
Rani menatapku bingung, wajahku berseri bahagia. Tokoh utama dalam masalah ini telah di temukan, maka berarti jalan yang berkabut mulai terlihat bayangnya. Aku melambaikan tangan ke arah S yang masih menatap kami. Aku harap S masih mengingatku, kalau sampai dia lupa, berarti dia lebih pikun dari nenek.
"S, itu kamu? Ini aku Risa," teriakku senang, seperti bertemu teman lama.
Rani masih menatapku, mungkin heran, mengingat dia begitu takut tapi kakaknya malah tersenyum bahagia bertemu hantu.
Siapa yang akan mengira dalam sekejap S menghilang dari pandangan kami. Wajah bingung tergambar juga akhirnya di wajah ku. Kemana S pergi.
"S?" Aku berusaha memanggil dia yang tak terlihat, dan dalam beberapa saat angin kencang menghantam rambut kami.
Dan tiba-tiba S muncul tepat di depanku, dengan mata yang melotot tajam.
"ARGHHH..." Mataku melotot seiringin dengan nafas yang tertahan dan diiringi teriakan kencang Rani.
Baru kali ini aku melihat Rani sangat ketakutan, apa aura S begitu menakutkan? Aku tak tau, yang aku tau, jantungku sekarang berdebar dengan cepat dan S belum juga mau menjauhi wajahnya yang begitu dekat denganku.
"Apa mau mu?" Tanya S datar, membuat bulu kudukku ikut berdiri.
"Aku... Aaa...Aku... " Sial kenapa terbata-bata? Padahal ini kesempatan bagus ku untuk berbicara dengan S.
"Apa kau Sendi?" Tanya Rani yang membuat mata S melotot begitu besar.
__ADS_1
Aku yakin matanya akan keluar jika dia membuka lebar kelopak matanya. Siapa Sendi? Aku tak tau, dan dari mana Rani tau?
"Siapa kau? Beraninya kau memanggilku dengan nama busuk itu!," Seperti biasa, S bergerak begitu cepat.
Aku bahkan tak tau kapan dia bergerak sehingga tangannya sudah mencengkram leher adikku dengan kuat.
"UHUK....UHUK...," Sial! Aku lengah!
"Jangan sakiti adikku!," bentakku sambil berusaha menarik tangan S dari leher Rani.
Percayalah ini adalah pertama kalinya aku menyentuh tangan hantu secara langsung, dingin, sangat dingin.
"Katakan! Dari mana kau tau SENDI!," Teriak hantu itu yang bergema di dalam kamar kami.
Usahaku melepaskan tangan hantu itu dari Rani berbuah sia-sia.
Aku tak tau, apa yang bisa di lakukan, sampai aku ingat ada tusuk rambut yang sedikit runcing di atas kepalaku.
Tanpa pikir panjang, tusuk itu sudah berada di tanganku dan segera aku tancapkan ke tangan S.
"ARGH....," S berteriak kesakitan.
Tangannua terlepas dari Rani dan dalam sekejap tubuh Rani terkulai jatuh ke atas lantai. Aku tak suka jika adikku sampai di sakiti seperti ini, itu memuakkan.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih? Kenapa sakitin adikku !," mataku beralih menatap S yang menahan sakit.
Ini luar biasa, hantu bisa merasakan sakit, tangan hantu itu masih bolong, bukankah biasanya langsung utuh kembali, tapi yang kali ini tidak.
"Apa yang kau tusukkan padaku?"
"kau belum menjawab pertanyaanku," aku balas menggertaknya.
"Sendi, adalah nama asli ku, dan tidak ada yang tau itu kecuali...," jawaban S terhenti, membuat aku geram saja.
" Kecuali siapa?"
"Keluargaku," jawabnya dengan satu kata.
Aku memicingkan mata tak paham, bagaimana bisa Rani tau nama asli S? Sedangkan Rani bukan keluarga S.
Apa itu dari Liya? Tapi Liya tak pernah mau memberi tahuku, namun kenapa mau memberi tahu Rani?.
"Tanyakan adikmu, dari mana dia tau namaku, bagiku nama itu sangat menjijikkan! dan aku tak suka ada orang lain yang berani menyebutnya!," angin berhembus, membuat rambut S tertiup dan menyibak memperlihatkan wajahnya yang sudah rusak.
Pipinya yang bolong itu ternyata masih ada.
"Jangan kau kira karena dulu pernah membantuku, aku akan berbaik hati denganmu, aku tak pernah suka berteman baik dengan siapapun," kata S lalu menghilang begitu saja.
__ADS_1
Aku tertegun sejenak, apa sebenarnya yang telah aku lewatkan. Sayangnya jawaban itu belum bisa aku dapatkan secepatnya, Rani masih pingsan akibat cekikan S. Dia benar-benar tak berfikir sebelum mencekik adikku.
Untunglah adikku masih bisa bernafas.