
"Lama kita tidak bertemu, kemana saja kamu, keren, tau-tau kamu sudah jadi begini, tercapai juga cita-cita kamu, padahal dulu, aku paling inget, waktu sekolah kamu itu sering bolos, dari rumah berangkat , tapi belok arah", kekeh Pak Robani.
"Ada apa?, kita ngobrolnya di dalam , biar bisa sambil ngopi", ajak Pak Robani. Ia berjalan lebih dahulu.
"Ayo kita masuk!, kita bicara di dalam", Ajak Pak Rusman kepada rekannya dan kepada Ustad Fikri dan Mang Daman.
Mereka semua duduk di ruang tamu yang luas, dengan sofa yang empuk. Tak lama Bi Mimi datang membawakan minuman dan kue
"Silahkan cicipi dulu, kalian pasti belum sarapan kan?, pagi-pagi begini sudah dinas", senyum Pak Robani.
"Pak bagaimana ini?, kok malah ngopi?, kita kan mau nangkap orang", Ustad Fikri melirik kepada teman Pak Rusman.
"Sebentar, mereka masih perlu waktu, biarkan mereka bicara .
"Jadi Robi itu anak kamu?, aku sendiri masih belum bertemu, andai sudah bertemu, mungkin aku bisa langsung mengenali",
Pak Rusman menyeruput kopi sebelum melanjutkan bicaranya. "Sebenarnya sudah sejak dua hari yang lalu, kami menunggu kedatangan Robi di Kantor, namun sampai hari ini, Robi tidak ada datang, makanya kami datang ke sini untuk menjemput paksa Robi", jelas Pak Rusman.
"Tunggu!, sebentar-sebentar..., aku masih bingung, aku baru pulang kemarin sore, itu pun di jemput Robi, dia bahkan semalam pun tidak bercerita apa-apa, jadi, aku kira tidak ada apa-apa juga", Pak Robani menatap Pak Rusman.
"Robi sudah menabrak Abah dan Umi, mereka bahkan masih di Rumah Sakit", Ustad Fikri bicara, ia sudah tampak kesal sedari awal karena Polisi yang bersamanya terlihat lamban.
"Apa?, Robi menabrak orang?, kok istri saya tidak bicara masalah ini", Pak Robani melirik ke arah ruang keluarga, ia masih dapat melihat kalau Bu Arimbi masih ada di sana.
"Sebentar, saya tanya istri saya dulu, mungkin ia mengetahui masalah ini, karena istri saya yang ada di rumah", Pak Robani berjalan menemui Bu Arimbi.
Mereka tampak bicara, dan Bu Arimbi ikut menemui tamunya.
"Ini istri saya Pak", perkenalkan Pak Robani. ,
Semua pandangan tertuju kepada Bu Arimbi. Paras cantiknya, dan pakaian yang dipakainya sungguh serasi.
Bu Arimbi duduk berdampingan dengan Pak Robani, mereka tampak akur dihadapan tamunya itu.
"Oh ... Iya, mungkin ini ada kaitannya dengan surat yang waktu saya terima, kata penjaga rumah sih itu dari Kepolisian, sebentar...saya masih menyimpannya", Bu Arimbi bangkit dari duduknya dan melangkah menuju lemari tempat ia menyimpan barang-barangnya.
dan tak lama ia kembali dengan membawa secarik kertas .
"Ini mungkin yang dimaksud?, saya lupa, hanya menyimpan saja, bahkan belum sempat dibaca, Robi juga belum mengetahuinya" .
"Nah...ini, ini surat panggilan untuk Robi, tapi karena tidak ada datang juga, jadi kami yang akan menjemputnya", tegas Pak Rusman.
"Sebentar , memangnya Robi sudah berbuat apa?", Bu Arimbi balik )bertanya.
__ADS_1
"Jadi begini Ibu, Robi sudah membangkang, ia telah menabrak lari pasangan Abah dan Umi, kami panggil, sudah dua hari ini mangkir, jadi sekarang kami akan menjemputnya paksa ", jelas teman Pak Rusman.
"Kapan kejadiannya?", Bu Arimbi bertanya kembali.
"Sekitar dua hari yang lalu, hari sabtu sore tepatnya", jelas Pak Rusman.
"Sebentar... , hari sabtu ya...?", saya kurang tahu, hanya saja hari sabtu itu saya juga diantar ke Mall oleh Robi .
"Robi tidak cerita soal itu, dia pun terlihat baik-baik saja, tidak ada luka apa pun yang ia alami", jelas Bu Arimbi.
"Malah sepulang dari Mall, Robi menolong dua korban kecelakaan di depan pasar, Robi juga yang membawanya ke Rumah Sakit, nah....itu Ia panggil mereka Abah dan Umi", jelas Bu Arimbi lagi.
"Ah...ini pasti bohong Pak Polisi, Ibu ini kan ibunya Robi, jadi bisa saja hanya membuat alibi, biar anaknya tidak di tahan", sambar Ustad Fikri.
"Tapi maaf nih, saya masih ragu, apa Robi yang dimaksud itu sama dengan Robi yang kita cari?, siapa tahu hanya sama namanya saja", Mang Daman terlihat penasaran.
"Ini, sesuai dengan alamat dari pemilik sepeda motor yang telah menabrak korban,nah...apa benar ini Robi anak Bapak?", Pak Polisi memberikan Foto Robi kepada Pak Robani.
"Iya..., ini benar. Ini Robi anak saya", jelas Pak Robani.
"Begini saja, dari semalam Robi pergi, saya juga tidak tahu, tapi untuk kepentingan penyelidikan, silahkan saja tangkap anak saya, biarkan hukum yang bicara, nanti juga pasti ada saksi dan bukti kan?", jelas Pak Robani.
"Kalau memang anak saya terbukti bersalah, silahkan adili!, sesuai prosedur hukum yang berlaku", jelas Pak Robani lagi.
"Proses saja secara hukum kalau memang anak saya terbukti bersalah, kerjakan saja tugasmu dengan baik!, jangan pandang ia sebagai anak saya", Pak Robani balik menepuk pundak Pak Rusman.
"Oke!, akan langsung saya kabari begitu anakmu berhasil di amankan ke Kantor",
"Oke, saya tunggu kabar baiknya",
Mereka saling bersalaman, dan setelah itu meninggalkan rumah Robi.
"Ustad, ternyata Deb Robi itu benar, anak orang kaya, jadi uang itu juga sepertinya benar uang Den Robi, pemberian dari orang tuanya, bukan uang hasil kejahatan seperti yang dituduhkan kepadacDen Robi", Mang Daman bicara pelan kepada Ustad Fikri.
"Alah...., jangan sok tahu Mang, kita lihat saja nanti, Robi tidak bisa mengelak lagi", seringai Ustad Fikri.
[Lapor, harap segera tangkap saudara Robi, dimana pun dia berada, dan segera bawa ke Kantor], terdengar suara Pak Rusman bicara lewat ponselnya, ia memerintahkan kepada semua bawahannya untuk segera menangkap Robi.
'Heuh....., rasain kamu Robi, sebentar lagi kamu akan jadi pesakitan', batin Ustad Fikri bicara.
Dari Kantor Polisi, Ustad Fikri kembali menuju ke Rumah Sakit. Di sana ia melihat Tiara sedang bercakap dengan seorang Pria yang tidak dikenalnya.
"Assalamu'alaikum", Ustad Fikri menghampiri mereka, tampak Ustad Fikri dan Mang Daman bersalaman dengan pria itu.
__ADS_1
"Saya Ustad Fikri, calon suaminya Tiara",
"Saya Dery",
'Hhmm...., calon suaminya?', pikir Dery, ia menatap Ustad Fikri.
Tiara tampak kaget, karena Ustad Fikri sudah berani mengakui dirinya sebagai calon suaminya kepada orang yang baru dikenalnya.
Dery hanya basa-basi saja, sembari ia ingin memastikan apa benar Abah dan Umi Tiara orang yang telah ditabraknya .
Setelah yakin, Dery pun pamit, ia meninggalkan Rumah Sakit.
"Bagaimana, apa sudah ada perkembangan mengenai penabrak Abah dan Umi?", Tiara melirik Ustad Fikri. Sebenarnya Tiara tidak suka dengan kehadiran Ustad Fikri, tapi dalam kondisi seperti ini, mau bagaimana lagi, dirinya anak tunggal, tidak ada orang lagi yang bisa menemaninya.
"Sudah, kita tinggal menunggu hasilnya saja, pihak Kepolisian sedang mengejar pelakunya" , jelas Ustad Fikri.
Ia melirik Tiara. 'Kamu pasti akan sangat terkejut jika tahu siapa pelakunya', batin Ustad Fikri bicara.
Sementara Robi , setelah shalat subuh, ia sarapan bubur di samping Masjid. Semalaman ia tertidur di sana. Dan kini kembali bingung, harus pergi ke mana?.
Dari kejauhan tampak sebuah kendaraan bermotor mendekat, mereka dua orang laki-laki berbadan tegap, dengan pakaian bebas yang rapi.
Mereka berdua mendekati Robi. Dan langsung menodongkan senjata begitu sudah berada di depannya.
"Angkat tangan!, mohon kerja samanya, anda kami tangkap atas tuduhan tabrak lari, jangan melawan!, semua nanti jelaskan di Kantor saja.
Robi masih tampak kaget, namun ia tidak melakukan perlawanan apa pun, ia ikut saja apa yang diperintahkan dua petugas Serse itu.
Robi berhasil di bawa Ke Kantor Polisi. Semua orang yang melihatnya, mencibirnya, memakinya, dan mengumpatnya.
Robi pasrah saja, ia di bawa ke Kantor Polisi tanpa perlawanan.
"Untuk sementara anda saya tahan, menunggu saksi dan bukti, kalau nanti anda terbukti tidak bersalah, kami akan lepaskan kembali", jelas Petugas Polisi kepada Robi.
Petugas itu menatapnya tajam. Ia adalah Pak Rusman, sahabat papihnya Robi. Pak Rusnan menatap Robi, ia mengagumi ketampanan Robi.
Berita tertangkapnya Robi, sudah menyebar, termasuk kepada Ustad Fikri. Ia tersenyum senang, karena saingannya untuk mendapatkan Tiara sudah tidak berdaya di balik jeruji besi.
"Umi..., kita sarapan dulu", Tiara menyuapi Umi dengan makanan yang baru diberikan oleh Perawat.
"Umi harus banyak makannya, biar cepat pulang, orang yang menabrak Umi juga sudah di tangkap, sekarang ia sedang di proses secara hukum", kabari Tiara.
"Syukurlah...., semoga dia mendapat balasan yang setimpal dengan apa yang sudah dilakukannya kepada Abah dan Umi", harap Umi.
__ADS_1
Namun sepertinya Umi akan kaget begitu tahu siapa orang yang sedang berada di balik jeruji besi itu, dia adalah orang yang telah menolongnya dari kecelakaan kemarin.