Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Aku adalah Robi


__ADS_3

"Oke, sudah, kamu boleh buka matamu lagi", Tiara meninggalkan Robi, ia menyimpan kembali kotak obat ke dalam bagasi motornya. Dan ternyata Robi masih ditempatnya semula dengan tetap memejamkan mata.


"Langsung tidur apa ?, kok masih di situ", gumam Tiara, ia melirik Robi.


"Aku pulang duluan, sudah mau sore, kamu tidak apa-apa kan?", Tiara menunggu jawaban dari Robi yang terlihat diam saja.


"Ya sudah, aku pulang ya?, terima kasih telah menolong, aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini, semoga Allah berkenan mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang lebih baik", ucap Tiara.


Robi masih tidak bergeming dari duduknya. "Ya sudah, aku pulang ya, Assalamu'alaikum", Tiara mulai menstarter motornya.


"Tunggu!", teriak Robi. Tiara pun baru melaju beberapa meter saja, dan langsung berhenti kembali, ia menoleh ke arah Robi yang juga sedang menstarter sepeda motornya.


Robi melaju mendekati Tiara. "Aku akan mengawalmu sampai tempat aman, takutnya mereka kembali",


Sejenak Tiara memandangi sepeda motor milik Robi. "Ayo kamu duluan!, kenapa malah diam", Robi membunyikan klaksonnya.


"Ini sepeda motornya mirip , oh bukan mirip lagi, tapi sama dengan sepeda motor seseorang", ucap Tiara.


"Lah...kan motor kaya gini itu banyak, bukan hanya satu, lihat saja plat nomernya, sama tidak dengan milik teman kamu itu", tantang Robi.


Tiara melirik plat nomer sepeda motor di sampingnya, "Ah..., aku sudah tidak mengingatnya", senyum Tiara.


"Cepetan !, katanya mau pulang, kamu duluan, aku mengikuti dari belakang", ucap Robi.


"Tapi..., kamu saja yang duluan", tolak Tiara.


"Kalau aku yang di depan, susah mengawasinya, tahu-tahu kamu menghilang di culik orang lagi", kekeh Putra.


"Iihh ya, ngareupnya yang jelek melulu", gerutu Tiara. Ia akhirnya melaju duluan diikuti Robi dari belakang.


"Ya Tuhan...., itu orang selalu membuat aku nyaman, bisakah aku selalu bersamanya, merasakan semua kelembutannya", gumam Robi saat berada dibelakang Tiara.


"Tot...tot....tot...", Robi membunyikan klaksonnya, ia meminta Tiara untuk berhenti. Tiara melihat isyarat tangan Robi untuk menepi dari spionnya . Ia pun menurut, menepikan sepeda motornya.


"Ada apa lagi?", Tiara bicara sambil menunduk, ia tetap tidak berani beradu pandang dengan Robi.


"Aku lapar, kita makan dulu di sana, tuh ada kedai nasi padang", Robi menunjuk ke depan.


"Oh..., kamu saja yang makan, aku masih kenyang", tolak Tiara.


"Masa aku makan, kamu diam, ayo ikut saja, di sana cuma minum saja juga nggak apa-apa", paksa Robi.


Akhirnya Tiara mengalah, ia mengikuti kemauan Robi. Ia ikut masuk ke kedai itu.


Robi langsung menuju sebuah meja, diikuti Tiara. "Pesan saja apa yang kamu mau", suruh Robi

__ADS_1


Ia pun segera memesan beberapa makanan. "Sudah?", Robi melirik Tiara yang seperti sedang melamun.


Sebenarnya Tiara juga lapar, ingin ikut makan, tapi ia merasa risih memakannya, secara nanti saat makan ia harus sering menyibakkan niqob yang dipakainya.


"Oh..., aku minum saja, jus alpuket satu", senyum Tiara. Dan mereka pun nampak menikmati pesanannya .


"Aduh jadi teringat Umi", gumam Tiara.


"Kenapa lagi?", Robi menatap Tiara.


"Ini makanan kesukaan Umi", tunjuk Tiara pada piring yang berisi gulai kepala ikan kakap.


"Oh..., bungkus saja kalau mau", tatap Robi.


"Nggak ah, itu pasti mahal, sudah!, makan saja, nggak usah dipikirin", senyum Tiara.


"Benar, kalau mau bungkus saja", Robi memanggil pelayan , ia menyuruh membungkuskan empat gulai kepala kakap",


"Iih..beneran dibungkusin?", kaget Tiara. Ia tidak menyangka Putra benar-benar melakukannya.


"Anggap saja ini ucapan perkenalan saya buat orang tua kamu", senyum Robi.


"Tapi...itu kan pasti mahal", cicit Tiara.


"Cuma kepala ikan saja", senyum Robi.


"Sebentar ya Mas", pelayan itu melayani Robi melakukan pembayaran lewat kartu ATM.


"Sudah Mas, terima kasih sudah mampir, semoga Mas nya cepat dikaruniai keturunan", senyum pelayan.


"Keturunan",cicit Robi.


"Dia kira kita itu suami istri" kekeh Robi,


"Lucu",senyum Robi.


Mereka melanjutkan perjalanan, hingga sampai dipersimpangan, Tiara menepi diikuti Robi.


"Aku ke arah sana sudah sampai sini saja, sudah aman kok, jalanan sudah ramai, terima kasih ya?, semoga luka-lukamu cepat sembuh, Assalamu'alaikum", Tiara melajukan kembali sepeda motornya ke arah kanan.


"Wa'alaikum salam", Robi masih diam ditempatnya, ia terus memperhatikan Tiara sampai menghilang di ujung jalan. Tiara menyadari itu, ia bisa melihatnya dari spion.


"Lagi-lagi orang asing, kini aku yang ditolongnya, terima kasih, Mas Rahmat", gumam Tiara begitu membelokkan sepeda motornya.


Robi masih di tempatnya semula, ia bingung menentukan tujuan berikutnya. Ke rumah atau ke bengkel Dery?.

__ADS_1


Setelah menimang-nimang, Robi akhirnya menuju bengkel Dery.


" Di bengkel, lagi-lagi Robi dihadapkan dengan pemandangan yang menusuk mata dan hatinya, sore itu nampak Marisa sedang bermanja dengan Dery.


Hal yang dulu ia lakukan kepadanya. "Hai Bro, tadi kemana?, kok malah kabur", Ronal menyambut kedatangan Robi.


"Maaf Bang, tadi ada urusan mendadak", alasan Robi, ia membuka helmnya.


"Nah lho..., itu kenapa?, kok lebam-lebam begitu", Ronal menatap wajah Robi.


"Biasalah Bang, ada gangguan sedikit tadi di jalan", senyum Robi.


"Hebat kamu, baru datang di kota ini, tapi sudah berani menghajar orang", kekeh Ilyas.


"Ya..., namanya juga bela diri Bang", senyum Robi.


Marisa sedari tadi memperhatikan Robi, terutama ia memperhatikan motor sportnya.


"Kerreennn, itu bukan orang sembarangan, harga motornya juga selangit", gumam Marisa.


"Kenapa sayang?", Dery menatap Marisa, ia tidak begitu jelas mendengar ucapan Marisa .


"Lihat tuh, motornya keren begitu, anak baru sepertinya, aku baru melihatnya", tunjuk Marisa kepada Robi.


Dery memperhatikan Robi dan motornya, "Ah...itu anak yang tadi pagi kan?, ia memperhatikannya, 'Seperti tidak asing perawakannya , mirip siapa ya?', pikir Dery.


"Bos", teriak Ronal membuyarkan ingatan Dery. Ia segera menoleh ke arah sumber suara. Nampak Ronal melambaikan tangan.


"Sebentar", Dery melepaskan pegangan tangan Marisa dari lengannya, ia berjalan menuju Ronal dan Robi.


"Bos, ini nih orang yang tadi diceritakan, namanya Rahmat, dia dari Pekan Baru, mau mencari kerja di sini, katanya bisa ngebengkel juga, apa Bos bersedia menerimanya?, kita kan kekurangan personil setelah Robi tiada, sampai sekarang belum ada gantinya", jelas Ronal.


"Emh...kita lihat dulu, dia bisa apa, berikan pekerjaan sama dia, yang berat sekalian, Gue nggak mau bayar orang percuma, hanya orang ahli yang boleh kerja di sini", ucap Dery dengan angkuhnya.


"Emh ...sini!, Ilyas memanggil Robi, ia menyuruh Robi merangkai motor yang tinggal tulang. "Kamu benerin ini motor sampai bisa jalan lagi", suruh Ilyas.


"Yang ini Bang?", Robi menatap tumpukan spare part motor yang ada dihadapannya.


"Iya , yang itu, kalau besok ini motor bisa jalan lagi, kamu ada harapan bisa tinggal dan kerja di sini", ucap Ilyas sambil berlalu meninggalkan Robi .


"Sudah Bos, sudah aku kasih kerjaan super sulit", kekeh Ilyas.


"Gila Loe, yang benar saja, anak culun kaya gitu, mana bisa", terdengar gelak tawa dari Dery, dan teman-teman dibengkelnya. Mereka menatap Robi yang nampak kebingungan.


"Sudah, tinggalkan saja dia!, kita lihat besok masih bernyawa tidak, bisa mati berdiri dia", kekeh semua.

__ADS_1


Dery dan teman-temanya meninggalkan Robi sendiri, mereka masuk ke dalam Markas dan berpesta di dalam.


Suara dentuman musik terdengar oleh Robi. "Kalian pikir aku tidak bisa?, lihat saja besok", Robi menyeringai. Ia mulai mengerjakan merangkai sepeda motor yang spare partnya berserak dihadapannya.


__ADS_2