Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Pertemuan Pertama Risa dengan Liya


__ADS_3

Hari ini Risa merasa badannya kurang enak, membuat Rudi yang menggantikan pekerjaan Risa hari ini. Dia yang mengurus pekerjaan rumah mulai dari menyapu rumah dan mengecek buku sekolah Rani. Dan hari ini pun Rudi juga yang kebagian giliran mengantar Rani pergi sekolah.


"Nanti jemput Rani jangan telat ya Rud, jam setengah satu udah harus ada di sekolah Rani," pesan Risa kepada Rudi sebelum kedua adiknya itu pergi sekolah.


"Yah kak, aku ada ekstrakurikuler nanti, gak bisa," Tolak Rudi yang Risa yakin hanya sebagai alasan belaka.


"Jadi kamu jam berapa pulangnya?" Tanya Risa yang mulai jengah dengan adiknya yang suka lepas tangan dengan semua pekerjaan.


"Jam 5 sore," Risa menyunggingkan senyumnya yang di yakini itu senyum ejekan.


"Kamu jangan bohong Rud, kakak alumni dari smp kamu, dimana-mana kalau udah kelas 3 itu gak di bolehin lagi ikut ekstrakurikuler, apa lagi sekarang udah semester dua. Jangan berniat keluyuran ya," Risa berjalan ke arah pintu menghampiri kedua adiknya.

__ADS_1


Rani yang yakin perdebatan ini akan berlangsung lama memilih duduk di atas motor yang sudah di keluarkan Rudi dari rumah. Jika kedua kakaknya adu mulut akan susah mencari orang yang mau mengalah, apalagi Rudi, dia selalu menyatakan dirinya benar, walau sudah terbukti salah.


"Ada kok yang masih ikut ekstrakurikuler," Rudi ternyata masih bersikukuh dengan opininya.


"Oh ya? Kalau gitu kakak telpon chelsia ya? Kakak tanyain ke dia, chelsia kelas tiga juga kan?" Risa mengeluarkan handphone yang tadi tersimpan di dalam saku roknya.


"Ehh... gak usah, iya-iya nanti aku jemput Rani, nyebelin amat jadi kakak," Rudi berlalu begitu saja dari depan Risa tanpa mengucapkan salam.


"Nanti langsung pulang! Jangan keluyuran Rud!" Risa mendengus kesal saat Rudi sudah berlalu dari depan rumah, dan tidak menggubris perkataannya tadi.


Kepala Risa kembali berdenyut, sepertinya Rudi membuat kepalanya yang sakit menjadi tambah sakit. Ribet jadi kakak orang, mengatur kedua anak itu saja sudah membuatnya kewalahan sepanjang hari. Mama dan Ayahnya sibuk dengan pekerjaan mereka. Keluarga mereka sudah tak seperti 3 tahun yang lalu, semenjak usaha ayahnya tak lagi berjalan lancar akhirnya mama memilih untuk ikut serta membanting tulang.

__ADS_1


Melihat mama yang kerjanya lebih berat dari ayah membuat Risa tak tega jika harus mama juga yang mengurus urusan rumah. Jadi dia selalu bangun pagi dan mengambil alih pekerjaan mama di rumah, setidaknya itu sudah bisa meringankan beban mamanya.


Risa memilih untuk kembali tidur di kamar mengistirahatkan badannya yang kurang tidur itu. Tapi entah kenapa, perhatiannya terus di tarik kamar Rani, Risa begitu penasaran dengan hantu yang tadi malam setia mengetuk pintunya subuh-subuh.


Entah siapa hantu itu, apa ada hubungannya dengan ingatan masalalu yang hadir dalam mimpinya?


Yang tadinya berniat tidur, kini malah menuju kamar Rani, kakinya ternyata seiring dengan hatinya yang penasaran. Risa membuka pintu itu, dan jantungnya sudah mulai kembali berdendang dengan ria di dalam dadanya.


KLIIK.


Pintu terbuka dengan mengeluarkan nuansa rapi dari kamar itu. Risa tersenyum senang melihat kondisi kamar adik bungsunya yang enak di pandang, tak seperti kamar Rudi yang bisa di bilang seperti kapal pecah. Setiap hari Risa membersihkannya tapi besok sudah berantakan lagi. Anak itu benar-benar menguras kesabaran seorang Risa.

__ADS_1


Baru saja masuk selangkah, Risa bisa melihat sesosok gadis duduk di pinggir kasur Rani. Rambut panjangnya sempurna terurai, namun bisa terlihat dari kulitnya yang melepuh seperti bekas terbakar. Gadis itu membelakangi Risa.


'Diakah hantu yang di maksud Rani?'


__ADS_2