
Bu Arimbi sedang menunggu Pak Robani pulang, ia belum membicarakan soal Risman dengannya.
Namun sampai waktu jam pulang Kantor, Pak Robani belum juga ada tanda-tanda pulang, beberapa kali Bu Arimbi cek ponselnya pun mati, tidak bisa dihubungi.
Sementara Risman sudah merengek lagi ingin pergi ke Pondok, ia ingin bertemu Gilang lagi.
Sepertinya Risman sudah betah dengan suasana di Pondok.
"Apa antar dulu Risman ke Pondok, sekalian mau melihat hasil produksi Tiara , nanti tinggal ditambah beberapa sulaman kecil di bagian lengan dan kancingnya saja", gumam Bu Arimbi.
Ia mencoba mencari keberadaan Risman di taman belakang, benar saja, Risman sedang bermain ayunan di sana, ia tampak sedang melamun.
"Kita ke tempat Gilang sekarang?", Bu Arimbi berjongkok di depan Risman.
"Asik..., sekarang Bu?", sumringah Risman, ia langsung meloncat turun dari ayunan.
"Iya..., sudah sana kamu siap-siap dulu, Ibu tunggu di depan ya?", Bu Arimbi mengelus lembut kepala Risman.
"Bu, boleh nginap di sana?", Risman bicara hati-hati.
"Nginap? Mau nginap juga?, oh...iya besok kan hari libur ya..., ya sudah..., kamu boleh nginap di sana, tapi janji jangan sering-sering, nanti Ibu kesepian lagi di sini",
"Iya..., euh...sehari saja nginapnya", senyum Risman.
Bu Arimbi segera menyiapkan mobil, kali ini ia pergi tanpa sopir, karena ia takut nanti malah ikut menginap di sana.
"Bi...,saya dan Risman pergi ke Pondok dulu, beritahu tahu Bapak juga kalau nanti pulang",
"Iya...Nyonya",
"Hati-hati di rumah, langsung kunci saja, takutnya saya langsung menginap di sana", pesan Bu Arimbi.
"Baik Nyonya", rengkuh Bi Mimi.
"Saya sudah siap Bu", teriak Gilang, ia tampak ceria.
"Sana duduk di depan, langsung pake seat belt nya ya", perintah Bu Arimbi.
"Iya Bu...",
"Saya berangkat dulu Bi, Assalamu'alaikum",
"Wa'alaikumsalam", senyum Bi Mimi. Kini Bu Arimbi pun sudah membiasakan untuk berucap salam saat bertemu ataupun berpisah.
Bu Arimbi segera memanaskan mobilnya dab segera melaju di jalanan menuju Pondok.
Bi Mimi segera menutup pintu dan menguncinya , sebagaimana pesan Bu Arimbi.
"Alhamdulillah...semoga keluarga ini makin rukun, dan kembali seperti dulu", harap Bi Mimi.
****
"Hai Der, ini tuh Robi , orang yang aku benci....", teriak Fikri.
"Sabar Kak, nyantai dulu..., tenang..., tenang..., nanti kita ngobrolnya setelah beres ngurusin ini motor", jelas Dery.
Ia berusaha menenangkan Fikri yang tampak marah hanya dengan melihat fotonya Robi saja.
Untung saja pemilik sepeda motor yang sedang diperbaiki Dery sedang tidak ada , kalau tidak, bisa malu juga.
Dery segera mempercepat kerjanya, ia juga ingin segera membicarakan masalah Robi dengan Kakak iparnya itu.
"Sudah beres motornya A?", tanya pemilik motor yang sedang diperbaiki oleh Dery.
__ADS_1
"Oh...ini tinggal isi bensin saja, lalu coba dulu ya Pak?", ucap Dery.
"Baik A",
Dery mengisi bensin dan menyuruh pemiliknya mencoba untuk menjalankannya.
Setelah di starter, sepeda motor yang semula mati total, kini sudah bisa berjalan lagi.
"Wah...hebat A, ini sudah bisa berjalan lagi, jadi berapa semuanya?",
"Biasa , seratus ribu saja Pak, ini tadi tidak ada spare part yang diganti",
"Wah..., terima kasih A, nanti saya langganan di sini saja, sudah bagus, murah lagi", senyum pemilik motor.
"Iya Pak, sama-sama",
Dery segera menghampiri Fikri yang tampak sedang menghisap sigaret, ia masih tampak kesal.
"Hebat juga kamu, pintar juga taktik bisnisnya", lirik Fikri.
"Yah...biasa lah Kak, ini kan baru merintis, jadi yang terpenting itu nanam kepercayaan dulu, jangan pikirkan untung, nanti kalau sudah rame , baru kita naikan dikit-dikit, biar untungnya ngumpul", senyum Dery.
"Jadi, Robi ini sekarang tinggal di Pondok?",
"Iya..., dia baru di sana, tapi biarpun baru dia sudah menjadi ancaman berat bagi Gue", geram Fikri.
"Aku mau Robi keluar dari Pondok, tapi tidak tahu, bagaimana caranya, di sana pengawasannya ketat , susah buat cari celah untuk mencelakai dia", Fikri menerawang.
"Ouh...pake cara halus saja Kak, racunin dia bisa kan", kompori Dery.
"Iya juga..., kenapa tidak kepikiran ke sana, tapi nyarinya di mana?",
"Tenang...., nanti aku carikan yang ampuh, biar langsung cok cer", kekeh Dery.
"Oke..., nanti pas Gue balik ke Pondok, bekali racun itu, biar bisa langsung dieksekusi",jelas Fikri.
"Siap...",
"Oh...iya, boleh dong aku tahu dimana bengkelnya Robi , kalau ada apa-apa dengan motor, kan bisa ke sana", tatap Fikri.
"Boleh..., di sana masih ada teman-teman Gue juga",
"Ah...", Fikri memukul dahinya.
"Setahu Gue ada dua orang yang datang ke Pondok, mereka mengenal Robi, dan mereka mau belajar ngaji"
"Hah..., apa..?, belajar ngaji?, tidak salah?, mereka pikir benerin motor bisa pake sholawat dan Do'a?", kekeh Dery.
"Ceritanya mereka mau pada insyaf?", kekeh Fikri juga.
"Tapi ini kesempatan buat kita hancurkan bengkelnya juga, biar dia hancur dengan usahanya juga, bagaimana?", Dery menatap Fikri dengan senyum evilnya.
"Ide bagus itu, kalau bisa kita kerjakan secara bersamaan, biar puas, ha...ha...ha....", Fikri tertawa , ia merasa punya kawan yang satu orientasi dengannya.
"Rencana ini kita jalankan pas acara peringatan tahun baru islam, biasanya di Pondok suka diadakan acara pawai obor, dan makan bersama, waktu yang tepat kan?, seringai Fikri.
"perfect", senyum Dery.
Dery dan Fikri saling tertawa lepas.
"Mereka lagi membicarakan apa, serius sekali, kok baru sehari saja, sudah kelihatan akrab begitu", gumam Marisa, ia memperhatikan Fikri dan Dery dari jendela dapurnya.
*****
__ADS_1
Di depan gerbang Pondok, Bu Arimbi mendapati Abah sedang berjalan menuju ke dalam. Ia memperlambat laju mobilnya dan berhenti tepat di samping Abah.
"Assalamu'alaikum Abah, ayo masuk, lumayan biar tidak terlalu cape", senyum Bu Arimbi , ia menyapa Abah.
"Wa'alaikumsalam...., Alhamdulillah..., Ibunya Nak Robi ya?, Abah boleh ikut?",
"Iya Abah, silahkan masuk!", jawab Bu Arimbi dengan ramah.
"Alhamdulillah..., terima kasih...", ucap Abah, ia langsung masuk dan duduk di jok belakang.
"Pulang dari pengajian Abah?, kok tidak di antar sampai rumah?", tanyai Bu Arimbi.
"Iya..., tadinya sengaja sampai depan saja, biar bisa jalan kaki ke rumah, tapi keburu bertemu Ibu", senyum Abah.
Kedatangan Bu Arimbi di sambut ceria oleh Gilang, ia tahu pasti Risman ada di dalam mobil itu juga.
"Siapa yang datang Ara?", tanyai Umi yang sedang menyiapkan menu untuk makan.
"Sepertinya Bu Arimbi Umi, Tiara sudah janjian mau bertemu di sini", Tiara segera menuju deoan untuk menyambut kedatangan Bu Arimbi.
Benar saja, Bu Arimbi dan Abah sudah ada di teras depan, sedangkan Risman dan Gilang langsung saja bermain di samping rumah.
"Kok ini seperti mobil Papih?, apa dia ada di sini juga?", gumam Bu Arimbi. Ia melirik ke arah mobil yang terparkir di samping kanan mobilnya.
Setelah saling bersalaman, Tiara membawa masuk Bu Arimbi ke dalam .
"Alhamdulillah, ketemu Ibu di luar, Abah sekalian ikut, naik mobil bagus", senyum Abah.
"Maaf..., Abah tinggal dulu", pamit Abah, ia beranjak meninggalkan Tiara dan Bu Arimbi. Di pintu , Abah berpapasan dengan Umi yang membawakan Minum untuk tamunya itu.
"Aduh Umi, tidak usah repot-repot", senyum Bu Arimbi.
"Ah...tidak, ini hanya air teh manis saja',
Setelah menaruh minuman di meja, Umi kembali ke dalam menemui Abah. Umi membiarkan Tiara dan Bu Arimbi berdua, mereka pasti akan membicarakan masalah bisnis konveksinya.
"Oh..iya Bu, saya sudah mendapat tambahan penjahit yang Ibu minta, dia sedang istirahat, baru datang tadi pagi, Oh... Iya ...., Bapak juga ada di sini, mungkin lagi menemui Robi", beritahu Tiara.
"Iya..., ibu juga sudah menduga, di depan melihat mobilnya", senyum Bu Arimbi.
Tak lama Nyimas keluar dari kamarnya, ia tampak sudah rapi, tapi masih memakai baju yang tadi ia pakai.
"Nah...ini Bu orangnya, ini Nyimas, katanya bisa menjahit juga", perkenalkan Tiara.
Mereka saling bersalaman.
"Terdengar suara gelak tawa Gilang dan Risman , mereka berdua memasuki rumah, Risman bermaksud mengambil makanan yang tadi ia vawa du dalam tasnya.
"Ibu..., tas aku mana?, mau mengambil makanannya", pinta Risman kepada Bu Arimbi.
Sontak Nyimas melirik kearahnya. "Ya Allah..., Rusman?", gumam Nyimas, ia hampir berdiri dan memburu Risman kalau saja tidak keburu sadar dengan kondisinya sekarang.
"Ada apa?", lirik Tiara, ia tidak begitu jelas dengan ucapan Nyimas tadi.
"Ah...tidak, saya lupa saja, sebentar...saya pamit ke kamar lagi sebentar", tunduk Nyimas.
Risman tidak akan mengenali ibunya, karena ia kini sudah berniqob. Nyimas bangkit dan segera memasuki kamarnya kembali.
"Ya..Allah, ini juga rencana-Mu, saya dipertemukan kembali dengan anak saya", isak Nyimas, ia kini duduk di pinggir tempat tidur, sambil menyeka air matanya .
"Sepertinya sudah saatnya kamu tahu siapa ayahmu Nak?", gumamnya.
"Akhirnya kita dipertemukan di sini, tinggal menunggu waktu, tapi maaf jika nanti kamu akan kecewa dengan ayahmu" , isak Nyimas lagi.
__ADS_1
Ini akan menjadi kejutan bagi Fikri, di sana ia sedang merangkai rencana untuk mencelakai Robi, padahal di Pondok sudah ada orang-orang yang akan membuka aib masa lalunya yang selama ini ia kubur dalam-dalam.