
Witan, yogi , dan Andra lari tunggang langgang dengan memacu cepat sepeda motor mereka. Sampai berhenti di depan Markas mereka, sama, Markas mereka juga menyatu dengan bengkel milik Eko.
Ketiganya turun dari motor dengan terhuyung. Hal itu membuat kaget Eko yang sengaja hari itu mmenutup bengkelnya.
"Kenapa kalian?", Eko menghampiri ketiganya dengan keheranan. Ia melihat ketiganya baik-baik saja saat pergi tadi pagi.
"Kita dihajar Dery Bos", Witan meringis memegang ulu hatinya.
"Apa?, kalian dihajar Dery?, jadi yang kalian kejar tadi Dery?", Eko menatap ketiga temannya silih berganti.
"Iya Bos, yang kami kejar ternyata Dery, dia makin
tangguh saja, lihat!, kita-kita sampai babak belur begini", Andra duduk di lantai.
"Hah?, apa benar ini ulah Dery?' kita samperin saja ke Markasnya, beraninya dia ", sewot Eko.
"Kalian tunggu saja di sini !, biar aku , Edi dan Gian yang samperin mereka", perintah Eko ia nampak bersiap dengan memakai jaket kebanggaannya.
Eko terlihat mengendarai motor diikuti ketiga temannya menuju bengkel Dery. Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk sampai di sana, karena mereka memacu cepat sepeda motornya.
Jelas saja hal itu membuat kaget Dery. Kedatangan Eko yang tiba-tiba membuatnya terperanjat dan segera menghadang ketiganya.
"Grung....grung....grung...", Eko membunyikan sepeda motornya diikuti dua temannya, hingga keadaan jadi kacau-balau.
"Stop!, jangan bikin ribut di sini?", gertak Dery.
"Kamu harus tanggung jawab, ketiga temanku babak belur karena ulahmu?, mau jadi jagoan Loe?", sewot Eko. Dia dan ketiga temannya turun dari atas motor dan segera menghampiri Dery.
Sekilas Eko melirik sepeda motor Dery, dan tanpa di duga Eko langsung meninju Dery, perkelahian pun tidak bisa di hindari, mereka duel satu lawan satu, namun kali ini Pihak Eko yang unggul.
Ronald ,Ilyas dan Dery pun di buat tidak berdaya oleh Eko dan kedua temannya. Mereka hendak meninggalkan kekacauan itu, namun sebuah suara menghentikan mereka.
"Tungg!",
Semua melirik ke sumber suara, ternyata Rahmat sudah berdiri di sana, ia terbangun karena mendengar kekacauan di luar.
Eko menatap tajam Rahmat, ia baru pertama melihat Rahmat. "Siapa Loe?, berani ikut campur", tatap Eko tajam.
"Gue kerja di bengkel ini, dan kalian sudah bikin keributan dan kerusakan di sini, tidak semudah itu bisa pergi dari sini, semua ada hitungannya Bro", ucap Rahmat lantang.
"Ooh..., jadi Loe menantang kita?, anak baru, berani sekali", Eko menghampiri Rahmat dan langsung meninju wajahnya, tapi Rahmat berhasil menangkap tangan Eko, dan mempelintirnya ke belakang, hingga Eko menjerit menahan sakit.
Edi dan Gian segera menghampiri bermaksud menolong Eko, namun Eko mencegahnnya.
"Tunggu!, lepaskan aku!, kita bisa selesaikan masalah ini baik-baik", pinta Eko. Rahmat pun melepaskan Eko, namun tetap bersikap hati-hati, takutnya ini hanya siasat Eko untuk balik menyerangnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita adakan balapan lagi, siapa yang menang, berarti dialah pemimpin tertinggi kita, dia berhak mengatur komunitas kita", tantang Eko.
Jelas saja Eko berani bicara demikian, karena ia sudah bisa memastikan kalau tim nya pasti menang, karena sudah tidak ada Robi lagi.
Robilah yang selalu memenangkan balapan.
"Bagaimana?, kita balapan untuk menentukan pemimpin tertinggi dari Kita", ulangi Eko.
"Oke, deal, aku setuju", ucap Robi, ia menjabat tangan Eko, disaksikan oleh Dery dan ketiga temannya .
"Bagaimana?, Loe setuju?", Eko melirik Dery yang masih diam, dia agak ciut jika harus balapan dengan Eko.
"Oke!, Gue juga setuju", sahut Dery, yang terpenting Eko dan teman-temannya segera pergi.
"Deal...., kita bertemu di sirkuit, semoga Loe beruntung", Eko menepuk pundak Dery kemudian segea berlalu dari hadapan Dery dan temannya.
"Hai, kenapa Loe malah setujui ? Memangnya Loe nggak tahu siapa mereka?",tatap Dery kepada Rahmat
"Terus Gue harus diam saja, sementara kalian semua babak belur?", bela Rahmat.
"Bukan itu maksud Gue, kalau kita setuju balapan dengan mereka?, siapa orang yang akan melawan Eko balapan, kan kalian pada nggak bisa balapan", tatap Dery.
"Dari pihak kita tidak ada yang tangguh seperti Robi", celetuk Ronald.
"Aww...., memang benar kan?, selama ini tidak ada yang bisa mengalahkan Eko, selain Robi, Loe juga tahu itu kan?", Ronald menatap Dery.
Dery terdiam, ia menerawang, memang benar apa yang dikatakan Ronald, tidak ada yang bisa melawan Eko selain Robi.
"Terus sekarang kita mau gimana?, nggak usah ungkit yang tiada, andalkan kemampuan kita saja, memangnya yang sudah mati bisa kembali?", sewot Dery.
Ia kembali merasa tersisih, sudah tidak ada saja, Robi masih diandalkan.
"Bagaimana kalau Gue ikut maju melawan Eko di balapan nanti", ucap Rahmat.
Dery dan kedua temannya melirik ke arah Rahmat yang masih berdiri.
"Ha....ha....ha....", gelak tawa pun pecah diantara mereka.
"Kamu Rahmat, mau ikut balapan melawan Eko?, ha...ha...ha...., apa tidak salah?, bisa apa kamu?, jangan mimpi?", cibir Dery.
"Ya ..., kan bisa di coba dulu, belum apa-apa sudah menyerah", cibir Robi.
Dery merasa tersinggung dengan ucapan dan tatapan Robi, ia melihat Robi seperti meremehkan kemampuannya.
"Oke!, kamu boleh ikut", seru Dery.
__ADS_1
"Dan kamu harus menang!", ucapnya lagi.
"lho kok begitu?", Rahmat menatap Dery.
"Iya, karena mau begitu, kamu harus menang melawan Eko!", tegas Dery.
"Terus apa imbalannya jika aku menang?", tantang Robi.
Dery diam sejenak, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
"Kalau kamu menang melawan Eko, bengkel ini jadi milik Loe!", ucap Dery sambil tersenyum evil.
"Hah..., yang benar saja Der, masa bengkel ini yang jadi taruhannya", ingatkan Ronald.
"Iya, kalau beneran dia menang, nasib kita bagaimana?", Ilyas menatap Dery.
"Kalian tenang saja, lihat dong dia, Rahmat, apa mampu orang culun seperti itu mengalahkan Eko hah?", kembali Dery tersenyum evil.
"Iya...juga ya...", Ronald dan Ilyas saling pandang. Lalu mereka menatap Rahmat dari atas hingga bawah. Mereka meragukan kemampuan Rahmat.
"Oke deal!, Gue setuju, tenang saja kalian, kalau Gue menang pun, kalian masih boleh kerja di sini", senyum Robi.
"Nggak usah bermimpi dulu,pikirkan saja bagaimana supaya Loe bisa menang melawan Eko, dia itu jago , nah Loe , baru anak kemarin sore", cibir Dery.
Robi mengepalkan tangannya, kupingnya mulai panas dengan semua cibiran Dery.
"Loe licikkin aja si Eko, seperti dulu Robi", Ronald keceplosan, ia refleks menutup mulut dengan tangannya.
"Licik?, licik gimana?", Rahmat menatap Ronald.
Dery memelototi Ronald yang sudah ember, padahal hal itu adalah rahasia yzng semestinya ditutupi.
"Ah...nggak, dasar Ronald saja mulutnya ember", Ilyas meninju dada Ronald.
'Hmm..., licik?, apa mereka yang sengaja membuat blong remku waktu balapan dulu?', pikiran Robi menerawang pada saat diriinya hilang kendali saat balapan akibat rem blong, hingga terjatuh ke tebing.
"Bagaimana, sanggup kan?, dan kalau kamu kalah, kamu harus keluar dari bengkel ini", ucap Dery datar.
"Lho ...kok begitu?", tatap Robi.
"Memang Gue maunya begitu", seringai Dery.
"Oke Deal!, kalian yang menjadi saksinya", tunjuk Rahmat kepada Ronald dan Ilyas.
Kesepakatan pun tercapai, Robi seperti mendapatkan angin, ia akan balapan melawan Eko demi bengkelnya kembali.
__ADS_1