
"Assalamu'alaikum, Abah, Umi , apa Gilang ada di sini?", Ustad Fikri dengan wajah panik bertanya.
"Gilang?,tidak ada, memangnya di kobong juga tidak ada?", Umi balik bertanya.
"Iya Umi, tadi saya tinggal ke depan, pas kembali ke kobong, ia sudah tidak ada", jelaskan Ustad Fikri.
"Ada apa Umi, Gilang tidak ada di kobong?", Tiara yang mendengar obrolan Umi dan Ustad Fikri langsung keluar dari kamarnya.
"Iya, Gilang tidak ada di kobong", ulangi Umi.
"Aduh...kenapa bisa, gerbangnya tinggi, jadi Gilang tidak mungkin pergi lewat depan", Tiara melirik sinis Ustad Fikri.
"Maafkan saya tapi ini bukan hal baru, setiap saya ada urusan, Gilang selalu ditinggal di Kobong", jelaskan Ustad Fikri.
"Dasar tidak bisa dipercaya", gumam Tiara, ia melewati Ustad Fikri dan bergegas menuju belakang kobong.
"Tiara tunggu!, Ustad Fikri mengejar dan mengikuti Tiara. Mereka menyusuri sungai ke arah hulu.
Ustad dzaqi dan Ustad Fadil pun mengikuti dari belakang.
"Gilang..., Gilang..., dimana kamu?", teriak Tiara.
"Aduh..., kemana kamu Dek..., ini sudah mau gelap", Tiara bergumam.
"Teteh...., Teteh....", sebuah suara menghentikan langkah kaki Tiara, ia melirik ke sumber suara, dan itu Gilang.
"Alhamdulillah...Dek...., kenapa ada di sini?, sudah mau gelap, main kok jauh sekali, kan sudah Teteh bilang, jangan main jauh-jauh@",
"Iya Teh, maaf. Tadi aku bosan di kobong sendiri, jadi milih main saja, eh...malah digigit kepiting, untuk ada Aa ganteng datang membantu, dan mengobati luka Gilang, di beri makanan juga, tuh...sudah habis ", Gilang menunjuk sampah bekas makanan.
"Siapa?, Aa santri?", tanya Tiara.
Gilang menggeleng, ia memegang tangan Tiara.
"Teteh, Gilang mau tinggal dengan Teteh saja", rajuk Gilang.
"Memangnya, kenapa kalau tinggal bersama Pak Ustad?", selidik Tiara.
"Pak Ustad sering pergi-pergi", jujur Gilang.
Tiara melirik ke arah Ustad Fikri yang menunduk.
__ADS_1
"Ya sudah , hari ini Gilang pulang ke rumah Teteh", senyum Tiara.
"Asik...Asik", Gilang berjingkrak.
'Siapa yang sudah menolong Gilang', Tiara bicara dalam hati sambil menuntut Gilang pulang, mengikuti para Ustad yang berjalan di depannya.
*
*
Hari itu Robi tidak pulang ke rumahnya ataupun ke bengkel milik Dery, ia memilih terus berlatih di rute balapan, dan beristirahat di Masjid terdekat. Baru setelah shubuh dia kembali ke bengkel sebagai Rahmat.
Bengkel masih tutup saat ia tiba di sana, Robi langsung saja menuju kamar kostnya.
Saat bengkel buka, Robi melihat Marisa sudah ada di sana, sepertinya ia semalam tidur lagi di bengkel.
"Kita tengok kembali Tante Arimbi di Rumah Sakit, biar kamu yakin kalau Robi masih hidup, siapa tahu hari ini kita bisa bertemu dengan Robi", Marisa menatap Dery.
"Iya..., aku juga penasaran, dan semoga saja kita bisa memergoki Robi di sana",
Setelah beberapa saat mereka di dalam, kini Dery dan Marisa bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit.
"Bro, kami pergi dulu, ada urusan penting", pamit Dery sebelum meninggalkan bengkel.
Lain halnya dengan Robi, ia sedang mengotak atik sepeda motornya. Yang dia rasa ada masalah, langsung di cek dan diperbaiki, kini Robi tidak mau mempercayakan sepeda motornya kepada orang lain lagi, ataupun temannya, dia tidak ingin kejadian dulu terulang lagi.
Sampai datang seseorang yang mengejutkannya.
"Assalamu'alaikum...", Tiara ternyata kembali ke bengkel.
"Wa'alaikumsalam...", Robi menatap Tiara, begitu pun Tiara, ia tidak menyangka bertemu dengan Rahmat kembali.
"Rahmat...?, kamu kerja di sini?", Tiara menunduk, setelah untuk beberapa saat pandangan mereka terkunci.
"I...iya..., saya kerja di sini", gugup Rahmat. Entah kenapa ada getaran aneh dihatinya, begitu ia menatap mata lentik Tiara.
"Kok baru kelihatan hari ini, padahal saya sudah beberapa kali ke sini", senyum Tiara, sayang Rahmat tidak bisa melihat senyuman bahagia Tiara, karena tertutup niqob.
"Iya...kemarin-kemarin saya ada urusan di luar", senyum Rahmat.
"Ada yang bisa dibantu?", tanya Rahmat.
__ADS_1
"Oh...ini , mau ganti oli, sama minta di cek anginnya", Tiara menunjuk sepeda motornya.
"Baik..., tunggu sebentar", Robi segera menangani sepeda motor Tiara. Tiara memperhatikannya sambil sesekali mengajak ngobrol Rahmat dalam sela-sela pekerjaannya.
"Lihat!, si Rahmat kok kayak sudah akrab dengan wanita ninja itu, seperti sudah kenal lama saja", Ronald menyikut lengan Ilyas yang sedang memainkan ponselnya.
"Aah... Loe, jadi salah pencet nih", gerutu Ilyas.
"Kamu ya..., mentang-mentang tidak ada Dery, bisa berbuat seenaknya, sedari tadi, malas-malasan mulu", Ronald kini menjitak kepala Ilyas.
"Ya...biarin saja, kan itu tugasnya Rahmat, melayani pelanggan dengan baik", senyum Ilyas, ia hanya melirik sekilas ke arah Rahmat dan Tiara.
"Iya..., tapi Gue melihat ini berbeda , seperti ada sesuatu diantara mereka, terlihat dari gerak-geriknya", keukeuh Ronald.
"Ya...terserah Loe saja lah..., Gue mah tidak peduli, masa bodoh", Ilyas mendengus kesal karena Ronald terus mengganggu konsentrasinya yang sedang bermain game online.
"Iihh...dasar kamu ya", Ronald meninggalkan Ilyas dan menghampiri Robi.
"Sepertinya pelanggan kita bertambah lagi nih, nanti setiap sudah sepuluh kali kunjungan ke bengkel ini, kami akan memberikan satu kali service gratis", jelaskan Ronald begitu berada di dekat Robi dan Tiara.
"Oh ...Alhamdulillah, ini dalam rangka apa?", Tiara melirik sekilas ke arah Ronald.
"Itu memang kebijakan baru dari kami, setelah kepemilikan bengkel diganti sama Bos Dery", jelas Ronald.
"Oh..., sebuah penawaran yang menarik, memangnya bengkel ini sebelumnya milik siapa?", tanya Rahmat.
"Dulu, bengkel ini milih Dery dan Robi, tapi karena Robi sudah meninggal, jadi kini pemiliknya tunggal, Bos Dery", ucap Ronald.
"Oh....begitu", Tiara mengangguk, ia tidak menaruh curiga kalau Robi itu adalah orang yang sama, yang ia tolong bersama Mang Daman.
"Saat Robi masih ada, bengkel ini juga rame ya?", Rahmat kembali bertanya, padahal tanpa Ronald ketahui, ini adalah pertanyaan jebakan dari Rahmat.
"Ya...tentu saja rame, Robi itu pemilik saham terbanyak di sini, Robi mah orangnya baik, tajir lagi", ucap Ronald bangga.
"Oh...kasihan ya..., biasanya begitu, orang yang baik itu selalu cepat dipanggil oleh Allah SWT, berbeda dengan orang yang tidak baik, selalu panjang umur", senyum Tiara.
"Lah...kalau begitu, aku memilih jadi orang yang tidak baik saja, biar dipanjangkan umurnya", kekeh Rahmat.
Tiara kembai diam, ia sepertinya tidak asing dengan kekehan itu, ia melirik Rahmat sekilas. Dari dekat memang ada gurat kemiripan dengan Robi.
"Ini sudah selesai", Robi menyerahkkan sepeda motor yang sudah selesai di service kepada Tiara.
__ADS_1
"Oh...iya...terima kasih, Tiara langsung menunduk saat ketahuan sedang memperhatikan Rahmat.
"Terima kasih Mas", Tiara menunduk menyembunyikan wajah merahnya. Ia segera membayar dan melaju kembali ke arah kobong.