
"Kenapa kamu ceroboh sih?, berani-beraninya menampakkan diri di tempat umum, ini lagi rame, semua orang pada turun ke jalan", gerutu Fikri, ia bicara setengah berbisik, karena ia sadar, mereka sedang di sarangnya Polisi.
"Tapi aku khawatir sama Marisa Kak, tadi dia sendirian di sini", bela Dery.
"Iya ..., tapi lihat akibatnya, malah menambah masalah saja kan?", tatap Fikri.
"Terus ..., sekarang bagaimana ?, aku sudah kadung di sini", Dery tampak pasrah.
Fikri sejenak berfikir, ia memandang Dery . "Kamu sudah terbukti bersalah, saksi dan bukti sudah memberatkan kamu, aku sendiri bingung untuk membelamu", tatap Fikri.
"Apalagi orang yang telah kamu tabrak lari itu Abah dan Umi, tidak mungkin aku lebih membela kamu dibandingkan mereka",
"Aku sudah banyak berutang budi pada mereka, apalagi aku lagi mengincar posisi pengganti Abah, mana mungkin aku menentangnya", jelas Fikri.
"Iya...aku juga mengerti, aku paham kok", Dery makin menunduk.
"Terus..., bagaimana dengan Marisa Kak?, kasihan dia, baru melahirkan lagi, bahkan aku belum sempat melihat anakku", Dery makin menunduk, ada sebongkah penyesalan dalam hatinya.
Ternyata sikap liar dan urakannya kini merugikan banyak orang, bahkan anaknya yang baru lahir pun ikut terkena imbasnya.
"Kamu sudah terlanjur basah..., ya sudah biar mandi saja sekalian, kamu nyebur saja", tatap Fikri.
Dery mentautkan kedua alisnya, ia kurang mengerti dengan apa yang dibicarakan Fikri.
"Jadi...maksudnya bagaimana?", Dery menatap Fikri.
Fikri melihat sekeliling, rasanya aman, tidak ada Polisi yang mengawasi mereka.
"Dery..., kamu bisa kan menolong kita semua?",
Dery makin bingung saja, ia tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Fikri.
"Begini..., kamu sudah terlanjur terbukti bersalah, jadi sekalian saja kamu akui semua tuduhan yang tertuju sama aku", tatap Fikri.
"Maksudnya..., aku harus mengakui kalau penyebab anak-anak itu keracunan aku?, begitu?",
Fikri menatap Dery dan memegang tangannya.
"Iya..., seperti itu", tatap Fikri, ia seolah ingin menyelami hati Dery.
"Jangan dong Kak, kasus aku sudah berat, kalau ditambah itu, makin berat, aku bisa-bisa tua di sini, bagaimana dengan Marisa dan anaknya", Dery menatap sendu.
"Justru itu..., kalau kita berdua yang mendekam di sini?, itu lebih parah buat Marisa, tidak ada lagi pelindung dan penolong buat dia dan anaknya, kamu tidak mau kan anakmu terlantar?", desak Fikri.
Dery menunduk, kedua tangannya menopak kepalanya, hatinya hancur, ia dihadapkan pada dua hal yang sulit.
__ADS_1
Kalau dia tidak menuruti usulan dari Fikri, mungkin mereka berdua kemungkinan akan sama-sama berurusan dengan pihak Kepolisian. Sudah tentu Marisa aka seorang diri tanpa pelindung.
Tapi kalau dia menuruti, itu artinya, kasusnya akan makin berat, dan akan makin sulit baginya untuk bisa bebas dari jeratan Polisi.
"Bagaimana?, pikirkan baik-baik, ini menyangkut Marisa dan anakmu juga", Fikri kembali menatap Dery yang kini sudah benar-benar menunduk, Dery membenamkan kepalanya ke meja yang ada di hadapannya.
'Haruskan ini aku lakukan?, mengakui kesalahan yang tidak aku perbuat?', batin Dery bicara.
"Sudah cukup Pak, saatnya tersangka memasuki ruangannya ", seorang petugas menghampiri mereka.
"Oh iya Pak, silahkan!", Fikri kini berdiri, ia memegangi pundak Dery.
Dan Dery pun mengangkat kepalanya, ia tampak pasrah, dia menurut saja saat di bawa petugas ke dalam sel.
Fikri mengantarnya dengan menggandeng pundak Dery. "Pikirkan baik-baik!", bisik Fikri.
Dengan langkah gontai, Dery memasuki ruangan lembab berukuran empat kali empat, yang dulunya pernah di tinggali oleh Robi dan Badrun.
Petugas segera menutup pintu dan menguncinya.
Dery masih berasa mimpi, ia berdiri menghadap tembok, 'Inikah akhir dari semua petualanganku di dunia gelap?', batin Dery bicara.
"Der...", panggil Fikri.
"Kak..., aku titip Marisa dan anakku", lirih Dery.
"Iya..., tenang saja, kamu jangan khawatir, Marisa dan anakmu akan menjadi tanggunganku, kita bagi bagi tugas", Fikri kembali bicara dengan suara yang hampir berbisik.
"Aku pulang, kasihan Marisa masih di sana",
Fikri segera berlalu sambil bersiul, Fikri kembali bisa melenggang dengan tenang, semua perbuatan salahnya ia timpakan kembali kepada Dery. Fikri kini kembali menuju Rumah Sakit.
*****
Di Rumah Sakit
Bu Arimbi dan Tiara yang mengikuti Bi Iroh, tidak menyangka kalau mereka dibawa ke ruang perawatan ibu dan anak pasca melahirkan.
"Dok...Dok ..., ini saya bawa orang yang bersedia untuk donor darah", ucap Bi Iroh
"Ma..ri...saa....", Tiara dengan jelas bisa melihat kalau wanita yang sedang terlentang lemas di atas bed pasien adalah Marisa, teman kuliahnya."
"Marisa...?", Bu Arimbi membeo.
Ia masih bisa mengingatnya. Marisa, wanita yang pernah dekat dengan anaknya Robi, dan pada akhirnya, Marisa bisa menggoda Briant, hingga Bu Arimbi membiarkan dia dideportasi.
__ADS_1
" Ayo kita pergi saja, Ibu tidak suka melihatnya", Bu Arimbi balik kanan ingin meninggalkan ruangan Marisa.
"Tapi Bu, dia sedang membutuhkan darah, kasihan dia", rengek Tiara.
Dua perawat menghampiri mereka dan memeriksa serta mengambil sample darahnya.
Setelah dilakukan tes, ternyata darah keduanya tidak cocok. Sementara kondisi Marisa semakin lemah.
"Ibu bilang juga apa, tidak usah repot-repot tolongin dia, dia juga sukanya bikin repot orang saja", Bu Arimbi langsung meninggalkan ruangan Marisa, diikuti Tiara.
Bi Iroh sudah hujan air mata , "Neng Istighfar Neng, kamu harus kuat, ingat anakmu, dia masih sangat membutuhkan kamu", Bi Iroh terus mengajak bicara Marisa agar kesadarannya tetap terjaga.
"Suster..., bisa tolong di bawa ke sini bayinya?", pinta Bi Iroh.
"Maaf...Ibu, tidak bisa, bayinya aman kok" senyum Perawat.
"Dok...,ini ada teman saya, siapa tahu cocok dengan pasien", Tiara kembali masuk bersama Nyimas.
Dengan cepat Nyimas di bawa dan diperiksa Suster .
"Dok, ini darahnya sesuai", Perawat memberitahu Dokter yang sedang menangani Marisa yang terlihat sedang kritis.
Dengan cekatan Dokter dan Perawat mentrasfusikan darah tersebut ke tubuh Marisa, dan setelah beberapa menit, Marisa tampak sudah stabil.
"Alhamdulillah..., terima kasih Neng, sudah menyelamatkan anak Ibu", Bi Iroh menghampiri Nyimas yang datang dengan kursi roda.
"Terima kasih Neng....",
"Nyimas namanya Bu", sambar Tiara. Dia memberitahukan nama Nyimas kepada Bi Iroh.
"Nyimas...., jadi Neng ini Nyimas ?", Bi Iroh memandang lekat Nyimas, ia seolah ingin menembus cadar yang dipakainya, ia ingin melihat langsung wajahnya, apa ini Nyimas yang sama?.
Tapi Bi Iroh tetap tidak mengenalinya, karena memang waktu sudah berlalu beberapa tahun, dan kini Nyimas pun sudah menutup sebagian wajahnya dengan niqob.
Nyimas menatap lekat Marisa, raut wajahnya yang serupa dengan Fikri membuat matanya berembun. Luka lama kembali terasa perih.
Tapi Nyimas tidak menyalakan Marisa, dia tidak ada hubugannya dengan peristiwa yang telah dilakukan Fikri, hanya hubungan darah yang ia miliki, sebagai adik dari Fikri.
Di luar ruangan, Fikri yang baru sampai langsung menerobos masuk, karena ia baru mendapat kabar kalau adiknya sedang kritis.
"Marisa....!!!", Fikri muncul dihadapan semua orang yang ada di ruangan itu, Tiara, Bu Arimbi, Nyimas, dan Bi Iroh langsung menatap ke arahnya.
"Ustad Fikri....?", sontak Tiara langsung kaget.
"Siapa Marisa....?, kok Ustad Fikri tampak khawatir begitu", gumam Tiara.
__ADS_1