
"Assalamu'akaikum", Robi memasuki rumah, di sana ada Bu Arimbi sedang duduk di depan TV, ia hanya melirik Robi dengan pandangan heran.
"Wa'alaikumsalam", Bi Mimi menjawab salam Robi, ia tersenyum merasa senang dengan perubahan Robi, walau dia juga sepertinya agak ragu untuk mengucap salam saat memasuki rumah.
Robi langsung menuju dapur, ia merasa lapar karena tadi belum sempat makan , ia terburu-buru pergi untuk menjemput papihnya.
"Tuan, pulang ?, selamat datang kembali di rumah Tuan", rengkuh Bi Mimi. Ia merasa senang bisa melihat lagi Pak Robani, semoga saja ini awal baik untuk kembali membaiknya hubungan Bu Arimbi dengan Pak Robani.
"Iya..., terima kasih Bi", Pak Robani tampak melirik Bu Arimbi yang masih duduk ditempatnya tadi, ia tampak cuek dengan kepulangan suaminya itu. Tidak ada sambutan ceria ataupun pelukan mesra, kata sapaan pun tidak ada.
"Mau langsung makan Tuan?, Den Robi juga sudah ada di sana", tawari Bi Mimi, ia melirik ke arah meja makan, dimana Robi terlihat sedang meminum jus mangga.
"Rumah ini sudah seperti rumah kost saja, masing-mading penghuninya bebas melakukan apapun sendiri. Tanpa harus manunggu .
"Tidak Bi, saya sudah makan tadi, sekarang mau istirahat saja , saya cape ", keluh Pak Robani. Ia langsung saja menuju kamar tamu yang bersebelahan dengan ruang tamu.
Bu Arimbi meliriknya sambil mencibirkan bibirnya.
"Bagus...., tau diri juga, di sini memang bukan tempatmu lagi", gumam Bu Arimbi.
"Waduh ini mah sama saja bohong, semua ada di rumah, tapi masing-masing begitu, yang satu begini, yang satu lagi begitu", Gumam Bi Mimi sambil berjalan menuju dapur.
"Papih mana Bi?", tanyai Robi, ia melirik kedatangan Bi Mimi.
"Tuan langsung istirahat , cape kayanya.
"Hah...., sudah bisa di tebak, pasti akan seperti es lagi ini rumah,'
"Astsghfirullah..., saya lupa Bi,, saya mau ke Rumah Sakit, ada orang tua teman saya yang terluka.
"Saya ke Rumah sakit dulu ", Robi bergegas menyeruput sisa jus dari dalam gelasnya.
"Saya pergi dulu Bi, Assalamu'alaikum", Robi meninggalkan rumah lewat pintu samping, sehingga Bu Arimbi tidak mengetahui kepergiannya.
Suara sepeda motor Robi yang meraung di pekarangan, menyadarkan Bu Arimbi,dia berjalan menuju dapur menghampiri Bi Mimi.
"Robi mau ke mana Bi?", tanyai Bu Arimbi.
"Emmhh...., katanya mau ke Rumah Sakit, begitu Nyonya", Bi Mimi membereskan piring kotor yang ada di atas meja.
"Sebenarnya siapa orang tua itu, kok Robi begitu peduli kepada mereka", gumam Bu Arimbi.
"Memangnya ...., siapa yang sakit Nyonya?", Bi Mimi memberanikan diri bertanya.
"Saya juga tidak tahu Bi, tadi pulang belanja di jalan ada kecelakaan, tabrakan sepeda motor, dan Robi begitu antusias menolong korban kecelakaan itu, saya juga heran",
"Oh..., mungkin Den Robi mengenal mereka Nyonya?",
__ADS_1
"Iya , hanya Robi yang tahu, katanya mereka itu orang yang telah menolongnya",
Robi bergegas memasuki Rumah Sakit, namun ia melihat ketiga Ustad sedang duduk di luar kamar perawatan Abah, hal itu membuat Robi mengurungkan niatnya untuk menemui Abah
Akhirnya Robi hanya bertanya kepada perawat yang menangani Abah, tentang keadaannya.
"Alhamdulillah, kalau Abah sudah stabil, semoga cepat pulih", harap Robi.
Robi ingin mengunjungi Umi, namun sama, di sana juga ada Tiara.
"Emh..., sepertinya ini bukan waktu yang tepat, semua pengawalnya ada di sini semua", susah untuk bisa bicara langsung dengan Abah dan Umi.
"Maafkan aku belum bisa menemanimu menjaga Abah dan Umi", Robi menatap Tiara, sepertinya Tiara sedang tilawah Al-Qur'an.
Robi akhirnya memutuskan untuk pulang saja, karena kehadirannya hanya akan membuat keributan di sana. Robi masih ingat, Ustad Fikri yang memaksanya untuk pergi dari pondok waktu itu.
Robi melajukan kembali sepeda motornya, ia kini benar-benar merasa sendiri. Tidak mungkin baginya untuk kembali ke bengkel, karena Dery sudah jelas-jelas menentangnya . Pulang kembali ke rumah pun sama saja, karena orang tuanya lagi perang dingin. Tidak ada diantara mereka yang bisa ia andalkan untuk diajak bicara.
Al hasil, Robi hanya berkeliling dengan sepeda motornya tanpa tujuan pasti. Inginnya Robi bisa ngobrol dengan Tiara, namun ada Ustad Fikri di sana.
Hanya ada satu tempat yang bisa membuat hati Robi kembali tenang, dan Robi menuju ke tempat itu. Robi memarkir sepeda motornya di sebuah Masjid, ia masuk ke sana dan duduk di dalamnya.
Walau hanya diam dan duduk, hati Robi sudah kembali tenang, ada keinginan dalam hatinya untuk bisa buku yang ada di sana, tapi Robi tidak bisa membacanya.
Ingin rasanya ia belajar membaca buku itu, tapi kepada siapa ia harus belajar? .
Robi tertidur di sana dalam keadaan bersandar di dinding .
"Rahmat....Rahmat...Rahmat....lagi, Robi..!, dia itu Robi!", sewot Dery.
"Itu tugas kalian, apa tidak bisa seperti Robi, jangan harapkan orang itu lagi, Gue tidak mau dia kembali lagi ke sini",
"Oh iya Bos, motor yang tertabrak di pasar itu bagaimana nasibnya?, kabarnya mereka itu pasangan suami istri", kabari Ronald.
"Oh...iya..., itu yang mau Gue bicarakan, kabarnya mereka itu orang tuanya Tiara Bos", Ilyas menimpali.
"Apa?, Tiara?, Tiara wanita berjubah itu?", Dery menggeser duduknya menghadap Ilyas.
"Begitu yang Gue dengar, petugas parkir pasar yang bilang sendiri, ada wanita berjubah yang mengaku sebagai anak dari pasangan suami istri korban tabrakan itu",
"Ah ..Loe, kenapa baru bilang sekarang?", ini kesempatan Gue untuk mendekati Tiara", Dery meninju pundak Ilyas.
"Kan Bos sendiri yang menabrak mereka?, bisa marah Tiara Bos",
"Memangnya Tiara tahu penabrak orang tuanya?, tidak kan?, biarkan itu menjadi rahasia kita, jangan bocorkan hal ini kepada siapa pun", tegas Dery.
"Sudah..., Gue mau ke Rumah Sakit", Dery beranjak meninggalkan temannya, dia melesat dengan sepeda motornya menuju Rumah Sakit.
__ADS_1
Marisa sudah terbuai dan tergila- gila dengan Briant. Bule itu bisa memenuhi semua keinginannya, shopping dan jalan-jalan itu yang mereka lakukan.
Bu Arimbi lupa, Briant sudah diberikan akses ke dalam rekening Perusahaan, sehingga dengan bebasnya Briant bisa menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadinya.
Pagi-pagi sekali , Ustad Fikri ditemani Mang Daman sudah berangkat ke kantor Polisi, Ustad Fikri ingin pergi ke sana untuk mencari tahu alamat si penabrak.
"Nah...ini motor yang telah menabrak Abah dan Umi", tunjuk Ustad Fikri kepada Mang Daman .
"Ini motornya?, kok seperti motornya Den Robi, apa Ustad sudah lupa?, ini kan motor yang sama yang pernah dikirim ke Pondok", terangkan Mang Daman.
Ustad Fikri melihat dengan teliti sepeda motor itu. "Iya..., kok aku baru menyadarinya, ini sepeda motor Robi, apa ia sengaja melakukannya kepada Abah dan Umi, karena Abah telah mengusirnya dari Pondok?", Ustad Fikri menatap Mang Daman.
"Ah...tidak mungkin, Den Robi tidak seperti itu", bela Mang Daman.
"Tidak bagaimana Mang, ini sudah jelas, ini motornya Robi!, biar jelas, kita tanyai langsung kepada pihak kepolisian, siapa pemilik sepeda motor ini, kalau benar Robi.....?, Tidak akan saya lepaskan Mang", geram Ustad Fikri.
"Pagi Pak, apa pemilik sepeda motor ini sudah ada datang ke Kantor, memenuhi panggilan?", tanyai Ustad Fikri.
"Belum, rencananya pagi ini kita mau jemput paksa dia di rumahnya", tegas Pak Polisi.
"Boleh kami ikut Pak?", Ustad Fikri menatap Pak Polisi.
"Silahkan!, p asal jangan main hakim sendiri, biar kami yang bertindak", ingatkan Pak Polisi.
"Baik Pak?", rengkuh Ustad Fikri.
Setelah semua prosedur lengkap, Ustad Fikri dan Mang Daman mengikuti motor polisi.
"Apa tidak salah?, ini mah komplek elit , lihat rumahnya juga besar- besar begitu, ini mah komplek sultan", celoteh Mang Daman. Ia tidak henti-hentinya bicara, mengagumi keindahan komplek elit itu.
'Apa tidak salah alamat?, kok ke sini?', batin Ustad Fikri pun bicara.
Dua sepeda motor berhenti di depan sebuah rumah besar, dan Polisi tersebut menyebutkan tujuannya, dan segera dipersilahkan masuk.
Bi Mimi membuka pintu begitu di dengarnya bel berbunyi.
Bi mimi terkejut begitu melihat dua petugas Polisi berdiri di depannya.
"Maaf, apa Robi ada?, saya dari Kepolisian membawa surat perintah penangkapan untuk saudara Robi", jelas Petugas Polisi.
"Oh...Den Robi?, se...se...bentar....", Bi Mimi masuk kembali setengah berlari menuju dalam ia memberitahu Pak Robani yang kebetulan sedang minum kopi di ruang keluarga.
"Polisi?, sudah berbuat apa lagi itu anak", gerutu Pak Robani, ia berjalan menuju pintu.
"Iya...ada yang bisa saya bantu?" ,
"Kamu...?, Bani?",
__ADS_1
"Rusman?, apa itu kamu?, wah....wah....keren sekali kamu dengan seragam itu?",
Yang lain pada bengong, melihat Pak Robani dan salah satu Polisi yang di panggil Rusman itu malah saling berpelukan.