Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Tetap Ikhlas


__ADS_3

"Umi..., Abah mau jalan-jalan sebentar, tidak akan jauh-jauh, keliling sekitar Kobong saja", pamit Abah, saat Umi sedang melipat pakaian.


"Iya..., hati-hati Abah, jangan terlalu cape", senyum Umi.


"Iya..., Abah tahu, Umi tenang saja, Abah juga ingin cepat-cepat sembuh", senyum Abah.


Abah terlihat berjalan ke arah kobong para santrinya, itu hal biasa yang beliau lakukan untuk memantau para anak sabtrinya.


Ada suara orang mengaji yang menarik perhatiannya. Abah mendekat, "Siapa yang sedang belajar iqro?",


"Ini sepertinya suara Nak Robi dan Gilang?, semangat sekali dia belajar, sampai tidak malu minta diajarin sama anak kecil", gumam Abah.


"Assalamu'alaikum ...", Abah mengucap salam du depan pintu. Langsung terdengar jawaban dari dalam dan terdengar suara langkah kaki mendekati pintu.


"Abah...", Gilang langsung memburu ke luar, ia memeluk tubuh Abah Ilham. Robi pun datang menyusul, ia meraih tangan Abah dan mengecup punggung tangannya takjim.


"Abah..., mari masuk, sudah lebih sehat?", rengkuh Robi, ia menggandeng tubuh Abah dan membawanya masuk ke dalam.


Abah duduk di atas kasur lipat tempat Robi tidur semalam.


"Kamu semangat sekali belajar, sampai minta diajarin sama Gilang",


"Emh..., iya Abah, saya ingin cepat-cepat bisa, malu, seharusnya seumuran saya ini waktunya mengamalkan, lah saya baru mulai belajar, ketinggalan jauh saya", Robi menunduk.


"Tidak apa..., tidak ada kata terlambat untuk belajar", Abah menepuk pundak Robi.


"Nanti malan jam sembilan, datanglah ke rumah, biar Abah yang mengajari kamu",


"Oh...baik Abah ..., terima kasih",


"Kalau mau, kamu juga boleh tidur di ruang tamu, Abah malu, masa cucunya Furqon tidur di sini",


"Ah...kalau itu tidak usah, biar saya tidur di sini saja, saya lebih nyaman di sini", senyum Robi.


"Ya terserah Nak Robi saja, oh...iya, nanti sekalian ambil uangmu, masih utuh, masih Abah simpan",


"Itu uang, pakai saja untuk kebutuhan Pondok Abah", senyum Robi.


"Alhamdulillah...jazakallahu khoiiroon katsiroo..., kamu memang seperti Furqon", Abah kembali menepuk pundak Robi.


Di sana Robi akhirnya banyak bertanya, terutama soal cara-cara mengimami shalat, termotifasi oleh ucapan Ustad Fikri tadi, Robi juga ingin segera bisa.


Tiara yang baru pulang dari pasar, tidak mendapati Abah di rumah, namun ia pun tidak banyak bertanya, karena harus segera pergi ke Kampus.


"Tiara berangkat ke Kampus dulu Umi",


"Iya.., hati-hati Neng, Abah lagi jalan-jalan ke kobong ", kabari Umi.

__ADS_1


Tiara pun berangkat , tidak ia ketahui saat keluar dari gerbang, ada sepasang mata memperhatikannya di luar. Ia adalah wanita penjual kue di pasar tadi, rupanya ia mengikuti Tiara.


Wanita itu ingin meyakinkan dugaannya, dan ternyata benar, itu adalah tempat yang sama pernah ia datangi dulu bersama kedua orang tuanya.


"Alhamdulillah, ini tempatnya, mungkin takdir yang sudah membawamu je sini Nak, di dalam sana ada ayahmu", tatap nanar wanita itu.


Setelah yakin, ia pun kembali pergi dengan menaiki angkot meninggalkan Pondok Al-Furqon.


Wanita itu tidak lain adalah Nyimas, wanita yang mengandung anakna Robi, yang sempat pergi dari kampung untuk menyelamatkan anak yang sedang dikandungnya.


*****


Di kampus tiara bertemu dengan Dosen pembimbingnya, ia kembali konsultasi soal skripsi yang sedang disusunnya.


"Kok...aku tidak pernah melihat Marisa lagi, kemana dia?, Dery juga, kok mereka sama-sama menghilang", guman Tiara.


Tiara belum melihat rekaman CCTV, kalau iya, pasti Tiara bisa mengenali, kalau Dery yang telah menabrak Abah dan Umi.


Karena Tiara sudah sering melihat Dery memakai sepeda motor Robi, saat mengantar Marisa ke Kampus.


Tiara kembali mampir ke Bengkel, ia ingin meyakinkan, apa Dery masih berada di sana?.


"Assalamu'alaikum ..", Tiara memarkir sepeda motornya begitu sampai di bengkel.


Ronald dan Ilyas menjawab salamnya.


"Eh ...Tiara...?, lama sekali tidak ke sini, biasa ya, mau service?", Ronald menghampiri Tiara.


"Kok sepi Bang, biasanya tiap kali ke sini, mini cafe itu selalu rame", selidik Tiara.


"Oh ...itu..., iya sih..., sengaja ditutup!, berisik", senyum Ronald.


"Kita ingin hidup tenang", celetuk Ronald.


"Maksudnya?", Tiara balik bertanya.


"Kami ingin belajar beribadah yang benar"


"Alhamdulillah....", senyum Tiara.


"Tapi kita bingung, belajarnya dimana?,apa boleh kalau kami belajar di tempat Tiara?", ucap Ronald hati-hati.


"Kalian mau belajar agama?", tatap Tiara.


"Iya..., kita ingin mulai hidup tenang dan teratur", sambar Ilyas yang tiba-tiba menghampiri.


"Kalau kalian mau belajar, boleh banget, datang saja ke Pondok", senyum Tiara.

__ADS_1


"Datang saja selepas Isya ",


"Iya..., baik, terima kasih", serentak Ronald dan Ilyas.


Tiara tampak sedang menulis di note book, ia sedang menulis daftar kitab yang akan dibelikannya untuk Robi, sambil menunggu sepeda motornya selesai di service.


Sesekali Ronald dan Ilyas saling pandang dan mencuri pandang kepada Tiara. Mereka tidak habis pikir kenapa Dery sampai menyukai Tiara.


Seolah bisa merasakan kalau ada yang sedang memperhatikannya, Tiara pun menatap ke arah Ronaldcdan Ilyas yang berada di depannya.


"Ada apa Bang, ada yang aneh?", tatap Tiara.


"Oh...nggak..., nggak ada", Ronald menunduk, ia kembali fokus pada pekerjaannya, begitu juga Ilyas.


"Kok bisa tahu ya?", gumam Ronald. Ia bicara setengah berbisik kepada Ilyas.


Ilyas hanya mengangkat kedua bahunya, pertanda ia pun tidak mengerti.


"Nah..., sudah beres", Ronald segera bangkit dari duduknya, diikuti Ilyas.


Tiara pun menghampiri, ia memberikan sejumlah uang kepada Ronald, namun ditolaknya.


"Hari ini gratis, untuk pelanggan setia kami", senyum Ronald.


"Oh..., gratis?, jazakallahu khoiiroon katsiro Bang, semoga bengkelnya tambah rame, dan rizkinya berkah", senyum Tiara.


"Aamiin...", serentak Ronald dan Ilyas.


"Nanti jangan lupa kalau mau belajar mengaji, datang setelah isya ya, di sana ada Ustad Dzaqi yang biasa mengajar untuk masyarakat sekitar", jelas Tiara.


"Iya, baik", Ronald mengangguk.


"Saya permisi Bang, Assalamu'alaikum",


"Wa'alaikumsalam...", Ronald dan Ilyas menjawabnya.


Tak lama datang Aleks , apa Gue tidak salah dengar, kalian mau belajar agama dengan dia?", tatap Aleks.


"Iya", tegas Ilyas. Loe mau ikut juga kan?", tatap Ronald.


"Gue?, ah malas , mendingan tidur, atau kumpul bareung teman-teman", cibir Aleks.


"Ya terserah Loe itu, kita nggak maksa, kita sih ingin memulai hidup baru yang lebih baik saja, nanti habis Isya kita berdua ke sana, kalau Loe berubah pikiran, susul kita saja, kemana tadi katanya", Ronald melirik Ilyas.


"Pondok Al-Furqon", jelas Ilyas.


"Ya, Loe susul kita ke sana",

__ADS_1


"Oke...", ucap Aleks datar.


"Bengkel ini sepi tanpa Loe Dery, mereka sudah beda jalan", gumam Aleks sambil berlalu meninggalkan Ronald dan Ilyas.


__ADS_2