baik Bang, terima kasih", Robi menyambar kunci itu dan menaiki sepeda motor Dery menuju rumahnya.
"Kalian ikuti dia!, laporksn ke Gue, dia mau kemana?", perintah Dery kepada Ronald dan Ilyas.
Tanpa ada curiga apa pun, Robi melajukan sepeda motornya menuju rumah, di sana Bu Arimbi sudah menunggunya di luar gerbang.
Bu Arimbi nampak kaget ada sepeda motor mendekatinya.
"Mamih, tunggu sebentar, aku simpan dulu sepeda motornya ke dalam", teriak Robi, tanpa membuka helm.
"Oh...kamu, kirain siapa, iya...Mamih tunggu", Bu Arimbi masih berdiri di samping mobil mewahnya menunggu Robi.
Robi memarkir sepeda motor di garsi rumahnya, sekalian ia berganti wajah menjadi Robi, biar Mamihnya tidak bingung, setelah itu ia keluar menemui mamihnya.
"Kita berangkat sekarang Mih?", suara Robi mengagetkan Bu Arimbi.
"Iya, kamu yang nyetir sana, eehh.... tunggu", Bu Arimbi menyambar lengan Robi yang akan melewatinya.
"Mana motor hadiah dari Papih?, kok masih pake motor jadul gitu", cibir Bu Arimbi.
"Ada Mih..., itu mah motor teman, yang aku lagi diservice dulu", alasan Robi.
"Motor baru kok sudah di service", gumam Bu Arimbi , ia mengikuti Robi memasuki mobil mewahnya. Mereka melaju menuju Mal.
Tidak jauh dari rumah Robi, Ronald dan Ilyas memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Tuh Loe lihat sendiri kan, itu Robi Bro, dia bersama Bu Arimbi, jadi benar Rahmat itu Robi", Ronald menepuk pundak Ilyas yang ada didepannya.
"Kita ikuti lagi mereka!", perintah Ronald.
Mobil yang dikemudikan Robi menepi ke sebuah Super Mal, Mal terbesar di kotanya yang menjual barang-barang branded.
"Mamih mau menemui klient di sini, Mamih mau pesan kain dan pernak-pernik butik", Bu Arimbi langsung berjalan menuju stand yang sudah dijanjikan oleh klientnya.
"Ada di lantai tiga, blok AD", Bu Arimbi mengingat lokasi stand yang ditujunya. Robi hanya mengikutinya dari belakang.
Mereka kini sudah sampai di lantai tiga, dan tinggal mencari bloknya saja.
"Nah..., itu dia... ,akhirnya ketemu juga", Bu Arimbi tersenyum senang.
Ia menghampiri pemilik stand dan membicarakan rencana kerjasamanya, jadi Bu Arimbi akan mendapat pasokan bahan baku untuk kebutuhan butiknya dari stand itu.
Setelah dirasa cukup, mereka meninggalkan stand itu.
"Kita makan dulu ya, Mamih lapar", Bu Arimbi berbelok ke arah food court. Di sana mereka memilih-milih makanan .
Bu Arimbi tampak antusias dengan makanan yang ada di sana, secara ia sudah lama di luar negeri, jadi merasa kangen dengan kuliner nusantara .
Baru saja duduk untuk menikmati makanannya, Bu Arimbi di buat kaget oleh kehadiran seseorang. Mereka datang dengan bergandengan tangan dan nampak mesra.
Robi yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya pun tampak kaget melihat ekspresi marah mamihnya.
"Ada apa Mih?, bukannya di makan, kok malah bengong", Robi menengok ke belakang, ke arah yang ditatap oleh mamihnya.
Di sana ia melihat seorang bule sedang menggandeng seorang wanita, Robi bisa langsung mengenali bule itu, namun yang wanita belum jelas karena terhalang badan si bule.
"Tuh...kan Mih..., Robi bilang apa, dia itu cuma manfaatin uang Mamih saja, ada daun muda, langsung loncat kan", Robi kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Dasar tidak tahu berterima kasih", sewot Bu Arimbi, ia mau berdiri, namun Robi mencegahnya.
"Jangan Mih, ini tempat umum, malu, kalau Mamih merasa terganggu, kita pindah saja, cari tempat makan lain", ingatkan Robi.
Robi berdiri mengikuti mamihnya, sebelum pergi, Bu Arimbi menghampiri dua sejoli itu , dan betapa kagetnya mereka saat Bu Arimbi sudah ada di depannya.
"Tante?", Marisa sangat terkejut, apalagi saat melihat Robi sedang bersamanya.
"Ro...bi...?, jadi benar kamu masih hidup?", Marisa menatap Robi.
"Sudah tidak penting, ayo pergi dari sini Mih!", Robi menggandeng Bu Arimbi dan membawanya perg.
"Beb..., tunggu!", Briant bermaksud menyusul Bu Arimbi, namun Marisa menahannya.
"Sudah... , biarkan saja, nenek tua itu pergi, kita nikmati saja makanannya dulu", senyum Marisa.
__ADS_1
Tanpa ada rasa malu dan tanpa ada bersalah, Marisa menahan Briant pergi, dia pun sudah tidak peduli pada Robi.