Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Obrolan Dari Hati


__ADS_3

"Sudah ya!, kamu jangan bicarakan dugaanmu kepada Ustad Fikri , takutnya Fitnah, jangan karena kamu tertarik sama aku, kamu jadi kamu jadi gelap mata, menghalalkan semua cara, apalagi sampai menyebarkan Fitnah segala, aku tidak suka", gerutu Nyimas, sambil menyimpan piring bekas makan mereka di samping pintu kamar Hotel.


"Iya..., maafkan aku Tiara, aku tidak bermaksud begitu , aku hanya tidak ingin kamu sengsara , nantinya, karena sudah salah menilai orang, apalagi ia akan menjadi teman hidup kamu", bela Robi.


"Iya..., terima kasih, tapi tidak usah begitu juga, kamu hanya mengotori hati dan lidah kamu saja, kamu jadi berprasangka buruk terhadap hal yang belum pasti", ucap Tiara.


"Iya..., aku minta maaf",


'Semoga Allah cepat membuka mata dzohir kamu Tiara, sehingga bisa melihat sisi jelek Robi', batin Robi bicara dalam hatinya.


"Aku ingin tahu kabar Abah sekarang, apa beliau sudah atau belum ya, tapi ponsel aku kan tidak ada", Ucap Tiara dengan nada sedih.


"Ini !, pakai ponsel aku saja", Robi memberikan ponselnya kepada Tiara.


"Tapi aku sendiri tidak tahu harus menghubungi siapa",


"Hubungi Ustad Fikri saja, bukannya dia selalu ada di Kobong?",


"Tapi aku tidak ingat nomernya",


"Hadeuh..., ini bagaimana, masa nomer ponsel calon suaminya saja tidak ingat sih...", goda Robi.


"Iihh..., jangankan nomer ponsel dia, nomer ponsel sendiri saja aku tidak ingat", kekeh Tiara.


Lalu Robi mengotak-atik ponselnya, ia menghubungkan ke nomer Mamihnya.


Tak lama terdengar suara Bu Arimbi dari seberang sana, Robi sengaja mengload speaker ponselnya.


[Assalamu'alaikum sayang, aduh senang kamu menelepon, bagaimana kabarnya, sudah kangen nih],


Mendengar suara wanita yang bicara , Tiara langsung cemberut. "Aduh..., malah nelepon pacarnya lagi, mau kangen-kangenan ya?, aku pergi kalau begitu", Tiara melangkahkan kakinya hendak keluar dari kamar Robi.


"Tunggu...!, eehh...., ini katanya mau bertanya soal Abah, kok malah kabur", Teriak Robi, ia mengejar Tiara dan memberikan ponselnya kepada Tiara.


"Ini Mamih...!", tegaskan Robi sambil tersenyum, ia senang karena tahu Tiara sedang dilanda cemburu.


"Oh...Mamih..., kirain...", Tiara melengos, ia menyembunyikan wajahnya yang kini terasa panas.


"Ini..., bicaralah...!", Robi meletakkan ponselnya di telapak tangan Tiara.

__ADS_1


"Aku senang kamu begitu", senyum Robi, ia melirik Tiara yang sedang tersipu.


[Halo...Nak..., Robi..., kamu masih di situ?], terdengar suara dari ponsel yang sedang dipegangnya.


[ Oh...iya...Assalamu'alaikum Tante, ini saya Tiara], Tiara segera menyahut.


[ Wa'alaikumsalam sayang, Tiara?, ini kamu Nak?, Alhamdulillah kamu sehat di sana?], cecar Bu Arimbi dengan nada gembira.


[I...iya...Tante, saya sehat, saya baik-baik saja di sini, saya ingin tahu kabar Abah bagaimana Tante?],


[Abah...?, Abah Alhamdulillah sudah sadar, Abah sudah pulang ke rumah, kemarin Tante dan Papihnya Robi mengantarkannya ke Pondok, kamu yang tenang, tetap jaga kesehatan di sana, biar bisa langsung pulang begitu cuaca sudah bagus],


[Alhamdulillah..., Tiara senang kalau begitu, tapi entah kapan bisa pulang Tante, Tiara sudah kangen, mana tidak bisa wisuda lagi],


[Sudahlah sayang, jangan pikirkan hal itu dulu, kamu sudah selamat saja, Alhamdulillah, itu semua bisa diatur nanti kalau kamu sudah pulang, kamu baik-baik di sana ya, apa Robi menjagamu dengan baik?, kalau Robi membuatmu susah, bilang langsung ke Tante, biar nanti Tante yang jewer], terdengar Bu Arimbi terkekeh.


Tiara melirik ke arah Robi yang yang sedang melipatkan kedua tangan di dadanya sambil tersenyum.


[Iya Tante, saya juga titip Abah dan Umi], ucap Tiara, kini nada suaranya sedikit sendu, tidak dapat dipungkiri kalau Tiara kini begitu begitu merindukan kedua orang tuanya itu.


Tiara terbiasa bersama mereka, tidak pernah jauh dari mereka, dan ini adalah untuk pertama kalinya mereka berjauhan.


[Iya , terima kasih Tante],


[ Ibu, panggil Ibu saja, jangan Tante], sambar Bu Arimbi.


[Oh..., iya Tan ..., eh...Ibu],


[Robi masih di sana?, Ibu mau bicara ],


Lalu Tiara memberikan ponsel yang dipegangnya kepada Robi. "Ini , Ibu mau bicara lagi", beritahu Tiara.


[Iya Mih, apa lagi?],


[Robi, Mamih titip Tiara ya, jaga dia dengan baik, ingat , dia itu anak orang, harus kamu bawa dalam keadaan sehat, utuh, tidak kurang sesuatupun], terdengar Bu Arimbi terkekeh.


[Iya Mih, tenang saja, percayakan Tiara kepada Robi],


[Kalian baik-baik saja di sana?, kalau ada masalah minta bantuan sama Usep dan Dani, mereka yang akan mengurus semuanya untuk kalian],

__ADS_1


[Iya Mih, tidak ada, hanya sedikit masalah saja, tapi sudah bisa diatasi, hanya saja masih ada rasa takut juga sih, soalnya di sini kita hanya berdua, jadi mau tidak mau kemana-mana harus berdua],


[Kenapa memangnya kalian?],


[Euh..., kami ...., kami sempat di grebeg Mih, gara-gara kita tidur satu kamar, tapi kita tidak ngapa-ngapain kok Mih, kita kepepet saja, hanya nemu satu kamar waktu itu, mana sudah malam, hujan lagi], aku Robi sambil menggaruk kasar rambutnya.


[Apa...?, di grebeg?, kenapa kalian tidak nikah saja sekalian, biar aman saja ],


[Tuh...benar kata Mamih, aku juga sudah kepikiran ke arah sana, tapi ya tidak bisa Mih, Tiara kan sudah jadi calon istri Ustad Fikri, tidak baik Robi tikung],


[Oh...iya juga, tapi ini kan hanya untuk menjamin keamanan kalian di sana saja, tidak usah beneran nikahnya],


Robi lalu menutup ponsel dengan telapak tangannya, ia melirik ke arah Tiara.


"Tuh..., kata Mamih juga, sama, satu ide sama aku", senyum Robi.


[Halo...Robi..., kamu masih di sana kan?], teriak Bu Arimbi.


[Ah...iya Mih .., nanti dibicarakan lagi, Tiaranya masih takut-takut nih],


[Mana Tiara nya, kamu vidio call saja biar Mamih bisa melihat kalian berdua, bukannya dari tadi lagi , vidio call saja, kamu ini bagaimana], terdengar Bu Arimbi kembali terkekeh.


Robi pun ikut terkekeh , ia juga tidak kepikiran vidio call. Lalu dengan cepat ia alihkan panggilannya ke mode vidio call, hingga kini tampak jelas wajah mamihnya yang sedang tersenyum .


[Tuh..., kan, bukannya dari tadi Ah..., mana Tiara, Mamih ingin melihatnya],.


Robi segera mendekati Tiara hingga kini mereka berdiri berdekatan, tak lupa Robi mengarahkan ponselnya ke wajah mereka berdua.


[Nih..., bagaimana Mih, sudah kelihatan kan], Robi tersenyum di samping Tiara.


[Nah...begitu, bukannya dari tadi, sekarang kan Mamih bisa melihat kalian, soal menikah tadi, pikirkan saja dulu, kalau memang banyak manfaatnya untuk kalian berdua, jalani saja, cuma bohongan saja kan]",


[Mamih senang kalian sehat, Mamih juga lega, Tiara ada yang menjaga, ya..., walau belum bisa pulang, sabar saja, nikmati saja kebersamaan kalian di sana], Bu Arimbi tampak tersenyum


Namun tiba-tiba saja hubungan telepon mereka terputus. "Yah...Mih, kok hilang, ini belum kekar ngobrolnya, bagaimana dengan nikah bohongannya", Robi menggoyang-goyangkan ponselnya.


"Sinyalnya jelek, sudah!, nanti rusak lagi ponselnya", tegur Tiara.


"Ya..., sudahlah...", Robi memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya.

__ADS_1


__ADS_2