
Di Rumah Sakit
Kondisi Abah sudah makin baik, hampir setiap bangun, Abah menanyakan Tiara, maklum Tiara putri satu-satunya, putri kesayangannya.
Umi juga sudah bingung menjawabnya, alasan apalagi yang harus Umi siapkan pagi ini, sudah pasti Abah akan kembali bertanya.
Untung saja, beberapa Perawat dan Dokter sudah masuk ke ruangan Abah. Mereka memeriksa kondisi Abah, Alhamdulillah..., Abah sudah diperbolehkan pulang.
"Umi, hari ini Abah sudah diperbolehkan pulang, kondisi kesehatannya sudah stabil, hanya saja di rumah harus dijaga pola makannya, jangan banyak pikiran, jangan terlalu cape juga, pokoknya Abah harus mulai mengurangi aktifitas yang menguras tenaga", jelaskan Dokter.
"Alhamdulillah..., terima kasih Bu Dokter", senyum Umi. Begitu pun Abah, ia tampak senang sudah bisa kembali pulang, itu artinya ia akan segera bertemu dengsn Tiara.
"Benar Dok, Abah sudah boleh pulang?", tatap Abah dengan senyum mengembang diwajahnya
"Iya , sekarang Abah sudah boleh pulang, tapi nanti di rumah, Abah harus banyak istirahat, tidak boleh cape-cape, makan yang teratur, dan jangan lupa minum Vitaminnya", jelaskan Dokter.
"Vitamin?, Abah lebih suka madu Bu Dokter, tidak apa-apa?",
"Oh..., boleh Abah..., madu juga baik untuk kesehatan, yang terpenting Abah tidak boleh banyak pikiran, biar tetap stabil kesehatannya", ucap Dokter sambil tetap tersenyum.
"Tuh..., dengarkan apa kata Bu Dokter, mulai sekarang, biarkan urusan Pondok dan para santri dipegang oleh Ustad Fikri saja, Abah sudah harus pensiun", senyum Umi.
"Ah...tidak ada pensiun Umi, untuk menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu itu tidak ada pensiunnya", tegas Abah.
"Iya, Umi ngerti, tapi kesehatan Abah itu yang utama, kalau Abah sehat kan Abah masih bisa ke Masjid, ke Madrasah, tapi ingat, jangan cape-cape !, semampunya saja, jangan memaksakan",
"Nah...itu benar, Abah akan cepat pulih karena ada Umi yang merawat di rumah, ini ada resep yang harus ditebus, kalau sudah siap , boleh langsung pulang saja, semua biaya sudah dibayar", senyum Dokter.
"Saya tinggal dulu ya Abah , lekas sehat lagi, Umi, semoga kapok tidak ke sini lagi", senyum Dokter.
"Iya Bu Dokter",
"Mari Abah ,Umi saya permisi, Assalamu'alaikum",
"Wa'alaikumsalam", jawab Abah dan Umi hampir bersamaan.
"Umi..., suruh Tiara jemput kita!",
"Euh..., iya..., nanti Umi telepon dulu Tiaranya",
__ADS_1
"Seharusnya Tiara sudah datang, walau ke Kampus, dia kan masih bisa mampir ke sini dulu", ucap Abah , ia tampak kecewa karena Tiara sudah beberapa hari belum juga datang ke Rumah Sakit.
"Mungkin masih ada urusan Abah..., sabar saja, nanti juga Tiara pulang",
"Pulang...?, memangnya sedang ke mana Tiara?",
'Astaghfirullah...', pikir Umi.
"Maksud Umi , nanti juga kalau urusan Tiara selesai, Tiara pasti akan pulang ke rumah, kalau sempat ya mampir ke sini", ralat Umi, ia agak terkejut karena hampir saja keceplosan.
"Abah makan dulu saja, minum obatnya, nanti Umi akan menghubungi Tiara untuk menjemput kita", ucap Umi, ia mengambil tempat makan Abah dan menyuapinya, setelah itu memberikannya obat.
"Abah istirahat, Umi mau menghubungi Tiara dulu, Umi mau pinjam ponsel Neng Perawat yang ada di luar", pamit Umi.
"Iya..., terima kasih Umi", Abah menatap lekat Umi Anisa, wanita yang selalu setia mendampinginya saat suka dan duka.
"Sudah..., Abah istirahat saja dulu, Umi ke luar dulu sebentar, Assalamu'alaikum",
"Wa'alaikumsalam", jawab Abah, setelah itu mulai memejamkan matanya, mungkin efek obat yang tadi diminumnya, kini matanya terasa berat.
Umi segera ke luar dari kamar rawat, ia mencari Perawat yang biasa merawat Abah.
"Wa'alaikumsalam..., Pak Robani?, Bu Arimbi?", Umi tampak senang.
"Alhamdulillah..., Umi lagi bingung, tadinya mau minta tolong kepada Neng Perawat untuk menghubungi Bapak dan Ibu, eh..., ternyata bertemu di sini",
"Memangnya ada apa Umi?", tatap Bu Arimbi.
"Itu..., Abah sudah boleh pulang hari ini, Umi bingung, bagaimana caranya, Tiara kan belum pulang, belum nanti kalau sudah sampai du rumah, pasti Abah akan bertanya soal Tiara, Umi takut Abah kaget lagi kalau tahu soal Tiara, selama ini Umi bilang kalau Tiara sedang sibuk",
"Oh..., begitu, itu biar kami yang urus, sekarang siap-siap saja kita pulang, biar saya yang antar", tawari Pak Robani.
"Terima kasih Pak, Bu, saya itu sering sekali merepotkan", Umi menunduk.
"Tidak Umi, tidak merepotkan, memang kami sengaja ke sini untuk menengok Abah, ya kalau sudah boleh pulang, Alhamdulillah, kita siap-siap saja untuk pulang", ajak Pak Robani.
Kini mereka memasuki kamar rawat Abah, Pak Robani mulai mengangkut satu per satu barang milik Abah yang akan dibawa pulang ke dalam mobil.
Bu Arimbi juga ikut membantu membereskan barang-barang Umi.
__ADS_1
"Aduh ..., jadi merepotkan Bu, biasanya ada sopir?", Umi merasa tidak enak, karena Bu Arimbi dan Pak Robani yang kini membantunya, padahal mereka berdua itu para pimpinan perusahaan, pengusaha sukses , tapi mereka tidak segan menolong Abah dan Umi.
"Sudah Umi, jangan begitu, kita sudah seperti keluarga", senyum Bu Arimbi.
Setelah semua beres, Umi baru membangunkan Abah dengan perlahan. Abah pun membuka kelopak matanya. Lama ia melihat kesekeliling ruangan, "Tiara mana Umi?, apa dia sudah ke sini?, kita kan mau pulang", tatap Abah.
Umi terdiam, ia bingung harus berkata apa, untung saja Pak Robani segera bicara.
"Tiara ada Abah, dia sedang bersama Robi, mereka baik-baik saja", senyum Pak Robani.
"Nak Robi...?",
"Iya, sekarang kita pulang saja dulu, nanti juga Tiara pulang ke rumah", senyum Pak Robani.
"Ya sudah, kita pulang saja, Abah juga sudah kangen sama anak-anak santri", Abah bangkit dari tempat tidur dibantu Pak Robani.
Tak lama mereka sudah berada di dalam mobil, kini Pak Robani yang menyetir sendiri, karena Badrun masih berada di rumah Abah.
Bu Arimbi inisiatif menghubungi Badrun untuk siap-siap di rumah Abah.
"Alhamdulillah Abah pulang hari ini, kita beres-beres rumah, dan ingat, jangan ada yang bicara soal Tiara , bilang saja tidak tahu, biar Pak Robani saja yang bicara sama Abah soal Tiara", ucap Badrun .
Semua santri yang ada di rumah Abah, saling bantu membereskan rumah Abah, Nyimas pun sama, ia berkutat di dapur, memasak.
Ustad Fikri yang baru bangun pun merasa heran, dari teras kobongnya ia bisa melihat kesibukan para santri di rumah Abah.
"Mau ada apa lagi sekarang?, kebiasaan sekali, mentang-mentang sudah ada Badrun, aku selalu tidak ikut dilibatkan", gerutu Fikri, ia segera masuk kembali ke dalam Kobongnya, ia juga bersiap untuk menghampiri rumah Abah.
"Ada apa ini?, kalian beres-beres rumah Abah?", tanyai Ustad Fikri begitu sampai di teras rumah .
"Eh...Pak Ustad, ini Abah sudah di jalan, hari ini pulang", kabari santri yang ada di sana.
"Oh..., Abah pulang...?, kenapa saya sampai tidak tahu, saya ini kan calon mantunya Abah, harusnya saya yang lebih dulu tahu, kalian tahu dari siapa?", tatap Fikri.
"Bang Badrun yang bilang Ustad", aku Santri.
"Ssttt...., dia lagi-dia lagi..., di sini masih ada saya, kenapa harus dia?, kalian tahu siapa dia?, dia itu narapidana, dia itu baru keluar dari Penjara, dia itu Penjahat..., tahu kalian?", geram Fikri, ia sudah diliputi rasa marah.
"Hah....?, narapidana?", kompak para santri.
__ADS_1