
Robi masih berkendara di jalan raya, ia masih saja tidak memperhatikan sekitar, padahal jaraknya dengan Eko dan Andra makin dekat.
"Mungkin aku harus mulai menjaga jarak dengan Tiara, itu akan lebih baik untuk aku dan Tiara", gumam Robi.
Ia masih saja memikirkan Tiara.
"Bos kita apakan dia?", Andra melirik ke arah Eko yang sedang fokus menguntit Robi .
"Tanpa di duga, Eko melesat cepat saat jalanan terlihat lengang. Ia sudah berada di samping motor Robi.
Dan dengan cepat ia menendang sepeda motor Robi dengan kaki kanannya.
"Brakkk......, Allahu Akbar.......", seketika sepeda motor Robi terjatuh di jalanan, tubuh Robi pun ikut tergusur seiring meluncurnya motor Robi di atas aspal.
Kejadiannya begitu cepat, sepeda motor Robi baru berhenti setelah menabrak trotoar, dan Robi pun terkapar di sana.
Eko tertawa puas, dia melesat kembali tanpa menengok lagi Robi. Andra pun sama, ia hanya melihat Robi sekilas dan tersenyum puas, setelah itu ia pun mengikuti Eko meninggalkan Robi begitu saja.
"Kecelakaan....., ada kecelakaan.....", teriak seorang pengendara yang kebetulan lewat. Ia berhenti tepat di dekat Robi dan sepeda motornya yang sama-sama tergeletak.
"Mas...ayo tolong!! ,kok malah dilihatin saja", seru seorang ibu.
"Jangan Bu, kita harus tunggu Polisi dulu, kalau ada apa-apa, kita yang disalahkan",
"Aduh....kasihan Mas, kalau dia masih bisa diselamatkan satu detik pun akan sangat berharga untuk nyawanya",
"Kok malah dilihatin , ayo tolong!!", teriak para pengguna jalan yang kini sudah mengerumuni Robi.
Untung ada salah seorang dari mereka yang inisiatif menelepon nomor darurat. Tak lama, sebuah sepeda motor dengan suara sirine mendekat dan melerai kerumunan itu.
Petugas Polisi itu mendekati dan mulai mengecek kondisi Robi. Helma di buka.
"Ya...Allah...Robi?", teriak seorang pengendara. Dia adalah Badrun, ia baru mengantar Pak Robani ke Kantor Polisi .
"Pak ...Pak...itu teman saya, kita langsung bawa saja ke Rumah Sakit, ayo bawa masuk ke mobil saja!", pinta Badrun.
Badrun turun dari mobilnya, ia menghampiri Robi. "Bagaimana, bagaimana kondisinya?, apa masih ....", Badrun menatap Robi yang masih terpejam, ada leleran darah segar keluar dari sela-sela mulutnya.
"Ya...Allah..., selamatkan Robi", lirih Badrun. Ia tidak ingin hal buruk menimpa orang yang sudah berjasa dalam hidupnya.
"Sepertinya, masih hidup, kita tunggu ambulance, sebentar lagi datang", ucap Petugas Polisi itu .
Kembali suara sirine dari mobil ambulance terdengar mendekat, Robi pun kini sudah berada di atas tandu dan dimasukkan ke dalam ambulance dan segera dilarikan ke Rumah Sakit.
Badrun mengikutinya dari belakang, setelah ia mengabari Pak Robani dan Bu Arimbi terlebih dahulu.
Robi langsung ditangani begitu sampai di sana. Semua prosedur penyelamatan sudah dilakukan oleh petugas yang ada di bagian UGD Rumah Sakit.
Tak lama , Pak Robani dan Bu Arimbi pun datang. Bu Arimbi langsung menangis begitu mengetahui Robi dalam keadaan koma.
Ada benturan keras di kepala, tangan dan kaki Robi pun terluka akibat gesekan dengan aspal jalanan.
"Kenapa bisa terjadi?, Robi bukan pertama kali berkendara, kenapa sampai bisa terjatuh segala", lirih Bu Arimbi.
"Mih..., namanya juga kecelakaan, siapa yang mau, tidak ada yang tahu, kita tawakal saja, berdo'a saja, Robi cepat sadar", Pak Robani menggandeng istrinya mengikuti bed pasien yang membawa Robi ke ruang ICU.
"Robi mau kemana sih Pih?",
__ADS_1
"Tadi Papih menunggunya di kantor Polisi, hasil penyelidikan dari penyebab terbakarnya bengkel Robi sudah keluar, tadinya kita mau membicarakan itu dengan Pak Rusman", terangkan Pak Robani.
"Kenapa bisa terjatuh, apa Robi terlibat tabrakan dengan pengendara lain?", Bu Arimbi melirik ke arah Badrun.
"Saya kurang tahu Bu, tadi waktu lewat, Robi sudah dalam posisi tergeletak di jalan",
"Ya....Allah...Robi....", Bu Arimbi kembali menangis, hatinya sangat khawatir, apalagi kini Robi hanya bisa terlentang di atas kasur, dengan mata terpenjam dan tubuhnya dipenuhi alat-alat medis.
"Dok..., bagaimana keadaannya?, kapan dia bisa sadar?", tatap Bu Arimbi pada Dokter.
"Kondisinya sudah stabil, kita akan pantau terus, usahakan ajak bicara terus, ceritakan hal-hal yang ia sukai, apalagi kalau didampingi orang yang dekat dengannya, itu akan sangat membantunya untuk cepat sadar", jelaskan Dokter.
"Saya tinggal dulu, kalau ada perubahan apa pun segera hubungi perawat", ucap Dokter.
"Baik Dok, terima kasih", Pak Robani mengantar Dokter , lalu menutup pintu ruangan tempat Robi di rawat.
"Pih..., malam ini biar Mamih yang di sini jaga Robi, Papih selesaikan saja urusan Papih dengan Pak Rusman", tatap Bu Arimbi.
"Benar ?, Mamih bisa di sini sendiri?",
"Iya Pih, di sini kanbanyak Perawat juga, jadi Mamih tidak apa-apa sendiri juga, kita bagi-bagi tugas saja", tatap Bu Arimbi
"Baiklah kalau begitu, segera hubungi Papih kalau ada apa-apa", Pak Robani mengelus kepala istrinya, ia kembali menatap Robi yang kini tidak berdaya, hatinya sangat sedih, ia tidak menyangka di saat hubungannya dengan Bu Arimbi mulai membaik, Robi malah tergolek lemas begitu.
"Papih pergi Mih, Assalamu'alaikum",
"Wa'alaikumsalam", Bu Arimbi menatap punggung suaminya yang segera menghilang dibalik pintu bersama Badrun.
Bu Arimbi kini sudah duduk disamping Robi yang masih terpejam, namun detak jantungnya masih terpantau normal.
"Robi..., ini Mamih Nak, kamu bangun!, ini Mamih di sini", Bu Arimbi menempelkan tangan Robi kepipinya.
"Mamih selalu melarang kamu balapan, ini yang Mamih takutkan, Mamih takut kehilanganmu Nak, Mamih sudah tenang, Mamih sudah senang , kamu mau tinggal di Pondok, Mamih sudah sangat bahagia melihat kamu berubah Nak, tapi hal yang Mamih takutkan, kini terjadi juga", Bu Arimbi mengelus kepala Robi.
Tidak terasa cairan bening mendesak keluar dari kedua kelopak matanya, membasahi tangan Robi yang sedang ia dekap.
Saking kacau pikirannya, Bu Arimbi sampai tidak sempat mengabari Abah dan Tiara soal Robi.
Seharian itu Bu Arimbi menemani Robi , ia bercerita banyak hal tentang masa kecil Robi, mungkin itu bisa membantu membuat Robi segera sadar.
*****
Di pondok, kumandang adzan maghrib sudah berkumandang. Seperti biasa, semua santri sudah mendatangi Masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah. Termasuk keluarga Abah.
Namun ada yang berbeda, Robi tidak ada diantara mereka. Ustad Fikri yang kini menjadi imamnya.
Sampai semua selesai mengaji dan kembali ke Kobong, Robi tidak nampak kehadiran Robi di sana.
Abah dan keluarga sudah mau kembali ke rumah saat bertemu dengan Mang Daman di halaman Masjid.
"Nak Robi mana Mang", tanyai Abah.
"Den Robi?, Mang juga tidak tahu, sedari siang tadi sudah tidak ada di kobong", jelaskan Mang Daman.
"Jadi sejak pergi dari tadi, belum kembali?", tatap Umi.
"Iya Umi, saya juga tidak tahu, malah tidak sempat bertemu dulu sebelum Den Robi pergi",
__ADS_1
"Eum...., kemana dia, tidak biasanya begini, kalau pergi pun, tidak pernah lama, Robi tidak pernah melewatkan waktu Maghrib di Pondok", Abah menerawang jauh, mengira-ngira Robi sedang ada di mana.
"Tadi Robi pergi membawa sepeda motornya Abah", ucap Tiara.
"Oh..., mungkin terjebak macet, nanti juga pulangnya ke sini", Abah mencoba menenangkan suasana.
"Iya, mungkin agak malam pulangnya, mari Mang, Abah duluan", pamit Abah.
Abah dan keluarga segera meninggalkan Masjid.
Ustad Fikri memperhatikan mereka, "Kemana si sombong itu, tidak ada sehari saja mereka sudah ribut, apa istimewanya kamu , Robi !!!", geram Fikri.
"Aku harus ambil keuntungan , dengan tidak adanya Robi, aku akan segera menemui Abah untuk menagih janji, Tiara kan sebentar lagi wisuda, sudah saatnya ", seringai Fikri.
Sampai shubuh tiba, Robi tidak tampak juga kehadirannya, Mang Daman dan Abah tampak kembali membicarakannya.
"Sudah coba dihubungi Abah?", tanyai Mang Daman.
"Sudah ..., tapi ponselnya mati, dari semalam juga sudah Abah coba hubungi",
" Ke mana Den Robi ya....?, coba hubungi Pak Robani saja, siapa tahu Den Robi ada dirumahnya Abah", usul Mang Daman.
"Oh...iya..., baru kepikiran Mang", Abah menepuk dahinya.
"Sudah, nanti Abah hubungi saja di rumah, mari Mang, Abah duluan", Abah bergegas menuju rumah.
Sesampai di rumah, Ustad Fikri sudah ada , duduk di kursi yang ada di teras depan, ia membawa bungkusan berisi kupat Mang Amat, untuk mengajak Abah dan keluarganya sarapan, sekalian membicarakan kelanjutan hubungannya dengan Tiara.
Abah mempersilahkannya masuk, dan mereka sarapan bersama.
"Terima kasih Ustad, sudah merepotkan pake membawa kita kupat segala", senyum Umi.
"Tidak apa Umi, kan kita sebentar lagi jadi keluarga ya Abah?, Tiara sudah mau wisuda kan?, saya sudah bisa melamarnya kan Abah?", senyum Fikri sambil menatap Abah dan Umi bergantian.
"Uhuuuukkk...", Tiara yang sedang mengunyah mendadak tersedak, ia merasa tersentak mendengar ucapan dari Ustad Fikri barusan.
"Iya...Abah masih ingat, nanti kita bicarakan lagi, Abah dan Tiara juga sudah bicarakan hal itu, tinggal menunggu hari dan tanggal baik saja, setelah Tiara Wisuda, kita laksanakan saja, bukan begitu Neng?", Abah melirik ke arah Tiara.
"Iya, Inshaa Allah....Abah",lirih Tiara.
*****
"Ti....a.....ra..., Ti...a...ra...",
Bu Arimbi terperanjat, ia kaget sekaligus senang.
"Robi...., kamu sadar Nak?", Bu Arimbi menatap Robi yang masih terpejam.
"Kamu bilang apa tadi?", Bu Arimbi kembali memegang tangan Robi.
Namun kini Robi kembali diam dan terpejam.
"Apa yang kamu bilang tadi?", Bu Arimbi mencoba mengingat kembali kata yang sempat Robi ucapkan tadi.
"Ah....Tiara...., iya Tiara...., kenapa baru ingat, Tiara yang bisa membuatmu sadar kembali Nak", senyum Bu Arimbi.
Nah....bisakah Tiara membuat Robi kembali sadar?, setelah ia setuju untuk menikah dengan Ustad Fikri?, ikuti terus kelanjutan ceritanya ya......
__ADS_1