Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Akhirnya Selamat


__ADS_3

Keempat polisi yang ditugaskan untuk menangkap Ustad Fikri , yaitu Wira, Dida, Umar , dan Yana , masih berkeliling dijalanan mencari jejaknya.


Sementara Pak Robani sudah mewanti-wanti Santri untuk berjaga di gerbang di Pondok, mereka ditugaskan untuk mencegah keempat Polisi itu datang ke rumah Abah.


Pak Robani takut keempat Polisi itu langsung bicara soal Ustad Fikri kepada Abah.


Selepas mengantar Ustad Dzaqi dan Ustad Fadil ke Pondok, Pak Robani kembali ke Kantor seorang diri, sementara Badrun diperintahkan untuk tetap tinggal di Pondok.


Kumandang Adzan Ashar sudah berkumandang, semua santri sudah bersiap untuk shalat berjama'ah, termasuk Santri yang berjaga di gerbang.


Hingga saat mobil Wira sampai di sana, mereka bisa masuk dengan leluasa. Mereka langsung menuju rumah Abah.


Kedatangan mereka tidak diketahui oleh para santri.


Wira tampak sudah berada di teras depan rumah Abah, setelah berucap salam dan menunggu beberapa lama, baru Nyimas datang membukakan pintu.


"Saya mau bertemu dengan Pimpinan Pondok ini", ucap Wira to the Point,


"Oh..., Abah?, beliau lagi sakit, tapi Umi juga ada", ucap Nyimas.


"Umi..?, apa boleh bertemu?", ucap Wira lagi.


"Oh..., tunggu sebentar, saya panggilkan dulu", Nyimas kembali ke dalam untuk memanggil Umi.


Untung saja Mang Daman dan Badrun sudah kembali, mereka yang kini duduk bersama keempat Polusi itu.


Dan tak lama Umi pun keluar menemui mereka.


"Umi...", Mang Daman mempersilahkan Umi untuk ikut duduk bersama mereka",


"Ada apa lagi ini?", Umi tampak mengedarkan pandangannya kepada keempat tamunya ysng rasanya sudah tidak asing.


"Ini..., bukannya yang tadi ke sini?" , tanyai Umi.


"Iya Umi, kami yang tadi pagi ke sini, maaf, tadi kami sudah salah orang", rengkuh Wira.


"Kami sudah salah menangkap Ustad Fadil, yang seharusnya, kami itu menangkap Ustad Fikri", jelaskan Dida.


Umi tampak terhenyak, dikiranya sudah selesai, semua santrinya tidak ada lagi yang berurusan dengan pihak berwajib.


"Ustad Fikri?, kenapa lagi dia?", tatap Umi, kini pandangannya pun tertuju pada Mang Daman dan Badrun.


"Umi, maaf, tadi kami tidak berani bicara langsung masalah ini, takutnya bisa mempengaruhi kesehatan Abah, jadi memang beginilah yang sebenarnya, Umi harus mengetahuinya", ucap Mang Daman.


Lalu keempat Polisi itu menceritakan hal yang sebenarnya kepada Umi perihal Ustad Fikri.


"Astaghfirullah..., Fikri...", gumam Umi, Umi tampak shock mendengarnya.

__ADS_1


"Jadi itu rupanya yang membuat Ustad Fikri menghilang?", ucap Umi.


"Menghilang bagaimaba Umi?, kabur maksudnya?", tatap Dida.


"Iya..., sejak tadi Ustad Fikri tidak ada di sini, malah para santri juga sudah mencarinya, tetap tidak ketemu", jelaskan Umi.


"Kalau begitu, kami mohon pamit dulu Umi, kami mau mencari Ustad Fikri, sebelum dia kabur lebih jauh", ucap Umar, dia bangkit diikuti ketiga temannya, mereka kembali meninggalkan Pondok setelah berucap salam.


"Ustad Fikri..., tidak menyangka..., bagaimana dengan Abah jika sampai mengetahui hal ini", Umi menerawang.


"Abah jangan sampai tahu dulu Umi, itu sebabnya tadi kita sengaja tidak membicarakan masalah ini di depan Abah", jelaskan Badrun.


"Iya, terima kasih, Umi mengerti, sekarang masalah anak-anak santri, biar kalian yang urus , Abah supaya pulih dulu kesehatannya", ucap Umi.


"Iya, Umi, jangan khawatirkan masalah anak-anak santri, ada Badrun yang bisa membantu", ucap Mang Daman.


"Terima kasih Nak, walau Abah selalu bersikap kasar padamu, tapi kamu tidak kapok membantu kami di sini", Umi melirik ke arah Badrun.


"Tidak apa Umi, Abah punya alasan bersikap begitu, semoga Abah bisa melihat kebenarannya nanti", senyum Badrun.


Sementara Fikri kini sudah sampai di ujung bukit, sebentar lagi ia akan mencapai jalan raya yang dulu dipakai Robi dan Dery balapan.


"Hah...., sampai juga", Fikri merebahkan tubuhnya di bawah pohon dipinggir jalan raya yang terlihat sudah sepi, hari sudah mulai gelap kini.


Fikri memandang ke lembah yang ada dibawahnya. "Selamat tinggal semuanya, Tiara, teman-teman, Abah, Umi...", gumam Fikri.


"Tapi ingat !, aku akan kembali untuk mengambilnya lagi",geram Fikri.


"Robi...., ini semua gara-gara kamu, sebelum kamu datang, semua baik-baik saja, tapi setelah ada kamu, semua mulai hancur berantakan", Fikri terlihat meninjukan tangannya ke atas tanah.


"Harus kemana aku sekarang?, hari mulai merangkak malam, mana perut minta diisi lagi", gerutu Fikri, ia mulai berdiri dan berusaha berjalan menyusuri jalan.


Kakinya hendak melangkah ke kedai yang menjual nasi goreng, namun itu urung dilakukannya, ia melihat dua orang yang sedang menyusuri jalan.


"Ah..., sial..., Polisi sudah menyebar, rupanya mereka sudah mengetahui aku lari dari Pondok.


"Fikri membelokkan langkah kakinya menuju sebuah pohon, dan ia memanjatnya. "Aku harus mengubah penampilannku, baju koko ini terlalu mencolok bagiku", gumam Fikri.


Setelah dirasa aman, Fikri turun, ia menuju penjual bubur ayam, ia membelinya satu mangkok.


"Mang, aku butuh celana jeans dan kaos, apa Mang punya?, biar saya tukar dengan koko", ucap Fikri iseng kepada penjual bubur.


Tapi...saya hanya membawa satu ini yang dipakai", ucap tukang bubur jujur.


"Ah, tidak apa, saya lagi butuh sekali, ini saya tukar dengan baju-baju ini", Fikri menyodorkan kantong berisi baju koko miliknya.


"Wah..., ditukar dengan itu Den?", tatap tukang bubur.

__ADS_1


"Iya..., bagaimana?, Mang mau kan?",


Sejenak tukang bubur diam, namun setelah Fikri kembali bicara, tukang bubur itu setuju juga, jadilah ia berganti pakaian dengan Fikri, termasuk dengan topinya.


"Sudah..., sekarang aku bantuin Mang jualan, Mang duduk saja, biar saya yang layani, itung-itung ucapan terima kasih saya atas pertolongan Mang", ucap Fikri.


"Tidak usah Nak", tolak tukang bubur.


Namun Fikri memaksa, apalagi kini datang dua orang yang dikiranya Polisi sedang menuju ke arahnya.


"Sudah Pak, Bapak duduk saja, biar saya yang layani pembelinya", ucap Fikri, ia setengah menarik tangan pedagang itu untuk duduk, dan dia yang kini berdiri di depan gerobak bubur.


"Fikri langsung mengisi mangkok dengan bubur, beserta bumbu, lalu ia menyajikan dihadapan pedagang itu, Fikri berlagak menjadi penjual bubur.


"Maaf Pak, apa Bapak melihat ada Ustad muda lewat sini", tanyai Umar dan Yana, Polisi yang sedang mencari Fikri.


"Ah tidak, saya tidak melihatnya Pak", ucap pedagang itu tanpa ada rasa curiga kepada orang yang ada didepannya kini, yang sedang pura-pura melayaninya.


Umar dan Yana balik menatap Fikri yang tampak menyibukkan diri dengan menumpahkan kecap ke dalam botol.


"Bagaimana Mang?, apa melihat Ustad muda lewat ke sini?", tatap Yana kepada Fikri.


"Ah....tidak, sedari tadi kami hanya berdua di sini", alasan Fikri, ia bicara tanpa menoleh.


"Oh..., kalau begitu, kami permisi, terima kasih, maaf sudah mengganggu", Umar dan Yana segera berlalu meninggalkan Fikri dan pedagang bubur yang tampak bingung.


" Apa kamu tidak curiga dengan pedagang bubur tadi, masa tampangnya masih muda dan tampan begitu", ucap Yana .


"Tunggu!!", dia itu...., dia itu orangnya....", Umar segera balik kanan dan setengah berlari menuju gerobak bubur ayam yang tadi dilewatinya.


Yana berlari sambil memberi informasi tentang keberadaan Fikri lewat radio call yang dipegangnya.


****


"Sudah malam Tiara, sebaiknya kita istirahat di sini dulu, baru esok pagi kita temui Abah dan Umi", usul Robi.


Mereka sudah sampai di Bandara dan memutuskan untuk menginap dulu sebelum pulang ke Pondok.


Mereka berdua ingin memberi kejutan kepada orang tuanya sehingga belum memberi kabar akan kepulangannya ini.


"Alhamdulillah bisa kembali ke kota ini lagi, tanpa harus melakukan hal konyol", gumam Tiara.


"Hal konyol apa?",


"Ada aja...", senyum Tiara.


Mereka kini kembali menginap di hotel , sebelum kembali ke Pondok esok pagi .

__ADS_1


__ADS_2