
"Pih..., kita bawa mobil masing-masing saja, biar nanti aku bisa pulang sendiri, tidak harus menunggu Papih sampai selesai", ucap Robi.
"Boleh..., silahkan saja, tapi kamu harus janji , Papih tidak ingin kamu kembali lagi ke jalanan, Papih tidak ingin kamu balapan lagi, lihat Papih Robi !, Papih sudah tua, sudah saatnya kamu ikuti jalan Papih, urus Perusahaan Papih",
"Kamu juga sudah waktunya memikirkan masa depan kamu, masa kamu mau begini terus, sama Mamih dan Papih terus, kamu tidak ingin punya kehidupan sendiri?, yang ada anak dan istri kamu", senyum Pak Robani.
Robi mengulum senyum, ia memandang Papihnya.
"Ya ...mau lah Pih...", senyum Robi.
"Nah..., makanya kamu harus serius ikuti Papih, urus Perusahaan dengan baik, agar kamu punya penghasilan sendiri untuk menafkahi keluargamu, jangan biarkan keluargamu kekurangan", senyum Pak Robani.
"Kalau kamu dijalanan, balapan liar lagi, yang ada nanti kamu sendiri yang celaka, bagaimana bisa melindungi keluargamu sendiri, jika kamu sendiri membiarkan dirimu bergelut dengan bahaya",
"Oke...oke...Pih, aku akan mulai ikuti keinginan Papih, tapi Papih juga harus janji, Robi tidak suka di paksa Pih, jadi buat Robi selalu nyaman biar Robi selalu ada bersama Papih", ucap Robi, ia seperti sedang tawar -menawar dengan papihnya.
"Oke..., Papih akan ikuti semua maumu, selama masih wajar dan masuk akal, sekarang kita berangkat dulu, jangan sampai kita telat sampai di Kantor, walau kita atasan, tapi tetap harus memberi contoh yang baik sama pegawai kita, ayo...kita berangkat sekarang, Papih duluan ya",
Pak Robani mengendarai mobilnya di depan dan diikuti mobil Robi di belakang. Sesekali Pak Robani melirik ke belakang, ia melihat dari spion, mobil Robi masih setia mengikutinya dari belakang.
"Bagus Nak...", senyum Pak Robani. Ia makin mempercepat laju mobilnya menuju pelataran kantornya.
Tampak suasana sudah ramai, para staf kantornya sudah mulai berdatangan dan memasuki kantor.
Robi juga sudah memarkir mobilnya, ia duduk terdiam di belakang kemudi. Sedang Pak Robani sudah keluar , ia menunggu Robi .
"Ayo Nak keluar!, kita sudah sampai", ajak Pak Robani, ia berdiri di samping mobil Robi.
Robi membuka kaca mobilnya, "Papih duluan saja, nanti Robi menyusul, langsung ke ruangan Papih kan?", tatap Robi.
"Iya..., Papih masuk duluan, Papih tunggu lho..., jangan putar balik", senyum Pak Robani.
"Iya nggak lah Pih, Robi hanya gugup saja, ini pertama kali Robi ngantor kan", senyum Robi.
"Biarkan Robi nyari angin segar dulu Pih, lima menit saja", kembali Robi tersenyum.
"Kamu ini ada-ada saja, iya..., jangan lama-lama, ini kantor, ada aturannya, ada jadwalnya, masuk, istirahat, pulang, sudah ada aturan waktunya, beda dengan dijalanan, bebas tanpa aturan, semau gue", kekeh Pak Robani.
"Iya Pih..., aku tahu, tenang saja, ini Robi, anak Papih, bukan pembalap lagi", senyum Robi.
"Iya..., Papih duluan Nak, Papih tunggu lho...", Pak Robani melangkah menuju kantor, Robi melihatnya, ia bisa jelas melihat bagaimana sikap para staf yang terlihat begitu sopan dan hormat kepada Papihnya.
__ADS_1
'Eum...., apa aku bisa seperti Papih, apa aku bisa bertahan terus di sana dengan rutinitas yang sama setiap hari, ah..., pasti membosankan', pikir Robi.
"Bismillah..., aku harus bisa demi Papih, aku harus bisa demi Tiara", senyum Robi.
Robi mulai keluar dari mobilnya, ia melangkah menuju dalam. Tak sedikit yang tersenyum melihat penampilan Robi.
Namun Robi tidak peduli, ia terus masuk menuju ke dalam, sampai saat dirinya sudah ada di dalam, semua mata sepertinya tertuju padanya.
"Maaf Pak, itu ruangan Direktur, apa Bapak sudah ada janji bertemu sebelumnya?", sebuah suara menghentikan langkah Robi yang hendak membuka pintu ruangan Pak Robani.
Robi melirik dan menghadap sumber suara. Seorang wanita muda, cantik sedang menatapnya .
"Ah..., harus ada janji dulu ya?, saya belum ada janji tertulis, tapi saya sudah janji akan datang hari ini", ucap Robi.
"Tunggu..., ini dengan Bapak siapa?, biar saya konfirmasi dulu ke Pak Robani?", tanyai wanita itu.
"Bilang saja ada Pak Robi di luar", ucap Robi, ia sengaja tidak bicara terus terang, ia ingin mengerjai staf itu.
"Bapak bisa tunggu sebentar", ucap wanita itu, ia mengetuk pintu dan masuk ke ruangan didepannya.
"Maaf Pak , di luar ada tamu, apa sudah ada janji dengan Bapak?",
"Tamunya , Pak Robi, katanya sudah ada janji dengan Bapak, dia sedang menunggu di luar", beritahu Sinta.
Pak Robani terkekeh, "Suruh masuk saja",
"Oh...iya.. Pak , baik", ucap Sinta heran, ia segera kembali ke luar dan tak lama Robi muncul dihadapan Pak Robani.
"Kenapa ribet sekali Pih, mau bertemu ayah sendiri saja mesti ada janji dulu", gerutu Robi.
"Itu memang sudah prosedurnya seperti itu, kita profesional saja, lagi pula mereka tidak tahu siapa kamu kan?, ini pertama kalinya kamu ke sini, jadi ikuti saja", senyum Pak Robani.
"Terus tugas aku apa Pih?", tatap Robi.
"Sebentar..., kita tunggu Pak Sugiri dulu, dia yang akan mengajari kamu, dasarnya sudah dipelajari kan?, yang semalam Papih kasih ke kamu?", tatap Pak Robani.
"Oh...iya, sudah..., dibaca saja", kekeh Robi.
"Aduh ..., kamu ya...", senyum Pak Robani.
"Sebaiknya Papih perkenalkan dulu kamu pada semua staf, biar kamu bisa bebas masuk ke kantor ini tanpa terbentur janji-janji seperti tadi", ucap Pak Robani.
__ADS_1
Pak Robani bangkit dari duduknya , ia menggandeng Robi dan membawanya ke luar dari ruangannya.
"Mohon perhatiannya sebentar", ucap Pak Robani di depan para stafnya.
Semua melihat ke arah Pak Robani, mereka sedikit kaget dengan sikap Pak Robani yang tampak menggandeng tamunya.
Dan itu lho, kok tamunya itu penampilannya seperti itu, ke kantor masa memakai celana jeans.
"Mohon maaf, saya mengganggu sebentar, ada hal yang ingin saya beritahukan, kenalkan ini Robi, dia itu calon staf di sini, ini hari pertama dua du sini, jadi mohon bimbingannya dari semua", jelas Pak Robani.
Pak Robani tidak menyebutkan langsung kalau Robi itu anaknya. Pikirnya biar saja mereka tahu dengan sendirinya.
"Tapi kok Pak, itu apa tidak salah kostum?", celetuk Komang.
Sontak semua staf yang lainmenahan senyum dengan menutup mulut mereka dengan telapak tangan kanannya.
"Ah...ini..., tidak apa, tadi sepertinya terburu-buru, kan masih baru, dan saya juga sudah terbiasa begini, maaf", rengkuh Robi.
Robi pun sama , ia sengaja mengikuti alur papihnya yang tidak langsung mengenalkan dirinya sebagai anak dari Pemilik Perusahaan ini.
"Untuk sementara biar dia di ruanngan saya dulu, ada hal penting yang harus ia pelajari", ucap Pak Robani.
"Iya baik Pak", kompak semua staf.
"Silahkan kembali bekerja, terima kasih atas perhatiannya, silahkan kembali bejerja!", senyum Pak Robani.
"Baik Pak", semua staf kembali ke meja masing-masing dan melanjutkan pekerjaannya.
'Aneh...ko tampak akrab begitu', pikir Sinta. Ia merasa malu karena sempat bersikap dingin kepada Robi
Seharian itu rasanya lama sekali, Robi harus berkutat dengan semua pelajaran yang diberikan Pak Sugiri padanya.
Pelajaran yang penting soal tugas-tugas dari tiap divisi di kantornya.
Tidak ada yang tahu, selama seharian Robi di sana, ingatannya selalu tertuju kepada Tiara.
walau di sini pun banyak staf papihnya yang masih muda dan cantik, tapi tak satupun yang menarik perhatian dari Robi.
Apalagi Robi sedikit risih dengan penampilan mereka, mereka memang cantik-cantik, tapi sayang, cantiknya mereka bisa dinikmati oleh banyak orang, semua mata bisa melihatnya.
Berbeda dengan Tiara, yang selalu menutup dirinya dengan pakaian panjang dan longgar.
__ADS_1