
Pak Robani dan Robi sudah sampai di halaman Perusahaannya, memasuki ruangannya dengan cepat. Para staf yang melihatnya tampak saling berbisik, mereka membicarakan Robi yang sudah lama tidak datang ke kantor.
Wajah tampannya membuat para staf wanita merasa terpana, dan mereka merindukan wajah tampan itu kembali menghiasi hari-harinya di Kantor.
"Nah..., Robi..., ini ada beberapa File keuangan yang agak rancu, kamu bisa tolong cek kembali, kemudian nanti di re-cek lagi ke pihak supplier, di sini ada selisih keuangan yang amat mencolok", jelaskan Pak Robani.
"Ini terjadi saat kamu tidak ada kemarin, jadi proses pembelian bahan baku tidak ada yang mengawasi, resinya pun tidak jelas dipegang oleh siapa?, Papih terlalu sibuk kemarin, tidak sempat memeriksa ini , Papih juga terlalu percaya sama orang, tidak tahunya mereka memanfaatkan kelalaian Papih, tapi sudahlah tidak mengapa, anggap itu sedekah atau hibah saja buat mereka yang sudah mengambilnya, yang terpenting kita sekeluarga tetap bisa berkumpul", jelaskan Pak Robani.
"Iya..., tapi ini kemungkinan ada kong kalikong antara supplier kita dengan penyedia logistiknya Pih, sepertinya mereka di sini menuliskan nominal yang tidak sesuai dengan jumlah barang yang dipasok kepada kita", ucap Robi, ia tampak fokus dengan laptop dihadapannya.
"Kita selidiki secara diam-diam saja, dan tidak usah ambil tindakan keras sama mereka, cukup peringati saja, Papih yakin, mereka ada alasannya melakukan ini",
"Papih ini aneh, kenapa tidak langsung ciduk saja, biar kapok",
"Tidak usah, kita cukup panggil mereka secara baik -baik, cara halus akan bisa melembutkan mereka, Papih tidak ingin ada saling dendam, biarkan mereka menyadari sendiri kesalahannya",
"Hadeuh..., Papih ini bagaimana, katanya mau mengungkap kecurangan, tapi kok malah mau damai Pih, bagaimana mereka kapok?",
"Sudah..., kita tidak akan kekurangan , Papih ingin mereka menyadari sendiri, sadar sendiri akan kesalahannya, itu akan lebih berarti bagi mereka, kalau kita yang usut, bisa-bisa mereka malah balik dendam, itu yang Papih tidak mau",
"Biarkan saja, kita cukup tahu saja, dan jangan kasih kepercayaan lagi sama mereka, kalau mereka tidak sadar juga, ya putuskan saja kerjasamanya secara sepihak", jelaskan Pak Robani lagi.
"Iya...iya..., Robi mengerti Pih, Robi kagum sama Papih, mulia sekali hati Papih, sebagai Pengusaha, hal ini akan membuat Perusahaan Papih ...., euh...", Robi tidak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa ?, bangkrut maksudmu?, tidak usah takut dengan hal itu, segala sesuatu ada waktunya Nak, dunia ini berputar, asal kita tidak merugikan orang lain, kita jangan khawatir , semua sudah ada yang mengatur, asal kita tetap di jalan yang benar, jangan takut tergelincir, atau pun jatuh", senyum Pak Robani.
"Papih...", tatap Robi, ia menghentikan kegiatannya , ia hampiri Pak Robani, dan langsung memeluknya.
"Papih..., aku malu , aku malu sama Papih, aku mencari guru jauh-jauh, padahal guru yang sebenarnya dekat sekali, Papihlah guru itu, Papih yang sudah mengenalkanku pada dunia, dan Papih juga yang mengajariku bagaimana cara mengarunginya", ucap Robi .
__ADS_1
"Sudah Nak, Papih malu, Papih bisa begini juga karena terinspirasi sama kamu, kamu saja yang asalnya liar, urakan, bisa berubah, apalagi Papih, sudah tua begini, usia saja tinggal menghitung hari, masa tidak mau berubah menjadi lebih baik", Pak Robani membalas pelukan anaknya itu.
"Ini semua sudah dapat Pih, ini orang-orangnya, kalau Papih mau, kita bisa datangi mereka langsung dan selesai urusannya", Robi memutar layar laptopnya ke arah papihnya.
Pak Robani melihatnya , ia bisa dengan jelas melihatnya, namun Pak Robani hanya tersenyum.
"Biarkan saja, kita cukup tahu saja, jangan kasih mereka kepercayaan lagi, mulai saat ini, semua urusan mereka, kamu yang handle", ucap Pak Robani.
"Hah..., Papih...Papih ..., ya sudah", Robi kembali menarik laptop kearahnya, lalu menutupnya.
****
Tiara sudah mulai kembali beraktivitas seperti biasa ke Kampus, ia ingin mengurus-ngurus kembali Skripsinya, dan mencoba mencari informasi untuk bisa sidang susulan agar segera wisuda.
Abah juga sudah semakin sehat, ia sudah bisa ke Masjid, walau sekedar menjadi imam shalat saja, tapi itu sudah menbuat semua santri merasa senang.
Geliat kegiatan di Masjid dan di Madrasah sudah semakin ramai, apalagi kini ada kegiatan tambahan berupa kursus menjahit bagi santri Putri dan Keterampilan otomotif bengkel, bagi santri Putra, itu semakin membuat para santri semangat, karena mereka akan memiliki keterampilan tambahan saat lulus nanti.
"Alhamdulillah Nak, kamu selamat, Ibu senang bisa melihat kamu kembali, bagaimana urusannya di Kampus lancar?",
"Alhamdulillah Bu, Tiara sudah mendaftar ulang untuk bisa sidang skripsi supaya bisa cepat wisuda", senyum Tiara.
Bu Arimbi tersenyum, ua merasa senang, jika Tiara sudah wisuda, berarti sebentar lagi Robi sudah bisa melamarnya, pikir Bu Arimbi.
"Kita masak saja yuk, Ibu sudah belanja, hari ini Robi dan papihnya dari Kantor, mau langsung ke sini",
"Robi...?, mau ke sini?", Tiara tampak sumringah, karena tidak dapat dipungkuri, hatinya selalu tertuju kepada Robi, Tiara tidak bisa mencegah perasaan yang kian merekah dihatinya, dan semua itu tertuju hanya kepada Robi.
"Ayo kita masak, Ibu ajari memasak makanan kesukaan Robi", senyum Bu Arimbi, ia mengikuti langkah Tiara menuju dapur, sementara Umi kembali menemani Abah beristirahat di ruang bacanya.
__ADS_1
Badrun pun segera menuju Madrasah, ia membantu Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi mengajar anak-anak santri.
"Nah...ini nih makanan kesukaan Robi", Bu Arimbi mengeluarkan bahan masakan yang tadi ia bawa.
Ada banyak sayuran dan lauk pauk, dan buah-buahan.
"Aduh..., apa ini tidak kebanyakan Bu?", Tiara menata aneka makanan itu di atas meja makan.
"Yang sebagian simpan saja, bisa untuk dimasak besok lagi, kita masak yang ini saja", Bu Arimbi mengambil bahan makanan yang ia butuhkan untuk dimasak hari ini.
"Nah..., kita masak yang cepat saja, sebentar lagi jam istirahat, pasti Robi dan Papihnya akan cepat datang", ucap Bu Arimbi.
Ia mengambil ayam, aneka sayuran untuk di buat capcay, dan bahan untuk membuat sambal, tak tertinggal ikan asin.
"Nah..., Tiara , kita masak ini saja hari ini, Robi dan papihnya itu tidak pemilih, mereka akan suka apa pun yang Ibu masak, tidak merepotkan", ucap Bu Arimbi.
"Tapi ini nih yang wajib ada , sambal", senyum Bu Arimbi, ia langsung mengambil cabe rawit merah, bawang merah, bawang putih, dan tomat, lalu setelah di cuci bersih, ia rajang kecil-kecil.
Setelah itu ia langsung ulek, diberi sedikit gula putih dan garam, setelah itu ia seduh dengan minyak panas, seketika aroma harum khas tercium, yang bisa membangkitkan selera makan.
Apalagi Bu Arimbi menambahkan sebuah jeruk sambal yang telah di potong ke dalamnya.
"Begini saja Bu sambalnya?", tatap Tiara
"Iya..., simple kan?", senyum Bu Arimbi.
"Kalau Umi biasanya pake terasi, gula merah, tomat yang banyak", ucap Tiara.
"Ya..., umumnya seperti itu, tapi inilah sambal favorit Robi dan papihnya, kamu harus belajar membuatnya, biar nanti bisa membuatnya sendiri, gampang kok", senyum Bu Arimbi.
__ADS_1
Di luar terdengar suara deru mobil, "Tuh...pasti mereka sudah datang", Bu Arimbi memiringkan kepala ke arah pintu luar.
"Deghh...", jantung Tiara terasa bergetar begitu mendengar Robi sudah datang.