Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Masih Teka-Teki


__ADS_3

"Celaka !!!, , aku terlambat", gumam Fikri.


Ia mengintip kembali di balik tirai, benar saja di sana Dery sedang di giring oleh ketiga Polisi itu, keluarga Robi pun menyaksikan penangkapan Dery .


Karena memang Dery sudah lama menjadi target DPO. Sebenarnya Dery bisa melihat keberadaan Fikri , namun Fikri terlihat sedang menggendong bayinya, jadi Dery berlalu saja mengikuti dorongan dari Polisi yang memaksanya untuk segera pergi.


"Nanti aku temui kamu , sekarang tidak memungkinkan", gumam Fikri.


Ia kembali melirik ke arah bayi yang sedang digendongnya, "Apa iya ini bayinya Dery?, kenapa bayi ini seperti bayi orang asing?, matanya biru, dan kulitnya putih.


"Apa bayi ini tidak tertukar ?", Fikri terus saja memandangi bayi perempuan yang masih terlelap dalam pangkuannya.


'Maafkan aku, ini semua salahku, Ayah dan Ibu jadi bercerai berai, kamu juga tidak ada yang memperhatikan', batin Fikri bicara.


Fikri masih ingat saat dirinya melakukan kesalahan dulu, ia dan keluarganya di usir dari Desa, namun berkat kelicikannya, ia timpakan kesalahannya itu pada temannya sendiri, Badrun.


Namun tetap saja kedua orangtuanya memutuskan untuk berpisah dan mengambil jalan hidup masing-masing, hingga mereka pun berpencar.


Bahkan sampai sekarang, ayahnya tidak diketahui kabarnya lagi.


"Bagaimana sudah aman?", Pak Handoko kini berada di depan ruangan tempat Fikri berada.


"Sudah Pih..., Dery sudah di bawa ke Kantor Polisi", kabari Robi, yang tadi mengikuti Polisi ke luar.


"Syukurlah..., setidaknya satu masalah sudah selesai", senyum Pak Robani.


Robi dan Pak Robani hendak kembali ke ruangan tempat Gilang dan Risman di rawat.


"Eeaaaa....eeaea......", terdengar tangisan bayi ."


"Dengar tuh..., Papih merindukan tangisan ini", Pak Robani menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah ruangan tempat Fikri berada.


"Pih..., mau ke mana?", Robi melihat Pak Robani melangkah ke sumber suara.


"Pih....", kembali Robi memanggil papihnya yang kini sudah berada di depan kamar yang ada suara tangisan bayi.


"Aduh..., pake ke sini segala, ngapain sih?, ini juga kenapa tiba-tiba nangis sih", gerutu Fikri .


Fikri melihat ada bayangan sedang menuju ke arahnya.


"Aduh...., gawat nih..., harus kemana aku ngumpet", panik Fikri, ia sudah melihat bayangan Pak Robani di balik pintu.


Dan Fikri bisa melihat gagang pintu sudah berputar, rupanya Pak Robani penasaran dengan suara tangisan bayi itu.


"Aduh...., diam!!", Fikri reflek menutupkan tapak tangannya ke mulut bayi yang ada digendongannya.


Dan "Hap...", salah satu jarinya langsung di **** oleh bayi itu, dan seketika tangisnya berhenti.


Begitu pun Pak Robani , yang hendak membuka pintu , jadi urung.


"Euh...., rupanya lapar", senyum Fikri. Ia bernafas lega karena hampir saja ketahuan.


"Aduh...Pih..., ngapain sih, itu bayi orang, malu kan sama orang tuanya",


"Papih itu kangen...., kangen tangisan bayi, kamu cepat dong nikahi Tiara, biar Papih dan Mamih bisa cepat menggendong cucu", kelakar Pak Robani.


"Aamiiin..., semoga secepatnya Pih, ayo kita ke sana , pasti Mamih sudah menunggu", ajak Robi.


Fikri yang ada di dalam , bisa jelas mendengar obrolan Ayah dan anak tadi, wajahnya seketika memanas, ia marah, karena benar dugaannya, Robi pun sedang mengincar Tiara.


"Sudah ku duga, ternyata benar, kamu juga menginginkan Tiara, Robi....", Fikri menggertakkan giginya.


Namun seketika Fikri tersenyum geli, karena jari tangannya masih di **** oleh bayinya Marisa.

__ADS_1


"Rupanya kamu lapar ya?", Fikri menatap wajah polos bayi itu.


"Eum....,dimana anak itu?, pasti kini ia sudah besar", gumam Fikri. Ingatannya kembali kepada wanita yang telah ia paksa dulu, dan menurut Bi Iroh, wanitanya itu pergi dengan seorang anak.


Fikri menaruh kembali bayi Marisa ke dalam boks. Ia melihat bayi itu sudah kembali tidur.


"Kasihan kamu Nak..., ngisep jari Om saja langsung tidur", kekeh Fikri.


Ia kembali duduk di kursi tunggu, ia sedang memikirkan cara untuk menolong Dery.


Dirinya akan kerepotan jika sampai Dery di tahan, bagaimana juga nasib Marisa dan bayinya.


Tak lama terdengar pintu di ketuk, Fikri kembali terperangah, ia perlahan mendekati pintu dan mengintip kembali di balik tirai.


Ia melihat sosok wanita sedang membelakangi pintu. "Siapa lagi ini?", gerutu Fikri , ia tidak cepat membuka pintu, tapi menunggu wanita itu berbalik ke arah pintu, takutnya itu utusan orang.


"Ah..., Bi Iroh...., akhirnya datang juga", Fikri segera membuka pintu dan menyambar tangan Bi Iroh , Fikri menggusurnya ke dalam.


"Bibi...?, kenapa baru datang....?, aku masih banyak urusan, ditungguin dari tadi, kacau kan jadinya", gerutu Fikri.


Ia menyalahkan Bi Iroh, karena datang terlambat, hingga dirinya tidak bisa mencegah kedatangan Dery ke Rumah Sakit, hingga akhirnya Dery pun tertangkap.


Padahal Polisi datang ke Rumah Sakit untuk menemui Pak Robani terkait laporannya tentang dugaan keracunan Risman dan Gilang.


"Maaf Den, tadi di jalan kacau sekali, macet, rupanya ada kebakaran", aku Bi Iroh.


"Ya sudah, ini saya titip bayi Marisa, saya ada urusan ", Fikri berdiri bersiap untuk pergi.


"Lah..., Marisa nya mana?", tatap Bi Iroh.


"Dia masih ditangani Dokter, tadi mengalami pendarahan",


"Ya Allah..., Neng Marisa....", Bi Iroh terlihat khawatir.


"Saya pergi Bi", tanpa menunggu jawaban, Fikri langsung keluar dari ruangan. Ia akan mengikuti Dery ke Penjara.


Sama, Robi juga berniat menjemput Abah dan Umi, untung saja Pak Robani membawa mobil, jadi Robi bisa memakainya.


"Benar..., itu Fikri?", gumam Robi, ia memperhatikan Fikri yang sedang menstarter sepeda motornya.


"Apa aku ikuti dia saja, tapi Abah dan Umi bagaimana?", Robi mengetuk-ngetukkan jari tangannya pada kemudi yang sedang dipegangnya.


"Aku coba ikuti dulu saja", gumam Robi, ia mulai melajukan mobilnya mengikuti Fikri dari kejauhan.


Namun dipersimpangan, Robi mengambil jalan yang berbeda, Fikri belok ke arah kiri, dan Robi akan mengambil jalur kanan.


Robi menepi, kembali ia berpikir menerka-nerka, mau kemana kira-kira Fikri akan pergi.


"Ke sana itu arah menuju Mall, dan...euh...penjara...?, mau apa Fikri ke sana?", kembali Robi bimbang.


Ingin sekali rasanya ia mengikuti Fikri, tapi ia teringat kepada Abah dan Umi, mereka juga pasti khawatir, setelah kejadian tadi sore.


"Kamu selamat kali ini Fikri", gumam Robi. Ia kembali menginjak gas menuju Masjid tempat Abah dan Umi berada.


Sesampai di Masjid yang di tuju, Robi langsung mencari Abah dan Umi. Di sana ramai sekali, tampaknya semua orang memilih berlindung di Masjid setelah kekacauan tadi sore.


Karnaval dan pawai obor tidak terlaksana sampai tuntas, karena jalanan keburu ramai dengan datangnya mobil pemadam kebakaran dan orang-orang yang panik berlarian.


Setelah mencari ke setiap sudut Masjid, akhirnya Robi bisa melihat dua orang yang sangat ia hormati itu, mereka tampak sedang duduk berdampingan, Abah tampak menggandeng pundak Umi.


"Assalamu'alaikum, Alhamdulillah...Abah, Umi", Robi menghampiri mereka dan langsung menyentuh dan mencium punggung tangan kanan mereka.


"Wa'alaikum salam, bagaimana yang lainnya?, semua selamat?", tatap Abah.

__ADS_1


"Alhamdulillah... , semua selamat, semua santri sudah pulang bersama Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi", Robi tidak langsung memberitahukan kondisi Gilang dan Risman, ia takut Abah dan Umi merasa khawatir.


"Ayo Abah, Umi, kita pulang", ajak Robi. Abah dan Umi pun dituntun Robi untuk menuju mobilnya,


Robi melaju hati-hati. "Abah..., mobil ini yang dulu menolong kita waktu kecelakaan di pasar, Umi masih ingat", terangkan Umi sambil tersenyum.


"Iya terima kasih Nak, Abah sudah banyak salah padamu", tunduk Abah.


"Sudah...Abah, jangan diungkit lagi, itu sudah berlalu, saya juga sudah tidak mengingatnya lagi" senyum Robi.


Robi membelokkan mobilnya ke Rumah Sakit.


"Nah...lho....ke sini?, tidak langsung pulang saja?, Abah dan Umi tidak apa-apa Nak", jelaskan Abah.


"Kita mampir sebentar , Mamih dan Papih juga ada di sana, Tiara juga", jelas Robi.


Abah dan Umi saling pandang, sebagai orang tua mereka sudah punya firasat, pasti ada sesuatu yang terjadi.


Mereka berjalan beriringan. "Belok kanan Abah", perintah Robi. Ia memberi petunjuk kepada Abah dan Umi.


"Itu mereka di sana!", tunjuk Fikri, ia menunjuk ke arah depan, terlihat sekelompok orang sedang duduk di depan ruang Perawatan.


"Alhamdulillah...Abah...., Umi...", Tiara langsung memburu dan memeluk kedua orang tuanya itu.


"Kamu tidak apa-apa Neng?, lalu siapa yang sakit?", tanyai Umi, ia menatap lekat Tiara.


Tiara menunduk, "anak-anak Umi", lirih Tiara.


"Gilang?, kenapa dia?", Abah tampak cemas, walau Gilang baru beberapa bulan mereka rawat, namun kasih sayangnya sudah seperti kepada anak sendiri.


"Gilang sudah stabil, tapi Risman yang masih dalam perawatan Dokter", Pak Robani menghampiri.


"Kenapa mereka?, tadi pagi sangat riang menyiapkan obor", kenang Abah.


"Mereka keracunan, itu menurut hasil diagnosa Dokter", jelas Tiara.


"Keracunan?, kenapa bisa?, mereka makan apa?", Abah tambah khawatir saja.


"Tidak tahu Abah, hanya saja , sebelumnya mereka meminum minuman yang diberikan Ustad Fikri, setelahnya tidak tahu, makan apa lagi, sampai ketahuan susah kejang dua-duanya", jelaskan Tiara.


"Tapi tenang Abah, mereka berdua sudah stabil, tinggal menunggu instruksi Dokter saja.


"Lalu mana Ustad Fikri?", Abah melihat ke setiap orang yang ada di sana.


"Ustad Fikri mungkin sudah pulang bersama para santri", ucap Tiara.


"Tadi ad.....", Robi mengantung ucapannya. Rasanya tidak perlu di bahas di sini, ia sendiri yang akan menyelidikinya.


"Fikri, iya nanti kita tanyakan langsung pada dia", usul Robi.


"Tolong...., Pak, Bu..., apa di sini ada yang bisa mendonorkan darah buat anak saya, dia banyak mengalami pendarahan", Bi Iroh tampak menghampiri mereka.


"Kenapa anaknya Bu?", tatap Bu Arimbi.


"Anak saya pendarahan, tadi sore melahirkan", ucap Bi Iroh.


"Ya Allah..., kasihan sekali, di mana dia sekarang, siapa tahu diantara kami ada yang cocok",


'Melahirkan...?, tadi juga Fikri ada di sana, apa mungkin ini ada kaitannya ', pikir Robi.


"Biar saya ikut Bu", tawari Tiara. Tiara dan Bu Arimbi mengikuti langkah cepat Bi Iroh menuju ruangan Marisa.


Robi ingin sekali ikut, ia ingin memastikan siapa wanita yang melahirkan itu, apa ada hubungannya dengan Fikri? .

__ADS_1


Tapi ia urungkan keinginannya itu. Robi malah teringat kembali kepada Fikri, kenana tadi dia pergi?",


'Apa ada hubungannya semua ini?, mau apa juga Dery ke sini?, padahal ia kan sedang menjadi target pencarian Polisi, kalau tidak ada hal yang penting, Dery pasti tidak akan datang je Rumah Sakit, yang mengakibatkan dirinya tertangkap', batin Robi terus bicara.


__ADS_2