Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Abah dan Umi celaka


__ADS_3

"Umi, hari ini kita jalan-jalan , sudah lama Abah tidak melihat keramaian kota, kebetulan hari ini Abah tidak ada jadwal pengajian", ajak Abah.


"Asik..., kita jalan-jalan lagi, Gilang ikut ya Abah?", Gilang langsung mendekati Abah dan bergelayut di lengan Abah.


"Gilang dengan Teteh saja, sekalian Teteh mau ke bengkel sebentar", ucap Tiara.


"Ya sudah..., Umi siap-siap dulu, sekalian mampir ke pasar Abah, beli sayuran ",


Siang itu mereka berangkat dua motor, Abah membonceng Umi, dan Tiara bersama Gilang. Tiara ingin mampir ke bengkel untuk memastikan Robi ada di sana.


"Wah ini sudah gila, lihat tuh Marisa, pantesan dia jarang datang ke Bengkel, rupanya dia punya mainan baru tuh, bule ", Ronald menepuk pundak Ilyas.


"Jadi gimana?, kita laporkan saja sama Bos Dery?, terus urusan Robi bagaimana?", Ilyas terlihat bingung.


"Robi biarkan saja dulu, yang penting kita sudah tahu, kalau Robi benar-benar masih hidup, sekarang kita urus dulu Marisa, kita laporkan sama Bos Dery", jelaskan Ronald.


Ilyas tampak sedang mengarahkan kamera ponselnya kepada Marisa dan Briant.


"Klik, nih Gue kirim ke ponselnya Bos Dery",


" Kita pergi saja, urusan kita di sini sudah beres", Ronald berjalan lebih dulu meninggalkan Ilyas yang masih mantengin ponselnya, ia ingin memastikan kalau foto yang ia kirim sudah sampai kepada Dery.


"Gue masih tidak percaya, Robi masih hidup, padahal waktu Gue lihat sendiri, motornya terbakar hebat, tapi dia masih selamat, Loe lihat kan, wajah dan tubuhnya masih utuh, tidak ada luka bakar atau patah tulang ", Ronald menerawang, ia sedang mengingat kejadian waktu Robi jatuh ke jurang.


"Iya...Gue juga heran, siapa yang sudah menolong dia?, dan jangan-jangan, Robi sudah tahu lagi kalau kita yang telah menyebabkan motornya blong", Ilyas melirik Ronald.


"Gue kira begitu, makanya Robi datang ke kita sebagai Rahmat, dia itu sedang menyelidiki kita, atau mau balas dendam kepada kita",


"Ini tidak bisa dibiarkan", Ronald meninju sepeda motornya. Mereka masih ngobrol diparkiran .


"Ayo..., katanya mau balik sekarang?", ajak Ilyas


"Santai dulu saja, mumpung lagi tugas di luar, kita nyantai saja, jarang-jarang seperti ini", cicit Ronald.


"Kamu ya, nggak dimana mana , nyuri waktu ....terus", Ilyas menepuk jidatnya.


"Tunggu sebentar lagi lah...", Ronald malah terus mantengin ponselnya, ia mulai main game online lagi.


"Drtt....drtt...drtt....", ponsel Ilyas bergetar, ia mendapat telepon dari Dery.


[Iya Bos, kita masih di lokasi yang sama ].


[Kalian buru balik, Gue sendiri yang akan mengurus Marisa],


"Kok di putus?", Ilyas melihat layar ponselnya.


"Siapa?", Ronald melirik.


"Bos Dery mau datang kesini, kita disuruh cepat balik, ayo kita pergi!, sebelum Bos Dery ngadat",


Mendengar hal itu, Ronald langsung mematikan ponselnya dan segera menghidupkan sepeda motornya, mereka berdua meninggalkan Super Mal itu.

__ADS_1


Di bengkel, Dery seperti kebakaran jenggot, ia sangat marah kepada Marisa, ia merasa dibohongi oleh Marisa, pantas saja akhir-akhir ini Marisa berubah, tidak mau di jemput, dan jarang datang ke bengkel.


"Kamu sudah mulai berulah, kamu belum tahu siapa aku Marisa", geram Dery. Ia memandangi foto yang dikirim Ilyas.


Dery berjalan mondar mandir di depan bengkelnya, ia mencari sepeda motor, dan yang ada hanya sepeda motor Robi, dan kebetulan kuncinya masih ada di tempatnya.


Tanpa pikir panjang, Dery menghidupkan motor Robi dan membawanya ke jalanan, ia melaju menuju tempat yang di share oleh Ilyas tadi.


"Waduh..., itu kok Dery pergi dengan sepeda motor Robi, itu kan remnya sudah kita gunting semalam, Bos Dery dalam bahaya, ayo kita susul dia", Joko dan Andra yang ada di mini cafe merasa khawatir.


"Lihat Bro, nggak ada motor buat nyusulnya juga", Joko garuk-garuk kepala.


"Terus, kita harus ngapain?",


"Kita telepon Ronald saja, biar mereka yang menyusul Dery.


"Oke!, Gue telepon Ronald", Joko tampak menelepon .


[Halo Ronald, Loe sekarang cari Dery, dia memakai sepeda motor Robi, itu bahaya, sepeda motor Robi kan sudah kita otak-atik semalam, Dery bisa celaka],


[Oke, dia ke arah lokasi yang kamu share tadi],


"Beres, Ronald dan Ilyas yang akan menyusul Dery", Joko memasukkan kembali ponselnya ke saku jaket.


"Sepertinya akan banyak hal yang terjadi", Joko menerawang.


"Umi, Ara mau ke bengkel dulu, nanti kita bertemu lagi di depan sini ya", Tiara menghentikan sepeda motornya begity mereka sudah sampai di depan pasar.


"Iya hati-hati Neng!, jaga Gilang!", ucap Umi sebelum Tiara melajukan kembali sepeda motornya.


"Batu...?", Umi mentautkan kedua alisnya.


"Sudah...., sebentar kok, nanti Umi yang pilihkan", senyum Abah.


Walau bingung, Umi menurut saja, ia tetap duduk dibelakang sepeda motor Abah.


"Nah..., ini sudah sampai", senyum Abah.


Ternyata Abah membawa Umi ke toko perhiasan.


"Mana toko batu nya Abah?", Umi Anisa lirik kiri dan kanan.


"Ini Umi tokonya", Abah meraih tangan Umi membawanya masuk ke toko perhiasan itu, "Nah...Umi pilih sendiri saja, Abah sudah lama tidak membelikan Umi perhiasan, baru ada rezekinya", senyum Abah, ia mengusap lembut kepala Umi, wanita yang selalu setia menemaninya dalam suka dan duka.


"Abah...", Umi menatap Abah dengan berkaca-kaca.


Setelah memilih, pilihan Umi jatuh pada sebuah kalung . "Yang itu saja Abah", tunjuk Umi.


Pelayan toko mengambilkan dan memberikannya kepada Abah. Setelah cocok, Abah membayarnya.


Uang itu sudah lama Abah tabung, Abah menyisihkan sedikit demi sedikit dari sisa uang belanja yang diberikan kepada Umi.

__ADS_1


"Nah..., Abah pakaikan, maaf Umi, Abah baru bisa belikan ini sekarang, ini hadiah untuk kesabaran Umi , untuk kasih sayang Umi kepada keluarga", Abah memasangkan kalung itu dan mengecup pucuk kepala Umi sesudahnya.


"Ayo Umi, kita ke pasar, bukannya mau belanja sayuran", Abah kembali menuntun Umi ke luar dari toko perhiasan, mereka berkendara kembali menuju pasar.


Tiara melaju menuju bengkel Dery, ia berpapasan dengan sepeda motor yang melaju kencang.


"Astaghfirullah..., masih ada yang kebut-kebutan", gumam Tiara.


"Siittt..., Gue lupa, ini motor kan blong, Wow...wow...wow...., Gue tidak bisa mengendalikan",


"Duar....Brak....brak....dem....", terdengar suara keras , suara benda bertubrukan, seketika semua pengendara menghentikan laju kendaraannya. Mereka saling bertanya, suara apa itu-suara apa itu .


Tiara pun mendengarnya, namun ia sudah hampir sampai di bengkel, dan setelah sampai, ternyata bengkelnya tutup. Tiara pun putar balik kembali menuju pasar .


"Stop Bro..., itu sepertinya Bos Dery, dia menambrak orang, ayo cepat bawa dia", Ronald menepikan sepeda motornya dan segera menaikkan Dery ke atas sepeda motor dan membawanya pergi, meninggalkan kekacauan di sana.


"Ada apa ?", Bu Arimbi melirik Robi yang sedang berkendara.


"Di depan ada pasar Mih, jadi ya sudah biasa jalur ini suka macet", jelaskan Robi.


"Ada kecelakaan-ada kecelakaan", teriak seorang pedagang asongan.


"Di mana Mang?", Robi bertanya.


"Di depan, kasihan korbannya sepasang suami istri, sudah berumur", kabari pedagang.


Robi merasa penasaran, ia turun dari mobilnya. "Tunggu sebentar Mih, aku lihat dulu",


Robi berjalan menyusup kerumunan , ia ingin melihat korbannya, dan betapa kagetnya ia begitu melihat Umi Anisa dan Abah Ilham yang tergeletak di sana .


"Ya Allah Umi..., Abah...", Robi berteriak menghampiri mereka yang sudah tidak sadarkan diri.


"Pak, Bu, tolong bawa mereka ke mobil saya, saya akan bawa mereka ke Rumah Sakit, mereka ini Abah dan Umi saya", pinta Robi kepada petugas parkir .


"Tunggu saya bawa mobilnya ke sini, tolong beri jalan!", ucap Robi sebelum berlari menuju mobilnya.


"Ayo Pak, masukkan mereka ke dalam!", perintah Robi. Bu Arimbi hanya melihat dengan rasa kaget, ia tidak banyak bertanya karena melihat Robi sedang panik.


"Terima kasih Pak", Robi segera memacu cepat mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat.


Tiara yang sudah sampai di depan pasar pun kaget melihat kerumunan orang di sana. "Ada apa Pak", tanya Tiara kepada petugas parkir pasar.


"Ada kecelakaan Neng, ada sepeda motor menabrak sepeda motor yang mau parkir, tuh sepeda motornya masih ada di sana, korbannya sudah dibawa ke Rumah Sakit", kabari petugas parkir.


"Ya Allah..., ini sepeda motor Abah dan Umi, dimana mereka sekarang", Tiara menangis begitu melihat sepeda motor milik Abah sudah ringsek.


"Tenang Neng, korbannya sudah ada yang menolong , tadi ada pengendara baik hati yang membawa orang tua Neng ke Rumah Sakit", jelaskan petugas parkir .


"Nah..., itu motor penabraknya, sepertinya dia kabur, sudah tidak ada", tunjuk pedagang asongan.


Tiara mendekati sepeda motor penabrak, dan Tiara mengenalinya . "Robi..., ini sepeda motor Robi..., apa ia sengaja melakukannya karena masih marah sama Abah", geram Tiara. Ia mengepalkan tangan kanannya.

__ADS_1


"Ayo Dik, kita cari Umi dan Abah ke Rumah Sakit", Tiara melajukan kembali sepeda motornya untuk mencari Rumah Sakit terdekat.


"Awas saja kalau benar kamu yang mencelakai Abah dan Umi?, aku tidak akan memaafkanmu", geram Tiara.


__ADS_2