Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Menjadi Saksi


__ADS_3

Tiara mematung begitu mendengar semua ucapan Umi, kakinya terasa lemas. Tiara terduduk lemas di lantai, ia merutuki kecerobohannya, apalagi ia sudah berbuat kasar kepada ibunya Robi.


Perlahan Tiara mendekati tempat tidur Umi dengan berjalan menggunakan lututnya, ia raih tangan Umi, dan mendekatkan tangan Umi ke wajahnya.


"Maafkan Tiara Umi, Tiara sudah keliru, Tiara sudah berbuat salah, Tiara malu Umi, malah mengusir orang yang sudah menyelamatkan Umi, dan Robi juga, ia harus sampai berurusan dengan pihak Kepolisian , padahal ia bukan pelaku sebenarnya",


"Sudahlah..., Umi tahu , Ara berbuat begitu karena Ara terlalu sayang kepada Umi, sekarang cepat susul Ibu tadi, minta maaflah!, dan segera antar Umi untuk bertemu Nak Robi, Umi akan memberi kesaksian kalau bukan Nak Robi yang sudah menabrak Abah dan Umi", Umi Anisa mengelus kepala Tiara.


"Tapi...., Umi bagaimana?, Umi nanti sendiri", Tiara mencoba kembali berdiri tegak.


"Di sini banyak Perawat, Umi tidak sendiri", senyum Umi.


"Baiklah Umi..., Tiara akan mencari Ibu tadi dan meminta maaf", Tiara mencium punggung tangan kanan Umi dan segera keluar dari ruangan Umi setelah mengucap salam.


"Wa'alaikum salam..., hati-hati..Neng!" , Umi menatap kepergian Tiara. Ia pun merasa begitu bersalah, belum sempat mengucap terima kasih kepada Robi, dan kini malah Robi yang harus ditahan di Kantor Polusi.


Ustad Fikri mengetahui kepergian Tiara, dia mengikutinya diam-diam. 'Mau kemana pergi kok diam-diam' , batin Ustad Fikri bicara sambil terus mengikuti Tiara.


"Semoga saja Ibu tadi masih di sini", gumam Tiara. Ia terus menyusuri lorong Rumah Sakit, hingga ke area parkiran. Namun dia tidak menemukan Bu Arimbi .


"Ya Allah..., kemana ibu tadi", Tiara terus berjalan menuju halaman Rumah Sakit sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar halaman , namun tetap tidak ada.


'Mungkin harus disusul ke rumahnya', pikir Tiara, ia kembali menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya.


Namun di area depan minimarket, Tiara melihat kegaduhan. Karena penasaran, Tiara mendekati sumber kegaduhan itu. Di sana ia melihat seorang Ibu sedang terduduk di lantai , ia tampak meringis kesakitan memegangi kepalanya.


"Ya Allah Ibu", Tiara memburu ibu itu , Tiara dengan jelas bisa mengenalinya.


"Ibu ...?", kenapa ?", Tiara menopang tubuh Bu Hellen dan berusaha membuatnya berdiri, di bantu oleh beberapa orang yang ada di sana.


Tiara mendudukkan Bu Hellen di kursi , ia tampak masih memejamkan matanya. Tiara mencoba memberinya minum, dan mendekatkan minyak angin di dekat hidungnya.


"Tak lama Bu Arimbi membuka kelopak matanya, ia sedang mencoba mengendalikan kesadarannya.


Orang-orang pun sudah mulai membubarkan diri begitu melihat Bu Hellen sudah sadar.

__ADS_1


"Alhamdulillah..., ibu sudah lebih baik?, apa perlu kita periksa ke Dokter?", Tiara menatap Bu Hellen, yang melihatnya dengan pandangan aneh.


"Iya Ibu..., saya Tiara, saya mau minta maaf, tadi telah berbuat kasar ", Tiara menunduk, ia tidak bisa balik menatap Bu Hellen yang sedang melihatnya tajam.


"Saya hanya ingin melindungi Umi saja", ucap Tiara.


"Jadi..., kamu Tiara?, saya tidak apa-apa, saya juga bisa mengerti , kamu pasti sangat menyayangi Abah dan Umi, sehingga kamu terlalu protective sama mereka.


"Saya ke sini, hanya ingin membicarakan Robi, anak saya, sebagai ibu, saya merasa tidak tega melihat Robi di penjara, padahal saya sangat tahu, Robi tidak bersalah",


"Saat itu, saya sendiri yang membawa orang tuamu ke sini, saya yang mengambil alih kemudi, karena Robi yang menolong Abah dan Umi, yang waktu itu tidak sadarkan diri di jalanan", jelas Bu Arimbi.


"Iya...Ibu..., saya ucapkan terima kasih banyak, saya hanya terpengaruh oleh keterangan Polisi saja, saya tidak bisa berfikir jernih, karena saya terlalu panik, sekali lagi, maafkan saya", Tiara menunduk.


"Saya hanya ingin meminta kesaksian dari Abah atau Umi, bahwa Robi tidak bersalah, kasihan dia, masa depannya akan rusak, jika dia menjadi seorang narapidana",


Kali ini Bu Arimbi meraih tanganTiara, ia seolah memohon agar Tiara mengabulkan permintaannya.


"Ya...Allah...ibu..., tidak usah begini, saya akan membebaskan Robi", senyum Tiara.


"Oh...jadi begini ya, kamu di belakang aku selalu membela orang asing itu, padahal sudah jelas dia yang membuat Abah dan Umi celaka", geram Ustad Fikri.


"Sudah, ibu sebenarnya kenapa?, apa perlu kita periksakan ke Dokter, mumpung ini masih di Rumah Sakit", tawari Tiara.


"Tidak usah, biar nanti di periksa di rumah saja, saya sudah ada Dokter keluarga", tolak Bu Arimbi.


"Saya lebih baik pulang saja",


"Biar saya yang antar, tapi nggak apa-apa pakai motor?", senyum Tiara.


"Tidak usah merepotkan, saya bisa naik taxi saja",


"Tapi...saya khawatir, ibu kenapa-kenapa di jalan",


"Mari ibu, biar saya antar saja", Tiara berdiri diikuti Bu Arimbi.

__ADS_1


Mereka menuju parkiran mengambil sepeda motor Tiara.


"Maaf ini helmnya", Tiara memberikan helm dan dipakai oleh Bu Arimbi. Mereka kini sudah melaju di jalanan menuju rumah Robi.


"Saya salut, kamu itu mandiri, bisa bersepeda motor, jadi tidak menyusahkan orang lain kalau mau kemana-mana itu', bisik Bu Arimbi saat sepeda motor melaju.


"Saya ini anak tunggal Bu, jadi harus serba bisa sendiri",


"Kok sepertinya sudah tahu alamat rumah saya?" Bu Arimbi bertanya karena Tiara tidak banyak bertanya saat menuju rumahnya.


"Iya, saya sudah tahu, maaf waktu itu saya mencari sendiri alamat rumah ini",


Di dalam penjara, Robi tertarik dengan salah satu napi yang satu sel dengannya. Dia tampak rajin mengaji, setiap waktu luangnya di dalam sel, ia gunakan untuk mengaji.


"Maaf...Pak! , apa boleh saya diajarin membaca buku itu?", Robi memberanikan diri mendekati napi itu.


"Saya Badrun, Benar mau belajar?", tanyanya tanpa melirik ke Robi.


"Oh...iya, saya ingin bisa membaca buku itu", tegas Robi.


"Ini Al-Qur'an, bukan buku",


"Ah....iya...Al-Qur'an", ulangi Robi.


"Boleh saja kalau mau belajar, sana kamu wudhu dulu!, baca Al-Qur'an itu harus dalam keadaan suci", jelas Badrun.


"Oh...harus wudhu dulu ya, apa boleh sekalian diajarin wuhu nya juga, saya lupa lagi", Robi garuk-garuk kepala.


Badrun menatap Robi sambil geleng-geleng kepala, namun ia berdiri juga. Dan membawa Robi ke kamar Mandi.


Di sana Badru mengajari Robi berwudhu, dan setelah selesai, kembali ke dalam. Robi diajarkannya mengaji.


Di dalam sel, Badrun sudah seperti guru saja buat Robi. Ia mulai belajar bacaan shalat juga.


Ternyata Bandrun ini dulunya seorang guru mengaji, namun ia melakukan penganiayaan terhadap muridnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2