Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Semua ada Takdirnya


__ADS_3

Dengan berat hati Briant melangkahkan kaki keluar dari Asrama yang ada di Kantor Imigrasi. Hari ini ia diharuskan pulang ke Negara asalnya.


'Ini semua salah aku, andai saja tidak tertarik oleh Marisa, dia hanya memanfaatkan aku saja, dia hanya mengincar uangku saja', pikir Briant.


'Padahal Tante Arimbi sudah baik, sudah menaruh kepercayaan , sudah memberi kekayaan, ssittt..., hanya gara-gara Marisa, hilang semuanya', kembali batin Briant bicara.


"Tidak kusangka, aku akan menjadi gelandangan di Negeri orang", gerutu Briant.


Ia sedang menunggu registrasi ulang untuk kepulangannya. Semua berkas sedang di cek ulang. Untung saja Petugas bersikap baik padanya, tidak ada tindakan kasar sedikit pun terhadapnya.


"Silahkan, semua sudah beres, anda tinggal menuju Bandara untuk menunggu pemberangkatan sesuai jadwal yang tertera di sini", beritahu Petugas kepada Briant.


"Oke..., Thank's ", Briant menerima berkas yang diberikan oleh Petugas. Ia kembali diantar menuju Bandara.


Ada perasaan haru dalam hatinya, tatkala ia menginjakkan kakinya di Bandara, ia duduk di bangku sembari memandangi berkas yang dipegangnya .


Ingatannya kembali kepada Bu Arimbi. "Apa aku telepon saja dia?, sekedar say goodbye saja, tapi niat itu ia urungkan, Briant masih ingat saat Pak Robani mengusirnya bersama Marisa.


Akhirnya, Briant hanya mengirimkan pesan singkat saja.


[Tante, aku pulang, maafkan aku, aku tahu semua ini salahku, kebaikan Tante tidak akan aku lupakan, aku janji ,aku juga ingin sukses seperti Tante, biar bisa mengganti semua uang Tante yang sudah aku pake],


Suara mikrofon menyadarkan Briant, ia bangkit dari duduknya menuju jalur keberangkatan, semua berkas sudah diperiksa, dan Briant sudah masuk ke dalam kabin pesawat.


Dari sana ia memandangi deretan gedung-gedung, ini adalah kesempatan terakhirnya melihat keindahan Negeri yang sudah memikat hatinya, Briant berjanji dalam hatinya suatu saat nanti ia akan kembali dengan membawa berita kesuksesannya.


Lain halnya dengan Marisa ia juga harus menahan rasa malu akibat harus menebus KTP nya di salon. Tidak sedikit pengunjung salon yang mencibirnya.


"Makanya kalau tidak punya uang, jangan sok-sok an perawatan di sini", celetuk seorang pengunjung.


Marisa hanya meliriknya, ia tidak mau meladeni celotehan wanita itu, ia tidak ingin memperpanjang urusannya di sana. Marisa cepat-cepat berlalu dan meninggalkan salon itu.


Marisa pun harus membiasakan diri untuk naik kendaraan umum, ia tidak bisa terus-terusan berlagak kaya, kini semua sudah berbeda, tidak seperti waktu bersama Robi, semua kebutuhannya terpenuhi.


Memang penyesalan selalu datang di akhir, karena kalau di awal itu katanya pendaftaran. Marisa kini menyesal, ia sudah salah, melepaskan


Robi, karena terbujuk rayuan Dery, dan Dery pun ternyata tidak sebaik yang ia harapkan.


Dery hanya menjadikan dirinya sebagai alat untuk menyingkirkan Robi. Dan setelah mendapatkan semuanya, Dery pun malah mulai melirik wanita lain.


Hingga akhirnya Marisa mengejar Briant, Bule kece, yang ternyata juga kere, dia hanya menggunakan fasilitas yang diberikan Bu Arimbi, ibunya Robi.


Kalau sudah begini, Marisa tidak bisa berbuat apa-apa, kembali, ia hanya bisa menyesali semuanya.

__ADS_1


"Kiri", Marisa berhenti di depan pintu gerbang rumahnya. Ia memasuki rumahnya dan langsung menuju kamar tidurnya.


Hari-harinya akan terasa berat, sudah tidak ada lagi orang yang bisa ia andalkan untuk menopak gaya hidupnya. Uang pengiriman ibunya hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari saja.


Marisa merebahkan tubuhnya di kasur . "Aku harus mencari pekerjaan, aku harus bangkit, aku pasti bisa", gumam Marisa.


"Kerja..., kerja apa?, kuliahku saja berantakan", gerutu Marisa. Sejak dekat dengan Briant, Marisa sering bolos kuliah.


"Kakak?, oh iya...Kakak?, apa ia masih di sana?", tiba-tiba Marisa teringat kepada Kakak laki-lakinya, mereka sudah lama berpisah, saat orang tuanya berpisah dulu, Kakaknya itu dibawa oleh ayahnya.


"Kak Fikri, dimana sekarang?, kita sudah lama tidak bertemu, apa Kakak baik-baik saja?, kita sudah hampir lima belas tahun tidak bertemu", Marisa terlihat menyeka cairan bening yang mendesak dari kedua kelopak matanya.


Mengingat Kakaknya seolah mengorek luka lama, luka akibat perpisahan kedua orang tuanya, yang mengharuskan mereka hidup terpisah.


Dengan berbekal data yang di dapat dari keterangan Pak Robani dan bukti-bukti yang ada, Rusli, Pengacara yang ditunjuk oleh Pak Robani untuk menangani kasus Robi.


Rusli langsung menyambangi TKP, dan dengan mudah ia bisa masuk untuk mengecek rekaman CCTV yang ada di depan pasar.


Pihak keamanan pasar pun tidak bisa menolak, karena jelas Rusli adalah seorang Pengacara yang sedang menjalankan tugasnya.


"Nah....nah....stop!", Rusli melihat dalam rekaman itu jelas, si pelaku penabrakan ternyata diselamatkan oleh sepeda motor yang lewat, mereka membawa kabur pelakunya


"Nah...itu, sepertinya mereka itu masih kawanan pelaku", ucap Rusli.


Tapi setidaknya ia sudah memegang bukti kunci, yang bisa membebaskan Robi. Setelah semua di rasa cukup, Rusli segera meninggalkan TKP dan menuju Penjara untuk bicara langsung dengan Robi.


"Pagi Pak, saya pengacaranya Robi, apa bisa saya bertemu dengannya?", to the point Rusli.


Pak Rusman yang baru saja tiba langsung menyalami Rusli.


"Oh..., jadi anda Pengacara untuk Robi? Mari ikut saya, kita bicara di dalam ", ajak Pak Rusman.


Rusli pun mengikuti Pak Rusman memasuki kantornya. Di sana mereka saling bicara, apalagi Rusli langsung memperlihatkan hasil rekaman CCTV.


Pak Rusman langsung bisa mengenali Robi yang terlihat keluar dari mobilnya dan menolong dua orang korban tabrakan itu. Namun ia tidak bisa mengenali si pelaku, karena ia masih memakai helm dan sepeda motor yang membawanya tidak bisa dikenali.


Tapi dengan bukti baru itu saja, Robi sudah bisa di lepaskan, karena ia terbukti bukan pelaku penabrakan itu.


"Apa Robi sudah bisa dilepaskan Pak?", Rusli tampak menatap Pak Rusman yang sedang mengisi berkas dihadapannya.


"Sebentar, saya buatkan dulu keterangan terbarunya", Pak Rusman membubuhkan tanda tangan dan stempel kepolisian di bagian kertas yang ia buat, lalu memberikannya kepada Rusli, untuk diteruskan kepada Kepala Lapas.


Di luar, Rusli tampak sedang menelepon Pak Robani.

__ADS_1


[Halo Pak, saya sudah menemukan bukti terbaru untuk kasus Robi, anak Bapak dan dengan bukti itu Robi sudah bisa dibebaskan],


[Oke bagus, saya sendiri yang akan menjamput Robi ke sana, Good Job Pak, terima kasih]


[Sama-sama Pak],


Terdengar suara sambungan telepon yang terputus.


Pak Rusli penasaran, ia akhirnya menemui Robi. Di dalam sel tampak dua orang yang sedang saling berhadapan, mereka tampaknya sedang belajar mengaji, tampak keduanya berpakaian rapi dan mengenakan kopiah.


"Yang mana Robi?", Gumam Pan Rusli.


"Saya mau bertemu Robi, saya pengacaranya", jelas Pak Rusli.


"Maaf Pak, jam besuk lima belas menit lagi, Bapak duduk dulu saja", ucap petugas mempersilahkan Pak Rusli duduk.


"Baik, terima kasih",


Pak Rusli duduk sambil mendengarkan dua orang itu mengaji.


"Benar, ini tempat pertaubatan, banyak waktu yang bisa digunakan di sini untuk memperbaiki jalan hidup yang sempat keliru waktu bebas dulu.


Kini, PR besar bagi Pak Rusman dan jajarannya untuk mengejar dan menangkap pelaku sebenarnya.


Kedatangan Abah dan Umi disambut gembira oleh para santri, mereka langsung menyalami mereka, tak ketinggalan Gilang pun ikut berlari menyambut Tiara. Ia langsung saja menggaet tangan Tiara.


"Alhamdulillah..., Abah dan Umi pulang, sudah sehat, selamat datang lagi di Pondok, kami sudah sangat merindukan Abah dan Umi", ucap Ustad Fadil.


"Iya...terima kasih, ini semua berkat do'a dari anak-anak Abah ", tampak Abah menatap haru semua anak santrinya.


"Sudah, kalian semua kembali ke Masjid, biar Abah dan Umi istirahat dulu", perintah Ustad Dzaqi.


Semua santri pun menurut, mereka kembali melakukan aktifitas mengajinya dengan perasaan senang.


"Terima kasih Pak sudah mengantar, sampaikan juga ucapan terima kasih saya kepada Bu Arimbi", senyum Tiara.


"Iya, sama-sama Neng, Bapak permisi dulu, Assalamu'alaikum", pak sopir kembali memasuki mobil dan meninggalkan Pondok Al-Furqon.


Di jalan, Ustad Fikri berpapasan dengan mobil yang sudah mengantar Tiara, ia memutar arah dan mengikuti diam-diam dari belakang.


"Siapa sebenarnya orang itu", gumam Fikri, ia terus mengikuti mobil itu. Dan Fikri sudah bisa menebak saat mobil itu memasuki gerbang sebuah Perumahan mewah, ia pun sudah pernah ke sana sebelumnya.


"Emh..., tidak salah lagi, pasti dia, Robi!!, ternyata Tiara diam-diam sudah mengenal keluarga Robi", geram Fikri, lagi-lagi ia mengepalkan tangan kanannya, ia kecolongan lagi.

__ADS_1


"Awas saja, kamu tidak akan hidup tenang jika sampai mengambil Tiara dariku". Setelah yakin akan kecurigaannya, Fikri pun memutar balik sepeda motornya dan kembali memacunya cepat menuju Pondok.


__ADS_2