Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Mungkin sudah Terlambat


__ADS_3

Tiara merasa senang, karena kini Robi sudah kembali dan Abah sudah mengetahui kebenarannya, bahwa Robi bukanlah seorang penjahat, Robi juga bukan seorang penabrak lari, tapi Robi adalah cucu dari sahabat dekat Abah sendiri.


"Assalamu'alaikum", Robi mengucap salam di depan pintu kobongnya yang dulu ia tempati bersama Mang Daman.


"Wa'alaikum salam...", terdengar jawaban dari dalam, dan suara langkah kaki mendekati pintu. Tak lama pintu pun terbuka, "Iya....", pintu terbuka diiringi kepala Mang Daman yang menyembul ke luar.


" Ya Allah Gusti...., Den Robi?, ini benar Den Robi?", Mang Daman menatap lekat Robi yang tersenyum kepadanya.


"Iya Mang, ini saya, bagaimana sehat Mang?", Robi mengulurkan tangannya ke arah Mang Daman.


"Alhamdulillah sehat Aden, aduh...Mang pangling, setelannya berubah", Mang Daman menyambut erat uluran tangan Robi.


"Kok...bisa sampai di sini lagi?, bagaimana dengan Abah?", Mang Daman bertanya sambil melirik ke arah Tiara.


"Abah...tidak apa-apa Mang, semua sudah beres", senyum Tiara.


"Alhamdulillah..., Mang ikut senang mendengarnya, jadi Den Robi datang ke sini bersama tamu yang tadi Mang antar ke rumah Abah?", tatap Mang Daman.


"Iya, Mang. Mereka itu orang tua saya", senyum Robi.


"Den Robi datang ke sini bersama orang tuanya?, kaya yang mau lamaran saja, di antar orang tua", kekeh Mang Daman, ia melirik ke arah Tiara.


Sontak Tiara menunduk, ucapan Mang Daman seperti mengena pada jantungnya. Seketika wajahnya memanas, kalau tidak tertutup niqob, mungkin sudah kelihatan wajahnya memerah.


"Ah...Mang Daman ini ada-ada saja", kekeh Robi, ia pun melirik ke arah Tiara yang kini tersipu.


"Oh..kalau begitu, saya permisi dulu, masih ada yang harus dikerjakan di rumah, Mang Robi ini mau tinggal di sini lagi, jadi untuk sementara, ikut di kobong ini, bersama Mang", jelas Tiara.


"Oh...dengan senang hati Neng, Mang malah senang, jadi ada teman lagi", senyum Mang Daman.


" Kalau begitu, Tiara pulang dulu, Assalamu'alaikum", Tiara membalikkan badannya, dan segera meninggalkan kobong menuju rumahnya kembali.


"Ayo Den, ngobrolnya di dalam", ajak Mang Daman. Mereka pun masuk ke dalam kobong.


Robi langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur lipat tempat tidurnya dulu sewaktu ia pertama kali ditemukan .


"Kasur ini ngangenin Mang", kekeh Robi. Walau dirumahnya ada tempat tidur yang lebih bagus dan lebih empuk, namun Robi lebih menyukai tempat tidurnya yang ada di kobong.


"Ah...kasur lepet gitu Den", cicit Mang Daman.


"Iya, tapi kasur ini mengandung history Mang",


"History...?, apa lagi itu", Mang Daman mentautkan kedua alisnya.


"Ya...sudah, tidak usah di bahas", kekeh Robi.


"Mang, ternyata Mamih dan Papih itu sudah mengenal Abah, lucu ya, coba kalau dari dulu Abah tahu, mungkin saya tidak akan diusir dari sini", Robi menerawang.


"Itu sudah takdirnya begitu Den, manusia tidak bisa meminta untuk disegerakan, atau dilambatkan",


"Iya juga Mang", sahut Robi.

__ADS_1


"Mang, ternyata Kakek itu sahabatnya Abah",


"Kakek?, Kakek Den Robi maksudnya?", Mang Daman menatap Robi.


"Iya..., dulu itu mereka sama-sama mendirikan Pondok ini katanya, tapi saya jadi malu Mang, ilmu agama saya masih tipis", Robi menunduk.


"Kan bisa belajar Den",


"Tapi sepertinya sudah telat Mang, harusnya saya ini sudah saatnya memetik, bukannya baru menanam",


"Tidak ada yang terlambat untuk memulai kebaikan Den, semangat saja, Mang yakin, Den Robi akan menjadi seorang Ustad yang mumpuni",


"Aamiin Mang, bantu saya untuk belajar yavMang",


"Siap Den, Mang mah ngasih semangat saja, kalau mau belajar harus sama gurunya yang ahli, biar tidak sesat, kan ada Abah", senyum Mang Daman.


"Iya..., tapi Abah belum pulih, kasihan...",


"Oh...Aden kan bisa belajar sana Neng Tiara juga, dia itu pintar, mewarisi sifat Abah",


"Saya malu Mang", tunduk Robi.


"Oh..., Aden beli saja kitab nya, itu bisa dibaca di kobong, yang tidak dimengerti baru tanyakan " jelas Mang Daman.


"Wah...boleh juga Mang, nanti sore antar saya ya?",


"Den Robi minta tolong Neng Tiara saja, dia kan suka bolak-balik ke Kampus, Aden bisa nitip belikan", senyum Mang Daman.


"Sekarang istirahat saja dulu Den, pasti cape",


"Iya Mang", Robi mencoba memejamkan matanya, dan tak lama ia pun terlelap.


"Mang sudah menduga ini bakal terjadi, Aden pasti kembali", tatap Mang Daman. Ia memerhatikan wajah Robi yang tampak bersih.


"Mang yakin, Aden akan menjadi seorang pepimpin, Aden akan menjadi seorang ahli agama", gumam Mang Daman.


Tiara sudah memasuki rumahnya kembali, seharian ia tidak bertemu Gilang, ia sedang berada di kobong Ustad Fikri.


"Tumben anak itu anteung di sana, biasanya belum setengah hari pun sudah mau pulang", gumam Tiara.


Seiring waktu, Gilang yang awalnya tidak mau tinggal bersama Ustad Fikri, kini terbalik, Gilang jadi lengket, selalu ingin bersamanya.


Dan hal itu yang merepotkan Tiara, dirinya mau tidak mau jadi sering menyambangi kobong Fikri.


Abah terlihat sedang duduk termenung di ruang bacanya, ia sampai tidak menyadari kehadiran Tiara yang masuk membawakannya obat.


"Tiara?", Abah terlihat kaget begitu Tiara sudah ada di dekatnya.


"Abah..., kok malah melamun?,kan semua sudah jelas Abah, sudah tidak ada beban pikiran lagi",


"Iya Ara, semua sudah jelas, tapi ada penyesalan besar dalam diri Abah", ucap Abah dengan nada serak.

__ADS_1


Tiara kaget mendengarnya, sepertinya ada masalah baru yang mengganjal di hati Abah.


"Ada apa lagi Abah, sudahlah, Abah harus sehat dulu, jangan terlalu banyak pikiran", Tiara menatap Abah.


Tak lama Umi pun masuk , ia mengucap salam .


"Ada apa lagi, sepertinya kalian sedang ngobrol serius", senyum Umi.


"Ini Umi, Abah sepertinya bimbang",


"Bimbang?, soal apa Abah?, kan semua sudah beres", Umi duduk disamping Abah.


"Soal Fikri Umi", ucap Abah.


"Fikri ?, ada apa dengan Fikri?", tatap Umi.


"Abah jadi ragu dana dia, tapi Abah sudah terlanjur janji, akan menjadikan dia suami buat Tiara",


"Kenapa?, ada apa lagi?",


"Dulu, Abah dan Furqon juga sudah berjanji untuk mempererat persahabatan kami dengan pernikahan. Namun Furqon keburu menghadap Allah, dan Abah tidak tahu alamat barunya waktu itu",


"Kalau di pikir lagi, harusnya Abah tidak memilih Fikri, sekarang ada Robi, cucu Furqon, sahabat Abah",


"Degh... ", jantung Tiara seketika berdebar, ada rasa senang dihatinya, itu yang ia inginkan, sejak pertama melihat Robi, Tiara sudah menaruh hati padanya.


"Umi juga setuju sekali Abah", senyum Umi.


"Tapi itu sudah terlambat Umi, Abah sudah bicara dengan Fikri, itu tidak mudah, lagi pula hanya Fikri yang bisa melanjutkan peran Abah di sini, kalau Robi, ia masih mentah",


"Maafkan Abah , tapi ini pilihan sulit, Abah memilih Fikri, karena ia yang bisa menggantikan peran Abah di Pondok.


"Iya , Tiara ngerti Abah", tunduk Tiara. Seketika harapannya sirna, ia harus kembali pada posisinya sebagai anak dari pengasuh Pondok, maka suaminya nanti harus bisa menjadi kepanjangan tangan dari Ayahnya.


"Yakin saja Neng, semua serahkan kepada Allah", Umi mengelus kepala Tiara, sebagai ibunya, Umi sudah bisa membaca kalau putrinya itu menyukai Robi.


Tiara mengangguk dan dalam hatinya memanjatkan do'a agar diberikan jodoh terbaik.


"Sepertinya ini rumah Nyimas?, tapi kok sepi, apa mereka juga sudah pindsh?" gumam Bi Iroh yang sudah ada di depan rumah milik Nyimas.


"Ada yang bisa saya bantu?", sebuah suara mengagetkan Bi Iroh.


"Ibu ini siapa?, saya lihat seperti mau bertamu?",


"Oh...iya..., apa yang punya rumah ini ada?", Iroh menunjuk ke arah rumah .


"Mereka sudah pindah, sejak Nyimas pergi membawa anaknya ke Kota, mereka pun ikut menyusulnya",


"Oh..., begitu, jadi Nyimas pergi ke kota?",


"Iya..., setahu saya Nyimas pergi dengan anaknya",

__ADS_1


"Oh...terima kasih Pak, saya permisi", Bi Iroh meninggalkan tempat itu, hatinya sedikit lega, ia dan Marisa akan bisa hidup tenang di Desa itu, karena ternyata keluarga Nyimas juga sudah pindah.


__ADS_2